logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

7. Memastikan

Katya kembali ke rumah di pukul sepuluh malam. Selepas dari restoran dia memilih untuk mengunjungi beberapa tempat, dimulai dari gedung sekolahnya saat SMP, hanya untuk mengingat kenangan di mana ayahnya mengantar dirinya berangkat sekolah setiap hari. Lalu ke taman kota, di mana di tempat itu pun meninggalkan banyak kenangan antara ia dan Ayahnya.
Dulu saat kecil, hampir setiap akhir pekan sang ayah akan mengajak Katya ke taman kota, bermain apa pun sepuasnya dan setelahnya membeli banyak sekali jajanan yang Katya inginkan.
Masa kecilnya dulu sangatlah indah, meski hanya ada dirinya dan sang ayah saja.
Ayahnya, lebih dari cukup berperan menjadi sosok ibu dan ayah di satu waktu, menjadi teman bercerita dan juga saudara. Ayahnya sehebat dan seluarbiasa itu. Namun, ayahnya juga yang berhasil menciptakan ruang kosong di sudut hatinya bertahun-tahun ini.
Sebahagia apa pun Katya menjalani hidupnya selama ini, dia tetap merasakan kekosongan itu terasa sangat nyata.
Tidak bisa diisi, bahkan oleh Alex sekali pun.
Dengan langkah pelan, dan gerak tangan yang menutup pintu depan berusaha tanpa suara, Katya berjalan masuk ke rumah. Meski dia merasakan sedikit keganjilan karena mendapati lampu ruang tamu sudah dimatikan, padahal sudah jelas jika dirinya belum pulang.
Apakah Alex yang menyuruh agar tidak ada yang perlu menunggui kepulangannya?
Yah, itu tidak menutup kemungkinan. Bisa saja Alex marah karena Katya mengabaikan panggilan lelaki itu seharian, dan kini justru memilih untuk pulang malam. 
Katya hanya berharap semoga saja Alex sudah terlelap, dan tidak perlu bertemu dengannya sekarang.
Atau akan lebih baik jika lelaki itu ternyata belum pulang karena memutuskan untuk kencan dengan Selena, merayakan hubungan mereka yang akhirnya rujuk.
Hal itu bisa saja terjadi. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. 
Dan jika mereka rujuk, maka Katya akan dibuang lebih cepat dari perkiraan.
Malang sekali nasibnya, ingin hati membantu mempertahankan harga diri, namun pada akhirnya hanya dirinyalah yang dibuang dan tersakiti.
Tidak memikirkan hal buruk itu lebih jauh, Katya mengayun langkah menaiki anak tangga. Namun baru saja ia berada di pertengahan tangga, tiba-tiba saja lampu semua ruangan menyala terang.
Katya berkedip pelan, mengedarkan tatapan ke sekeliling, hingga kemudian menemukan sosok Alex di anak tangga terbawah yang sontak membuat dia berjengit kaget.
"Kamu dari mana saja?" tanya Alex sembari bersedekap dada dan mengedikkan dagunya ke arah Katya.
"Katya capek, mau tidur," sahut Katya, memilih untuk tidak peduli dengan pertanyaan Alex. Hal berikutnya yang Katya lakukan adalah kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar tidurnya sendiri.
Berusaha tidak penasaran apakah Alex mengikutinya ke lantai dua atau tidak.
"Katya, Om sedang bertanya." Seru Alex, memburu Katya. Dia menahan kejengkelannya karena tidak bisa menghubungi Katya seharian ini. Terlebih ketika gadis itu ternyata tak kunjung pulang hingga hari berubah gelap. Alex khawatir. Meski Jakarta adalah tempat kelahiran dan dibesarkannya Katya, tapi, sudah bertahun-tahun Katya tidak pernah menginjak kota Jakarta. 
Membiarkan perempuan itu berkeliling sendiri membuat Alex dilanda kegundahan.
Katya tidak menyangka jika Alex akan menyusul dirinya ke lantai dua. Sampai di depan pintu kamarnya, sebelum membuka daun pintu itu, Katya menghentikan langkah dan membalik badan, lalu menjawab dengan satu kalimat singkat namun cukup berhasil membuat bola mata Alex membeliak terkejut. "Katya habis main ke kelab."
Setelah satu balasan singkat itu, Katya segera menggenggam handel pintu kamarnya dan mengungkitnya. Dengan cepat, Katya masuk ke kamarnya. Namun belum sempat ia menutup pintu, Alex menahan daun pintu kamarnya. Membuatnya tetap terbuka.
"Kamu dari kelab?" tanya Alex, memastikan.
Katya yang sudah berada di dalam kamarnya hanya mengulas senyuman dan mengangguk pelan.
"Ngapain kamu ke kelab?" Alex kembali bertanya. Kali ini dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Bukannya meluruh ketakutan karena respon Alex yang amat berlebihan, Katya justru mengukir senyuman lebih lebar dari sebelumnya. Tidak ia sangka, jawaban asal-asalan yang disuarakannya membuat Alex memberi respon sedemikian rupa. "Katya gadis dewasa, apa yang salah dengan Katya yang main ke kelab?"
Cengkeraman Alex di daun pintu kian mengerat. "Itu salah." geramnya dalam.
Kenapa Alex harus terlihat sejengkel itu hanya karena Katya yang sedikit pulang larut malam dan main ke kelab? Meski itu hanya bualan belaka.
"Kamu berhasil balikan dengan Selena?" tanya Katya tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan. Meski akan sakit dengan jawaban Alex yang kemungkinan membahagiakan untuk lelaki itu, tapi, Katya sungguh dibuat penasaran dengan akhir pertemuan Alex dan Selena siang tadi.
"Apa?" Alex berkedip pelan.
"Kalian bertemu siang tadi. Mengobrol berdua dan tampaknya, Selena menyesal karena melarikan diri di hari itu."
Alex menelan ludah kasar. "Om memintamu untuk menunggu. Bukan pergi sendirian," sahut Alex. Dia sungguh tidak ingin membahas pertemuannya dengan Selena siang tadi. Terlebih dengan kemungkinan yang baru saja Katya suarakan. Atas dasar apa Katya berpikir jika dia dan Selena akan kembali bersama. 
Obrolan ini, tidak akan menemukan titik temu. Katya tahu persis, Alex hanya akan mengalihkan pembicaraan terus menerus. Lelaki itu jelas memilih menyembunyikan hasil akhir dari pertemuannya dengan mantan kekasih.
"Katya benar-benar lelah. Katya ingin mandi lalu beristirahat," kata Katya, lalu ia menyentuh jemari Alex di daun pintu kamarnya, dan sedetik berikutnya, lelaki itu segera menjauhkan tangan.
Katya merasa ditolak saat itu juga. Hanya karena dia menyentuh jemari Alex saja, lelaki itu sudah tampak mencipta benteng. "Selamat malam, Alex," kata Katya. Dengan cepat, ia menutup daun pintu, tidak membiarkan Alex membalas ucapannya barang sepatah pun.
Dia tidak tahu jika, setelah daun pintu itu menutup, Alex berdiri termangu di baliknya. Lelaki itu menyugar rambutnya dengan gerak kasar, tampak frustrasi. Dia kesal pada Katya karena berani mengunjungi kelab sendirian. Dan kesal pada dirinya sendiri karena mengingat pertemuan dan obrolannya dengan Selena siang tadi.
Harusnya, ia memang tidak perlu menuruti kemauan Selena untuk bicara, dan meninggalkan Katya sendirian.
Ke kelab malam, katanya?
Alex mendengkus pelan, melirik pintu kamar Katya yang tertutup lalu melirik jemarinya yang sesaat lalu disentuh Katya. Dia bergerak refleks membuat jarak, bukan bermaksud apa-apa.
Tidak ingin berlama-lama berdiri di depan pintu kamar Katya yang menutup, yang hanya ia temukan keheningan di dalamnya, Alex segera beranjak pergi kembali ke kamarnya sendiri, dan mungkin harus mulai memaksa kelopak matanya untuk terlelap.
Sepanjang langkah kakinya terayun menuju kamar, kepala Alex terisi penuh dengan pertimbangan mencari teman main untuk Katya. Paling tidak jika ada kejadian seperti hari ini, di mana ia tidak bisa menghubungi Katya, ia bisa mendapat kabar dari sang teman. Sama seperti yang selama ini ia lakukan pada Ratih, selalu memastikan keadaan Katya lewat perempuan itu. 
Sesampainya di kamarnya sendiri, Alex segera mengambil duduk di tepian ranjang, dan tatapannya tertuju pada sebuah kotak perhiasan yang membuka di mana di dalamnya berisi cincin berwarna putih. Cincin lamarannya dengan Selena dulu.
Berkat pertemuannya dengan Selena siang tadi, Alex jadi teringat jika ia belum menyingkirkan cincin itu.
Dan satu pengakuan dari Selena tentang alasan ia kabur di hari pernikahan kembali membayang di benak Alex.
"Alex, mengertilah, aku pergi bukan karena aku enggak cinta padamu. Aku melakukannya demi kebaikan kita."
Demi kebaikannya sendiri, itu pernyataan yang paling tepat. Atau tidak?
Karena mungkin saja, ini memang demi kebaikan Alex juga.
*** 

Komentar Buku (1)

  • avatar
    VedsiaSeanbik

    ioihh

    12d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru