Ramona memeragakan emosi senang, sedih juga marah sesuai naskah drama yang diberikan padanya. Dengan sangat seksama, Sujati memperhatikan dirinya, bahkan Tino, Lea juga Avan. Meski terbilang memiliki kemampuan yang lumayan, bagi Sujati-Ramona masih belum bisa menstabilkan emosinya. Bisa dikatakan terlalu berlebihan dari segi mimik wajahnya. "Cukup," ucap Sujati pada gadis cantik itu. Ramona segera menghentikan aktingnya. Ia memilih menunduk daripada menatap wajah orang-orang di ruangan itu. Terlebih, ketika Sujati justru menekan kening daripada terkesima. Ia menduga kemampuannya memang masih sangat buruk. Hal itu membuatnya kembali minder, apalagi ada Avan yang luar biasa bagus dalam berakting. "Bagaimana menurut kamu, Avan?" tanya Sujati pada aktor tampan yang sedang terjerat skandal palsu tersebut. Avan mengangkat kedua alisnya. "A-apanya, Pak?" tanyanya heran. "Kamu lihat si cantik sedang akting tadi, 'kan?" Avan mengangguk. "Ya, Pak, saya melihat." "Jadi, menurut kamu bagaimana?" "Kalau boleh jujur, Nona ini masih belum bisa mengendalikan mimik wajahnya. Bisa dibilang, masih terlalu berlebihan." "Hmm ... sepemikiran." Jantung Ramona semakin berdegup kencang. Penilaian yang ia dapatkan dari kedua pria tersebut memang menyadarkannya dari kelemahan. Ia sangat bersyukur akhirnya tahu di mana letak kesalahannya selama ini. Namun, di sisi lain ia merasa khawatir jika casting kali ini kembali gagal. Terlebih, sudah membuat taruhan dengan sang kakak. Ramona bisa saja meninggalkan rumah Melly, bahkan sangat ingin. Ia hanya tidak ingin membuat Yati merasa khawatir, sehingga tetap bertahan sampai sekarang. Yang membuatnya merasa takit jika kalah taruhan adalah olok-olok dari Melly yang terbilang pedas. Ia akan malu sejadi-jadinya, bahkan akan hancur harga dirinya oleh kakaknya sendiri. Namun, yang memutuskan adalah Sujati. Direktur dari agensi ternama itu, pihak yang memanggilnya datang meski tidak ia minta sama sekali. Sujati berdeham, sampai membuat Ramona terkejut. Keterkejutan Ramona justru disambut tawa oleh sang direktur. "Kamu gugup, ya?" tanyanya. Ramona mengangguk pelan. "I-iya, Pak." Senyum malu-malu terulas di bibir pink nan tipis miliknya. "Kenapa? Karena bertemu Avan Bara?" Tino menyela, "bertemu saya, Pak!" "Yang jelek, diam!" tegas Sujati pada asistennya tersebut. Tino mendengkus kesal diam-diam, diiringi cibiran pada Sujati yang juga dilakukan secara diam-diam. Namun, bukan Tino namanya jika terbawa perasaan. Selang beberapa detik, ia malah memberikan kedipan mata pada Ramona. Hal itu membuat sang gadis terpaksa tersenyum, meski merasa sedikit terganggu. "Saya dengar, kamu ini masuk sekolah akting ya?" tanya Sujati lagi, ia masih mencoba mengulik perihal latar belakang Ramona. Gadis berusia 20 tahun itu mengangguk. "Benar, Pak," jawabnya. "Gurumu siapa?" "Bapak Radit dan Bu Silvi." "Halah, si para amatir. Begini, kamu ingin sekali menjadi artis?" Ramona mengangguk dengan semangat. "Sangat, Pak!" "Hmm ... ambisimu besar juga, ya?" Sujati menatap dalam-dalam wajah Ramona. Menurutnya memang cantik, hanya saja kemampuannya perlu dibenahi. Menarik! Ia akan membuat suatu keputusan yang menurutnya hebat. Sujati menatap semua orang satu persatu. Ia mengepalkan kedua tangannya, senyum tipis terukir di bibirnya. Ekspresinya membuat Avan, Lea, juga Ramona sontak bertanya-tanya. Kecuali dengan Tino yang justru ikut tersenyum-senyum seolah ia tahu segela pemikiran sang direktur saat ini. Kegelisahan kembali bergelayut di hati Ramona. Ia menelan saliva berkali-kali dengan harapan gelisahan itu cepat pergi. Apakah kali ini aktingnya tidak akan diterima lagi? Harga dirinya akan dipertaruhkan saat ini juga. Menunggu keputusan Sujati bagaikan menunggu sidang tentang kematian. "Tino!" ucap Sujati. "Ambil kursi di sana, biar Nona Mona bisa duduk dengan nyaman. Sayang dengan kakinya, nanti pegal," titahnya sembari menunjuk kursi tanpa sandaran di ujung ruangan. Tino mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya. Ia segera mengambil langkah untuk mengambil benda tersebut. Diam-diam, Avan Bara memperhatikan sosok Ramona. Ia merasa heran tentang siapa gadis itu, sampai-sampai Sujati memanggilnya dan casting secara khusus di ruangan ini. Memang cantik, tetapi belum menarik hatinya. Herannya lagi, Ramona justru bersikap biasa saja ketika bertemu dengan dirinya. berbeda dengan gadis-gadis lain yang akan histeris ketika bertemu dengannya. Sama halnya dengan Avan, Lea juga cukup penasaran. Namuan, karena memiliki kecerdasan, ia tahu bahwa Sujati tengah merencanakan sesuatu. Hanya saja, ia belum berani memberikan dugaan-dugaan yang muncul di benaknya. "Silakan, Nona Cantik," ucap Tino sembari memberikan kursi yang telah ia dapatkan. Tentunya dengan senyum genit sebagai andalan rayuan. Meski rayuan itu tidak pernah mempan pada siapa pun, bahkan Lea. "Terima kasih, Pak," jawab Ramona. Setelah itu, ia mengambil posisi duduk. Sujati kembali mengembangkan senyumnya, tangannya sibuk mengusap jenggot yang tumbuh sedikit panjang di bagian dagu. Tatapan matanya mampu membuat Ramona salah tingkah, sehingga membuat gadis itu memilih menunduk. "Kamu bisa jadi artis kok, Nona," ucap Sujati. Ramona membelalakan matanya. Ia menatap Sujati tidak percaya. "J-jadi saya d-diterima?" tanyanya. "Belum." Jawaban Sujati membuatnya lemah kembali. Ia mengembuskan napas dengan pasrah. Harapannya pupus. Kemampuannya memang masih buruk, mana mungkin agensi sebesar itu menerima orang dengan kemampuan seadaanya. Tampaknya, ia memang harus menerima konsekuensi dari taruhannya dengan Melly. "Tapi, masih ada harapan kok. Ada satu jalan supaya kamu bisa masuk ke dalam agensi kamu. Bahkan, kamu bisa langsung mendapat peran di suatu drama FTV." Sujati melanjutkan perkataannya yang memang belum ia selesaikan. Ia sedang menarik ulur hati Ramona, supaya gadis itu bisa menerima syarat yang akan ia ajukan. "Benarkah? Jalan yang bagaimana, Pak? Sedangkan kemampuan saya masih sangat buruk." Meski sudah diberitahu perihal jalan lain oleh sang direktur, Ramona tidak ingin lagi mengharapkan sesuatu yang sebesar sebelumnya. Ia takut kecewa. "Apa kamu bisa menerima syarat dari kami?" Ramona mengernyitkan dahi. "Syarat?" tanyanya terheran-heran. Sujati mengangguk. "Ya! Langsung saja, dan saya juga tidak mau ada kebohongan dalam kerja sama ini." Ia menegakkan badannya. "Avan akan mengajarimu tentang akting selama satu bulan." Avan sontak terkejut. "Saya? Kenapa harus saya?" tanyanya keheranan. "Karena kalian harus berpacaran." "Apa?!" Avan, Ramona bahkan Lea serempak mengucapkan kata itu. Apa maksud dari Sujati? Sedangkan, Ramona dan Avan saja tidak saling mengenal satu sama lain. Memangnya bisa langsung menjalin hubungan begitu saja? Pertanyaan itu juga sama muncul di benak mereka bertiga. Tino yang notabene-nya adalah si pembuat ide, hanya diam dan berpura-pura tidak tahu. "Ya, jalan ini sama-sama menguntungkan, bukan? Nona Ramona bisa mendapat pelajaran akting dari Avan Bara dan Avan Bara bisa menutup rumor itu dengan hubungan kalian berdua. Saya akan carikan dua judul drama FTV yang sama. Agar pertemuan kalian terlihat natural. Sebelum itu, Avan bisa bersabar dulu selama satu bulan, 'kan? Jadi pemeran antagonis terlebih dahulu?" Avan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Sujati. Hatinya bimbang, ia tidak mau menjalin hubungan palsu seperti itu. Memang, lebih baik daripada julukan sebagai perebut istri orang. Hanya saja, Ramona tidak ia kenal sama sekali. Lagipula, apakah Ramona akan nyaman dengan hubungan seperti itu? Yang hanya sebatas cinta penutup gosip belaka. Ramona pun sama, bahkan jauh lebih bimbang daripada Avan. Menjadi pacar palsu? Yag benar saja! Apakah orang level Avan Bara bersedia berdekatan dengan dirinya? Melirik saja, mungkin tidak mau. Secara tidak langsung ia dan Avan mengkhawatirkan hal yang sama. Lalu, tatapan mereka saling bertemu satu sama lain. Meski tanpa ucapan sedikit pun dari masing-masing bibir. Lantas, apakah mereka akan menerima rencana dari Direktur Sujati? ***
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap
11/12/2023
0nice
30/11/2023
0bagus
20/09/2023
0Lihat Semua