Pagi hari di Cluster selalu dimulai dengan ritual yang lebih menegangkan daripada pembukaan bursa saham Wall Street. Tempat kejadi9n perkaranya adalah gerobak sayur milik Pak mamat yang parkir tepat di persimpangan jalan antara rumah nomor 11 dan 12. Di sinilah intelijen domestik dikumpulkan, diolah, dan disebarkan dalam bentuk ghibah pagi yang segar. Nyak Rodiah berdiri dengan daster merah menyala motif ondel-ondel, tangannya sibuk memilah-milih wortel seolah-olah sedang mencari cacat pada berlian. Di seberang gerobak, Ibu Andi Tenri tampil anggun dengan jilbab sutra warna pastel, memegang ikat bayam dengan jari-jemarinya yang terawat. "Aduh, Jeng Tenri," celetuk Nyak Rodiah, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke teras sebelah. "Nyak dapet kabar dari temen arisan, anak Nyak si Eron tuh semalem abis kencan di Senopati. Ceweknya lulusan Boston! Cantik, anak haji kaya pulak. Emang dasar Eron anak sholeh, jalannya mulus bener kayak tol Jagorawi." Ibu Tenri tersenyum tipis, tipe senyuman yang biasanya mendahului serangan balik yang mematikan. "Oh, iya kah, Bu Rodiah? Tapi saya dengar dari grup WA warga... kencannya agak 'berantakan' ya? Katanya perempuan itu pulang sambil marah-marah karena Eron... makan iga pakai tangan kosong?" Nyak Rodiah langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memerah. "Eh, itu namanya teknik makan gaya baru! Gaya eropa-eropaan gitu, Jeng! Biar lebih akrab ama makanan! Lagian, itu tandanya anak Nyak apa adanya, kagak jaim!" "Iya, tapi kalau sampai dibilang 'tidak waras' di depan umum, apa ndak malu?" balas Ibu Tenri tenang, nadanya sangat lembut tapi menusuk ulu hati. "Kalau Rhea, minggu depan sudah dijadwalkan bertemu dengan rekanan bisnis dari Makassar. Pengusaha muda, sukses, dan sopan sekali. Saya rasa, Rhea yang akan naik pelaminan duluan." "Kagak bisa!" Nyak Rodiah menepuk pundak Pak Mamat yang langsung gemetar ketakutan memegang timbangan sayur. "Anak Nyak yang kudu nikah duluan! Lu mau taruhan kagak, Bu Tenri? Siapa anaknya yang nikah duluan, yang kalah kudu bersihin selokan depan komplek selama sebulan penuh pakai daster!" Ibu Tenri mengangkat dagunya, harga diri Bugis nya tersenggol. "Siri'" adalah segalanya. "Siapa takut? Kita liat saja siapa yang duluan menyebar undangan." Namun, ketegangan itu mendadak dipotong oleh Pak Mamat yang berdehem canggung. "Anu... Ibu-ibu. Ini jengkol ama kangkungnya jadi dibeli kagak? Terus itu... besok subuh saya kagak jualan. Mau ada hajatan di kampung. Kalau ibu-ibu butuh belanjaan banyak buat arisan komplek besok lusa, mending belanja langsung ke Pasar Subuh Kebayoran Lama." Nyak Rodiah dan Ibu Tenri saling lirik. Kebetulan, lusa memang giliran Cluster Cendana mengadakan arisan bulanan, dan mereka berdua ditunjuk sebagai panitia konsumsi. "Wah, pas bener!" seru Nyak Rodiah. "Gimana kalau kita suruh anak-anak kita aja yang belanja? Biar mereka tahu rasanya kerja keras!" "Setuju," balas Ibu Tenri cepat, matanya menyipit kompetitif. "Biar kita lihat siapa yang belanjanya lebih pintar dan efisien." Pukul empat subuh, udara Jakarta masih sangat dingin dan jalanan diselimuti kabut tipis bercampur asap knalpot sisa semalam. Eron berdiri di teras rumahnya dengan jaket hoodie abu-abu dan celana kargo. Matanya masih setengah terpejam, tangannya memegang daftar belanjaan yang ditulis Nyak Rodiah dengan tulisan tangan yang mirip cakar ayam. "Eron! Lu kudu jalan sekarang! Jangan mau kalah cepet ama anak sebelah! Tuh, gerbangnya udah kebuka!" bisik Nyak Rodiah dari balik pintu rumah, mendorong pundak anaknya dengan sapu gerimis. Eron mendengus pasrah. Di saat yang sama, gerbang nomor 12 terbuka. Rhea keluar dengan jaket denim belelnya, rambutnya dicepol asal-asalan, dan membawa kantong belanja kain berukuran besar. Mereka berdua saling menatap di tengah keheningan subuh, dilingkupi rasa canggung pasca-insiden payung hujan dan kekacauan kencan buta kemarin. "Pagi," sapa Eron kaku. "Pagi," balas Rhea pendek, wajahnya merona merah mengingat chat manis yang dikirimkan Eron (sebagai SunWalker) ke akun Oraclenya semalam. Karena mobil Eron masih dalam status "karantina spiritual" oleh Oracle (dan Rhea sengaja tidak membawa mobil ibunya agar tidak repot parkir di pasar subuh yang padat), mereka akhirnya memutuskan naik taksi online bersama demi menghemat biaya dan demi menuruti perintah emak-emak mereka yang memaksa mereka berangkat dalam satu armada agar bisa saling "mengawasi". Di dalam mobil taksi online, keheningan terasa sangat pekat. "Soal kencan semalam..." Rhea membuka suara, mencoba mencairkan suasana sekaligus memuaskan rasa ingin tahunya yang luar biasa. "Gue denger dari nyokap... kencan lo rusuh banget ya?" Eron berdehem, mendadak salah tingkah. "Grup WA komplek emang lebih cepet daripada portal berita nasional," gumamnya ketus. "Tapi... ya, kencannya gagal. Dia nggak cocok sama frekuensi gue." Rhea menahan senyumnya kuat-kuat agar tidak meledak di dalam taksi. Frekuensi daster lu, Eron! batinnya kegirangan. "Oh... sayang banget ya. Padahal dia lulusan Boston." "Boston atau bukan, kalau nggak bisa menghargai kejujuran hewani saat makan iga, buat apa?" balas Eron pelan, secara tidak sadar mengutip kata-kata yang diajarkan oleh Oracle R. Rhea tersedak ludahnya sendiri, buru-buru memalingkan wajah ke luar jendela untuk menyembunyikan pipinya yang memerah akibat menahan tawa dan rasa gemas yang luar biasa pada kepolosan pria kaku ini. Pasar Subuh Kebayoran Lama adalah definisi dari kekacauan yang teratur. Ribuan orang berlarian membawa keranjang, truk-truk membongkar muatan sayur segar, aroma terasi bakar bercampur dengan bau amis ikan basah, dan teriakan para pedagang bersahut-sahutan memecah keheningan fajar. Bagi Eron yang terbiasa hidup di lingkungan steril ber-AC, tempat ini adalah antitesis dari kenyamanan hidupnya. Ia berjalan kaku, berkali-kali melompat menghindari becekan air pembuangan es batu ikan. "Awas, Mas! Ada gerobak lewat!" teriak Rhea, refleks menarik lengan jaket Eron ke pinggir jalan yang sempit. Tubuh Eron tertarik mendekat ke arah Rhea. Untuk beberapa detik, mereka berdiri sangat dekat di tengah hiruk-pikuk pasar. Eron bisa merasakan kehangatan dari tangan Rhea yang masih memegang lengannya, dan detak jantungnya mendadak berdegup kencang, menyaingi bisingnya suara klakson motor di sekitar mereka. "Makasih," bisik Eron, suaranya terdengar sangat dalam di telinga Rhea. Rhea buru-buru melepaskan pegangannya, mendadak salah tingkah. "I-iya. Makanya kalau jalan tuh liat-liat. Jangan kayak patung pameran gitu." Misi belanja pun dimulai. Nyak Rodiah memesan sepuluh kilogram daging sapi bagian sandung lamur, sementara Ibu Tenri memesan sepuluh ekor ayam kampung ukuran sedang yang harus dipotong di tempat. Di depan lapak penjual daging yang riuh, Eron mencoba menggunakan logikanya sebagai CFO. Ia mengeluarkan pulpen dan mulai mencatat harga-harga di kertas belanjaannya. "Pak, kalau saya ambil sepuluh kilogram, apakah ada diskon volume berdasarkan economies of scale?" tanya Eron serius pada penjual daging berkaos dalam yang sedang memegang golok besar. Penjual daging itu melongo. "Hah? Lu ngomong ape, Tong? Mau beli daging apa mau audit pajak?" Rhea yang melihat itu langsung menyikut pinggang Eron dengan keras. "Minggir, biar gue yang maju," bisik Rhea gemas. Rhea melangkah ke depan dengan senyum manis dan logat Betawi-Sunda-Bugis campur aduk yang sangat luwes. "Aduh, Abang yang ganteng... ini buat arisan komplek lho. Masa sandung lamurnya dikasih harga segitu? Kurangin goceng lah per kilo, ntar saya doain lapaknya laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul!" Penjual daging itu langsung tertawa lebar, mengacungkan goloknya dengan ramah. "Bisa aja lu, neng geulis! Ya udah, khusus buat lu, abang kasih harga miring!" Eron menatap Rhea dengan pandangan takjub. Di matanya, Rhea yang sedang sibuk menawar sayuran dengan lincah, berdesakan di antara ibu-ibu pasar, dan tidak peduli ujung celananya terkena cipratan lumpur, terlihat jauh lebih memukau daripada Clarissa yang selalu panik jika sepatu hak tingginya terkena setitik debu. "Hebat," gumam Eron pelan. "Apa?" tanya Rhea sambil menoleh, tangannya membawa kantong berisi sayur mayur. "Nggak," jawab Eron cepat, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat di tengah dinginnya udara subuh. "Gue cuma heran, kok lo bisa luwes banget di tempat kayak gini?" "Hidup itu harus fleksibel, Mas Eron," ucap Rhea sambil tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipit tipis di pipinya. "Kalau lo kaku terus kayak penggaris besi, lo bakal patah begitu dapet tekanan dikit. Kadang kita harus menikmati beceknya pasar buat dapet sayuran yang paling seger." Kata-kata Rhea menembus langsung ke dalam dada Eron. Ia tertegun. Kalimat itu terasa sangat mirip dengan petuah-petuah bijak yang sering diberikan oleh Oracle R di chat malam harinya. "Kenapa... lo bisa ngomong kayak gitu?" tanya Eron menyelidik, matanya menatap tajam ke arah Rhea. Rhea mendadak membeku. Jantungnya berdegup kencang karena panik. Waduh, gue keceplosan gaya bahasa Oracle! batinnya menjerit hancur. "Ya... ya kan gue sering baca buku psikologi!" bohong Rhea dengan tawa canggung yang dipaksakan. "Udah ah, buruan tuh abang ayamnya udah selesai potong. Angkat dong, masa cowok CFO kalah kuat ama kantong ayam!" Eron menatap Rhea dengan penuh selidik selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengambil alih dua kantong plastik besar berisi daging dan ayam dari tangan Rhea. Meskipun rasa curiga yang samar mulai tumbuh di kepalanya, Eron memilih untuk mengabaikannya demi menikmati momen kebersamaan mereka yang langka ini di bawah siraman cahaya fajar pertama Jakarta.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Lihat Semua