Rencana Rhea Calista untuk melakukan ghosting secara profesional dari kehidupan spiritual Leander Eron hancur lebur bahkan sebelum ia sempat menekan tombol hapus akun. Malam itu, Rhea sudah duduk tegak di kasurnya dengan ponsel rahasia di tangan. Ia sudah mengetik draf pesan perpisahan yang sangat puitis dan taktis, menjelaskan bahwa perjalanan kosmik SunWalker telah selesai dan gerbang dimensi Oracle R harus ditutup demi keseimbangan alam semesta. Namun, tepat ketika jempolnya melayang satu milimeter di atas tombol kirim, ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dengan tanda seru merah beruntun. SunWalker: “Oracle, gawat! Ini darurat tingkat tinggi! Ibu saya baru saja mengumumkan secara sepihak bahwa besok malam saya harus pergi kencan buta dengan anak sahabatnya, seorang haji kaya dari Jakarta Barat. Ibu saya bahkan sudah mengancam akan mencoret nama saya dari kartu keluarga jika saya menolak. Bagaimana cara membatalkan karma perjodohan ini tanpa merusak aura spiritual saya? Tolong, saya butuh panduan Anda!” Rhea terbelalak membaca pesan itu. Jantungnya mendadak terasa seperti merosot hingga ke lantai kamar. "Kencan buta?!" teriak Rhea histeris, membuat kucingnya yang sedang mendengkur langsung melompat kaget dari kasur. "Enak aja si kaku itu mau dikencan butain! Kemarin baru aja payungan romantis sama gue, sekarang mau tebar pesona sama cewek lain?!" Rasa cemburu yang sangat tidak rasional mendadak membakar dada Rhea. Ide awal untuk mengakhiri konsultasi langsung ia buang jauh-jauh ke tempat sampah mentalnya. Sisi kompetitif dan posesifnya sebagai tetangga dan sebagai perempuan yang diam-diam sudah jatuh cinta langsung mengambil alih kendali. "Oh, lo mau kencan buta, Mas Eron?" Rhea tersenyum licik, matanya berkilat jahat di bawah temaram lampu kamar. "Oke, gue bakal kasih lo tips kencan paling berani dan tak terlupakan sepanjang sejarah umat manusia." Ia segera mengetik balasan dengan gaya bahasa Oracle yang tetap tenang namun penuh manipulasi terselubung. Oracle R: “Tenang, SunWalker. Perjodohan paksa adalah bentuk 'Ujian Ketegasan Energi'. Alam semesta sedang menguji apakah Anda benar-benar sudah memiliki jiwa yang mandiri atau masih disetir oleh ekspektasi eksternal. Jangan batalkan kencannya. Datanglah. Namun, untuk menetralisir aura perjodohan tersebut, Anda harus melakukan teknik 'Pemutarbalikan Impresi'.” Di kamarnya yang sunyi, Eron membaca pesan itu dengan mata berbinar penuh harapan. SunWalker: “Bagaimana cara kerja Pemutarbalikan Impresi itu, Oracle?” Rhea mengetik balasannya dengan kecepatan penuh, menahan tawa jahatnya agar tidak terdengar hingga ke rumah sebelah. Oracle R: “Mudah. Wanita menyukai kepastian dan kenyamanan yang klise. Untuk merusak frekuensi perjodohan ini secara alami, Anda harus menampilkan energi yang berlawanan total. Ikuti tiga instruksi ini: Pertama, ketika memesan makanan, pesanlah menu yang paling sulit dan berantakan untuk dimakan, misalnya iga bakar madu ukuran jumbo atau kepiting soka tanpa alat bantu. Makanlah menggunakan tangan kosong dengan sangat lahap, biarkan sausnya menempel di pipi Anda sebagai simbol 'kejujuran hewani'. Kedua, jawablah setiap pertanyaannya menggunakan jargon-jargon korporat tingkat tinggi yang tidak masuk akal untuk obrolan santai, seperti 'Sinergitas hubungan kita harus melewati fase inkubasi kelayakan finansial' atau 'Saya memandang masa depan kita sebagai bentuk diversifikasi risiko portfolio'. Ketiga, dan ini yang paling penting: di tengah kencan, ceritakan dengan sangat detail dan tanpa rasa bersalah tentang kebiasaan buruk Anda di masa kecil, misalnya, bagaimana Anda masih sering mengompol saat mimpi buruk hingga usia sekolah dasar. Ini adalah ujian kejujuran absolut. Jika dia mundur, berarti energinya memang tidak selaras dengan Anda. Laporkan hasilnya segera.” Eron menatap layar ponselnya dengan mulut sedikit terbuka. "Makan iga pakai tangan? Jargon korporat? Cerita soal ngompol?!" bisiknya dengan dahi berkerut dalam. Logika CFOnya berteriak bahwa ini adalah tindakan bunuh diri sosial. Namun, mengingat bagaimana semua instruksi Oracle sebelumnya selalu "berhasil" (termasuk martabak dan angkot), Eron menepis keraguannya. "Oracle nggak pernah salah," gumam Eron mantap. "Gue harus tegas demi kebebasan jiwa gue." Keesokan malamnya, sebuah restoran steak mewah di kawasan Senopati menjadi saksi bisu terjadinya bencana sosial terbesar abad ini. Eron duduk dengan kaku di balik meja kayu jati yang dihiasi lilin aromaterapi. Di hadapannya duduk Sarah, seorang gadis cantik lulusan universitas ternama di Boston, anak dari sahabat dekat Nyak Rodiah. Sarah tampil sangat anggun dengan gaun hitam minimalis dan riasan wajah yang sempurna. "Jadi, Eron," Sarah membuka percakapan dengan senyum manis yang sangat terlatih. "Tante Rodiah sering banget cerita tentang kamu di arisan. Katanya kamu sibuk banget ya sebagai CFO? Pasti stres ya mengelola keuangan perusahaan besar?" Eron menarik napas dalam-dalam. Instruksi pertama: Pemutarbalikan Impresi. Tepat saat itu, pelayan mengantarkan pesanan mereka. Sesuai instruksi Oracle, Eron tidak memesan tenderloin steak yang mudah dipotong dengan pisau. Di atas mejanya kini tersaji satu porsi besar Iga Sapi Bakar Madu yang berlumuran saus karamel pekat yang sangat lengket. "Oh, kamu suka iga ya?" Sarah tersenyum canggung melihat ukuran hidangan Eron. Tanpa membalas senyuman Sarah, Eron menggulung lengan kemeja putih mahalnya hingga ke siku. Ia menyingkirkan garpu dan pisau perak di samping piringnya, lalu langsung mencengkeram tulang iga yang besar itu dengan kedua telapak tangannya yang bersih. Slurrp! Nyam! Eron menggigit daging iga itu dengan brutal. Saus madu hitam yang lengket langsung belepotan di sekitar mulutnya, bahkan setitik saus melompat manis dan mendarat tepat di atas hidung mancungnya. Sarah membeku di kursinya, garpunya melayang di udara. "Eron... kamu... nggak mau pakai sarung tangan plastik? Atau garpu?" Eron mengunyah dengan lahap, menatap Sarah lurus-lurus. "Makanan adalah energi mentah dari alam, Sarah. Menggunakan alat bantu besi hanya akan mendistorsi sinergi antara nutrisi dan tubuh kita," jawab Eron dengan mulut yang masih penuh daging, membuat beberapa remah saus hampir tersembur keluar. "Kita harus melakukan penetrasi langsung pada target konsumsi." Sarah menelan ludah, senyum anggunnya mulai retak di sudut-sudut bibir. "Oh... begitu ya. Sangat... unik." Masuk ke fase kedua: Jargon Korporat. "Lalu," Sarah mencoba mengalihkan pandangan dari saus yang kini sudah melumuri seluruh dagu Eron. "Bagaimana kamu melihat hubungan kita ke depan? Maksudku, orang tua kita kan sangat berharap banyak dari pertemuan ini..." Eron meletakkan sisa tulang iga di piring dengan bunyi denting yang keras. Ia mengusap mulutnya menggunakan punggung tangannya, menyebarkan saus madu semakin rata di pipinya. "Secara metodologi," ucap Eron dengan nada suara bariton yang sangat serius, seolah-olah sedang mempresentasikan laporan tahunan di depan dewan komisaris. "Hubungan interpersonal kita saat ini sedang berada dalam fase initial public offering. Kita harus melakukan uji tuntas atau due diligence untuk mengukur apakah customer acquisition cost kita sebanding dengan lifetime value yang akan dihasilkan. Saya tidak ingin kita melakukan merger tanpa adanya analisis kelayakan finansial yang komprehensif terkait retensi emosional." Sarah melongo. Matanya mengerjap-ngerjap cepat. "Maaf? Due diligence? Kita ini lagi kencan, Eron, bukan mau beli bank." "Hubungan adalah bisnis jangka panjang, Sarah," balas Eron tanpa berkedip. "Jika return on investment kita negatif sejak kuartal pertama, maka lebih baik kita melakukan likuidasi dini untuk menghindari kerugian portfolio." Sarah menarik napas panjang, wajahnya mulai berubah merah padam karena merasa sedang diolok-olok. "Kamu ini... sebenarnya waras nggak sih?" Fase ketiga: Ujian Kejujuran Absolut (Ngompol). Eron memajukan tubuhnya, menatap Sarah dengan pandangan mata yang sangat intens. "Sarah, sebelum kita melangkah lebih jauh ke fase integrasi sistem, ada satu metrik historis yang harus saya ungkapkan demi transparansi data." "Apa?" tanya Sarah dengan nada ketus, tangannya sudah mulai meraih tas desainer di samping kursinya. "Saya memiliki riwayat inkontinensia urin nokturnal yang cukup persisten di masa lalu," ucap Eron dengan wajah tanpa dosa. "Inkontinensia apa?" "Saya masih sering mengompol saat mimpi buruk hingga saya duduk di bangku kelas lima sekolah dasar," jelas Eron dengan nada sangat bangga. "Terutama kalau saya bermimpi dikejar oleh angsa peliharaan paman saya. Menurut saya, ini adalah bentuk anomali rilis stres bawah sadar yang sangat menarik untuk didiskusikan." BRAKK! Sarah berdiri dari kursinya dengan sangat kasar hingga gelas air di atas meja bergoyang. Wajah cantiknya kini berkerut penuh kejijikan dan kemarahan yang luar biasa. "Cukup! Ini kencan paling menjijikkan dan gila yang pernah aku datangi seumur hidupku!" teriak Sarah, cukup kencang hingga membuat beberapa pengunjung restoran menoleh. "Kamu CFO yang sakit jiwa! Makan kayak orang purba, ngomong kayak robot kesurupan, dan sekarang cerita soal ngompol?! Aku bakal laporin ini ke papa aku dan Tante Rodiah! Dasar cowok aneh!" Sarah menyambar tasnya dan melangkah pergi dengan entakan kaki yang sangat keras, meninggalkan Eron yang masih duduk tenang dengan pipi berlumuran saus iga bakar. Eron terdiam sejenak, melihat kepergian Sarah. Ia meraih tisu, mengusap wajahnya yang lengket, lalu mengembuskan napas panjang. Anehnya, alih-alih merasa sedih karena kencannya hancur, sebuah perasaan lega yang luar biasa besar meledak di dalam dadanya. Ia merasa bebas. Ia tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pria sempurna demi menyenangkan orang lain. Ia segera merogoh ponselnya dan mengirimkan laporan dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan. SunWalker: “Oracle! Luar biasa! Kencannya hancur total dalam waktu kurang dari tiga puluh menit! Dia pergi sambil meneriaki saya gila dan menjijikkan. Tapi anehnya... saya merasa sangat bahagia! Saya merasa seperti baru saja memenangkan perang besar! Terima kasih, Oracle! Teknik Anda benar-benar jenius!” Di rumah sebelah, Rhea yang sedang membaca pesan itu langsung tertawa terpingkal-pingkal di atas kasurnya hingga perutnya sakit. Ia berguling-guling ke kanan dan ke kiri dengan perasaan kemenangan mutlak yang sangat manis. "Yes! Hancur! Rasain lu, Sarah Boston!" sorak Rhea kegirangan. "Selamat, Mas Eron. Lo baru saja lulus ujian sabotase pertama dari gue. Dan sekarang... lo murni cuma milik gue di dunia rahasia ini."
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Lihat Semua