Satu jam kemudian , Luna muncul dengan dandanan yang aduhaiiiiii.... Rok pendek motif catur ala-ala girlband korea dipadu dengan kaus ketat andalannya berwarna putih. Makeup tipis dengan lipstick berwarna nude, anting dan gelang berwarna senada dengan lipstik. Tak lupa heels lima centimeter menambah kesan seksi pada tampilannya. Rambutnya dikuncir ekor kuda memperlihatkan lehernya yang putih mulus. Ck...cantik , aku menggumam. Lita melongo melihat tampilannya, mungkin juga mengagumi kecantikan Luna. Sama sepertiku. "Mau kemana?" Tanyaku. "Kan aku tadi udah bilang Mba, mau shopping. Males di rumah gabung sama Ibu-ibu," ujarnya . Matanya tak beralih dari layar ponselnya. "Sialan, culamitan! Kamu juga bentar lagi jadi Ibu-ibu. Emang mau muda terus? Ngimpiii!" Sewotku. "Ya setidaknya aku lebih oke lah ya walaupun jadi Ibu-ibu nantinya. Gak kayak situ yang lemak mulai nimbun di pipi" "Kurang ajar kamu ya, sini!" Bentakku. "Uhhh atut...kabur ah" Luna berlari kecil mengambil mobil di garasi dan bergegas meninggalkanku yang sedang emosi tingkat dewa. "Udalah Mba, duh wes tau gitu kok sek diladeni wae" Chintya menenangkanku. Lita sibuk memainkan ponselnya, entah apa yang dikerjakan. *** "Sayang, minggu depan rumah kita udah selesai lho renovasinya. Mau pindah langsung atau isi perabotan dulu?" Tawar Fathir sambil mengelus rambut indah milik Luna. "Hmmmmm, itu di komplek kan Mas? Maksutku se perumahan sama Ibu-ibu negara yang sejawat gitu?" "Iya dong Sayang, memang dapet tanahnya disitu, mau gimana lagi. Mas jamin kamu pasti betah deh, suasananya tuh asri gitu nyaman. Ibu-ibu nya juga kebanyakan istri teman Mas kok" "Oke deh, besok beli perabotan dulu aja. Jadi minggu depan langsung nempatin deh" Luna memerintah. "Iya Sayang, tapi kan masih kotor kalo besok belinya. Mau ditaruh mana dulu perabotannya?" "Hm okelah, belinya tunggu pindah aja kalo gitu . Oh ya Mas, besok transferin ya? Aku mau maen ke rumah Bude, kangen" Luna mengeluarkan suara manjanya. "Siap Istriku, tapi tugas dulu ya malem ini" Fathir mengerling nakal. "Berangkattttttt" Luna langsung saja memeluk Fathir dan melaksanakan kewajiban malamnya sebagai seorang istri. *** "Darimana aja Mas? Akhir-akhir ini sibuk bener" Lita menyambut kepulangan Frans dengan penasaran. "Ya kerjalah Lit, kamu pikir kemana? Aku banting tulang juga buat kamu sama Lala. Kamu tinggal urus Lala di rumah aja rempong bener, toh semua kebutuhanmu aku sanggup penuhi" Frans mendadak tak suka padahal Lita hanya bertanya. "Maaf Mas" Lita memijit pelan pundak Frans, ada rasa dongkol dalam lubuk hatinya. 'Awas kamu Mas, tunggu aja pembalasanku. Kamu pikir aku bodoh, aku gak kerja juga uang ngalir sendiri, kamu pikir kamu siapa berani ngerendahin aku' batin Lita. "Aku mau mandi terus langsung tidur, capek" Frans bergegas meninggalkan Lita di sofa. Lita hanya mematung, tangannya terkepal kuat. 'Gimana Kev? Ada perkembangan?' Lita mengirimkan pesan kepada Kevin. Tak menunggu lama, Kevin membalas. 'Info terbaru Luna ternyata istri abdi negara, agak susah nih Sistahhhh. Tapi yang membuatku tercengang dia bekas kupu-kupu malam' Lita terperanjat kaget, apa? Yakin Kevin gak salah orang? Bagaimana bisa seorang istri dari abdi negara mantan kupu-kupu malam. Setelah memastikan Frans tertidur, Lita mengendap-endap menuju gudang untuk menelfon Kevin. Tuuut...tuuuuttttt... "Ya Sistahhhhh... Assalamualaikum" suara Kevin terdengar renyah. "Waalaikumsalam. Eh Kev, yang bener kamu. Seriusan dia mantan pelacur?" Lita menggebu-gebu. "Iyaaa serius, bahkan aku lagi selidiki beberapa klien nya nih. Waduh klien bahasanya udah kayak gawe kantoran hahahahhha" "Sialan hahahahha, yaudah cepet kasitau aku semua bukti yanh kamu dapet. Inget, pastikan mereka tutup mulut. Dan selalu hati-hati tanpa jejak myBrohhhhh" "Siap Ndan, 86" "Oke , thanks ya Kev. Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Lita tersenyum menang, satu lagi bukti terungkap. 'sekali jalang tetep aja jalang, dasar lonte. Aku akan mempermalukanmu ,tunggu saja' *** Seminggu kemudian Luna dan Fathir pindah ke komplek , rumah mereka sudah selesai direnovasi. "Alhamdulillah , akhirnya kalian bisa mandiri juga Le,Nduk" Ibu menatap haru anak beserta mantunya. "Bapak doakan kalian hidup rukun terus, sakinah mawaddah wa rahmah. Cepet diberikan momongan, Aamiin" Bapak tersenyum bangga. "Jaga sikap Lun, kamu harus bisa jaga wibawa suamimu disini. Mandiri , dan kuharap kamu bisa akur sama oara tetangga disini," ujarku. Luna hanya manggut-manggut mengiyakan. "Terimakasih semuanya, ini juga berkat doa Bapak&Ibu, support dari Mba Ningsih dan Mba Chintya" Fathir menimpali. "Selebihnya itu rejeki karena punya istri kayak aku dong Mas, kan kelancaran rejeki suami tidak terlepas dari doa sang istri" Luna menyombongkan dirinya. 'cih, kebetulan aja kali' entah kenapa aku tak terima mendengar kalimat Luna barusan. "Yasudah, kami pamit dulu biar kalian bisa istirahat. Jangan lupa sering-sering kunjungi Bapak&Ibu ya, Le" Ibu mewakili kami untuk berpamitan. "Nggeh,Bu. Pasti" Fathir menyalimi tangan Ibu dan mengantar kami hingga depan rumah . *** Sore hari yang cerah, angin berhembus sepoi-sepoi memanjakan kulit . Kasak-kusuk tetangga mulai terdengar, membicarakan perihal tetangga barunya yang tak lain Fathir dan Luna. Mereka berkumpul di pos kosong yang sekarang menjadi markas Ibu-ibu komplek. "Tetangga baru tuh, pengantin baru sepertinya" Bu Mifta mengawali pembicaraan. "Iya, masih muda. Cuma berdua aja tuh" Bu Neneng yang sedikit tambun menimpali sambil mengunyah pentol kacang dalam bungkus plastik. "Belum kenalan ya, aku lihat baru aja tadi siang dianter rombongan. Keluarganya mungkin, tapi langsung pulang," ujar Bu Harto selaku Bu RT sambil menyuapi putrinya. "Tuh laki pangkatnya apa ya? Istrinya bening bener kayak selebgram" kali ini Tita ikut bersuara, Tita satu-satunya wanita yang paling muda diantara mereka. Dan belum memiliki anak. "Apaan tuh selebgram? Halah, masih kalah bening sama aku, liak nih bodyku aja macem artis papan atas . Seluruh tubuhku glowing sejak lahir, seperti perawatan di salon mahal" Bu Sisil tak mau kalah, yang dikatakan memang benar. Ia seorang instruktur senam, pantas bodynya masih yahud meskipun sudah punya anak tiga . Putihnya juga asli karena ada keturunan Chinese di keluarganya. Semua Ibu mengiyakan , jika tidak bisa perang dunia mengingat Bu Sisil orang yang temperamen dan tak mau kalah, serta jiwa emosinya tinggi seperti ABG labil. *** "Haduh Mas, sewa pembantu harian aja kenapasih . Aku gak sanggup dong bersihin debu-debu ini . Belum lagi bongkar dan menata seisi rumah, bisa sengklek tulangku" Luna mengomel tak kunjung henti. "Yaudah sana kamu tidur aja, biar Mas yang beresin semua. Ini mah gempil, udah sana masuk kamar" Fathir memahami betul tingkah istrinya, ia juga tak mau Luna kecapekan. Akhirnya Luna masuk ke dalam kamar, Fathir melanjutkan beberes seorang diri. 'Nah, sudah tertata rapi disini. Ini juga sudah oke. Foto nikah juga udah mampang segede gaban, sempurna' decaknya kagum melihat hasil kerja kerasnya membereskan rumah hampir seharian. Fathir membuka kardus terakhir di depannya, berisi tas, sepatu dan pernak-pernik lain milik Luna. Dikeluarkannya semua satu persatu, tatapannya tertuju pada satu tas berwarna putih dengan logo anjing kecil di depannya. Resleting tas itu terbuka setengah, membuat Fathir ingin membuka dan mengintip dalamnya. Setelah terbuka, Fathir menemukan sisir kecil, kotak bedak, lipstik, tisu basah . Tak ada yang aneh, sampai tangannya terhenti memegang benda kecil berbentuk kaplet berisi butir-butir pil kecil berjumlah tigapuluh, dibaliknya ada tulisan hari . Pil itu hanya tersisa beberapa butir, tak sampai separuh. Meskipun awam dengan hal kewanitaan, tapi Fathir paham apa yang dipegangnya saat ini. 'Satu bungkus pil KB' Pikirannya menerawang 'Pantes aja Luna belum hamil hingga sekarang, kenapa Luna melakukan ini. Padahal ia tahu Fathir ingin segera mempunyai anak, dan kenapa Luna tega membohongi Fathir dengan alat kontrasepsi ini' Setiap Fathir membahas tentang anak, Luna juga terlihat antusias menanggapi. Tapi kenapa bukti ini berkata seakan Luna tak ingin segera mempunyai momongan, kenapa harus menundanya. Fathir mengacak rambut dengan kesal, dibawanya pil tersebut dan membuka pintu kamar Luna, dikunci. Fathir mengetuk pintu kamar dengan keras . 'Tokkk tokkk tokkk, buka Lun' "Apasih Mas, sabar bentar" Luna menyahut dari dalam, terlihat kesal. ceklek..... Suara pintu dibuka, Luna melongokkan kepala keluar . "Jelasin sama aku sekarang, ini apa maksutnya?" Suara Fathir terdengar dingin dan menusuk. Luna mematung di tempat. "Ehhh...in...iniiii...aku bisa jelasin Mas...." ***** ****** ******* Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
3d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0Lihat Semua