Jantungku berpacu lebih kencang dari biasanya, keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari dahiku. "Allah, kuatkan hatiku ...," lirihku sambil terus mengelus dada. Aku takut menangis di tempat yang tak seharusnya ini. Ingat Shaina, Fahri bukan siapa-siapa kamu, juga tak pantas bersanding denganmu. Aku bicara sendiri agar tahu diri. Lihat saja, keluarganya adalah keluarga yang begitu terpandang, keluarga para pemuka agama yang disegani. Bahkan kata ustazah Masyitah, umi nya Fahri lulusan Al-Azhar mesir dan termasuk orang yang prestisius. Siapalah aku yang bahkan kuliah jurusan pendidikan agama Islam di universitas swasta saja tak lulus. Orang seperti umi Fahri pasti menginginkan wanita yang lebih baik dari dirinya untuk anak lelakinya. Dan Khadijah, adalah salah satu wanita yang menurutku pantas bersanding dengan Fahri, seorang ustaz yang dakwahnya mudah di terima di semua kalangan. Banyak remaja yang hijrah dari kehidupan kelam berkat wasilah dakwah Fahri yang ringan dan humoris. Aku tahu karena sering melihat kajiannya yang berlalu lalang di sosial media. Entah, bagaimana bisa seorang ustadz yang begitu di segani seperti dia bisa menanam benih di rahimku dengan hina. Melihat keluarga Fahri yang begitu dihormati, membuat nyaliku ciut bahkan untuk sekedar berharap tanggung jawab pun. Hidup mereka dan hidupku begitu kontras, berbeda 180 derajat. Aku, bagai pungguk yang merindukan bulan. Hidupku dan hidupnya bagai langit dan bumi. Bersatunya si miskin dan si kaya hanya ada dalam dongeng atau novel, jarang ditemui di hidup nyata. Karena dalam kehidupan nyata, masih berlaku hukum tak tertulis tentang keseimbangan dan kepantasan. Tolong Shania, kondisikan hatimu. Syahla terus menangis karena tak betah di keramaian, aku membawanya ke tempat yang tak terlalu ramai. Kasihan ibu terlihat begitu lelah menggendong Syahla yang terus merengek karena tak nyaman. Saat aku menenangkan Syahla dengan melantunkan shalawat sambil menimangnya dengan penuh cinta. Tiba-tiba saja suara itu mengejutkanku, membuat shalawat yang kulantunkan tertahan di kerongkongan. "Shaina ... ternyata kamu datang di pernikahanku, kamu kemana? Kenapa pergi?" Fahri menatap kedua netraku dengan mata basah, untuk sementara mata kami beradu, saling menyelami, memindai rasa yang tak bisa di cerna oleh akal, namun begitu kuat menusuk jiwa. Tanpa terasa, butiran bening menetes di sudut netraku, lidahku terasa kelu dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Bahkan hanya untuk menyebut namanya saja aku tak mampu, aku masih tergugu menahan rasa yang kian membelenggu. Fahri menatap Syahla dengan mata basah, ada tetes butiran bening di sudut matanya saat menatap Syahla. Sementara Syahla hanya tersenyum dengan mengoceh, anak itu seperti ingin di gendong oleh Fahri, mungkin ikatan darah antara anak dan ayah itu sedang terkoneksi. "Pa ... pa ... pa ...." Celotehan Syahla membuat hatiku teriris. Syahla, malang nian nasibmu nak, terlahir dari rahim seorang wanita yang tak bersuami, bahkan untuk sekadar di peluk seorang ayah mungkin hanyalah mimpi bagimu. Seperti mama yang tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah, namun mama ikhlas karena tahu kakekmu sudah di surga. Sedangkan kamu, ayahmu berada di hadapanmu, dia masih di dunia ini, namun hak mu hilang sebagai anak karena tak bernasab padanya. Sungguh dzalim pelaku pelecehan itu. "Shaina, maaf karena berulang kali aku menyakitimu," ucapnya sambil berlalu. Ibunya telah memanggil Fahri untuk melangsungkan ijab kabul. Aku tak berani masuk ke dalam masjid tempat di mana Fahri mengucapkan akad untuk Khadijah, bersumpah di hadapan Allah untuk membahagiakan Khadijah. Masjid itu akan menjadi saksi cinta mereka, membangun mahligai cinta hingga ke surga. Dan aku, aku hanyalah butiran debu yang mudah di terbangkan oleh angin. Cinta, ku lepas kau dengan ikhlas, pergilah jika hadirmu hanya membawa luka, karena bahagiamu dengannya bukan denganku. Tak terasa air mata terus mengalir dan menganak sungai membasahi pipi, aku tersendu pilu, hatiku perih bak di sayat seribu sembilu. Syahla menatapku dengan heran, mungkin dia penasaran mengapa mamanya terus mengeluarkan air mata. Kuciumi wajah Syahla berkali-kali, anakku adalah obat laraku, dia adalah penguat dan penyemangat hidupku. Ibu memelukku, lalu mencium keningku, matanya telah sembab, mungkin ibu melihat pertemuanku dengan Fahri tadi. "Kamu Sabar ya Shaina ... kamu kuat. Ibu yakin kamu kuat, mungkin Fahri bukan jodohmu, kamu harus yakin Allah sudah siapkan kado terindah untukmu bila lulus ujian ini." Kata-kata ibu memang selalu menjadi peredaman gundahku, ibu adalah orang yang paling mengerti tentang dukaku. Aku hanya mampu menangis dipelukan ibu, saat ini aku hanya butuh pundak untuk bersandar sebagai penopang laraku. "Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah." Aku terus beristighfar, memohon ampunan pada Allah, mungkin kesakitan ini adalah salah satu cara Allah menghapus dosa masa laluku. Setelah hatiku tenang dan Syahla tidur, ibu mengajakku masuk, tak enak pada ustadzah Masyitah bila tak hadir di akad keponakannya. Bismillah ... aku kuat. Aku pasti bisa menerima semua ini. Aku harus kuat, Khadijah pasti sangat bahagia, dan melihat kebahagiaan Khadijah adalah kebahagiaan tersendiri untuk hatiku. Saat aku memasuki masjid yang di jadikan tempat untuk melangsungkan akad nikah, tak kulihat Khadijah berada disana. Mungkin Khadijah hanya akan keluar saat Fahri selesai mengucap akad dan mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Detik-detik pengucapan akad membuat jantungku terus berdetak dengan kencang, aku terus beristighfar agar kuat dan airmata tak tumpah. "Saya terima nikah dan kawinnya Shaina binti Imran dengan ...." Seketika aku terkejut saat Fahri menyebut namaku. Mataku terbelalak, mengapa dia harus salah menyebut nama calon istrinya?Bukankah itu akan membuat dia dan keluarga besarnya malu. "Astaghfirullah," lirih Fahri. Dia segera mengusap wajahnya. "Fahri, apa-apaan kamu ini? Ayo ulangi," pinta seorang laki-laki paruh baya dengan menggunakan sorban, mungkin itu yang bernama kiyai Mustofa, abinya Fahri. "Maaf," jawabnya singkat. Suasana menjadi riuh dan tak kondusif karena Fahri menyebut namaku yang sama sekali tak dikenal oleh mereka. Lalu akad di ulang untuk kedua kali, kali ini Fahri menyebut nama Khadijah lengkap, hatiku seketika menjadi sendu namun aku harus ikhlas. "Tidak! Pernikahan ini tak usah di lanjutkan." Belum selesai Fahri mengucap akad, tiba-tiba saja terdengar pekikan suara seorang wanita. Semua mata yang hadir langsung menoleh ke arah suara, begitupun diriku. Di ujung sana, telah berdiri seorang wanita mengenakan gaun putih dengan hijab dan cadarnya yang di hias dengan sederhana namun tetap memancarkan kecantikan. Mataku membulat saat melihat sosok yang sangat ku kenal disana. Khadijah? Kenapa dia harus menghentikan akad nikah dirinya sendiri. Bersambung.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
baguss woi😻
13/08
0Alhamdulillah suka bgt
28/05/2025
0macam best , nk cuba baca
05/05/2025
0Lihat Semua