logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 Di Bawah Satu Payung

​Leander Eron terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Biasanya, hal pertama yang ia pikrkan setelah membuka mata adalah kepanikan logistik tentang jadwal rapat hariannya, target kuartalan, atau tumpukan dokumen keuangan yang harus ia periksa. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan, seolah-olah beban tak kasat mata seberat puluhan kilogram telah diangkat dari pundaknya.
​Eron bangkit dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya, lalu melangkah ke sudut ruangan di mana lemari kaca khususnya berada. Matanya langsung tertuju pada satu slot kosong di barisan piringan hitam miliknya. Slot tempat album antik Chet Baker Sings pernah bersemayam.
​Biasanya, melihat ada barang yang hilang atau tidak berada di tempat yang seharusnya, akan memicu kecemasan akut dalam diri Eron si perfeksionis. Namun kali ini, tidak ada rasa sesak. Tidak ada rasa kehilangan. Sebaliknya, sebuah kehangatan perlahan merayap naik dari dada, menjalar ke tenggorokan, dan berakhir di sudut bibirnya.
​Secara perlahan dan tanpa paksaan, kedua sudut bibir Eron tertarik ke atas. Ia tersenyum. Bukan senyum sopan khas korporat yang biasa ia gunakan di depan klien, melainkan senyuman yang tulus, ringan, dan sedikit konyol. Ia menatap slot kosong itu dan menyadari bahwa melepaskan sesuatu, ternyata tidak semenakutkan itu.
​Ketenangan pagi itu langsung pecah saat suara bising yang sangat akrab terdengar dari arah luar jendela kamarnya. Suara cempreng khas Rawabelong milik Nyak Rodiah sedang bersahut-sahutan dengan suara lembut namun tajam milik Ibu Andi Tenri di depan gerbang pagar. Rupanya, medan perang harian telah bergeser ke area gerobak tukang sayur keliling, tempat paling sakral untuk penyebaran intelijen domestik di Cluster Cendana.
​"Eh, Bu Tenri, Nyak bukannya mau pelit ye," suara Nyak Rodiah terdengar nyaring di antara deru motor lewat. Ia sedang sibuk menunjuk-nunjuk bungkusan tempe dengan pisau tukang sayur. "Tapi itu piringan hitam si Eron harganya kagak maen-maen. Lu nanya deh ama tukang musik di Blok M, itu barang antik! Nyak ngeri si Rhea kagak ngarti cara miaranya, ntar malah dipake buat tatakan gelas kopi susu atau piring gorengan!"
​Ibu Tenri yang sedang memilah ikat kangkung dengan jemarinya yang lentik, tersenyum tenang namun matanya berkilat kompetitif. "Aduh, Bu Rodiah. Ndak usah khawatir berlebihan begitu. Rhea itu lulusan desain komunikasi visual, dia sangat mengerti nilai estetika barang seni. Di kamarnya saja ada pemutar piringan hitam otomatis yang dipesan langsung dari Jepang. Justru saya yang bingung, kenapa Eron tiba-tiba begitu perhatian? Jangan-jangan, anak kita ini ada main di belakang kita?"
​Nyak Rodiah hampir saja menjatuhkan bungkusan tempe yang sedang dipegangnya. "Eh, main ape nih maksudnye?! Anak Nyak mah lurus-lurus aje ye! Kaga ada sejarahnye silsilah kami maen belakang, kecuali pas lagi ronda malem!"
​Rhea, yang mengintip dari balik tirai dapur lantai bawah sambil memegang cangkir kopi, hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Gosip ini sudah menyebar ke tukang sayur tercepat di komplek. Berarti, dalam hitungan jam, seluruh komplek akan mengira bahwa Eron sedang mencoba melamar Rhea dengan mahar piringan hitam antik.
​Rhea melirik ke arah meja belajarnya di lantai atas. Di sana, album Chet Baker itu diletakkan di tempat paling bersih dan aman. Semalam, Rhea bahkan sengaja memutar piringan hitam tersebut menggunakan turntable klasiknya. Suara terompet Chet Baker yang mendayu-dayu memenuhi kamarnya yang sunyi, dan untuk pertama kalinya, Rhea merasa bisa melihat sisi lain dari Eron, sisi yang rapuh, sepi, dan membutuhkan kehangatan di balik topeng CFOnya yang dingin.
​"Gila, gue beneran baper sama klien sendiri," bisik Rhea dengan frustrasi. Ia buru-buru merogoh saku celananya, memeriksa ponsel rahasia Oracle R. Belum ada pesan baru dari SunWalker, namun dadanya sudah berdegup kencang hanya karena memikirkan pria itu.
​Sore harinya, langit Jakarta mendadak berubah menjadi abu-abu gelap yang pekat. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering di sepanjang jalan Sudirman sebelum akhirnya menumpahkan hujan deras yang luar biasa lebat disertai petir yang menyambar-nyambar.
​Eron turun dari lobi kantornya dengan payung hitam lipat yang kecil. Karena mobilnya masih "dikarantina" sesuai instruksi Oracle, ia terpaksa berjalan menuju stasiun MRT terdekat di tengah badai. Setibanya di stasiun MRT Fatmawati, hujan rupanya belum juga reda. Air mengalir deras di tangga stasiun seperti air terjun kecil, membuat para komuter menumpuk di lobi bawah karena enggan basah kuyup.
​Eron memutuskan untuk tetap pulang menggunakan MRT hingga stasiun terdekat dari kompleknya, lalu berjalan kaki dengan payung kecilnya. Bagaimanapun, Oracle menyuruhnya untuk meruntuhkan kenyamanan materialnya, dan ia berkomitmen penuh untuk itu.
​Saat Eron baru saja melangkah keluar dari area stasiun dekat komplek perumahan mereka, ia melihat siluet seorang perempuan yang sangat ia kenal sedang berdiri gelisah di bawah halte bus yang bocor di beberapa sisi.
​Itu Rhea.
​Rhea mengenakan jaket denim kebesaran yang tampak agak lembap, rambutnya yang biasanya diikat kini basah kuyup di bagian ujungnya karena terkena tampias air hujan yang liar. Ia sedang sibuk menepuk-nepuk ponselnya yang tampaknya mati kehabisan daya, wajahnya terlihat sangat kesal, kedinginan, dan bibirnya sedikit bergetar.
​Eron terdiam di tempatnya berdiri. Logika lamanya berteriak untuk pura-pura tidak melihat dan berjalan terus demi menghindari kecanggungan. Namun, dadanya yang baru saja dibersihkan oleh kepasrahan dan senyum pagi tadi, menolak untuk bersikap egois.
​Eron melangkah mendekat, membelah kerumunan orang yang berteduh. Begitu bayangan tinggi Eron menghalangi tampias air yang mengarah ke wajah Rhea, perempuan itu mendongak dengan terkejut.
​"Mas Eron?" Rhea terbelalak, matanya bulat menatap sosok tegap di depannya.
​Eron tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeser posisi payung hitamnya yang kecil agar menutupi kepala Rhea sepenuhnya, membuat bahu kanan kemeja Eron sendiri langsung basah kuyup terkena guyuran air hujan dalam hitungan detik.
​"Lo... ngapain di sini? Mobil lo mana?" tanya Rhea gugup, mendadak merasa sangat canggung berada sedekat ini dengan pria yang semalam memberikan piringan hitam paling berharganya.
​"Mobil lagi di bengkel," bohong Eron datar, menolak mengaku bahwa dia sedang menjalani "hukuman" dari Oracle. "HP lo mati?"
​"Iya, habis baterai. Nggak bisa pesan taksi online," jawab Rhea sambil memeluk tas ranselnya erat-erat agar laptop di dalamnya tidak basah.
​Eron menatap jalanan komplek yang mulai tergenang air setinggi mata kaki. Jarak dari halte ini ke gerbang Cluster Cendana sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Namun, payung yang dibawa Eron adalah payung lipat kecil yang biasanya hanya cukup untuk satu orang bertubuh kurus. Jika mereka berjalan bersama, mereka harus saling merapat.
​"Payung gue kecil. Tapi kalau lo mau, kita bisa jalan bareng sampai komplek," ajak Eron. Suaranya terdengar sangat tenang di sela-sela gemuruh guntur, membuat jantung Rhea mendadak berdegup dengan ritme yang sangat tidak beraturan.
​Rhea menelan ludah, melihat bahu Eron yang mulai basah. "Beneran nggak apa-apa? Bahu lo nanti basah semua, Mas."
​"Nggak apa-apa. Kulit gue nggak bakal meleleh cuma karena air hujan," balas Eron dengan nada ketus yang biasa, namun ada kehangatan yang tulus di balik matanya.
​Akhirnya, mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung kecil yang bergoyang-goyang ditiup angin kencang Jakarta. Jarak di antara mereka sangat dekat. Bahu mereka sesekali bersentuhan, dan Rhea bisa mencium aroma parfum maskulin milik Eron yang bercampur dengan aroma tanah basah dan hujan. Setiap kali angin bertiup kencang, Eron secara refleks menarik bahu Rhea mendekat ke arahnya, melindunginya dari cipratan air genangan mobil yang lewat.
​"Soal... piringan hitam semalam," Rhea membuka suara, mencoba memecah kesunyian yang terlalu mendebarkan di antara mereka. "Gue udah dengerin. Bagus banget. Chet Baker emang nggak pernah gagal bikin orang ngerasa kesepian sekaligus tenang."
​Eron melirik Rhea dari sudut matanya, melihat bagaimana ujung hidung cewek itu memerah karena dingin. "Lo beneran suka?"
​"Suka banget. Tapi gue merasa bersalah, itu kan barang berharga lo. Kenapa tiba-tiba dikasih ke gue? Nyak Rodiah bahkan ngira lo kerasukan setan komplek," ucap Rhea sambil tertawa kecil untuk menyembunyikan detak jantungnya yang semakin kencang.
​Eron menghentikan langkahnya sejenak tepat di bawah rimbunnya pohon tanjung sebelum gerbang komplek. Di bawah perlindungan payung yang sempit, ia menatap Rhea dengan pandangan mata yang sangat dalam, sebuah tatapan yang belum pernah Rhea lihat sebelumnya selama bertahun-tahun mereka bertetangga.
​"Gue cuma merasa... barang itu lebih pantas ada di tangan orang yang bisa menghargainya dengan benar, daripada disimpan di lemari kaca gue yang berdebu," kata Eron lirih, suaranya terdengar sangat tulus. "Dan... gue sekalian pengen minta maaf."
​Rhea tertegun, menatap mata hitam Eron yang jernih. "Minta maaf buat apa?"
​"Buat semuanya. Buat sepeda roda tiga lo yang patah waktu kita kecil. Buat laporan loker SMA yang bikin lo dihukum ngepel lab. Dan buat sikap gue yang selalu sok sukses di depan lo," ucap Eron, seulas senyuman tipis yang sangat mirip dengan senyumannya pagi ini kembali menghiasi wajahnya.
​Mendengar permintaan maaf yang begitu tulus dari pria sekaku Eron, pertahanan Rhea runtuh sepenuhnya. Perasaan bersalah karena telah memanfaatkan kepolosan Eron lewat identitas Oracle R menghantam dadanya dengan keras. Rhea menatap wajah Eron yang setengah basah terkena air hujan, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pria di depannya ini memiliki jiwa yang jauh lebih indah daripada siapapun yang pernah ia temui.
​"Mas Eron... lo nggak seburuk itu kok. Dan sepedanya... udah dimaafin dari dulu," bisik Rhea lembut, matanya berbinar di balik sisa-sisa rintik hujan.
​Malam harinya, setelah mandi air hangat dan merapikan kamarnya, Rhea duduk di depan laptop dengan perasaan yang sangat kacau. Di samping laptopnya, album Chet Baker milik Eron seolah-olah sedang menatapnya dengan penuh selidik. Di satu sisi, ia merasa sangat bahagia karena hubungannya dengan Eron di dunia nyata telah mencair dengan sangat manis. Namun di sisi lain, kebohongannya sebagai Oracle terasa seperti bom waktu yang siap menghancurkan segalanya jika sampai ketahuan.
​Sebuah notifikasi masuk dari SunWalker. Rhea membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
​SunWalker: “Oracle, hari ini adalah hari yang sangat luar biasa. Saya terjebak hujan dan terpaksa berbagi payung dengan tetangga yang saya benci itu. Kami berjalan bersama, dan saya meminta maaf padanya atas semua kesalahan masa lalu saya. Anehnya, dia tidak tampak menyebalkan lagi. Dia terlihat... manis di bawah hujan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya menyadari bahwa saya bisa tersenyum dengan sangat lepas hari ini. Apakah ini semua karena energi piringan hitam yang saya lepaskan kemarin?”
​Rhea menatap layar ponselnya dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Ia tersenyum sedih, merasa terharu sekaligus takut di saat yang bersamaan. Jemarinya mulai mengetik balasan dengan sangat perlahan, menumpahkan seluruh perasaannya yang sebenarnya ke dalam karakter Oracle.
​Oracle R: “Itu bukan pengaruh piringan hitam, SunWalker. Itu adalah diri Anda yang sebenarnya. Ketika Anda melepaskan ego dan genggaman Anda pada masa lalu, Anda mulai bisa melihat keindahan pada hal-hal yang selama ini Anda abaikan. Senyuman Anda hari ini adalah bukti bahwa jiwa Anda telah kembali. Anda tidak lagi membutuhkan mantan tunangan Anda untuk merasa 'hidup'. Anda sudah memiliki jiwa yang sangat indah itu di dalam diri Anda sendiri sejak awal.”
​Rhea menekan tombol send, lalu mematikan ponsel rahasianya. Ia memeluk lututnya di atas kursi, menyadari satu hal yang menakutkan, ia telah jatuh cinta pada musuh bebuyutannya sendiri, dan ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan kebohongan ini tanpa kehilangan pria itu untuk selamanya.

Komentar Buku (0)

    Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru