Pagi itu pukul sembilan pagi, Fioni yang sedang menemani Rafasya tidur siang, baru akan beranjak untuk beberes rumah. Ya di rumah itu, rumah dua lantai dengan dua kamar di atas, dan di bawah ruang tamu ruang keluarga dan dapur, Fioni sengaja tak ingin cari pembantu rumah tangga, meski Fairuz meminta nya, Fioni yang terbiasa dengan urusan rumah, dengan tulus hati mengabdi menjadi irt yang mengurus segala kebutuhan keluarga kecil nya di rumah. Tiba-tiba langkah fio terhenti karna suara dering telfon, fio membalik kan badan mengambil handphone yang ia letak kan di nakas. Fio melihat ke layar panggilan, ternyata nomor baru, berfikir angkat atau tidak, karna takut ini penting maka fio mengakat telfon itu. "Hallo," suara fio lembut menyapa. "Hallo, apa benar ini dengan nyonya Fairuz Zaldi?," Suara seorang perempuan membalaskan sapaan fio. "Yaa benar, saya Fioni Zaldi, ada apa ya ini siapa?," fio menanggapi pertanyaan itu, hati nya pun ikut bertanya, ada apa dan siapa yang menelpon. "Kami dari Jakarta hospital, ingin mengabar kan, bahwa suami ibu, bapak Fairuz Zaldi, terlibat kecelakaan tadi pagi pukul delapan, dan kami harap ibu berserta keluarga untuk datang ke sini." tutur perempuan yang ternyata dari Jakarta hospital tersebut. Fio yang mendengar kabar buruk tersebut langsung syok, kaki nya menjadi lemas, tanpa sadar ia menjatuh kan ponsel dari genggaman nya, dada nya terasa amat sangat sesak. "Mas-mas fai, enggak mungkin, itu pasti bukan mas kan, mereka pasti salah kan mas," gumaman fio, bibir nya bergetar, air mata nya mengalir, namun dia harus tetap tersadar. Fio raih lagi ponsel itu, "Ha-halo,halo, bagai mana keadaan nya, kalian pasti salah, itu pasti bukan mas fai, halo," Fio berteriak, berharap sang penelpon mengatakan jika ia hanya salah sambung, atau itu hanya penipuan. Ya, bukan kah banyak penipuan dengan modus tersebut. Tapi sayang panggilan sudah berakhir, fio lihat ponsel nya tidak lagi dalam mode panggilan, melainkan sudah menunju kan wallpaper, foto keluarga kecil nya. Fio menjatuhkan diri di samping ranjang, sambil memejamkan mata nya, sesekali ia buka mata nya, dan berharap ini hanya mimpi buruk, menutup mata dan membuka mata, beberapa menit fio melakukan itu,berharap ia benar benar mimpi buruk,dan berusaha bangun dari mimpi buruk tersebut,namun fio merasa ia tak kunjung bangun dari mimpi buruk itu. Tak lama terdengar suara tangisan fasya, fio segera tersadar, dan bangkit ia lihat Fasya sudah duduk, balita umur tiga tahun itu menangis kencang, seakan merasakan kepedihan ibu nya juga. Fioni segera tersadar dan benar benar tersadar, manakala selain mendengar tangisan dia juga mendengar adik ipar nya menggedor gedor pintu depan. "Assalamualaikum, kak,kak,kak fio," terdengar suara Revano Zaldi berteriak. Karna pintu tak kunjung di buka, telebih dia mendengar ponakan nya menangis kencang, Revan pun menjadi panik dan berusaha mendobrak pintu rumah itu. Braaak! Satu kali tendangan saja, tubuh Revan yang tinggi dan kekar, sudah berhasil membuka pintu rumah Fioni secara paksa. "Kak fio, kalian di mana," teriak Revan panik, sembari menapaki satu demi satu anak tangga. Revan melihat salah satu pintu kamar terbuka, betapa terkejut nya Revan melihat kakak ipar nya ,bersimpuh di samping ranjang sambil memeluk Fasya erat, air mata berlinang dari sudut mata itu. "Astaghfirullah, kak Fioni, sadar kak, istighfar, sadar kak," Revan menepuk kecil pipi fio, dan mengambil alih ponakan nya. "Mas-mas fai,Van,mas fai ku, itu tidak mungkin kan Van, tidak mungkin itu mas fai ku," suara parau dan lemah, membuat siapa pun yang mendengar akan merasa iba, termasuk Revano pun menjadi iba. "Istighfar kak, maka dari itu, mamah dan papah meminta ku menjemput kalian berdua, kita bahkan belum melihat kondisi mas fai seperti apa, ayo kak, ayo ikut aku ke rumah sakit," Revan meyakinkan kakak ipar nya, ia meraih tangan kakak ipar nya dan merangkul bahu kakak ipar nya itu, membawa nya menuruti tangga. ~ Jakarta hospital, Setelah satu jam perjalan an dari arah perumahan kota wisata. Mereka pun sampai di Jakarta hospital,menuju ruang ICU. Ketika sampai di ruangan itu, Revano dan fio melihat, Nyonya Raisa Zaldi dan tuan Abram Zaldi, orang tua Fairuz sudah berada di sana mereka terlihat sangat sedih dan duduk di samping brangkar, terlihat oleh fio Sesosok yang ia sangat kenal, sosok itu terbujur kaku di atas brangkar rumah sakit, fio perlahan maju melangkah mendekati sosok itu, sehingga ia dapat melihat dengan jelas. Ya , fio melihat jelas, Fairuz terbaring kaku, dengan darah yang sedikit masih mengalir dari hidung dan kepala nya, entah bagaimana kecelakaan itu terjadi sehingga membuat luka yang sedemikian rupa. "Fai, mas fai ku, sayang kamu baik baik saja kan," fio memeluk tubuh kaku suami nya, meski pun kaku dan ada noda darah yang mulai mengering tetapi bagi fio wajah itu tetap sangat tampan. "Fi, fio, yang sabar ya nak, kamu kuat, Fasya kuat, kita semua kuat nak," ibu mertua fio, memeluk fio. "Apa maksud mamah, tentu saja tentu aku kuat mah, aku akan menemani mas fai hingga dia bangun," jawab fio masih memeluk jasad suami nya. Revano menitikkan air mata tak percaya,kakak tercinta nya. Ia mengerti apa yang di ucap kan mama nya, bahwa Fairuz sudah tidak ada di dunia, hanya Fioni yang belum menyadari itu. Sedangkan Fasya, Fasya sudah berhenti menangis sejak ia di gendong oleh paman nya,dan balita tiga tahun itu mungkin belum mengerti arti tangisan orang orang di sekeliling nya. "Maaf pak Bu, ambulan sudah siap untuk membawa jenazah pak Fairuz," kata perawat rumah sakit. Bak di sambar petir di siang hari, fio menoleh ke arah perawat itu, mata nya memerah melotot ke arah perawat namun mulut dan tubuh nya terasa Kelu dan kaku. "Apa yang kau katakan perawat gila, suami ku masih hidup, dasar gila." teriakan itu tidak sampai ke lidah fio, teriakan itu hanya di dalam benak nya saja. Karna tak berselang lama, Fioni tumbang, tidak merasakan apa apa lagi, pandangan nya gelap, Fioni kehilangan kesadaran nya. Semua orang menjadi panik,sementara orang tua Revan membawa jenazah,Revan mengurus Fioni dan Fasya, ~~~ TPU Terlihat fio memeluk batu nisan suami nya sambil memangku gadis kecil nya Fasya, "Mas fai,aku tidak punya siapa siapa lagi sekarang mas, mas fai aku rindu mas," Fioni menangis tersedu sedu,hati nya hancur berkeping keping,berkali kali ia berharap bahwa ini hanya mimpi buruk saja, "Sudah lah fi, semua sudah terjadi nak, ikhlas kan saja, mama yakin kamu kuat " nyonya Raisa menenangkan menantu nya, "Tapi ma, aku gak sanggup Tampa mas fai, aku engga kuat ma, aku gak kuat " Fioni menangis pilu, suara dan tubuh fio sangat lemah, "Ayo kita pulang fi" papa mertua fio merangkul pundak fio, "Aku masih mau di sini pa,ma, aku masih kangen mas fai " tolak fio,suara nya mulai serak karna terlalu banyak menangis, "Tapi fi kamu akan~' "Sudah ma, kalau kak fio masih mau di sini biar Revan yang temani, mamah dan papah duluan aja" tukas Revano, Nyonya Raisa memandang ke arah suami nya,dan di tanggapi anggukan kepala oleh suami nya, "Yaa sudah kalau gitu ,kamu temani Fioni, fio mamah papah duluan ya, gimana kalau Fasya ikut kami biar dia istirahat fi dia pasti lelah sekali," ujar nyonya Alisa, Dan fio mengangguk kan kepala, sebenar nya dia ingin bersama Fasya tapi dia tidak mau egois. keadaan Fasya tidak memungkinkan untuk menemani fio.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0Lihat Semua