"Iya pak, Bahkan Arkan saja rela memakan permen setiap hari agar tidak merokok," ujar Arga ikut membela nama baik LIVE COALS. "Diam!" bentak pak Fadri. "Arkan jangan sampai kenakalan dan kasus-kasus kamu di sekolah sampai ke telinga papa kamu dan eyang," ujar pak Fadri. Fadri adalah adik dari Papa Arkan, jadi semua tingkah Arkan bersama teman-temannya sudah dalam pengawasan pak Fadri. "Semenjak temenan sama mereka, kelakuan kamu makin gak benar Arkan, Sebagai Om saat di rumah dan sebagai kepala sekolah saat di SMA Unjulan Bangsa, saya kecewa dengan tindakan kamu." "Bapak dari tadi marah-marah pada kami padahal kami saja bingung salah kami di mana," ucap Bima setelah sekian lama diam. "Dan untuk kamu Bima, Bapak minta untuk jauhi Arkan, pergaulan Arkan rusak karena kenal dengan kamu." Arkan menatap Fadri dengan tatapan memanas, "Bapak gak ada hak ya ngelarang saya berteman dengan siapapun." "Bima terlalu membawa dampak buruk dalam kehidupan kamu. Semenjak kenal Bima kamu jadi sering keluar malam, ikut balapan, dan tauran." "Maaf pak menyela sedikit, Boleh bapak jelaskan dulu dimana letak kesalahan kami? Dari tadi saya amati bicara bapak tidak membahas pokok permasalahan, tetapi membahas hal lain," ujar Nabil ikut membantah. Keadaan di ruang kepala sekolah semakin menegang. Sebagai Om saat di rumah Fadri adalah sosok yang tidak pernah marah, jika ia sudah marah berarti kita memang sedang melakukan kesalahan yang fatal, begitupun saat di sekolah. "Kesalahan yang kalian lakukan sudah sangat fatal, bapak akan memisahkan kalian agar tidak sekelas lagi." "Gak bisa gitu dong pak, kan bapak belum bilang letak kesalahan kami dimana," ucap Arga. "Dan satu lagi, Live Coals yang kalian dirikan saat awal menginjakan kaki di SMA unjulan bangsa ini juga harus di bubarkan!" "Dan kamu Bima, kamu saya skors." Arkan sontak berdiri mendengar ucapan pak Fadri yang akan membubarkan Live Coals. "Bapak gak ada hak buat ngurusin live coals," ucap Arkan yang sudah emosi melihat tingkah menyebalkan om nya ini. "Mantap, setelah bergaul dengan teman-teman tidak jelas kamu jadi pintar ngebantah." Bima merasa panas di tempatnya, kalau boleh jujur, Bima adalah tipe orang yang benci berdebatan dengan orang yang lebih tua seperti ini, bukan apa, hanya saja jika berdebat dengan orang yang lebih tua Bima merasa tidak memiliki tata krama yang baik. Dari tatapan nya, Bima merasa kalau pak Fadri kali ini benar-benar marah padanya, entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat, tapi satu yang Bima tangkap dari tatapan Pak Fadri yaitu Pak Fadri sangat marah padanya. "Sekalipun kamu ponakan saya, tapi jika kamu bersalah kamu akan tetap di hukum seperti murid lainnya." "Faisal Arkananta Ruzika, mulai hari ini kamu saya liburkan selama satu minggu." "Dan tidak ada lagi nama LIVE COALS di sekolah ini." Arkan mengepalkan kedua tangannya melampiaskan emosi yang tersulut karena pak Fadri. Bima mengerti Arkan, pasti papanya akan sangat marah dan akan menghukum Arkan jika papanya tau kalau Arkan di skors. Karna dalam motto hidup turunan Ruzika pendidikan itu hal yang paling utama. Bima berdiri dari duduknya, "Maaf pak, jika memang dalam kasus ini saya yang bersalah maka biarkan saja saya yang mendapat hukuman, bukan Arkan. Dan mengenai LIVE COALS bapak jangan bubarkan itu, karna tanpa Live Coals saya tidak berarti apa apa, tanpa Live Coals saya tidak mengerti akan apa arti dari Solidaritas yang sesungguhnya." Reklin dan Arga tertunduk berkaca-kaca karena ucapan Bima. Jika kalian mengatakan Reklin dan Arga lemah karena menangis hanya karna permasalahan LIVE COALS yang akan di bubarkan kalian salah, Reklin dan Arga hanya merasa sakit saat melihat salah satu di antara mereka dalam posisi yang tersudutkan, seperti Bima sekarang. Karena sejatinya mereka bukan hanya sekedar teman, tapi saudara tanpa aliran darah yang sama. Live coals hanyalah nama, yang sesungguhnya itu solidaritas tanpa batas yang selalu mereka junjung dengan tinggi. Saling merangkul saat salah satu dari mereka jatuh. Nabil ikut berdiri, "Jika bapak menskors Arkan atau pun Bima, maka skors saya juga pak, saya tidak bisa bersantai di atas penderitaan yang teman-teman saya alami, bahagia bersama maka bersedih pun harus bersama." "Saya juga pak," ucap Arga yang ikut berdiri. Reklin pun mengikut ke empat temannya, "Saya juga pak." "Oke! Kalian fikir saya peduli? Sekolah tidak memperdulikan murid seperti kalian, pintar pun tak ada gunanya jika kedisiplinan tidak ada." "Kami pamit undur diri," ucap Nabil mengajak teman-temannya karena tidak ingin berlama-lama di ruangan yang menegangakn itu. Saat hendak berbalik menuju pintu, pintu pada ruangan itu lebih dulu di buka dari luar. Dorr. Letusan satu balon berwarna hijau itu memecahkan ketegangan pada ruangan kepala sekolah. "Happy Birthday Abang Bima," ucap Adel yang membawa kue ulang tahun di tangannya. Setelah Adel mengatakan itu suara terompet mengisi ruangan kepala sekolah. "Selamat ulang tahun nak Bima," ucap Pak Fadri yang kemudian memeluk Bima Ala-ala pelukan cowok. "Apa? Jadi ini prank?" tanya Bima pada orang-orang sekitar "Iya bego masa lo belum ngeh juga," ucap Arkan santai kemudian memasukan satu tangkai permen milkita ke mulutnya. "Lo pada tau?" tanya Bima pada Reklin, Nabil dan Arga yang hanya mendapat anggukan dari mereka bertiga seakan mengatakan 'iya'. "Sudah sudah kembali ke kelas dan rayakan di kelas kalian, jangan ada yang keluar kelas karena sedikit lagi semua guru akan rapat mengenai pembangunan kelas baru," ucap pak Fadri. Teman teman kelas Bima langsung menyeret Bima ke kelas, terlebih lagi Reklin dan Arga yang sangat bersemangat untuk menyeret. Kapan lagi coba bisa menyeret wakil ketua geng LIVE COALS, Nabil memegang kamera pada rombongan paling depan untuk merekam momen penting dihari ini. Setelah ruangan kepala sekolah sudah sunyi, Arkan mendekati Pak Fadri. "Makasih banget om udah ngabulin permintaan Arkan," ucap Arkan memeluk Fadri. "Apa sih yang enggak buat cucu kesayangan eyang Satya," Jawab Fadri membalas pelukan ponakan nya yang bandel itu. "Hehhehehe, kalo gitu Arkan nyusul teman-teman dulu ya," ucap Arkan yang hanya dianggukki Fadri. Itulah LIVE COALS, selalu punya cara sendiri untuk menunjukan pada dunia kalau mereka akan selalu merangkul dan berjanji tidak akan membiarkan salah satu diantara mereka jatuh seorang diri. Untuk Bima, Selamat Ulang tahun.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
beeeest
23/03/2025
0msnrap
23/03/2025
0bagus
09/08/2024
0Lihat Semua