Di ruang kerjanya yang bernuansa monokrom, Leander Eron menatap layar ponselnya dengan kening berkerut dalam. Kata-kata dari Oracle R seolah menari-nari di retinanya, menantang akal sehat yang biasanya bekerja sepresisi algoritma komputer. “Pembersihan tahap berikutnya adalah 'Pelepasan Kemelekatan'. Energi stagnan Anda sering kali menempel pada benda-benda materi yang Anda anggap paling berharga. Cari satu barang yang memiliki memori penting, barang yang mewakili sisi emosional Anda yang paling dalam. Berikan barang itu kepada target yang sama (tetangga Anda). Anggap ini sebagai simbol bahwa Anda merelakan masa lalu yang kaku demi menjemput masa depan yang dinamis. Ingat, jangan meminta penjelasan atau imbalan.” Eron menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis seharga tiga puluh juta rupiah miliknya. "Merelakan masa lalu?" bisiknya lirih. Matanya menyapu seisi kamar hingga akhirnya tertambat pada sebuah lemari kaca khusus di sudut ruangan. Di dalam lemari itu, tersimpan koleksi piringan hitam langka yang ia kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun. Bagi orang lain, Eron mungkin terlihat seperti robot korporat yang dingin. Namun, musik piringan hitam adalah satu-satunya pelarian di mana ia bisa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang boleh merasa lelah, melankolis, dan rapuh. Langkah kakinya membawa Eron mendekati lemari tersebut. Jemarinya yang ramping menyusuri jajaran jaket kertas tebal pembungkus piringan hitam, hingga akhirnya berhenti pada satu album khusus, Chet Baker Sings rilisan fisik pertama yang ia dapatkan dari hasil berburu di toko musik antik di London, bertahun-tahun lalu. Album jazz melankolis itu adalah teman setianya setiap kali ia merasa tertekan oleh ekspektasi Nyak Rodiah atau saat ia merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk Jakarta. "Gue harus ngasih ini ke Rhea?" Eron menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Rhea adalah cewek yang bahkan menyetel musik remix dugem di mobilnya dengan volume penuh hingga menggetarkan kaca rumah Eron. Memberikan Chet Baker yang puitis dan rapuh kepada Rhea rasanya seperti memberikan mutiara kepada... yah, seekor kucing liar yang berisik. Namun, bayangan wajah Clarissa yang menatapnya dingin di galeri seni terbayang kembali. “Kamu nggak punya soul, Ron.” Eron mengertakkan gigi. “Gue bakal buktiin kalau gue punya jiwa.” Dengan tangan yang terasa sangat berat, ia mengambil piringan hitam tersebut, memasukkannya ke dalam tas jinjing khusus, dan bersiap pulang. Sementara itu, di rumah nomor 12, suasana dapur sedang sehangat coto Makassar yang sedang mengepul di atas kompor. Ibu Andi Tenri sedang mengaduk kuah coto dengan gerakan anggun, sementara matanya sesekali melirik ke arah luar jendela. "Rhea," panggil Ibu Tenri, nadanya tenang namun penuh selidik. "Kau tahu tidak, tadi siang di grup WA, Bu Rodiah itu pamer lagi. Katanya, biarpun Eron naik angkot, itu namanya 'merakyat'. Dia bilang anak saya, kau ini, manja sekali karena ke mana-mana naik taksi eksekutif. Ndak mau ditaruh di mana mukaku kalau dibilang begitu terus." Rhea, yang sedang asyik mendesain di meja makan dengan laptopnya, hanya mendengus geli. "Aduh, Ma. Biarin aja kenapa sih. Lagian emang bener kan, Rhea emang manja dan suka kenyamanan. Lagian Eron naik angkot itu paling cuma taktik pencitraan biar dibilang calon menteri." "Heh, jaga bicaramu," potong Ibu Tenri, sambil meletakkan sendok sayur. "Tapi kau harus akui, martabak yang dikasih Eron kemarin itu memang enak sekali. Menteganya pas, ndak pelit kejunya. Berarti dia masih punya sopan santun. Tapi saya heran, kenapa tiba-tiba dia begitu?" Tepat saat Rhea hendak menjawab ibunya, ponsel rahasia Oracle R di saku celananya bergetar halus. Rhea buru-buru merogoh sakunya, berpura-pura ingin ke toilet untuk membaca pesan yang masuk. SunWalker: “Saya sudah memilih barangnya. Ini adalah barang yang sangat berharga bagi saya, sesuatu yang menemani saya di titik terendah hidup saya. Saya akan memberikannya malam ini. Tapi jujur, rasanya sangat berat. Apakah Anda yakin ini bukan sekadar lelucon?” Rhea menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, menahan senyum konyol yang hampir meledak dari bibirnya. Piringan hitam? Atau miniatur mobil sport? Atau jam tangan cadangan? Rhea sangat penasaran barang berharga apa yang dianggap paling bernilai oleh tetangga kaku itu. Oracle R: “Keikhlasan adalah kunci dari perubahan energi, SunWalker. Semakin berat Anda melepasnya, semakin besar sumbatan energi yang luruh dari diri Anda. Berikan dengan lapang dada. Masa depan Anda sedang menunggu di balik kerelaan Anda malam ini.” Rhea terkikik geli. Ia menyimpan kembali ponselnya, melangkah keluar dari kamar mandi dengan perasaan menang. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara ketukan pintu depan rumahnya. "Rhea! Tolong buka pintu dulu, Mama tanggung ini kuah cotonya nanti pecah santannya!" teriak Ibu Tenri dari dapur. "Iya, Ma!" Rhea berjalan menuju pintu depan, merapikan kaos kebesarannya yang bergambar band grunge lawas. Begitu pintu kayu jati itu terbuka, Rhea langsung membeku. Eron berdiri di sana. Di bawah temaram lampu teras, wajahnya terlihat sangat tegang, seolah-olah ia sedang bersiap menghadapi sidang eksekusi mati. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tas jinjing tipis berbentuk persegi berukuran besar. "Mas Eron?" Rhea mengerutkan kening, mencoba bersikap biasa meskipun jantungnya tiba-tiba melakukan lompatan kecil yang tidak wajar. "Ada apa lagi? Mau bagi-bagi martabak asin sekarang?" Eron tidak membalas candaan Rhea. Matanya menatap lurus ke dalam mata Rhea, memancarkan kombinasi rasa kesal, malu, dan kepasrahan yang luar biasa. Tanpa sepatah kata pun, Eron menyodorkan tas jinjing itu ke hadapan Rhea. "Buat lo," kata Eron datar, nadanya sedingin es batu di kutub utara. Rhea menerima tas itu dengan ragu. "Apaan nih? Jangan bilang bom waktu ya." "Buka aja nanti di dalam," balas Eron cepat. Sesuai dengan instruksi sang Oracle, ia harus segera pergi setelah menyerahkannya. Namun, kakinya seolah terpaku di ubin teras rumah Rhea. Ia menatap tas itu sekali lagi dengan pandangan penuh kerinduan, membuat Rhea semakin penasaran. "Eron?" Suara anggun Ibu Tenri tiba-tiba terdengar dari arah ruang tamu. Ibu Tenri melangkah mendekat, matanya langsung berbinar melihat tas jinjing yang dipegang Rhea. "Ya ampun, ada tamu rupanya. Ini bawa apa lagi, Nak Eron?" Sebelum Eron sempat menjawab, suara cempreng nan akrab terdengar dari arah pagar pembatas. Nyak Rodiah rupanya sudah mengintip sejak tadi dari balik rimbunnya pohon mangga gincu. "Eron! Lu beneran udah kagak waras ya!" Nyak Rodiah berteriak sambil berjalan cepat memasuki halaman rumah Ibu Tenri, daster ondel-ondelnya berkibar dramatis. "Itu yang lu kasih ke si Rhea apaan?! Jangan bilang piringan hitam yang harganya jutaan itu?! Yang tiap malem lu puter ampe Nyak pusing dengerin lagu orang nangis?!" Ibu Tenri langsung bersedekep dada, matanya menyipit kompetitif. "Lho, Bu Rodiah. Ini namanya pemberian tetangga. Kenapa harus dihebohkan begitu? Berarti Eron tahu kalau Rhea ini suka barang-barang seni berkelas, bukan cuma tahu soal gambar-gambar saja." "Eh Bu Tenri, itu barang harganya bisa buat beli emas tiga gram ye!" balas Nyak Rodiah tidak mau kalah. "Anak Nyak nyari itu ampe ke London! Eh sekarang malah dikasih cuma-cuma ke anak situ! Eron, lu mending pulang sekarang! Nyak mau urut kepala lu, kayaknya otak lu geser gara-gara keseringan naik angkot!" Eron mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Rasa malu yang ia rasakan malam ini sudah mencapai level stratosfer. "Eron cuma mau kasih ini ke Rhea. Nggak ada maksud apa-apa," katanya dengan nada setegas mungkin, meskipun wajahnya sudah memerah padam. Ia menatap Rhea untuk terakhir kalinya malam itu. "Jaga baik-baik. Jangan dipake buat tatakan gelas," bisik Eron lirih, sebelum akhirnya berbalik, menarik tangan Nyak Rodiah yang masih sibuk mengomel, dan berjalan cepat kembali ke rumahnya. Di dalam kamarnya yang sunyi, Rhea duduk di tepi tempat tidur dengan piringan hitam Chet Baker Sings tergeletak di pangkuannya. Ia mengusap permukaan jaket kertas piringan hitam yang terasa antik dan terawat dengan sangat baik. Sebagai seorang desainer dan penikmat seni, Rhea tahu persis nilai dari barang ini. Ini bukan sekadar barang mahal; ini adalah sebuah mahakarya. Dan yang lebih penting, ini adalah barang yang merawat kesunyian Eron, si pria perfeksionis yang selalu terlihat tangguh di luar, namun ternyata menyimpan melodi serapuh ini di dalam hatinya. Rhea memeluk piringan hitam itu ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena tawa atau kepuasan menjahili orang. Ada rasa hangat yang asing yang menjalar perlahan, membuat matanya mendadak terasa sedikit panas. "Mas Eron…Kenapa lo bisa se-ikhlas ini sih?"gumam Rhea lirih. Ponsel rahasianya di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi chat dari SunWalker masuk. SunWalker: “Saya sudah memberikannya. Piringan hitam jazz kesayangan saya. Rasanya seperti melepaskan sebagian dari diri saya yang paling rapuh kepada orang yang paling tidak menghargainya. Tapi anehnya, setelah melihat dia memegang barang itu... saya merasa siap menghadapi apa pun besok. Terima kasih, Oracle. Saran Anda, entah bagaimana, membuat saya merasa lebih... hidup.” Rhea menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Air mata kecil hampir saja lolos dari sudut matanya. Ia menyadari satu hal yang menakutkan, ia tidak lagi memandang Eron sebagai musuh bebuyutan yang menyebalkan. Eron adalah seorang pria kesepian yang sedang berjuang keras mengembalikan hatinya yang patah dan tanpa sadar, pria itu sedang menyerahkan seluruh kepercayaannya ke dalam tangan Rhea. Rhea menarik napas dalam-dalam, lalu mulai mengetik balasan dengan jari yang sedikit gemetar. Kali ini, tidak ada nada jahil atau perintah konyol yang ingin ia berikan. Ia hanya ingin memberikan kenyamanan kecil untuk jiwa kaku yang mulai mencair itu. Oracle R: “Anda telah melakukan hal yang luar biasa, SunWalker. Melepaskan hal berharga bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian terbesar Anda. Malam ini, tidurlah dengan tenang. Energi Anda telah dibersihkan. Dan percayalah... orang yang menerima piringan hitam itu, diam-diam pasti akan menjaganya dengan seluruh jiwanya.”
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Lihat Semua