logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Hilang Ingatan?

"Mas!" tegur Sadam padaku yang tengah fokus terhadap layar laptop.
"Kenapa?" tanyaku tanpa beralih pandang.
Tidak biasanya anak itu datang malam-malam ke kamarku.
"Ini ...," lirihnya seraya menyodorkan secarik kertas yang berupa surat.
"Surat apa ini?" Aku bergerak mengambil benda tersebut dari tangan Sadam. Dia masih terdiam, enggan menjawab pertanyaanku. Perasaan ini jadi curiga.
"Surat panggilan orang tua?" Kedua alisku saling bertautan dibuatnya.
"Ada apa ini? Jelasin!" desakku membuat anak itu terlihat ketakutan.
"Tadi ... Sadam berantem sama Riki."
Seketika aku menatap tajam ke arahnya. Baru saja masuk SMA, dia sudah berulah?
"Teruskan!"
"Sebenarnya Sadam cuma membela diri, Mas. Riki yang mulai duluan, dia ngatain Sadam anak SD," gumamnya hampir tak terdengar. Anak itu menunduk dalam, tidak berani menaikkan pandang terhadapku.
"Tapi kamu juga mukul dia?"
Sadam mengangguk kecil.
"Terus kenapa kamu gak kasih surat ini sama mama atau papa?"
Perlahan pandangannya naik menatapku dengan raut wajah ketakutan. "Sadam gak berani, takut. Makanya ... Sadam ngasih surat itu sama Mas Liam aja."
"Biar Mas kasih tau mama sama papa," ujarku sembari beranjak dari kursi.
"Jangan, Mas! Sadam mohooon!" pintanya seraya memegangi lenganku erat.
"Sadam takut sama papa," ringisnya.
"Waktu kamu berbuat yang tidak seharusnya, apa kamu ingat sama rasa takutmu itu?"
"Sadam minta maaf, Sadam khilaf. Tolong jangan bilangin sama papa!" rengeknya.
Jarang sekali aku melihat anak itu menangis. Jika dimarahi papa, dia pasti akan langsung seperti ini.
"Mas Liam tolong jangan bilang sama papa. Mas Liam aja yang datang sebagai wali Sadam besok," pintanya dengan masih tersedu-sedu.
"Kalau lain kali ada kejadian seperti ini lagi, Mas akan laporin kamu sama papa. Semua perbuatan balas dendam tidak bisa dibenarkan, dengan apapun alasan yang menyertainya!"
"Makasih Mas. Sadam janji, kalau Sadam gak akan mengulangi kesalahan ini lagi."
***
"Mas Liam tunggu!" seru Sadam yang tengah menyantap sarapannya.
"Kamu hari ini gak mau bareng sama Papa?" tanya papa ketika Sadam langsung beranjak dari meja makan.
"Sadam mau bareng sama Mas Liam aja. Soalnya mau beli karton sama spidol warna dulu, kemarin lupa," sahutnya terdengar gugup. Apa sekarang dia sudah mulai belajar untuk berbohong?
"Ya sudah kalau begitu. Tapi awas kamu jangan kelamaan di tokonya, nanti Liam bisa-bisa telat ke studio!" pesan papa yang langsung diiyakan oleh Sadam.
Anak itu berjalan mendahuluiku keluar rumah.
"Liam pamit dulu," ucapku kemudian berjalan menyusul Sadam.
Kulihat dia sudah menunggu di dalam mobil. Lantas aku pun masuk ke bangku kemudi.
"Sudah berani berbohong sama papa?" tanyaku kepada Sadam.
"Untuk yang satu itu, Sadam gak bohong. Kemarin lupa beli," sahutnya.
Aku mengembuskan napas panjang. Rupa-rupanya aku yang terlalu menaruh pikiran negatif terhadapnya.
Aku melajukan mobil menuju ke arah sekolahnya Sadam.
"Mas Liam gak akan bilang-bilang sama papa, 'kan? Janji, 'kan?" tanyanya seraya mencondongkan kepala ke dekatku.
"Liat nanti," sahutku acuh tak acuh.
"Mas Liam 'kan udah janji semalam," rengutnya.
"Tergantung. Kalau kamu ulangi lagi, Mas gak akan segan-segan buat bilang semuanya ke papa."
"Iya, Sadam janji. Kalau misalnya nanti ada perbuatan serupa, Mas Liam boleh ngomong semuanya sama papa dan mama."
"Eh, Mas! Ke toko buku dulu!" serunya tiba-tiba, kala kami hendak melintas di sebuah toko peralatan sekolah.
Lantas kutepikan mobil di pinggir jalan. Aku tidak memasukannya ke pelataran parkir.
"Jangan lama-lama!" pesanku ketika Sadam hendak turun.
"Iyaaa."
Anak itu menuruni mobil dan terlihat berjalan beberapa langkah. Namun, ia malah berbalik arah dan kembali membuka pintu mobilku.
"Mas Liam anterin Sadam dong, Sadam malu," gumamnya dengan tubuh yang menyembul di pintu mobil.
"Kamu sudah pakai seragam putih abu-abu, jadi harus belajar mandiri! Jangan perkara beli karton aja harus ditemenin," sanggahku.
"Sekaliii ajaaa!" pintanya dengan nada memohon.
"Kalau gak dicoba untuk dibiasakan, ya gak akan pernah bisa. Pergi sana!" pungkasku.
Anak itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya mengerucutkan bibir kesal kemudian menutup pintu mobilku sedikit kasar. Terlihat Sadam melangkah tegas memasuki toko peralatan sekolah tersebut.
Tidak berselang lama, sosoknya yang kecil tampak keluar dari sana.
"Udah, yok!" ucapnya ketika sudah kembali duduk di sampingku.
"Gak dimakan orang, 'kan?" kataku.
"Gak!" ketusnya seraya menatap ke arah depan.
Aku melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya Sadam. Bagaimana aku harus menanggapi ceramah dari guru Sadam nantinya? Ini kali pertama aku akan bertemu tatap dan berbicara perihal kenakalan adikku itu bersama gurunya, dan tentu saja orang tua dari anak yang kemarin berurusan dengan Sadam.
"Mas Liam nanti tolong bela Sadam, ya! Dalam kasus itu, Sadam 'kan gak salah-salah amat," gumamnya terdengar ragu-ragu.
"Kita liat nanti. Mas gak bisa memprediksi akan seperti apa pertemuan orang tua nanti," jawabku seadanya. Netra ini terus saja terpaku ke jalanan.
Sadam kembali terdiam. Mungkin dia merasa takut jika aku akan bersitegang dengan orang tua temannya itu.
"Kita harus mendengar kronologi dari kedua pelaku, ean saksi yang ada tentunya," imbuhku.
"Tapi mereka pasti takut sama Riki. Dia itu suka ngancam sama yang lainnya."
Aku tak menyahut apa pun lagi, sebab kami sudah sampai di gerbang sekolah.
"Ada keperluan apa ya, Mas?" tanya satpam yang tengah berjaga ketika aku menurunkan kaca mobil.
"Saya orang tuanya Sadam, murid kelas sepuluh. Saya ada keperluan dengan Bu Sarah," jelasku.
"Oh, baik. Silakan masuk!" Dia membuka lebar pintu gerbang untuk jalan mobilku.
Aku melemparkan senyuman kecil kala melewati dirinya. Kini kami sudah benar-benar sampai di parkiran. Namun, Sadam terlihat enggan menuruni mobil.
"Kamu takut dihukum guru, atau takut sama Riki?" tanyaku.
"Keduanya," sahutnya lemah.
"Laki-laki itu harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya!"
"Iya-iya. Mas Liam ceramah terus dari tadi, bukannya coba nenangin."
Anak itu turun terlebih dahulu dengan karton dan spidol warna di tangannya. Ketika aku hendak meraih pintu, ponselku bergetar. Kuambil benda berlayar datar tersebut yang menampakkan sebuah panggilan atas nama Risya.
"Kenapa, Ris?" tanyaku.
"Mas Liam di mana?"
"Saya ada urusan ke sekolah Sadam dulu sebentar. Memangnya ada apa?"
"Kita masih ada CD kosong, gak?"
"Coba cari di ruangan saya, siapa tau ada!" titahku.
"Oke, sebentar Mas. Jangan ditutup dulu teleponnya!"
"Iya."
"Mas Liam, ayo!" ajak Sadam yang balik menghampiri mobil.
"Duluan aja sana, Mas ada urusan sebentar," kataku.
"Jangan lama-lama!" pungkasnya kemudian berlalu pergi.
"Mas Liam?" tanya Risya di seberang telepon.
"Saya masih di sini."
"CD-nya gak ada. Kayaknya habis. Gimana dong?" paniknya.
"Memangnya buat apa? Butuh buat sekarang?"
"Iya. Soalnya Deris mau pindahin video nikahan ke CD."
"Suruh dia beli aja dulu. Di tempat fotokopi Ganggang ada CD kosong. Sekalian belinya lima, biar ada stok sebelum saya belanja lagi," jelasku.
"Uangnya?"
"Punyamu dulu. Nanti saya ganti kalau sudah ke sana."
"Yah .... Mas liam kebiasaan, minjem-minjem uang," cibirnya.
"Sudah tau kebiasaan, harusnya kamu juga mulai hafal dan terbiasa!"
"Iya. Eh Mas, ini kata July prawedding hari ini jam berapa berangkatnya?"
"Nanti jam sembilan. Kamu suruh dia bantu-bantu yang lain aja dulu di sana."
"Iya, Mas."
Panggilan telepon pun terputus. Aku segera memasukkan kembali benda tersebut ke saku dan keluar dari mobil.
"Awhh!" ringis seseorang yang baru saja menabrakku.
Melihat kertas-kertas yang dibawanyaa berserakan, lantas aku membantu untuk memungutnya sebagian.
"Maaf, saya gak sengaja," kataku seraya fokus terhadap kertas-kertas tersebut.
"Harusnya saya yang minta maaf. Saya gak perhatikan jalan," katanya.
Setelah selesai, aku menyerahkan semuanya kepada wanita tersebut.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Liam?" kagetnya membuat kedua alisku saling bertautan. Apa dia mengenalku?
"Friska. Kita dulu satu kampus, satu angkatan juga," katanya seraya menyunggingkan senyuman.
Sebagaimana pun diri ini berusaha mengingat, aku seperti tidak pernah tahu akan dirinya. Apa aku pernah mengalami hilang ingatan sebelumnya?
"Pasti kamu gak ingat," kekehnya yang terdengar hambar.
"Soalnya yang kamu perhatikan hanyalah Aluna." Kalimat yang terlontar dari bibirnya mampu membuat detak jantungku seolah-olah berhenti. Mengapa dia juga mengenal kekasihku?

Komentar Buku (5)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭

    28/05

      0
  • avatar
    NazwaAyu

    bagussss banget

    26/03

      0
  • avatar
    SianturiSteven

    bagus

    11/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru