logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Chapter 3

Tiga Minggu kemudian semua berjalan dengan biasanya. Semua terlihat baik-baik saja. Neva dan Ria memberikan dukungan penuh kepada Pearly yang sebentar lagi akan menikah. Sembilan puluh persen dari acara sudah siap.
Baju dan gedung sudah siap, undangan sudah tersebar . Pearly tidak ingin setengah-setengah. Ia memutuskan untuk menutup semuanya rapat-rapat. Kejadian itu biarlah jadi rahasia bersama sahabatnya. Pearly pun terlihat sibuk mempersiapkan hari yang akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidupnya.
Kedua orangtuanya juga memberikan dukungan penuh kepada putri pertamanya. Dia akan menikah, dari kemarin semua sudah ia persiapkan, dari hal kecil hingga yang besar Pearly mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin.
"Pear." Suara Jesika dari luar kamar.
"Iya,Ma."
"Ada paket."
"Iya Ma."
Pearly segera membuka pintu dan meraih kotak kecil dari Antony. Pearly sudah tahu kalau Antony akan mengirimkan sesuatu untuknya. Pria itu tidak bisa romantis, tidak ada kejutan, semua selalu ia tanyakan kepada Pearly terlebih dahulu.
Matanya terbelalak kaget dan hatinya berdebar hebat, Antony memilih Red Hilton menjadi tempat bulan madu mereka. Pearly kembali mengingat kejadian tiga Minggu yang lalu. Kejadian yang sudah ia tutup rapat-rapat.
Pearly menutup kamarnya dan terus memandang card lock juga kartu ucapan yang di berikan oleh pihak hotel. Pearly meletakkan kotak itu di atas kasur dan Pearly kembali terlihat kacau. Mungkinkah tuhan tidak ingin membiarkan dirinya menipu Antony? bagaimana dengan ayah ibunya, mereka akan membunuh Pearly saat ia mengakui kebenarannya.
Antony akan datang malam ini ke rumah Pearly, ini adalah pertemuan terakhir mereka sebelum akad nikah. Pearly menjadi bimbang, haruskah ia jujur pada Antony dan setelah itu Antony akan membatalkan pernikahan?
"Tidak...tidak...tidak." Pearly masih mencoba untuk mendengar isi hatinya.
Yang paling Pearly takutkan adalah saat ia jujur kepada Antony dan Antony tetap ingin menikah. Pearly tahu pria itu sangat baik tapi bagaimana ia bisa menjalani rumah tangga dengan baik jika salah satu dari mereka pernah merasa di khianati. Jika Antony memutuskan untuk membatalkan pernikahan, bagaimana dengan kedua orang tua Pearly? Harga diri mereka akan tercoreng. Pearly hampir gila karena masalah ini. Pearly nyaris bunuh di tapi tidak ingin kesalahan yang tidak ia lakukan sepenuhnya di bayar mahal dengan nyawa.
Karena memikirkan hal itu Pearly jadi lupa dengan kesehatannya, ia sering melupakan makan siangnya padahal pernikahan Pearly dan Antony hanya menghitung hari lagi.
Pertemuan terakhir keluarga mereka sebelum acara pernikahan pun berjalan lancar , Pearly memilih diam. Iya, dirinya hanya bisa diam tanpa banyak bicara. Banyak yang mengira Pearly sakit tapi sebenarnya pisiknya baik-baik saja. Pearly hanya terlalu banyak beban pikiran.
Saat kembali dari kampus Pearly merasa kepalanya sangat berat dan ketika ia hendak menaiki tangga rumah, Pearly melihat semua seperti berlahan memudar. Benda di sekelilingnya terasa bergerak hingga akhirnya ia terjatuh.
Pearly sangat kaget dan melihat di sekelilingnya.
"Rumah sakit?" Pearly kaget tiba-tiba di rumah sakit.
" Apa yang kamu sembunyikan dari Mama, Pear?"
Deghhh..!
Pearly menatap dengan ragu ke arah mamanya.
"Maksud Mama?"
"Kamu mengandung anak siapa?"
Pearly seperti di sambar petir mendengar perkataan ibunya.
"Mengandung?" Pearly tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Umurnya sudah dua Minggu, bagaimana kamu akan menjelaskan kepada Mama hal ini?" Dengan suara bergetar Jesika mendekat ke arah putrinya.
"Katakan kalau ini adalah anaknya Antony!" Sambil memberikan hasil USG dari dokter.
Pearly hanya bisa menggeleng , ia tidak ingin menipu siapa pun.
Plakkk!
Sebuah tamparan keras dari Jesika membuat Pearly menahan tangisnya.
"Apa maksud kamu? Apa kamu ingin mempermalukan Mama dan Ayah?"
"Mah, hiks...hiks..." Pearly mencoba meraih tangan ibunya.
Jesika menarik tangannya, ia sangat marah tapi tidak tahu akan berbuat apa. Orang tua mana yang tidak marah saat anak yang paling ia banggakan akhirnya membuat kecewa.
" Apa yang harus Mama katakan kepada ayah mu ? Apa Pearly?" Suara Jesika keras menggema di ruangan itu.
Sedangkan Pearly yang malang ia hanya bisa menangisi kesalahan yang tidak sepenuhnya salah dirinya. Pearly benci kepada dirinya setelah ia mengetahui kalau dirinya hamil. Ia hamil dengan pria asing yang sama sekali tidak ia tahu bentuk wajahnya seperti apa.
"Siapa yang melakukannya,Pear?"
"Pear juga tidak tahu Ma?"
"Apa kamu sudah gila? Bagaimana mana bisa kamu tidak tahu siapa pelakunya,Pear."
Tangisan Pearly semakin kencang membuat Jesika akhirnya pingsan. Pearly memanggil dokter dan meminta pihak rumah sakit untuk memberi tahu kabar itu kepada ayahnya.
Pearly tidak lagi dapat merasakan sakit di kepalanya, masalah yang besar di hadapannya ia berpikir bagaimana cara untuk mengatasi semuanya.
Pearly menyentuh perutnya dan mengambil hasil pemeriksaan, Pearly melihat kertas dan hasil USG itu dengan jelas. Pearly tidak sanggup lagi menangis. Ibunya sudah tahu sebentar lagi ayahnya akan tahu.
Pearly mencabut jarum infus dan meninggalkan rumah sakit. Dengan kondisi yang sangat kacau Pearly berjalan lalu kemudian menaiki angkutan umum. Tatapan matanya kosong, haruskah ia membunuh bayi yang tidak bersalah itu.
Di atas gedung Pearly berdiri dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Kembali ia berpikir kalau semua bukanlah kesalahan dirinya, kenapa ia harus menebus nya dengan nyawa. Pearly melihat perutnya yang datar, disana telah tumbuh nyawa anak manusia, haruskah Pearly membunuhnya agaria bisa menikah dengan Antony sedangkan pernikahannya tinggal beberapa hari lagi.
Meskipun ibu dan ayahnya meminta Pearly untuk tidak memberi tahu Antony tapi dia tidak bisa menipu pria baik itu. Pearly yang malang diam-diam menemui Antony di kantor. Kedatangan Pearly membuat Antony sedikit kaget. Apa yang membuat Pearly menemuinya secara mendadak? Antony mengajak calon istrinya itu untuk keluar kantor dan mereka bicara di sebuah restoran.
"Mas Anton, Pear mau bicara sesuatu."
"Apa itu Pear, hal apa yang membuat kamu secara mendadak datang ke kantor."
"Mas Maafkan aku dan keluarga ku.." Pearly menggenggam tangan Antony di atas meja.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita."
Secara reflek Antony menarik tangannya.
"Apa yang terjadi? Tiga hari lagi pernikahan kita akan di langsungkan, bagaimana bisa kamu berpikir untuk membatalkan semuanya."
"Hiks..hiks..hiks." Pearly menangis tapi tetap tegar.
"Aku tidak pantas untuk kamu ,Mas."
"Apa yang terjadi?"
"Aku hamil, tapi aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini."
Dunia Antony seketika terasa hancur, wanita yang sudah ia yakini selama enam bulan mengkhianati dirinya.
"Aku tidak bisa menipu kamu dan juga semua orang, aku akan menanggung semua ini, aku mohon lupakanlah aku."
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal,Pear?"
" Semua ini bukan salah ku, aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi."
Antony yang kecewa langsung meninggalkan tempat itu tidak pernah lagi menoleh kepada Pearly.

Komentar Buku (116)

  • avatar
    syaitsme

    smgt lg

    20/12

      0
  • avatar
    KanayaTania

    i like it!!

    01/11

      0
  • avatar
    YanaLusi

    bagus banget novelnyaa

    21/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru