Namaku Riffa Aprilia,aku merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.Kakakku yang pertama cowok bekerja sebagai manajer di salah satu kafe yang ada di Jakarta,sedangkan kakakku yang kedua cewek bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit yang ada di Bandung dan aku sendiri bekerja sebagai freelance food writer dan food blogger di salah satu majalah yang ada di Indonesia. Sudah hampIr lima tahun aku menekuni pekerjaan ini. Tadinya ayah menyuruhku bekerja di bank mengikuti jejaknya,karena tidak ada satupun anaknya yang mau bekerja di bank,tetapi aku menolaknya,karena itu bukan bagian dari passionku. Menjadi food writer dan food blogger membuatku harus berkeliling dunia,tidak hanya di Indonesia,negara-negara seperti Malaysia,Singapura,Thailand,Korea,Jepang sudah aku kunjungi dan beragam makanan sudah aku coba. Bagi aku tetap makanan terenak adalah makanan Indonesia terutama makanan buatan ibuku tercinta. "Riffa bangun!Ya ampun ini anak gadis mau bangun jam berapa?Sudah kamarnya berantakan lagi",terdengar suara mama ngomel-ngomel "Hmm",jawabku malas-malasan "Kamu nggak ke kantor? Juno sudah nungguin kamu daritadi di bawah" "Emang sekarang jam berapa ma?" "Sudah jam 7" "Ya Tuhan,aku kesiangan. Sudah hari ini ada rapat",sahutku. Bergegas aku langsung menuju kamar mandi,dan seperti biasa kalau sudah telat aku cukup mandi bebek,yang penting nanti disemprot pake parfum yang banyak biar wangi,toh orang juga tidak akan tau. Dan benar kata mama, Juno sudah menungguku di ruang tamu,tetapi sengaja aku tidak lewat ruang tamu,melainkan lewat garasi,kemudian aku lajukan motorku dengan cepat agar tidak terlambat ke kantor. Juno adalah tunanganku yang dijodohkan oleh ayah. Dia merupakan anak atasan ayah yang mendirikan perusahaan sendiri yang bergerak di bidang otomotif. Dari awal dikenalin aku tidak tertarik dengannya,tetapi karena aku sangat menghargai ayahku aku terima saja dan sampai pada pertunangan kami,aku tidak pernah menolaknya. Juno sendiri cowok yang sangat baik,ganteng,sopan dan perhatian padaku. Kapanpun aku membutuhkannya dia selalu ada untukku,tetapi entah mengapa hatiku belum terbuka untuknya. Sesampainya di kantor,aku langsung menuju ruang rapat,tetapi begitu aku membuka pintu rapat,ternyata tidak ada siapa-siapa "Hoi,ngapain loe disini?",Tanya mbak Lea salah satu pegawai senior di kantor ini yang paling dekat denganku "Mbak Lea!Emang nggak jadi rapat hari ini?" "Kebiasaan deh loe nggak baca wa group khan rapatnya batal,soalnya Pak Andrew harus berangkat ke Thailand" "Nggak mbak,tadi malam gua kecapean jadi tidur,tadi aja bangun kesiangan" "Hahahaha,pasti ngerjain tugas yang disuruh sama bu Natasha ya" "Betul banget.Ya udah mbak,gua ke ruangan bu Natasha dulu,nanti kena semprot" Kemudian aku bergegas ke ruangan bosku yang super bawel,galak dan judesnya nggak ketulungan dan sesampainya di ruangannya ternyata bu Natasha tidak ada di tempat,karena sedang meeting dengan vendor. Hasil pekerjaanku kutitipkan saja sama asistennya yang bernama Bryan. Setelah itu aku kembali ke meja kerjaku. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan,terutama mendekati deadline cetak majalah,walaupun aku hanya freelance tetapi kerjaanku sama banyaknya dengan pegawai tetap di kantor ini. Sebenarnya aku sudah mau diangkat menjadi pegawai tetap,tetapi aku menolaknya karena aku sudah enjoy menjadi freelance di kantor ini. Ketika sedang mengetik,tiba-tiba hpku berbunyi dan saat aku melihat di layar hp itu telpon dari Juno. "Angkat nggak ya",ujarku dalam hati. Tetapi aku memilih untuk berniat mengangkatnya,karena pagi ini aku sudah berbuat jahat sama dia. Namun,saat hendak mengangkatnya tiba-tiba supervisorku memanggil kami untuk rapat mendadak. "Selamat pagi semua!",ujar pak Frans supervisorku. Kalau orang-orang terutama cewek-cewek melihat pak Frans pasti langsung naksir,wajahnya yang tampan,kulitnya putih,badannya tinggi atletis,namun sayang sudah punya istri dan dua orang anak,apalagi pak Frans tipe suami setia. "Selamat pagi pak!",jawab kami kompak "Kalian tau kalau penjualan majalah kita sudah dua bulan ini mengalami penurunan,dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,terutama pembaca rubrik makanan yang merupakan spesialisasi dan tugas kita tidak seagresif seperti biasa,ada yang tau kenapa?" "Mungkin karena liputan makanannya tidak unik pak dan sudah terlalu biasa",ujarku "Bisa jadi,kemarin liputan makanan bukan kamu yang kerjakan ya Fa?" "Bukan pak,kemarin saya ngurus food blog majalah kita di internet pak" "Pantes saja,saya lihat laporan hari ini malah food blog kita yang mengalami peningkatan tajam oleh pembaca,yang ngurus rubrik makanan dua bulan ini siapa?" "Saya pak",ujar Dong Min pegawai baru di kantor ini. Lebih tepatnya namanya Lee Dong Min. Lee Dong Min adalah sepupu dari Bryan "Hmm,baiklah kalau gitu dua bulan kemarin saya beri toleransi. Untuk bulan ini saya rasa juga sudah telat,karena bentar lagi sudah cetak. Saya mau bulan depan Riffa kamu bantu Dong Min mengurusnya. Untuk blognya biar Fajar yang pegang sementara.Kalian berdua minggu depan saya kirim ke Bali" "Bali pak?",tanya kami berbarengan "Iya,kenapa? Keberatan?" "Tidak pak" "Good. Hari ini juga saya minta tiket dan hotel untuk kalian pesan,nanti uangnya saya minta ke bagian accounting dan setelah itu saya kasih ke kalian. Uang itu sudah termasuk biaya hidup kalian selama di Bali" "Baik pak" "Oke,kalau gitu rapat saya tutup,kalian kembali bekerja" Mimpi apa aku semalam kalau harus pergi ke Bali berdua sama Dong Min. Bukan sesuatu yang aku harapkan,kalau pergi ke Bali sama Bryan baru mau,tapi mau gimana lagi kalau sudah harus jadi tugas kantor. Akhirnya aku browsing tiket pesawat dan hotel. Tidak sampai 5 menit aku sudah mendapatkannya,setelah itu aku kembali ke pekerjaanku yang tertunda. Akhirnya jam makan siang datang juga. Enaknya kerja di kantor ini makan siang kita diberi jadi tidak usah repot-repot cari dan beli. "Fa,yuk kita ke kantin,perut udah lapar banget dan gua penasaran menun hari ini apa",ujar Laras salah satu rekan kerjaku "Yuk,sama gua juga udah lapar,apalagi tadi pagi nggak sempat sarapan" "Mbak Riffa,tunggu!",ujar seseorang memanggilku dan saat aku menolehkan mukaku,ternyata Dong Min yang memanggilku "Iya,ada apa mas Dong Min?",tanyaku karena walaupun aku lebih senior darinya,tetapi dia lebih tua dariku "Gimana apakah sudah memesan tiket pesawat sama hotel?" "Iya sudah mas,malah sudah gua bayar" "Ini uang dari Pak Frans untuk bayar tiket pesawat dan hotel,kalau gitu ini buat ganti uang mbak Riffa" "Iya,makasih" "Ayo Fa,kita ke kantin!",teriak Laras lagi yang sudah jalan duluan "Iya!.Gua duluan ya mas Dong Min" "Iya mbak Riffa" Hari ini menu makan siangnya benar-benar perpaduan yang pas dan menarik yaitu rendang dan gulai nangka. "Fa,enak ya rendangnya" "Betul Ras,sumpah ingin nambah,tapi malu ah" "Hahahaha,iya sama.Fa,beres makan kita beli roti yuk. Ada toko roti baru depan kantor" "Wah,iya?Boleh tuh" Yang namanya cewek makan boleh sedikit,tapi cemilan jalan terus. Beres makan aku dan Laras langsung cabut ke toko roti baru tersebut. Sesampainya disana,betapa terkejutnya aku dan Laras,karena antriannya sudah panjang. "Riffa!Laras!",sapa Bryan yang baru keluar dari toko roti. Dan ternyata dia tidak sendiri,melainkan bersama Dong Min "Hai kalian!Borong nih",ujar Laras "Gua sih nggak,tuh Dong Min yang borong" "Kalian mau beli juga?",tanya Dong Min "Iya,tapi sepertinya nggak jadi ah,liat antriannya aja udah malas" "Tadi mah masih sepi,tapi tenang gua beli banyak kok.Ini ambil aja" "Wah,makasih banget lo Dong Min,gua ambil dua ya" "Ambil aja mbak Laras.Ini buat mbak Riffa" "Wah..wah..kok rotinya Riffa tampak beda dan special gitu",canda Laras "Nggak ah mbak Laras,sama aja",sahut Dong Min dengan wajah memerah. Ternyata cowok bisa juga merah wajahnya dicandain "Beda ah,tapi ya udah,yang penting sama-sama roti",ujar Laras "Hahahahaha,Laras Laras",sahut Bryan "Makasih ya mas Dong Min rotinya",ujarku "Sama-sama",jawabnya sambil tersenyum Akhirnya kami makan roti bareng dan ternyata rotinya memang enak,pantes saja antriannya sangat panjang. "Fa,tampaknya Dong Min naksir loe deh",goda Laras padaku "Bisa aja loe Ras" "Kelihatan kali dan sepertinya dia sudah mempersiapkan roti tadi buat loe" "Masa sih" "Tau ah,loe tuh terlalu dingin sama cowok Fa" "Biasa aja" "Terserah deh" "Hahahahaha,ngambek nih. Udah,jangan ngambek,nanti cepat tua.Mending sekarang kita kembali kerja" "Iye" Memang di kantor ini tidak ada yang tahu kalau aku sudah bertunangan. Saat pesta pertunangan hanya keluarga terdekat saja yang diundang. Akhirnya jam pulang kantor tiba juga. Sesampainya di lobi bawah,betapa kagetnya aku kalau sudah ada Juno berdiri disana.Untung saja aku tadi keluar kantornya tidak bareng teman-teman. "Jun",ujarku "Hai sayang,sudah pulang?",tanyanya "Iya. Ngapain disini?Gua bawa motor kok" "Tau kok,mama cerita.Kita makan bareng yuk" "Jun,gua capek" "Ya udah. Nanti malam aja,jam 8 gua jemput di rumah" "Bolehlah",jawabku malas-malasan. Sebenarnya aku malas pergi makan malam,apalagi besoknya masih harus kerja,tetapi aku kasihan sama Juno jauh-jauh sudah menemuiku di kantor. Malam harinya tepat jam 8 malam aku sudah siap. Berdadan sekedarnya. Saat mama melihat dandananku yang sangat tomboy, mama kelihatan kesal,karena tidak ada anggun-anggunnya,tetapi aku cuek saja. Dan benar dugaanku kalau Juno sudah duduk di ruang tamu dengan setelan jas rapi dan parfum wangi semerbak. Juno mengajakku ke sebuah restoran mewah.Inilah yang aku tidak suka dengannya,selalu saja mengajakku ke restoran mewah,padahal aku lebih senang makan di pinggir jalan.Saat memasuki restoran,semua orang melihatku. Mungkin mereka aneh melihat baju yang aku pakai sangat tidak cocok alias saltum (salah kostum) untuk datang ke restoran mewah,tetapi lagi-lagi aku cuek. "Mau makan apa?",tanya Juno padaku "Terserah",jawabku asal. Melihat menu di restoran ini sudah membuatku tidak nafsu makan,harganya yang selangit. Memang nanti sebanding dengan rasanya karena untuk restoran mewah seperti ini pasti mempekerjakan koki sekelas hotel,tetapi aku tidak tertarik sama sekali,toh makanan pinggir jalan juga rasanya enak dengan harga yang terjangkau "Ya udah,gua yang pesan" "Hmmm" Sambil menunggu pesanan,tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami,aku malah sibuk main hp. "Gimana kerjaan di kantor?",tanya Juno membuka percakapan "Biasa aja,paling minggu depan gua harus ke Bali" "Berapa lama?" "Mungkin seminggu" "Hati-hati di sana" "Ya" Akhirnya makanan pesanan kamipun datang,dan pembicaraan kami pun berhenti sampai beres makan pun tidak ada percakapan antara aku dan Juno. Bahkan di dalam mobilpun menuju pulang tidak ada obrolan lagi. Hari yang ditunggu pun tiba,yah hari keberangkatan aku ke Bali. Perjalanan Jakarta-Bali menggunakan pesawat kami tempuh selama lebih kurang 2 jam. Akhirnya kamipun sampai di Bali. Bukannya langsung menuju ke hotel,aku mengajak Dong Min mampir ke salah satu rumah makan Bali. Aku memesan nasi campur ayam Bali,sate lilit,rujak kuah pindang dan es jeruk,sedangkan Dong Min memesan nasi jingo,ayam betutu,rujak bulung dan es teh manis. "Mbak Riffa,nggak apa-apa nih kita nggak ke hotel dulu?" "Mas Dong Min,panggil Riffa aja,lha kita khan kesini buat kerjaan,jadi mending kita makan dulu. Nanti makanannya kita foto,terus kita beri ulasan habis itu kita kirim ke kantor lewat email" "Kalau gua panggil April boleh nggak?" "April?Boleh aja sih,tapi kenapa manggilnya April?",tanyaku heran.Tidak seperti sikap mas Dong Min di kantor,tetapi disini sikapnya menjadi lebih santai.Sebenarnya dari di pesawat tadi ternyata sikap mas Dong Min sangat santai dan lucu. Perjalanan kami jadi sangat menyenangkan.Entah kenapa aku mulai kagum dengan sosoknya dan aku merasa tidak menyesal melakukan perjalanan ini dengan Dong Min. Dan sekarang tiba-tiba dia mau memanggilku dengan nama April. "Bener ya boleh panggil nama April?" "Iya boleh mas Dong Min".ujarku sambil tersenyum "Kamu kalau tersenyum cantik Pril,tapi kenapa di kantor jarang senyum?" "Ah boro-boro senyum mas di kantor,kerjaan seabrek gitu" "Iya sih,apalagi kalau kita sudah dikejar deadline" "Hahaha,wajahnya aneh gitu mas" "Tau nggak Pril,gua kira kerja di perusahaan majalah bakal bisa santai tapi ternyata lebih ribet dan padat. Ohya,kenapa loe milih jadi freelance.tidak jadi pegawai tetap?" "Mas Dong Min mau tau?Atau mau tau banget?",godaku "Aish,dasar ngerjain. Penasaran nih" "Owkay,but...makanan kita udah datang tuh. Mending kita makan dulu. Hohohoho" "Baiklah" Betapa bahagianya aku selama di Bali bersama Dong Min. Bekerja sama dengannya betul-betul menyenangkan.Mungkinkah tanpa sadar aku jatuh cinta dengannya.Setiap hari dia memberikan perhatian padaku baik perhatian kecil sampai perhatian besar. Dong Min sosok cowok yang aku cari selama ini,beda dengan Juno, Dong Min sama sekali tidak malu buat makan di pinggir jalan jika aku ajakin,malah dia yang lebih sering mengajakku makan di pinggir jalan. "Pril,lama-lama disini kita gemuk ya?" "Ini mah belum seberapa mas,gua pernah pas di Jepang berat badan naik sampai 10 kg. Pulang ke Indonesia gua langsung ikut fitnes" "Wuakakakak,aslinya?" "Asli.Mas,nanti sore kita beli oleh-oleh yuk. Mumpung ada waktu buat beli oleh-oleh" "Ya ampun,sampai lupa belum beli oleh-oleh" Sore harinya aku dan Dong Min mampir ke toko oleh-oleh terbesar dan termurah di Bali.Kalau sudah begini rasanya aku ingin memborong semua,seperti waktu di Korea. "April sini deh",panggil Dong Min padaku "Iya mas,kenapa?" "Kita beli ini yuk,couplelan. Lucu nggak?",tanya Dong Min menunjukkan gantungan kunci "Couple?" "Iya.Nggak mau?Atau jangan-jangan takut pacarnya marah ya" "Ih,gua belum punya pacar kok",ujarku berbohong.Entah kenapa aku tidak mau sampai Dong Min tau aku sudah punya tunangan "Bagus dong,berarti gua daftar ya" "Hah?" "Nanti malam aja deh" "Ihh,mas Dong Min. Sekarang" "Nanti malam.Kita fokus belanja aja" "Iya deh" Malam ini aku dan Dong Min memutuskan makan di restoran hotel saja.Berhubung kami sama-sama capek habis belanja. "Ayo,tadi mau ngomong apa?",tanyaku membuka percakapan "Hahahaha,penasaran ya" "IIhhh,buruan" "Iya..iya..Pril,serius loe belum punya pacar?" "Iya serius,emang mas Dong Min belum punya pacar juga?" "Wuakakakakak,siapa yang mau sama gua Pril. Cewek khan suka cowok yang bermobil dan tajir nah gua baru punya motor,itupun masih nyicil" "Nggak semuanya kali mas,gua aja nggak" "Yakin loe mau sama gua" "Mas ini nembak atau cuma nanya aja?" "Nembak. Nggak romantis ya" "Hahahahaha,aneh banget nembaknya",ujarku.Sebenarnya aku senang ditembak seperti ini,karena aku tidak suka cowok romantis,soalnya sudah bosan dengan semua hal romantis yag dilakukan Juno "Hehehehe,terus jawabannya",tanya Dong Min dengan raut wajah gelisah "Bolehlah",jawabku dengan tersenyum "Jadi kita jadian nih?",tanyanya lagi dengan tidak yakin "Iya. Bener. Gua mau jadi pacar mas Dong Min" "Makasih ya" "Makasih buat apa?" "April mau jadi pacarku. Ohya,gua punya sesuatu untuk April",ujar Dong Min sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan ternyata itu sebuah cincin. Memang sih,cincinnya biasa saja,tetapi aku senang menerimanya "Cincin?" "Iya,maaf ya,cincinnya biasa banget,itu juga tadi beli di toko oleh-oleh" "Hahahahaha. Nggak apa-apa,lucu kok",ujarku sambil memakainya di tanganku "Hehehehe,syukurlah kalau April suka" "Makasih ya mas" "Sama-sama" Akhirnya malam ini aku dan Dong Min jadian. Inilah kami, pasangan yang tidak ada romantis-romantisya. Jadian pun seperti ini,tapi entah kenapa aku senang dan bahagia,karena lebih alami.Entah apa yang akan terjadi nanti ke depannya antara aku,Dong Min dan Juno,tapi yang jelas aku tidak akan melepaskan Dong Min,tetapi aku takut kalau aku melepaskan Juno apa yang akan terjadi dengan pekerjaan papa nanti.Biarlah nanti terungkap dengan sendirinya,yang jelas sekarang aku jadian dengan Dong Min.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus,menarik
09/06/2025
0cerita bagus
01/05/2025
0bagusss bangett ga ngebosenin
30/04/2025
0Lihat Semua