logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Widia dan Dokter Ferdinand

Benar saja, dengan sangat pelan dan hati-hati Widia keluar dari persembunyiannya menuju ke pintu keluar.
Rival membuka mata dan kembali melihat rekaman cctv ruangannya, terlihat jelas Widia mengendap-endap mencari sesuatu, tetapi entah apa hal itu belum bisa ditebak.
Setelah sore, Rival segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah ia langsung menuju kamarnya. Kamar luas yang dulu berbau maskulin kini mulai bercampur dengan wangi feminim seorang wanita.
Hani baru saja selesai mandi sore saat Rival masuk, dan sedang menyisir rambut.
"Kenapa enggak ketuk pintu dulu, sih!" hardik Hani sambil mencari jilbabnya yang lupa ia simpan.
"Kenapa kamar ini begitu luas, dimana ya jilbabku?" Hani berkeliling kamar, menuju sofa, tempat tidur dan rupanya jilbabnya tertinggal di kamar mandi.
"Ini kamarku, kenapa aku harus mengetuk pintu," ucap Rival santai, sambil mendudukan bokongnya di sofa dan meminum salah satu minuman dingin kalengan.
Hani keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai jilbab, kemudian ikut duduk di sofa, dengan jarak agak jauh dari Rival.
"Mereka tak berbuat sesuatu yang menyebalkan padamu hari ini?" tanya Rival.
"Ada sedikit di ruang makan tadi pagi, tapi saat siang mereka pergi entah kemana," jawab Hani, mengingat kembali kejadian tadi pagi.
"Oh, iya Reza itu kerja apa?" tanya Hani penasaran.
"Entahlah, aku tak pernah mengurusi mereka."
Keheningan mulai tercipta, Rival berinisiatif untuk menyalakan televisi.
"Mas, tahu kalau Bu Meta itu sekretaris papamu?" tanya Hani penasaran.
"Tahu, hanya sekilas dari Pak Han."
"Apa mungkin Bu Meta mengejar Papa sejak Mama masih hidup?"
"Mungkin saja, itulah bodohnya cinta," Rival tersenyum miring, matanya menerawang, kejadian masa remaja saat Bu Sani meninggal lalu dilanjut dengan Pak Deris yang menikah lagi. Membuat luka yang menganga di hatinya.
"Mas ...."
"Aku mau mandi dulu gerah, nanti saja." Rival memasuki kamar mandi tanpa menunggu jawaban Hani.
'Entah mengapa aku curiga, kematian ibu Mas Rival, aset-aset yang akan direbut, para asisten rumah tangga yang diganti, dan sakitnya Papa seperti berkaitan,' gumam Hani dalam hati. Matanya menatap layar tv tapi pikirannya mengelana jauh entah kemana.
20 menit kemudian Rival baru keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya tengah melamun.
"Hey, hey," ucap Rival sambil mengayun-ayunkan tangan di hadapan wajah Hani.
"Eh, apaan, sih, Mas?!" Hani tersentak dari lamunannya.
"Loh, Mas, kok cuma pakai handuk gitu!" teriak Hani kaget dan spontan menutup mata dengan tangan.
"Memangnya kenapa? Lagian handuk kimono gak ada di kamar mandi tadi," jawab Rival santai, sambil berjalan ke pintu ruangan pakaian.
"Huh, ada-ada saja," gerutu Hani setelah Rival tak ada di hadapannya.
Beberapa menit kemudian Rival telah berganti pakaian dengan pakaian casual, pas melekat di tubuhnya yang atletis.
"Kebiasaan, kalau pake parfum sebotol ya!" sindir Hani, karena setiap habis mandi pasti Rival menggunakan parfum yang menurutnya berlebihan, meski wanginya kalem dan maskulin.
"Cerewet, banget," ujar Rival.
"Mas, aku pingin, deh, jalan-jalan gitu di kota ini, hehe." Hani menatap penuh harap dengan senyum paling manis.
"Boleh, asal nanti malam hakku boleh diambil." Rival tersenyum nakal.
"Yah .... kok, gitu syaratnya." Hani mencebik.
"Enggak lah, yuk kita makan malam diluar!" ajak Rival.
"Beneran, Mas?" Mata Hani nampak berbinar tanda bahagia.
Rival mengangguk dan melenggang pergi menuju keluar.
"Cepetan!" ujar Rival yang sudah membuka pintu keluar kamar.
"Enggak siap-siap dulu, gitu?" tanya Hani, mimik wajahnya menggemaskan antara kaget dan bingung.
"Kamu sudah cantik."
Mendengar pujian untuknya, wajah Hani langsung bersemu merah seraya tersenyum manis. Dengan segera ia mengejar langkah Rival.
Mereka menyusuri jalanan dengan mobil, menikmati malam yang indah dipenuhi taburan bintang.
Tak banyak kata yang diucapkan tapi senyum Hani begitu mengembang, sementara Rival tetap terlihat cuek walaupun sesekali menengok ke samping dan tersenyum tipis.
Setelah setengah jam berkendara, Rival memarkirkan mobil di parkiran halaman restoran mewah.
"Ayo, turun!" ajak Rival.
"Ini, gak salah, Mas? Makanannya pasti mahal," tanya Hani ragu.
"Ck, ngapain mikirin harga? Ayo!"
Mereka akhirnya turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut.
Memilih tempat duduk di sudut ruangan tepat di pinggir dinding kaca yang menyajikan suasana malam.
Seorang pramusaji datang membawa menu.
"Kamu mau apa?" tanya Rival.
"Terserah aja," jawab Hani, ia bingung hendak memesan apa.
Akhirnya Rival memilih menu terbaik di restoran itu.
"Kamu yakin akan meneruskan perbuatan kamu itu?" tanya seorang pria pada wanitanya.
"Iya, toh selama ini semuanya aman, sebelum semuanya kami ambil, maka aku akan terus melakukannya," jawab seorang wanita yang dari suaranya sangat familiar di telinga Rival dan Hani, yaitu Widia.
Widia dan Dokter Ferdinand duduk tak jauh dari mereka dengan posisi memunggungi meja Rival dan Hani.
Rival dan Hani yang mendengar itu, diam dan menajamkan pendengaran.
"Padahal dengan gelar dan kepintaran, kamu bisa mendapatkan semuanya tanpa harus melakukan semua itu," ucap Dokter Ferdinand.
"Aku hanya membantu ibu membalaskan dendamnya, sudahlah ayo pulang," ujar Widia.
Setelah itu, mereka yang sudah selesai makan pulang lebih dulu tanpa menyadari bahwa Rival menguping sebagian pembicaraan mereka.
Dokter Ferdinand dan Widia nampak bergandengan bak orang pacaran.
Tak lama setelah kepergian mereka, pramusaji datang membawa beberapa menu makanan dan minuman.
"Apa maksud pembicaraan mereka?" tanya Hani membuka percakapan yang sempat tertunda karena menguping.
"Entahlah, tapi pasti ada kaitannya dengan semua ini, pikirkan nanti, sekarang nikmati waktu kita," ucap Rival.
Hani tersenyum saat Rival menyebut kata 'kita' meski Rival bersikukuh tak percaya akan cinta tapi ia tetap manusia yang memiliki hati, rasa nyaman itu mulai tumbuh diantara keduanya.
Mereka menikmati makanan dalam hening, karena Rival tak suka pembicaraan saat makan.
Selesai makan, Rival bertanya, "Enak makanannya?"
"Iya, enak, aku baru nyoba makanan kayak gini," ucap Hani jujur.
Rival hanya terkekeh mendengarnya.
"Tapi ada juga yang lebih nikmat dari ini, nanti aku tunjukan!" Hani bersemangat.
Rival hanya tersenyum tipis, meski sebenarnya ia merasa sangat bahagia, rasa hangat yang telah lama mati di hatinya kini mulai bersemi kembali.
"Ya sudah, kita pulang," ajak Rival.
Mereka kemudian pulang, sebelum pulang Rival membayar harga makanan tadi dan ternyata jumlahnya cukup fantastis bagi Hani.
Setelah itu baru mereka menuju ke mobil.
"Makanan dengan porsi seuprit-seuprit kayak tadi harganya, kok, mahal banget, ya ampun bisa kasih makan santri sepondok itu!" cerocos Hani saat telah berada dalam mobil.
"Kita bayar jasa mereka juga," ucap Rival santai, sambil mengemudi mobil menuju perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, rupanya mereka berpapasan dengan Widia yang juga baru pulang ke rumah.
"Darimana saja, Widia?" tanya Hani santai.
"Bukan urusanmu," jawab Widia ketus.
Mereka memasuki rumah bersamaan, saat di ruang keluarga ada Bu Meta yang duduk bersama Reza di sofa sambil menonton televisi.
"Loh, kok, kalian bisa pulang bareng?" tanya Bu Meta kaget.
"Aku tadi ngumpul sama temen-temen, kebetulan aja bareng!" jawab Widia malas.
"Temen-temen, apa satu temen?" tanya Hani, meledek.
"Apaan sih?!" Widia terlihat marah.
'Apa mungkin mereka tahu kalau tadi aku jalan sama Ferdinand,' gumam Widia dalam hati.
"Tapi, tadi kok, kamu ....

Komentar Buku (606)

  • avatar
    Sabattinielkana

    cerita nya menarik

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Delima muhtarAdel

    baguss bgtt ceritanya

    25/11/2024

      0
  • avatar
    CaturMahmudah

    lanjut

    31/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru