Pukul enam pagi, dan matahari baru saja mengintip malu-malu di atas atap rumah-rumah mewah Cluster Cendana. Namun, bagi Leander Eron, pagi ini terasa seperti awal dari sebuah kiamat kecil. Ia berdiri di depan cermin lemari pakaian, menatap penampilannya sendiri dengan pandangan tidak percaya. Di atas kasurnya tergeletak jas Hugo Boss hitam dan kunci mobil SUVnya yang berkilat. Kedua benda itu hari ini resmi menjadi barang terlarang. Sesuai dengan titah tak terbantahkan dari Oracle R tadi malam, ia harus menjalani ritual "Penghancuran Gengsi Material". Eron akhirnya memilih kemeja putih polos tanpa dasi, celana bahan abu-abu, dan sepatu loafers yang untungnya cukup nyaman untuk berjalan kaki. "Naik angkot," Eron berbisik pada dirinya sendiri, mencoba membiasakan lidahnya dengan kata yang sudah belasan tahun tidak pernah ia ucapkan. "Gue cuma perlu naik angkot. Ini untuk membersihkan energi stagnan. Ini untuk Clarissa." Eron melangkah keluar dari kamarnya dengan langkah berat. Di lantai bawah, aroma masakan gurih langsung menyambut indra penciumannya. Nyak Rodiah sedang sibuk di dapur, mengulek sambal dengan kecepatan penuh. Di atas meja makan sudah tersedia sepiring semur jengkol dan nasi uduk hangat. "Eron! Sini lu sarapan dulu!" teriak Nyak Rodiah tanpa menoleh, tangannya masih lincah memainkan ulekan batu. "Nyak bikinin semur kesukaan lu nih. Biar otak lu lempeng dikit, kaga kayak kemaren pagi, ngasih martabak mahal ke anak sebelah. Sampe semalem Nyak kaga bisa tidur mikirin duit lu yang kebuang percuma."pp Eron mendekati meja makan, namun tangannya tidak menyentuh sendok. "Nyak, Eron sarapan di kantor aja. Hari ini Eron agak buru-buru." Nyak Rodiah langsung menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik, menatap anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alisnya yang tebal bertaut. "Lu mau ke kantor kagak bawa kunci mobil? Itu tas kerja lu mana? Kok tumben-tumbenan kaga pake dasi mentereng lu?" "Hari ini Eron mau naik angkot, Nyak. Mau... membumi," jawab Eron sesingkat mungkin, takut memicu interogasi lebih lanjut. Sapu lidi yang bersandar di dekat kulkas hampir saja disambar Nyak Rodiah karena saking kagetnya. "Ape lu kata? Naik angkot? Astagfirullahaladzim, Eron! Lu beneran udah bangkrut kagak punya duit bensin? Ape kantor lu kesamber petir ampe lu diturunin jabatan jadi kenek?!" Nyak Rodiah langsung memegang kedua pundak anaknya dengan panik. "Jangan bikin Nyak jantungan, Ron! Kemaren lu kasih martabak ke musuh, sekarang lu mau narik angkot?!" "Enggak bangkrut, Nyak. Ini cuma... bagian dari gaya hidup sehat baru," bohong Eron dengan wajah sedatar tembok korporat. Sebelum Nyak Rodiah sempat berteriak lebih kencang, Eron sudah mencium tangan ibunya, menyambar dompet, dan melesat keluar dari pintu depan. Sementara Eron berjalan kaki menuju gerbang depan komplek dengan langkah kaku, di dalam kamar nomor 12, Rhea sedang tenggelam dalam tawa tertahan di balik bantalnya. Ia sengaja bangun pagi-pagi buta hanya untuk mengintip dari balik gorden lantai dua. Pukul 06.45, Rhea melihat gerbang rumah sebelah terbuka. Sosok tinggi tegap Eron muncul, berjalan kaki melewati carportnya meninggalan mobil SUV hitam kebanggaannya. Rhea menepuk tangannya kegirangan melihat pemandangan langka itu. "Demi apa, dia beneran jalan kaki!" Rhea terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. "Gila, ini orang perfeksionis tapi aslinya polos atau bego sih? Disuruh naik angkot beneran nurut!" Rhea segera meraih ponsel rahasianya. Ia memeriksa aplikasi Oracle R dengan senyum licik yang melekat erat di wajahnya. Rasa bersalahnya kemarin malam langsung menguap, digantikan oleh kepuasan komedi yang tiada tara. Melihat tetangga yang biasanya selalu menatapnya dengan pandangan meremehkan kini harus berjalan kaki di bawah terik matahari pagi Jakarta adalah sebuah kemenangan mutlak. Namun, kegembiraan Rhea terganggu oleh suara dentingan bertubi-tubi dari ponsel pribadinya. Notifikasi grup WhatsApp warga “Warga Cluster Cendana Hebat” mendadak meledak. Rhea membukanya, dan matanya langsung terbelalak. Nyak Rodiah (Mama Eron): “Assalamualaikum ibu-ibu sekalian yang terhormat. Nyak mau nanya dong, emang sekarang tren orang kaya di Sudirman itu pada naik angkot ye? Anak Nyak, si Eron yang CFO itu, pagi ini mendadak kaga mau bawa mobil eropanya. Katanya mau membumi naik angkot nomor 02. Nyak jadi bingung, apa emang tren dunia emang lagi begitu atau anak Nyak lagi kebanyakan duit ampe bosen naik mobil?” Rhea menahan napas. Waduh, Nyak Rodiah langsung laporan ke grup komplek! Tidak butuh waktu lama bagi Ibu Andi Tenri, yang sedang duduk anggun di meja makan sambil minum teh melati, untuk memberikan serangan balasan yang sangat anggun namun menusuk. Ibu Andi Tenri (Mama Rhea): “Oh, begitu ya Bu Rodiah? Alhamdulillah kalau Eron mau mencoba hidup sederhana. Memang di luar negeri itu, para pekerja kelas menengah ke bawah sudah biasa naik transportasi umum untuk menghemat pengeluaran. Kalau anak saya, Rhea, tadi pagi-pagi sekali sudah dijemput taksi eksekutif karena ada meeting penting dengan investor. Katanya demi menjaga 'Siri' dan profesionalisme, tidak boleh sampai berkeringat sebelum bertemu klien besar.” Layar ponsel Rhea langsung dipenuhi dengan balasan dari emak-emak komplek lainnya. Grup WhatsApp yang biasanya berisi informasi tukang sayur dan tagihan iuran sampah, kini resmi berubah menjadi medan perang urat syaraf antar dua suku besar. Tante Maia: “Wah, jaman sekarang emang aneh-aneh ya. Tapi salut buat Eron, meskipun manajer besar tetap mau merakyat.” Tante Althea: “Iya jeng Tenri, bener banget. Kenyamanan nomor satu. Tapi kalau Rhea kan perempuan, kasihan kalau harus berdesakan di angkot.” Nyak Rodiah (Mama Eron): “Eh Bu Tenri, anak Nyak mah bukan hemat pengeluaran ye! Duitnya Eron mah bisa buat beli itu angkot beserta supir-supirnya sekalian! Ini mah murni karena Eron jiwanya sehat, kagak manja kayak orang yang kudu naik taksi mentereng mulu padahal bayarnya masih pake paylater!” Rhea melempar ponselnya ke kasur, lalu memijat pelipisnya. "Aduh, Mama... Nyak Rodiah... kalian ini kalau berantem di grup WA kenapa selalu bawa-bawa nama anak sih?" keluh Rhea. Ia tahu, persaingan ini akan membuat hidup Eron semakin menderita, dan secara tidak langsung, tugasnya sebagai Oracle akan semakin menantang. Di sudut jalan raya di luar komplek, Eron berdiri dengan canggung di dekat tiang listrik. Di depannya, sebuah angkot berwarna merah dengan nomor 02 berhenti dengan suara rem yang mencicit memekakkan telinga. Supirnya, seorang pria paruh baya dengan sebatang rokok terselip di telinga, menatap Eron dengan pandangan heran. "Stasiun, Bang? Kosong nih, masuk aja!" teriak supir angkot. Eron menelan ludah. Ia menundukkan kepalanya yang tinggi agar tidak membentur langit-langit angkot yang rendah, lalu duduk di pojok dekat pintu. Di dalam angkot itu sudah ada seorang ibu-ibu yang membawa keranjang belanjaan berisi ikan basah, dan seorang anak sekolah yang sedang asyik bermain game di ponselnya dengan volume keras. Bau minyak wangi berpadu dengan aroma ikan dan asap knalpot langsung menyerang indra penciuman Eron. Ia merasa dunianya yang steril telah runtuh. Namun, di tengah kepengapan itu, Eron teringat bagian kedua dari instruksi Oracle: Pikirkan satu kesalahan kecil yang pernah kamu lakukan kepada tetangga tersebut (Rhea), lalu memaafkan diri sendiri. Eron menyandarkan kepalanya ke kaca jendela angkot yang bergetar hebat setiap kali melewati jalan berlubang. Kesalahan kecil pada Rhea? Eron mulai memutar memori masa lalunya. Ia ingat saat mereka berumur sepuluh tahun. Rhea pernah menangis seharian karena sepeda roda tiganya patah akibat ditabrak oleh Eron yang sedang belajar naik sepeda roda dua. Waktu itu, Eron bukannya minta maaf, malah mengejek Rhea cengeng. Lalu saat SMA, Eron sengaja melaporkan ke guru piket bahwa Rhea menyembunyikan kucing liar di dalam loker kelas, yang membuat Rhea dihukum membersihkan laboratorium. Eron menghela napas panjang. "Gue emang agak rese sih sama dia dulu," gumam Eron pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin angkot. "Tapi kan dia juga sering bales dendam. Dia pernah nyiram air bekas pel ke mobil gue." Walaupun begitu, ada sesuatu yang menggelitik di sudut hati Eron. Memikirkan Rhea di dalam angkot ini terasa sangat aneh. Selama ini, Rhea hanya ada di pikirannya sebagai sosok pengganggu yang harus dikalahkan demi ketenangan ibunya. Namun sekarang, setelah kehilangan Clarissa dan terpaksa menjalani ritual gila ini, Eron menyadari satu hal: Rhea adalah satu-satunya konstan dalam hidupnya yang penuh persaingan ini. Rhea selalu ada di sana, menatapnya dengan mata galak yang anehnya, jauh lebih jujur daripada senyuman manis Clarissa yang ternyata palsu. "Oke, Rhea. Gue minta maaf soal sepeda roda tiga itu," bisik Eron akhirnya, merasa sedikit konyol dengan dirinya sendiri. Ajaibnya, setelah kalimat itu terucap di dalam hatinya, dadanya yang sejak kemarin terasa sesak akibat patah hati mendadak terasa sedikit lebih ringan. Kepengapan angkot nomor 02 tiba-tiba tidak lagi terasa terlalu menyiksa. Setibanya di kantor, Eron langsung duduk di kursi kerjanya. Kemeja putihnya sedikit lecek, dan ada sedikit bau asap kendaraan yang menempel di lengannya. Namun, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka ponselnya dan mengirimkan laporan ke Oracle R. SunWalker: “Saya baru saja menyelesaikan perjalanan dengan angkot. Rasanya sangat tidak nyaman dan pengap. Ibu saya bahkan mengira saya bangkrut dan membuat kehebohan di grup WhatsApp warga. Tapi, saya menjalankan instruksi Anda. Saya memikirkan kesalahan saya di masa lalu pada tetangga itu, dan meminta maaf dalam hati. Anehnya... dada saya terasa sedikit lebih lega. Apakah ini tanda bahwa energinya mulai bergerak?” Di seberang sana, Rhea yang sedang bersiap untuk makan siang langsung membaca pesan tersebut. Senyum jahil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi tertegun. Ia membaca ulang kalimat Eron: Saya memikirkan kesalahan saya di masa lalu pada tetangga itu, dan meminta maaf dalam hati. Anehnya... dada saya terasa sedikit lebih lega. Rhea terdiam di depan laptopnya. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang tidak biasa,bseperti sedang berdisko sendirian. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di dadanya. "Orang kaku ini... beneran minta maaf sama gue di dalam angkot?" bisik Rhea pada dirinya sendiri. Ia menatap potongan martabak terakhir yang tersisa di atas mejanya dengan pandangan yang mendadak berubah drastis. Sisi sinisnya yang ingin terus mengerjai Eron tiba-tiba goyah, tergantikan oleh rasa penasaran yang mendalam tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh musuh bebuyutannya itu selama ini.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Lihat Semua