logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Kencan Bersama Pria Muda

Sara mengertakkan gigi, lalu sekuat tenaga menyiram air gelasnya ke mantan mertua dan mantan adik ipar sehingga pakaian mereka yang indah berubah kotor. Reaksi semua orang sangat terkejut, langsung heboh, dan bisik sana-sini.
"Menantu kurang ajar!" pekik Belinda.
Sara tersenyum miring. "Apa Anda lupa, Tante? Bahwa saya bukan lagi menantu di keluarga Atkinson."
"Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti ini di hadapan orang banyak!"
Belinda memang memiliki niat untuk mempermalukan mantan menantu malam ini. Dia tahu karakter lemah Sara, jadi tidak berpikir kalau dirinya akan disiram. Seharusnya, Sara tidak memberikan perlawanan dan diam seperti yang sudah-sudah.
"Kalau begitu, sebaiknya Anda tidak bertingkah dan pergi saja dari pesta."
"Kau yang pergi, karena aula pesta ini tidak pantas untuk dimasuki orang rendahan sepertimu."
Sara mengeluarkan cermin dari dalam tas, menunjukkannya ke arah mantan mertua. "Saya khawatir kalau-kalau Anda tidak bercermin sebelum datang ke pesta."
"Apa katamu?!"
Charla yang ikut marah bergegas ingin menampar namun seorang wanita langsung menangkap tangannya. Auris melakukan gerakan yang halus untuk menghindarkan Sara dari tamparan, memutar pergelangan tangan anak kecil itu sampai terkunci ke belakang tubuh.
"Lepaskan aku!"
Keributan juga tertangkap oleh indra penglihatan Rion. Dia pun menghampiri mereka, memandangi dari dekat pertikaian yang terjadi. Terlebih pada saat itu dia juga tidak mengira kalau dirinya akan bertemu kembali dengan mantan istri. Sara sendiri memilih untuk membuang muka.
"Kak Rion, tolong aku!"
Rion melirik sang adik, lantas menariknya dari jeratan Auris. Sampai saat ini dia masih berusaha untuk bersikap tenang. Dalam keadaan pesta yang dihadiri oleh banyak rekan bisnis begini, pasti dia tidak ingin lebih malu lagi.
"Kalian pulanglah."
"Kau mengusir kami, Rion?" ucap Belinda.
"Kalian harus berganti pakaian. Rehatlah sebentar untuk mengembalikan mukaku ke hadapan orang-orang. Wanita ini jelas sekali menyebut nama keluarga Atkinson dan mempermalukan kita."
Belinda dan Charla setuju untuk pergi. Mereka mengira jika sudah berhadapan dengan Rion, maka Sara tidak akan bisa berkutik lagi. Sudah jelas siapa yang akan memenangkan keadaan.
"Kita harus bicara, Sara."
Sara yang sempat terguncang oleh pertemuan mereka pun mengedikkan dagu. "Maaf, Tuan Rion, tapi tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Keadaan tadi terjadi hanya karena rusaknya pemandanganku, jadi tanpa sadar menyiramkan wine ke pakaian mereka."
Setelah berucap, Sara pergi meninggalkan Rion namun di detik-detik itu pula pergelangan tangannya dipegang sehingga mau tidak mau harus berhenti melangkah. Mereka saling berpandangan tanpa bisa memaknai artinya.
"Rion."
Kedatangan seorang wanita mengalihkan perhatian mereka. Sara baru pertama kali melihatnya dan di dalam hati langsung terdapat getaran aneh ketika Rion melepaskan genggaman di pergelangan tangannya.
Sara tersenyum pahit. "Sekarang aku mengerti kenapa kau menginginkan agar kita berpisah."
Sara keluar dari aula pesta dengan hati yang sedih. Dia menyesali perasaannya. Bahkan, mereka sudah lebih dari satu tahun berpisah, tetapi dia masih menyukai lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.
Auris ikut merasa sedih melihat raut wajah muram sang kakek yang tidak hilang setelah berlangsung selama beberapa hari pun. Dia ingin mengurangi kesedihan dan melihat keceriaan kembali di wajah Sara seperti perjuangan setahun belakangan ini.
"Apa Nona tahu obat dari segala kesedihan bagi seorang wanita?"
"Aku harap pembahasan itu tidak keluar di waktu rapat nanti."
"Berbelanja!"
Sara mengembuskan napas panjang. "Aku sungguh tidak tertarik untuk berbelanja."
"Apa Anda benar-benar seorang wanita?"
"Kau meragukan kewanitaanku? Perlukah aku membuktikannya padamu?"
"Ah, saya percaya sekarang."
Sara tergelak, lalu berkata, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi sungguh aku baik-baik saja."
"Raut wajah Anda tidak mengatakan demikian."
Sara menyentuh mukanya, memperhatikan melalui cermin yang ada di atas meja. Dia memang kelihatan tidak baik. Bisa dikatakan kulitnya seperti tidak terawat dan juga kusam.
"Aku sepertinya harus pergi merawat diri. Pekerjaan kantoran ini mempersingkat umurku."
Auris bisa bernapas lega, karena yang dia pikirkan tidak sama dengan kenyataan. Ternyata bukan karena kejadian di pesta raut wajah suram itu berasal, tetapi dari kebutuhan untuk merawat diri.
"Saya akan mencari tempat yang bagus untuk Anda."
"Baiklah. Terima kasih, Auris."
Sepeninggal pengawal merangkap asistennya itu, Sara menyandarkan punggung ke kursi. Dia teringat akan kejadian di pesta. Setelah hari berlalu namanya menjadi banyak diperbincangkan. Memang tidak banyak yang tahu rupa istri Rion setelah menikah, karena dia pun tidak pernah pergi ke acara-acara bisnis sang suami.
Sekarang sudah banyak yang tahu akan siapa dirinya. Tidak jarang pula dia diundang untuk makan bersama dalam rangka menjalin hubungan dekat, baik itu antar perusahaan mau pun antar privasi.
Nama keluarga Atkinson juga menjadi buruk di mata orang-orang. Semua berkat Belinda dan Charla, termasuk ceritanya mengenai perlakuan mereka selama dia menjadi menantu. Rion pasti sangat sibuk mengembalikan citra keluarganya sekarang. Sara tidak ingin berbuat apa pun untuk itu, karena dia sudah terlanjur kecewa dengan pernikahannya.
"Apa aku coba saja kencan dengan seorang pria agar bayangan tentang Rion menghilang dari pikiranku?" gumamnya.
Sara meraih ponselnya, menghubungi Chat yang menjadi bawahan di balik layar. Dia meminta data-data pria yang mungkin bisa dijadikan sebagai teman kencan. Untuk mempersempit kandidat, dia menjelaskan bagaimana tipe yang harus dimiliki oleh mereka.
Kabar bahwa Sara mencari teman kencan tersebar, orang-orang yang memenuhi kriteria mulai mengajukan diri. Ada satu orang yang membuat dia mempertimbangkan selama kedekatan mereka. Pria itu bernama Charlie, pebisnis sepertinya pula.
Jika yang lain memiliki sifat berkebalikan dari tipenya, Charlie bisa membuat dia nyaman. Selama beberapa kali pertemuan, hubungan mereka terjalin dengan baik. Meskipun begitu, Sara masih berusaha untuk membuka hatinya. Tentu tidak mudah bagi Charlie masuk ke dunia Sara yang sudah pernah menikah dan bercerai.
"Bagaimana kalau nanti kita bertemu lagi untuk makan malam?" tanya Charlie.
"Tapi siang ini kita juga sudah bertemu."
"Kau tidak suka?"
Sara menggelengkan kepala. "Bukan begitu."
Umur mereka terpaut jarak tiga tahun, di mana Sara yang lebih tua. Wajar jika Charlie lebih bersemangat untuk pertemuan mereka. Itu sedikit mengganggu bagi Sara namun dia tahu kalau permintaan Charlie tidak bisa disebut sebagai kekurangan.
Bukankah itu hanya karena Charlie sudah jatuh cinta berat dengannya?
"Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Aku yang akan menjemputmu."
"Kenapa?"
Charlie tertawa. "Apa masih perlu ditanyakan lagi kenapa seorang pria ingin menjemput kekasihnya?"
"K—kekasih?"
"Ya. Bukankah kita sedang menjalin hubungan sekarang?"
Sara termenung cukup lama, bingung sendiri dengan keadaan. Apa anak zaman sekarang akan menjalin hubungan tanpa menyatakan perasaan terlebih dahulu?
"Atau, hanya aku yang menganggapnya begitu?" ucap Charlie kembali.
"Ah, tidak." Sara tersenyum. "Aku juga menganggapnya begitu."

Komentar Buku (124)

  • avatar
    prabataSirda

    sangat menarik👍

    19/03/2025

      0
  • avatar
    acutachut

    ok sangat berkena di hati

    03/01/2025

      0
  • avatar
    SahibIntan

    Jalan. cerita nya bagus, tetapi cara penulisan very bad. Membaca nya seperti direct translation from Google translate or macam bad subtitle movie.

    15/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru