logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 34 CEO baru

Dita kembali ke kantor saat menjelang jam makan siang hampir tiba, segera Cya menghampirinya untuk menyampaikan beberapa hal yang telah Dita lewatkan karena mengantar Diko ke bandara tadi.
“Dita... kamu itu dari mana aja? Kamu tahu nggak banyak hal yang kamu lewatkan seharian ini,” cecar Cya begitu Dita baru memasuki ruangan kerjanya.
Dita duduk di kursinya lalu melepas syal dan meletakkan tas serta syal tadi di tempatnya, “Memangnya ada apa?” tanyanya setenang mungkin.
“Kamu tahu nggak, Joe udah ditangkap sama polisi karena kasus pencurian data perusahaan. Ternyata selama ini dia dekatin kamu ada tujuan tertentu ya, secara kamu sekretaris CEO,” celoteh Cya.
Dita merasa bahwa itu bukan berita besar untuknya, “Lalu, apa lagi?”
“Lalu... kalau aku nggak salah dengar tadi kamu di cariin sama CEO yang baru. Yang gantengnya beda tipis sama Pak Diko itu loh, hehe” goda Cya seraya terkekeh pelan.
Dita melirik jam di pergelangan tangannya, “Pantas saja, dia kan masih baru di sini dan aku belum kasih tahu dia tentang data-data perusahaan ini sama sekali. Aku pergi dulu ya,” pamitnya tanpa menunggu jawaban Cya, segera ia menuju ruangan Diko yang kini beralih milik menjadi punya Adrian.
*
Tok! Tok! Tok!
“Masuk...,” sahut Adrian dari dalam ruangan.
Segera Dita masuk setelah mendapat persetujuan, “Permisi Pak Adrian, maaf saya tadi izin ada keperluan sebentar. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Dita sesopan mungkin.
Adrian melirik jam di tangannya, “Ini sudah jam makan siang dan kamu baru kembali?” tanyanya dengan penuh penekanan seraya beranjak berdiri dari kursi kerjanya, “Saya tahu dulu kamu dan Diko ada hubungan spesial makanya kamu jadi seenaknya di kantor ini, tapi sekarang saya CEOnya jadi jangan harap kamu bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja,” gertaknya dengan berkacak pinggang.
“Saya minta maaf Pak, saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang kembali,” sahut Dita dengan menundukkan kepalanya.
“Saya pegang janji kamu, sekarang pesankan makan siang untuk saya,” perintah Adrian lalu berjalan kembali untuk duduk di kursinya.
“Maaf Pak, tapi...,”
“Tugas kamu sekarang bukan hanya sekretaris saja, kamu juga saya jadikan asisten pribadi saya,” potong Adrian, sebelum Dita membantahnya, “Saya tidak menerima segala bentuk penolakan apa pun itu, kecuali kamu ingin di pecat dan ganti rugi 2 kali lipat karena menyalahi kontrak kerja,” lanjutnya tanpa membalas tatapan Dita yang sedang menatapnya tajam.
Ingin rasanya Dita ikut kabur dengan Diko ke London saat ini juga dari pada harus berhadapan dengan manusia di depannya yang telah memperlakukannya dengan semena-mena melebihi kegarangan Diko di masa lalu.
Namun Dita tak bisa menolak perintah CEO barunya itu, jika masih ingin bekerja di sini demi masa depannya dan kesembuhan papinya yang meski kini telah bisa berjalan kembali tapi sakit jantung yang di deritanya masih bisa kambuh kapan saja.
“Bapak ingin di pesankan makan siang apa?” tanya Dita selembut mungkin, berusaha meredam kekesalan dalam hatinya.
“Terserah apa saja, saya nggak pernah bawel soal makanan yang penting enak. Dan... jangan lupa harus ada nasi, lauknya terserah kamu yang atur itu kan tugas kamu. Masa iya harus saya juga yang mikirin,” sahut Adrian dengan ketus.
“Kalau bukan bos udah ku lempar ini high heels ke muka dia, aaargh,” geram Dita dalam hatinya seraya mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Adrian.
“Kenapa lihatin saya begitu? Kamu mau marah?” tanya Adrian sarkas.
“Tidak Pak Adrian, saya permisi dulu,” pamit Dita seraya memaksakan senyumnya dan segera berjalan keluar dari ruangan Adrian.
Ruangan yang dulunya penuh kehangatan dengan canda tawanya bersama Diko, kini terasa seperti neraka baginya.
“Jangan lama-lama, saya sudah lapaaar...!,” teriak Adrian begitu Dita telah menutup pintu ruangannya.
“Ya Tuhan, berilah aku kesabaran. Tingkah laku bos satu ini melebihi kelakuan Diko yang dulu, aku harus lebih sabar menghadapinya demi papi dan Diko. Ehm, Diko... apa kamu sudah merindukan aku,” batin Dita membuatnya termenung sejenak, sebelum ia kembali tersadar dengan perintah yang diberikan oleh bos barunya segera ia meraih ponselnya untuk memesan makanan.
Tak butuh waktu lama, ibu kantin yang menjadi langganan Dita segera mengantar makanan padanya. Karena pekerjaan yang ditinggalkan tadi membuat Dita tak bisa ke kantin karena pasti akan antre di jam istirahat seperti ini, jadilah ia memesan langsung pada pemiliknya dan menunggu di ruangannya sambil mengerjakan tugas yang sempat ia tinggalkan.
“Terima kasih ya Bu, semua yang saya pesan ada kan?” tanya Dita memastikan kembali pesanannya agar tak ada yang terlewat.
“Pasti non, sudah lengkap sesuai yang non pesan. Ada soto ayam, nasi, krupuk, buah semangka untuk cuci mulut dan air mineral untuk minumnya. Sip pokoknya non,” ujar Bu Sumini penjaga kantin seraya mengacungkan kedua jempolnya.
“Oke Bu, ini uangnya ya,” kata Dita sambil memberikan selembar uang 100 ribuan.
“Wah besar sekali uangnya non, saya nggak bawa kembalian.”
“Nggak papa, simpan aja buat Bu Sum ya. Saya harus segera bawa ini ke ruangan Pak Adrian, sekali lagi makasih ya,” ujar Dita dengan membawa nampan menuju ruangan Adrian.
*
“Ehm, dari baunya sepertinya enak. Tapi kamu nggak taruh apa pun di makanan saya kan?” tuding Adrian.
Mendengar ucapan Adrian membuat Dita membelalakkan matanya, “Maksud Bapak apa? Bapak menuduh saya mau meracuni Bapak begitu?” tanyanya balik.
“Kalau memang nggak ada apa apa coba buktikan, saya ingin lihat kamu coba duluan makanan ini,” perintah Adrian.
Dita menghela nafas kasar, tak ingin berdebat karena pekerjaan yang masih banyak menunggunya segera ia mengambil sendok dan mengambil sesuap kuah soto lalu memasukkannya ke dalam mulut.
“Bapak lihat, saya tidak apa-apa kan. Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?” tanya Dita dengan menahan segala emosi yang sudah memuncak.
Adrian mengambil sendok yang tadi digunakan Dita lalu memakainya untuk makan, “Tidak ada, kamu boleh pergi. Saya mau menikmati makanan lezat ini tanpa di ganggu siapa pun,” ujarnya sambil makan dengan lahap, “Enak juga makanan di kantin sini,” batinnya, karena di tempatnya dulu belum pernah menemukan makanan seenak di kantin saat ini.
Tanpa berpamitan Dita pun segera meninggalkan ruangan Adrian dan kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaannya. Karena terlalu sibuk, hingga ia melupakan waktu makan untuknya sendiri.
*
*
*
Next...

Komentar Buku (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru