“Senang ya dapat tamu ganteng, pengusaha muda, sampai lama sekali mengantarnya nggak balik-balik,” sindir Diko begitu Dita memasuki ruangannya. “Maaf tadi kami berbincang sebentar,” sahut Dita sekenanya. “Sebentar? Hampir 20 menit,” kata Diko seraya melirik jam di pergelangan tangannya. “Perusahaan Adrian nggak terlibat dengan semua ini Diko.” “Dari mana kamu tahu?” tanya Diko seraya membenarkan posisi duduknya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Ya dia yang bilang ke aku, dan dari yang dia bicarakan aku rasa dia jujur,” kata Dita lalu menghempaskan dirinya di kursi depan meja Diko. “Baru bertemu tapi sepertinya kamu sangat mengenal dia ya,” ujar Diko merasa cemburu. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat Diko, tolonglah jangan libatkan pribadi kita dalam masalah ini,” kata Dita tegas. “Baik.. Aku minta maaf, lalu Joe bekerja sama dengan siapa kalau begitu?” tanya Diko lalu melipat tangannya di atas meja. Dita mengedikkan bahunya, “Aku juga nggak tahu, itu yang harus kita selidiki,” ucapnya. * Diko pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk, ia sangat marah pada dirinya karena baru kali ini ia gagal sampai kehilangan banyak klien penting yang selama ini menjadi sumber pendapatan terbesar untuk perusahaannya. Tapi marah pada diri sendiri pun tak akan menyelesaikan masalahnya begitu saja, ia harus segera mengambil tindakan. Nasib perusahaan dan karyawannya di pertaruhkan saat ini, jika tidak segera mengambil keputusan maka ia bisa kehilangan semuanya. “Aaargggh!!!” geram Diko seraya menarik rambutnya merasa frustrasi pada dirinya. Papa dan Mama Diko yang mengerti akan masalah yang dihadapi putra mereka satu-satunya mencoba menghampiri dan memberi nasehat padanya. “Diko, papa dan mama sangat mengerti akan masalah yang sedang kamu hadapi. Saran papa lebih baik kamu terima tawaran perusahaan Xander untuk akuisisi, dari situ nanti kamu bisa memulai usaha baru lagi. DND tidak kehilangan klien besar, karyawan kamu terjamin dan bukan nggak mungkin DND akan semakin sukses hanya saja kamu tidak bisa lagi turut andil di dalamnya untuk sementara waktu,” tutur Dave, “Tapi itu lebih baik bukan, setelah kamu sukses dengan usaha baru kamu nanti barulah kamu bisa menawarkan merger kembali dengan DND, jadi kamu nggak akan kehilangan DND,” lanjutnya. Diko termenung mencoba mencerna perkataan papanya. “Kamu bisa ke London untuk sementara waktu, klien besar kita tentu lebih banyak di sana. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik saran dari papa ya,” ujar Dave sambil menepuk pelan bahu Diko. “Mama dan papa pasti ingin yang terbaik untuk kamu nak, semoga kamu setuju dengan saran papa,” timpal Aulia. Diko mengangguk, “Baik ma, pa... Diko akan pertimbangkan dulu saran dari kalian. Terima kasih selalu mendukung dan memberi semangat untuk Diko.” Diko memeluk papa dan mamanya, merasa beruntung masih memiliki orang tua yang selalu mendukung dan memberinya semangat ketika ia sedang jatuh dan terpuruk. * Pagi harinya, karena hari ini libur Diko mengajak Dita ke taman untuk menghabiskan waktu berdua. Diko telah mengambil keputusan untuk mengikuti saran dari papanya, namun sangat berat untuk menyampaikannya pada Dita. Karena itu artinya mereka harus berpisah untuk sementara waktu. Diko memeluk Dita begitu erat seolah sangat berat mengucapkan kata perpisahan itu. “Kamu kenapa?” tanya Dita yang merasa bingung dengan sikap kekasihnya yang seolah tak ingin melepaskan pelukan mereka. Diko menggeleng, “Aku hanya ingin menikmati saat saat ini, biarkan begini ya,” ujarnya seraya makin mengeratkan pelukan mereka. Dita mengelus punggung Diko, “Ceritakan padaku apa yang terjadi?” tanyanya lalu melepas pelukan mereka dan menatap lekat pada manik hazel Diko seraya menunggu jawaban. Diko hanya terdiam bibirnya tak sanggup untuk mengucapkan perpisahan itu. “Diko?” panggil Dita, Diko memeluknya lagi membuat Dita semakin bingung, “Kamu kenapa? Tolong beri tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi?” Diko lalu melepas pelukan mereka, mengambil nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan, “Aku.. aku udah mengambil keputusan. Aku akan menerima tawaran Adrian untuk akuisisi DND, tapi...” Dita terdiam menunggu perkataan Diko selanjutnya. “Aku harus ke London untuk memulai bisnis baru, karena semua klien besar DND di sana. Jadi aku harus ke sana untuk memulai lagi semuanya dari awal, berat untuk aku bilang semua ini ke kamu. Baru aja kita mulai hubungan kita, tapi kita harus berpisah lagi meski untuk sementara,” ujar Diko lirih seraya menundukkan kepalanya. “It’s ok Diko.” Dita meraih wajah Diko untuk menghadapnya, “Ini semua kan untuk masa depan kamu dan DND juga, kenapa kamu harus sedih? Aku mengerti kamu pergi hanya sementara aja nanti juga kembali kan, jangan sedih gitu,” ujarnya seraya mengusap pipi Diko. “Aku sedih karena kita harus berpisah lagi, aku nggak bisa...” ucap Diko seraya menatap sedih pada Dita. Dita tersenyum mencoba memberi keyakinan pada kekasihnya, “Aku dukung kamu pergi ke London untuk memulai bisnis kamu. Kita masih bisa video call, telepon apa pun itu. Masih banyak cara kita untuk tetap terhubung, kamu harus semangat ya. Jangan terlalu pikirkan aku di sini, aku bisa jaga diri. Kamu cukup beri aku kabar aja,” ujarnya berusaha memberi semangat Diko. “Kamu yakin? Atau kamu mau ikut aku ke London?” tawar Diko. Dita menggeleng cepat, “Aku bantu jaga DND di sini ya, papi aku juga masih butuh aku. Maaf...,” tolak Dita merasa tak enak hati. Diko mengangguk paham, “Aku cukup lega kamu sangat mengerti aku, terima kasih ya kamu selalu ada untukku dan mendukung setiap keputusanku. Tunggu aku pasti akan segera kembali,” kata Diko lalu mengecup bibir Dita sekilas. Dita hanya tersenyum, lalu mengelus wajah Diko. Mengamati setiap detail wajah yang sebentar lagi tak bisa menemani hari-harinya seperti biasa. * Akhirnya perusahaan Adrian telah berhasil mengakuisisi perusahaan Diko dan membuat sang CEO harus merelakan jabatan yang selama 5 tahun lebih telah ia pegang. Setelah menandatangani dokumen peralihan perusahaan, Diko berpamitan kepada semua karyawannya, tak lupa ia mendoakan kesuksesan untuk DND di tangan CEO mereka yang baru yaitu Adrian Alexander. Selepas berpamitan pada seluruh karyawan kantornya, Diko bergegas ke bandara dengan di antar oleh Dita dan kedua orang tuanya. “Diko pamit ya pa, ma, doakan Diko segera kembali dengan sukses,” pamit Diko seraya memeluk kedua orang tuanya. “Iya sayang, doa mama dan papa selalu menyertai kamu. Jaga diri baik-baik di sana,” ujar orang tua Diko. Setelah berpamitan pada orang tuanya, Diko beralih pada Dita yang sedari tadi berusaha menahan air matanya agar tak jatuh di depan kekasihnya. “Apa kamu nggak mau memelukku?” tanya Diko yang juga menahan air matanya sambil merentangkan kedua tangannya. Segera Dita menghambur kepelukan Diko, memeluknya seerat mungkin seolah tak ada lagi hari untuk mereka bertemu. Dita dan Diko tak mampu lagi menahan air mata mereka, begitu pun orang tua Diko yang menyaksikan perpisahan mereka ikut merasakan kesedihan mendalam yang turut dialami Dita dan Diko. “Maaf aku nggak sekuat yang aku bayangin, aku kira dengan ikut mengantar kamu aku bisa kuat berpisah sementara sama kamu,” ujar Dita yang menangis tersedu sedu dalam pelukan Diko. Diko semakin mengeratkan pelukan mereka, “Aku pun nggak akan pernah siap berpisah sama kamu meski hanya sementara, maafkan aku ya. Aku harus pergi,” ujarnya lalu menciumi kening Dita berkali kali. Dita hanya semakin menangis tersedu-sedu dalam pelukan Diko, tak rela membiarkan kekasihnya itu pergi jauh meninggalkannya meski hanya sementara. Diko melepas syal berwarna biru yang ia kenakan, lalu memakaikannya ke leher Dita, “Simpanlah ini, anggap sebagai gantiku untuk menemani kamu selama aku di London. I love you so much,” ujar Diko lalu mencium bibir Dita dengan air mata yang masih mengalir di pipi keduanya. Keduanya berciuman selama beberapa detik sebelum kemudian suara pemberitahuan pesawat memaksa keduanya untuk berpisah saat ini juga. Sebelum pergi, Dita sempat memberikan sebuah gantungan kunci kepada Diko dengan inisial nama mereka berdua yaitu “D&D”. Diko segera berjalan meninggalkan Dita dan kedua orang tuanya karena pesawat tujuan London akan segera berangkat. “Dah semua, aku pasti merindukan kalian semua,” pamit Diko dengan melambaikan tangannya. Aulia sedari tadi tak kuasa menahan tangis hanya bisa menangis dalam pelukan Dave, suaminya. Sedangkan Dita, hanya bisa memeluk syal pemberian Diko dengan bau parfum Diko yang masih tertinggal di sana. * * * Next...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 30 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
20/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua