Jessy berjalan menyusuri gelapnya malam dengan langkah gontai. Rambutnya yang curly ala Korean Wave terayun-ayun mengiringi gerak tubuhnya yang tinggi semampai. Gadis cantik itu berjalan menyusuri gelapnya malam dengan terengah-engah. Mulutnya masih bau alkohol dan gaun putihnya terkena percikan cappuccino. Dia hampir mencapai mulut gang saat bunyi sirine mobil polisi mulai mengejarnya. Pikiran warasnya masih ada, Jessy sadar, barusan laki-laki tua yang dia temani minum mati di room karaoke. Menyisakan segelas cappuccino di atas meja dan Jessy pun langsung pergi meninggalkan tempat. Napasnya tersengal-sengal dan keringatnya pun bercucuran. Jessy adalah pelari yang handal di sekolah, namun bukan pelari ulung di atas high heels setinggi 18 cm seperti saat ini. "Aduh!" pekik Jessy pelan sambil melepaskan sepatunya. Ada beberapa butir kerikil kecil masuk ke dalam sepatu dan terasa sangat menusuk. Larinya terhenti beberapa saat. Setelah mengenakan sepatunya, Jessy kembali berlari. Suara sirine mobil polisi membuat pikirannya kacau. Kepalanya masih terasa berat akibat mabuk,dan ada rasa ingin muntah. "Hoekks.." Jessy mengeluarkan muntahan berisi makanan dan cairan berbau alkohol. Kini perasaannya jauh lebih baik, rasa sakit di kepala pun agak berkurang. Gaun putihnya bercampur aroma keringat dan parfum Thierry Mugler.Tumitnya terasa pegal harus bertahan di atas high heels yang tinggi dan terus berlari. Akhirnya Jessy menemukan sebuah bangunan kuno dan bisa bersembunyi di balik gedung. Bagian di belakang gedung berupa lorong seperti gang buntu, hanya ada sebuah tong sampah besar dan batu-batu jalanan. "Huft..." dengus Jessy sambil melempar tasnya ke atas tanah. Sebuah tas merk Louis Vuitton pemberian pertama dari mama saat lulus SMA. Dia terduduk melepas lelah, napasnya naik turun. Dikeluarkannya secarik tissue dari dalam tas untuk mengelap peluh yang membanjiri wajah dan lehernya. Lalu dibukanya sebuah air mineral dari dalam tas dan diminumnya tiga teguk. Air yang mengalir di kerongkomgan membuatnya segar kembali. Suasana malam sangat mencekam tiada manusia yang lalu lalang lagi karena memang tiba waktunya manusia untuk kembali ke peraduan. "Andaikan aku tidak lari dari rumah. Pasti aku udah tidur di kasur yang empuk dan ac yang dingin," batin Jessy sambil meneteskan air mata. Pikirannya menerawang jauh mengingat masa-masa lampau yang indah, hidup berkecukupan, sampai akhirnya ah...lamunannya pecah tatkala seekor kucing menabrak tong sampah di dekatnya. "Meoong," kucing itu menyeringai dan pupil matanya membesar tampak memperhatikan Jessy seperti macan kecil yang hendak menerkam. Jessy mundur tiga langkah karena kaget. "Hush! Hush! Pergi!" usir Jessy sambil menghentakkan sepatunya. Namun kucing berwarna coklat belang putih itu seakan enggan meninggalkan tempat, bagaikan penguasa lorong di sana. Jessy keluar dari persembunyiannya, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari mobil polisi yang tadi menguntitnya. Bunyi sirine mobil polisi masih keras terdengar. Artinya masih dekat dengan tempatnya berdiri. Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang pundaknya, gadis itu seketika pucat pasi dan tak kuasa menengok ke belakang. "Malam-malam begini kamu belum pulang,Non?" Jessy membalikkan badan dan nyaris berteriak. Seorang bapak berkulit hitam, berbadan kekar dan berkumis serta berjambang lebat ada di belakangnya. "Eh Bapak, belum Pak. Ini lagi dalam perjalanan pulang," sahut Jessy sambil membetulkan letak tasnya yang hampir terjatuh karena kaget. Matanya meneliti sosok bapak berkumis lebat di depannya. "Jangan-jangan polisi yang sedang menyamar," batinnya. Kepanikannya mereda saat dilihatnya sang bapak memiliki banyak tato di lengannya. "Sang bapak berwajah sangar namun memiliki suara yang lembut dan sopan. Atau ah...dia hanya pura-pura baik. Mana ada manusia baik-baik keluyuran malam hari," berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam pikiran gadis itu. "Jangan takut,Nak. Perkenalkan saya Sarwo. Petugas jaga malam gedung sarang burung di seberang jalan." Bapak itu mengikuti Jessy berjalan lalu melanjutkan ceritanya. "Dulu gedung itu bekas toko ban tapi karena di atapnya muncul banyak burung walet yang membuat sarang.Akhirnya sang boss memindahkan tokonya ke tempat lain. Dan gedung itu diubah menjadi sarang burung walet." "Bapak sudah dua puluh tahun kerja di sana. Terutama jaga malam, karena banyak orang jahat berniat merusak dan mengambil hasilnya Nak,"imbuhnya. Jessy memandang wajah bapak itu dalam-dalam. "Bola matanya hitam pekat sepekat warna kulitnya. Membuat bulu kudukku merinding," Jessy membatin. Tak kuasa rasanya bertatap pandang lama-lama dengan sosok seperti ini, takut salah bicara atau salah gerak sedikit dan si bapak ini berubah sangat garang. "Oh begitu..tapi saya bisa pulang sendiri. Tak perlu ditemani. Terima kasih," kata Jessy tergagap-gagap karena takut. "Saya cari taksi dan taksi itu udah deket banget. Tuh dari sini udah keliatan. Bapak cukup sampai di sini aja ikutin saya." "Hati-hati di sana banyak orang mabuk,Nak. Kalau ada di sekitaran sini jangan keluyuran malam-malam," pesan Pak Sarwo sambil menunjuk ke arah ujung jalan yang ternyata adalah sebuah warung rokok tempat berkumpul orang pada malam hari sebelum pandemi Covid-19." "Makasih,Pak. Udah diingetin. Nama saya Jessy, masih kuliah, tadi memang abis dari Karaoke Happy Live," jawab gadis cantik itu lirih. "Saya lagi cari taksi untuk balik ke rumah,Pak.Sebenarnya orang tua saya juga di Jakarta. Tapi mama sering melarang saya keluar malam jadi saya tinggal di rumah lainnya. Sampai jumpa ya Pak," Jessy pamit sambil melambaikan tangannya pada bapak tadi sambil berlari-lari kecil. Si kucing tetap berhenti di tempat tadi, tepat di sebelah kiri bapak kekar bertato. Posisinya terduduk seakan takut mengeong. Jessy lega, kini mobil polisi telah menghilang. Dalam pelarian ini tiba-tiba gadis cantik ini kangen mama yang telah lama ditinggalkannya. Ada segumpal rasa rindu pada sang mama, namun .....ah. Niat itu diurungkannya kembali. Mama hanya ingin Jessy kuliah sedangkan Jessy gak lagi bersedia menjadi "anak mami" yang tiap hari kerjaannya makan, tidur, dan belajar. Sejak papa kabur dari rumah dan pergi dengan janda kampung itu, perekonomian keluarga menjadi prihatin. Mama harus bekerja keras dan hidup serba hemat. Jessy yang sejak SMP telah menjadi model majalah dan selegram tak bisa hidup serba prihatin. Apa kata orang nanti selebgram bajunya itu-itu aja. Jessy terbayang wajah sang mama yang lembut dan sangat perhatian, namun juga menyebalkan buat Jessy. "Over protective! Itu yang membuat gadis cantik ini akhirnya berontak. Selama ini Jessy berusaha menjadi yang terbaik, selalu nomer satu di kelas tapi perasaan Jessy tertekan." Itulah sebabnya Jessy ingin merasakan kebebasan tanpa diatur mama. Gadis cantik ini teringat semua pengorbanan mama selama ini, menemani photoshoot dan syuting demi menjaga anak gadisnya. Taksi masih 200 meter lagi di depan Jessy. Ada rasa rindu terhadap adiknya, Aldo yang beda 10 tahun darinya. Pipinya yang montok dan tingkahnya yang lucu. Aldo pasti sering nanyain kakaknya yang jarang berada di rumah. Adiknya hanya ditemani Zus Atun yang kini posisinya digantikan oleh Mbak Inah demi penghematan. Zus Atun adalah baby sitter yang dulu pernah merawatnya waktu bayi, kini telah dirumahkan dan mengasuh cucunya di kampung. Ketika membayangkan wajah mama dan adiknya,Aldo lagi-lagi Jessy menitikkan air mata. Belum ada enam bulan terpisah dari mereka tapi rasanya udah 1 tahun. Semua urusan kita ditangani sendiri, jauh berbeda dengan saat di rumah yang segalanya telah disiapkan mama. Tapi kebawelan dan kekepoan sang mama yang punya sejuta akal untuk mengetahui apa isi chat di ponsel Jessy juga sejuta akal untuk mengetahui nomor plat mobil semua teman-teman gadis ini, membuat Jessy kurang suka. Teringat saat menjelang ujian nasional SMA tahun lalu, Jessy berpacaran dengan Tyo, anak direktur yang tiap malam mengajaknya dugem. Di sanalah gadis ini mulai kecanduan hidup borjuis, dan mengenal minuman beralkohol mulai dari Soju, whiskey hingga MaCallan. "Selamat pagi Bu Wakil Presiden," sapa satpam tiap menyambut kepulangan Jessy saat weekend kala itu. Mama sangat tak suka melihat anak gadisnya pulang subuh selepas dugem. Gadis itu teringat, kala itu seringkali bercerita pada sang mama bahwa Tyo adalah belahan jiwanya yang serba klop. Teman minum bareng, mabok bareng untuk melupakan kesedihannya akibat sang papa yang kabur dari rumah. Hingga dalam keadaan mabok itu,Jessy sama sekali tak sadar kalau Tyo memiliki niat jahat. Gadis itu dibawa sang kekasih ke lantai dua yang berupa penginapan. Di sanalah mahkota Jessy direnggut. Masih ingat benar itu kejadian tiga bulan menjelang ujian kelulusan. Saat tersadar gadis itu marah-marah namun Tyo yang mabok hanya minta maaf. Jessy bangun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai. Ada rasa sakit di bagian bawah perutnya. Ada darah menetes di atas seprei putih yang dia tiduri. Sejak kejadian itu, Jessy merahasiakannya dari sang mama dan hubungannya dengan Tyo masih terus berlanjut meskipun sembunyi-sembunyi. Hingga suatu hari, Tyo mulai jarang datang. Orang pertama yang Jessy curigai adalah sang mama. Beliau sangat antipati terhadap Tyo waktu itu. "Anak badung! Kalau memilih cowok jangan lihat materinya aja,Jes. Kamu kan tau status Tyo itu apa? Mahasiswa Drop Out lho...Apa jadinya dengan masa depanmu bersama laki-laki macam dia?"kata mama waktu itu. Jessy menanyakan hal itu melalui telpon namun cowok itu berkelit dan mengatakan dia sedang sibuk merawat neneknya yang sakit di Medan. Tyo cuma berpesan agar Jessy giat belajar. Kini cowok itu telah menghilang,Tyo memang bandel tapi dia beda dari mantan Jessy lainnya. Cuma dia yang mengerti segalanya dan cuma dia yang membuat hidup Jessy sangat lengkap. Gadis cantik itu tersadar kembali dari lamunannya ketika taksi berhenti di depan rumah, Jessy membuka pintu dan melirik jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Selesai membersihkan diri,Jessy menarik selimut. Namun... "Upps...aku melupakan sesuatu,ada tugas presentasi Teori Komunikasi besok pagi.Untung presentasi kelompok, jadi tinggal menggabungkan dengan google doc,"batin Jessy. Dengan lincah jari jemarinya mengetik di atas keyboard sambil sesekali melihat materi mata kuliah yang telah diunduh. "Selesai juga..." Jessy menguap dan bersiap merebahkan diri. "Driiing..."ponsel berdering dan Jessy meliriknya. Pasti dari mama yang selalu bangun pukul 04.00 pagi. Setelah ringtone ketiga, diangkatnya telpon itu. "Pagi,Ma. Aku baik-baik aja kok. Lagi tidur. Iya besok pasti aku kuliah. Mama tenang aja." "Jes, mama kangen kamu. Sebutin dimana sekarang kamu tinggal, biar mama jemput dan kita sama-sama lagi. Aldo sering nanyain kamu lho. Kasian dia," kata mama dengan lirih. Ada kepedihan di nada suara mama. Jessy diam-diam kasihan dengan sang mama yang harus berjuang sendirian. "Harusnya aku ada di rumah menemani mama." Kini terbayang mamanya yang makin kururs kelelahan dari foto yang kemarin mama kirim lewat whatssup. Mama harus menjadi tulang punggung keluarga setelah sang papa kabur dan menceraikannya. Ya...papa memang kejam selama ini telah menipu mama dan anak-anaknya. Papa ternyata telah memiliki tiga anak di luar nikah semasa kuliah yang menyebabkan tagihan kartu kreditnya selama ini membengkak yang akhirnya dibebankan kepada sang mama. Padahal sang mama telah mengembalikan kartu kredit tambahan yang dia pakai sebelumnya dan lebih suka menggunakan kartu debit. Mama memang wanita sederhana yang tidak suka belanja secara berlebihan. Tak terasa butiran air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya. Betapa besar perjuangan mama yang telah melahirkannya dan Aldo, saat ini bertambah pula beban mama untuk berjuang menafkahi keluarga kecilnya dan juga masa depan anak-anaknya. "Suatu saat aku pasti pulang,Ma.."bisik Jessy dalam hati. "Aldo belum lama sakit selama 5 hari, badannya demam,"lanjut mama. "Seharusnya kamu ada di rumah temani dia.Kamu kan tau sekarang mama makin jarang ada di rumah karena harus kerja cari uang,"lanjut sang mama. Mama benar, Aldo kini telah duduk di kelas 1 sekolah dasar dan mulai banyak PR. Dan saat ini Zus Atun telah diberhentikan digantikan Mbak Inah yang tentunya tak secerdas Zus Atun dulu. Harusnya Jessy ada di samping adiknya dan mendampingi adiknya belajar. "Jessy kangen Aldo. Ingin mencium pipi Aldo yang montok dan memeluk tubuh gendutnya yang lucu." "Belum saatnya Jessy balik ke rumah. Tapi nanti pasti pulang. Mama jaga kesehatan ya! Gausah mikir berlebihan." "Iya,kamu jaga diri ya...Sekarang kamu tidur lagi. Besok kuliah jam berapa?" "Jam dua siang,Ma." "Oke Jes. Jangan lupa makan sebelum berangkat ke kampus.Nite," kata mama mengakhiri percakapan subuh itu. Jessy tersadar hari telah berganti dan kesibukan akan terus berlanjut.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 42 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (86)
sigatok
ceritanya bagus , disini aku banyak belajar tentang hidup dan kasih sayang orang terdekat yang mungkin kadang aku anggap hal sepeleh tapi disini ngajarin kalo orang terdekat lah yang membantu buat bangkit lagi , semangat thor bikin cerita baru nya ,😁😁😁
ceritanya bagus , disini aku banyak belajar tentang hidup dan kasih sayang orang terdekat yang mungkin kadang aku anggap hal sepeleh tapi disini ngajarin kalo orang terdekat lah yang membantu buat bangkit lagi , semangat thor bikin cerita baru nya ,😁😁😁
21/12/2021
1keren
29/09
0sangat menarik bagiku
09/07
0Lihat Semua