logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Rasa Yang Ada

"Salam hangat untuk cintamu, aku yang lemah dan patah hati .... Biarlah orang memandang lemah, aku tak mau bercinta lagi ...."
Sepenggal lirik lagu yang sedang Risya nyanyikan terasa begitu menusuk hatiku. Kenapa semua hal selalu saja membuatku merindu sosok Aluna?
Aku benar-benar patah hati telah kehilangan dirinya.
"Eh, Mas Liam," kagetnya ketika melihat kedatanganku bersama July.
"Oh iya, paket Mas Liam tadi udah dimasukin ke ruangan Mas," katanya membuat lamunanku seketika pecah.
"Siapa yang bayarin?" tanyaku setelah kembali tersadar.
"Patungan sama Nur, sama Farid," katanya.
"Farid udah balik lagi?"
"Udah, Mas. Saya cuma liat lokasi aja. Klien kita bilang, mau sekalian diambil video," ucap Farid yang baru saja datang dari arah toilet.
"Anak baru itu mana? Kok gak sama kamu?" tanyaku.
"Dia lagi pergi beli kopi ke kedai depan sana. Memangnya Mas Liam gak liat?"
Aku menggeleng. Mana mungkin aku memerhatikan ke toko-toko sekitar ketika tengah mengemudi?
"Terus nanti siapa yang ambil video?" Aku mengerutkan dahi.
"Saya."
"Yang ambil foto? Bukannya sama foto juga?"
"Saya 'kan perginya sama Rama. Dia yang bakal ambil foto," jelasnya.
"Rama?" Kedua alisku menukik.
"Iya. Mas Liam tenang aja. Rama udah paham sama dasar-dasar fotografi. Waktu di sekolah, dia juga ikut ekskul PG."
Aku mengangguk-angguk kecil. "Oke. Saya serahkan semuanya sama kamu. Pokoknya jangan sampe ada kesalahan!"
"Siap, Mas."
"M-Mas Liam!" tegur July ketika aku hendak berlalu ke ruangan.
"Kenapa?"
"Tugas saya sekarang apa?" ucapnya terdengar tak enak hati.
"Nur!"
"Iya, Mas?"
"Kamu udah selesai editing, belum?"
"Udah. Ini juga udah cetak sebagian, tinggal dimasukin ke album foto aja," jelas Nur.
"July, kamu bantu Nur buat masang-masang foto ke album. Soal tata letak, nanti Nur yang akan mengarahkan kamu," pungkasku seraya berlalu.
"Iya, Mas."
Aku masuk ke ruangan dan kembali menutup pintu ... duduk dan melihat kembali hasil foto yang kuambil sebagai sampel. Namun, diri ini masih terpaku pada wanita bernama Rinjani tersebut. Rupa-rupanya aku masih enggan menerima jika dia bukanlah Aluna.
Kenapa takdir terasa semakin mempermainkan diri ini? Mengapa ia begitu kejam dengan membuatku terus semakin merindu dan merindu terhadap kekasihku.
Jemari ini terulur mengusap foto Rinjani yang sempat aku curi. Apa begini akhirnya? Rinjani menjadi bayang-bayang kekasihku.
Netraku beralih menatap cincin yang tersemat di jari manis. Cincin pertunanganku bersama Aluna dua tahun yang lalu.
Mungkin wajah itu adalah wajahnya Aluna. Namun, aku tidak bisa mencintai atau pun berbagi hati terhadap wanita lain ... sekalipun dia memiliki wajah seperti kekasihku.
"Aluna, aku harap kamu tidak bersedih. Seperti halnya diriku sekarang yang harus mengarungi hidup tanpa dirimu."
"Maaf .... Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu untuk menemukan bahagia pada cinta yang lain. Aku hanya menemukan wajahmu, tetapi bukan dirimu atau cintamu!"
Dada ini terasa sesak. Air mata seolah-olah kian mendesak. Perasaan yang tak terdefinisikan. Sedih dan gundah yang menjadi perpaduan sempurna.
Ibu jariku hendak menghapus foto wanita tersebut. Namun, hati ini merasa enggan. Apa yang kamu lakukan, Liam? Dia bukan Aluna! Batin dan pikiran terus saja berperang. Antara menerima sebuah kenyataan, atau justru menolaknya mati-matian.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Semuanya harus aku akhiri!
Lantas foto tersebut langsung saja kuhapus. Aluna hanya ada di dalam benakku, dan perempuan itu bukanlah dia! Bukan dia!
Ketukan di pintu membuatku terseret kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Aku sudah terlarut jauh ke dalam duniaku. Dunia yang memilukan.
Aku berusaha menetralkan raut wajah. "Masuk!"
Pintu terbuka, menampakkan Farid dengan sesuatu dalam genggamannya.
"Ada apa?"
"Mas Liam mau kopi?" tawarnya seraya mengacungkan cup kopi.
"Boleh."
Farid pun berjalan masuk, menyimpan kopi tersebut ke mejaku.
"Oh iya, paket yang tadi itu isinya bunga-bunga kertas. Kamu tolong bawa ke studio, nanti saya nyusul. Saya masih ada kerjaan," pintaku seraya menunjuk paket di pojok ruangan.
"Oke, Mas." Tanpa banyak berkata-kata, Farid membawa barang tersebut ke ruang studio foto.
Selain melayani potret outdoor, kami juga menyediakan studio foto. Cukup banyak peminat yang datang kemari. Apalagi anak-anak sekolah atau kuliah yang ingin foto bersama. Termasuk mereka yang ingin mengabadikan momen bersama pasangan.
Aku segera mengirimkan semua sampel foto kepada klien melalui whatsapp pada laptopku. Tak lupa juga mengirimkan pesan catatan jika aku akan menunggu keputusannya sampai malam nanti.
Selesai dengan urusan tersebut, aku segera beranjak keluar dari ruangan. Masih ada urusan lain, yakni mengurus tata letak studio foto.
Ternyata Farid mengajak anak baru itu juga untuk membantu kami. Rama terseyum kecil ke arahku, dan aku pun balas menyunggingkan senyum tipis.
"Udah saya buka, ini mau disimpen di mana aja bunganya?" tanya Farid.
Ada dua sisi dinding yang kami jadikan background foto. Satu berlatar putih, satunya lagi abu-abu tua. Ruangan ini terbilang cukup luas. Kami bisa menyimpan beberapa barang di sudut lainnya, seperti sofa, kursi tinggi, rak kecil, dan beberapa boneka beruang dengan ukuran yang beragam.
"Daun-daun yang besar itu masukin vas di pojok. Yang lama biar diganti dulu," ujarku.
"Yang kecil-kecil?" tanya Farid.
"Kita ada vas kecil juga, nggak?" Aku balik bertanya.
"Nggak. Yang lama udah pecah, kesenggol anak SMP waktu itu," jelas Farid.
"Kalau dibikin buket kira-kira bagus apa nggak?" usul Rama yang sedari tadi terdiam.
"Nah, ide bagus tuh Mas. Bunga warna coklat sama gold juga 'kan bagus kalau dibikin buket. Malah keliatannya lebih artistik dan aestetic," imbuh Farid.
Aku membuang napas kecil. "Terus siapa yang bisa bikin buket bunganya? Kalian?"
Farid dan Rama saling melirik kemudian tersenyum aneh. Sudah kuduga. Mereka tidak bisa membuat buket bunga.
"Ya kita tanya kaum Hawa aja. Siapa tau ada yang bisa," usul Farid lagi.
"Terserah kalian aja. Kalau gak ada yang bisa, biar kita beli vas kecil sama buket yang udah jadi aja," pungasku.
***
Matahari sudah mulai tergelincir ke ufuk Barat. Itu tandanya kegelapan sebentar lagi menelan semua sisa cahaya senja. Anak-anak sudah pulang semua, sekarang tinggal aku yang masih bersiap untuk pulang.
Setelah membawa laptop dan kamera, aku keluar dan segera mengunci pintu kantor. Jika pada jam pulang, aku yang akan mengunci. Jika pagi hari, Risya yang terlebih dahulu datang kemari. Ah, sepertinya dia harus donobatkan sebagai pegawai terbaik sepanjang masa.
Aku berjalan menuju mobil dan melihat seseorang masih terdiam di depan gerbang sana.
"July?" Ya, wanita itu sepertinya dia.
Lantas diri ini berjalan menghampirinya yang masih berdiri di tepi jalan.
"July!" tegurku membuatnya lantas menoleh.
"Kamu belum pulang?"
"Belum. Saya nunggu angkot," jawabnya.
"Memangnya gak ada yang jemput?"
"Saya 'kan tinggal sendirian di Jakarta, Mas," gumamnya sambil tersenyum canggung.
"Gak pesan ojol?"
Ia hanya menggeleng kecil. "Gak punya aplikasinya."
"Di daerah sini memang agak susah kalau nungguin angukutan umum, apalagi udah lewat magrib begini."
"Tapi masih ada, 'kan?"
"Ya ... mungkin."
Tampak ia menggaruk tengkuknya.
"Kalau begitu biar saya antar kamu saja, gimana? Soalnya saya juga gak punya aplikasi ojek online," jelasku pada akhirnya.
"Tapi saya malah ngerepotin Mas Liam. Gapapa deh, saya nunggu angkot aja," tolaknya halus.
"Ya sudah kalau kamu gak mau. Saya cuma mau mengingatkan, kalau di sini rawan ada preman yang suka godain perempuan," kataku sambil berbalik menuju mobil.
"Hm, Mas Liam!" tegurnya seraya berjalan cepat ke arahku.
"Saya ... nebeng sama Mas Liam, boleh? Nanti saya bayar kok!" katanya kemudian.
Kena kamu!
"Oke. Masuk!"
Diam-diam aku tersenyum geli melihat raut wajah July barusan. Dia seperti ketakutan setengah mati.

Komentar Buku (5)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭

    28/05

      0
  • avatar
    NazwaAyu

    bagussss banget

    26/03

      0
  • avatar
    SianturiSteven

    bagus

    11/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru