"Situasi macam apa ini! Nampaknya takdir sedang ingin bercanda! Oh, ayolah ... ini tidak lucu sama sekali!" Lintang hanya mampu menggerutu dalam hati. Sambil meremas gemas gaunnya sebagai pelampiasan kekesalannya. Mulutnya tak mungkin mampu untuk mengucapkan segala umpatannya. Saat ini mantan direkturnya akan menjadi ayah tirinya. Sedangkan sang mantan kekasih akan menjadi saudara tirinya meskipun statusnya dalam keluarga itu adalah anak angkat. "Lalu ... siapa gadis ini? Apakah itu calon istri Ishan? Apakah ini akan menjadi double married? Hmh ... gila! Otakku mulai tidak waras! Ayolah otak ... jangan traveling dengan situasi ini!" Lagi-lagi Lintang hanya mampu bertanya dan membuat kesimpulannya sendiri dalam hati. "Oke!" ucap Bowo tiba-tiba berdiri membuat semua perhatian berfokus padanya. "Sebelum kita memulai acara santap lezatnya, saya ... selaku pembuat onar bagi beberapa orang yang duduk di sini, akan meluruskan segalanya," ucap Bowo tegas memecah ketegangan di antara muda mudi yang sedari tadi mengunci mulut mereka dan memilih bergelut dengan pikirannya masing-masing. "Saya minta maaf atas ketidak nyamanan yang terjadi. Tapi jujur, saya pun sebenarnya juga terkejut dengan kebetulan yang mengerikan ini. Pertama saya akan memperkenalkan Mayang, wanita yang ku pilih untuk menemani sisa umurku ...." ujarnya yang disambut senyuman oleh Mayang. "Cih! Sok romantis!" gumam Lintang yang terdengar oleh ibunya. Tak tinggal diam, Mayang pun menginjak kaki Lintang dengan heelsnya hingga membuat Lintang spontan meringis menahan sakit. Ekspresi yang mendadak timbul pada wajah flat itu membuat Bowo cemas. "Kenapa Lin? Kamu terlihat kesakitan," tanya Bowo yang membuat semua pasang mata tertuju pada Lintang. "Ah–enggak Om, sepertinya kakiku digigit kecoa." "Dasar bodoh! Restoran mewah begini mana ada kecoa?" sahut Kejora di barengi senyuman sarkas. "Ada kok, malah kecoanya pakai heels warna merah. Coba aja kamu tengok ...." Dengan polosnya Kejora menunduk menilik bawah meja. "Antara polos atau dungu," gumam Lintang menutup mulutnya menahan tawa. Benar saja, di sana Kejora melihat kaki kanan Lintang di gilas heels merah yang merupakan kepunyaan Mayang. "Dasar gila!" umpat Kejora yang disambut cekikik tawa Lintang. "Sudah saling sapanya? Jika sudah saya akan melanjutkan sesi perkenalan ini," ucap Bowo bak direktur kantor. "Kalian berdua ini sudah akrab aja, padahal belum resmi jadi sodara." Lintang mendelik pada Bowo sebab tak terima dengan pernyataan tersebut. Bowo hanya tersenyum usil karena sudah terbiasa dengan sikap Lintang. "Lintang, gadis cantik yang baru saja kamu sapa adalah Putri Kejora Dwinanta, putri bungsuku. Sedang yang ganteng mirip papah Bowo ini namanya Bintang putra Dwinanta." "Papah Bowo katanya? Pede banget!" remeh Lintang dalam hati. "Udah kenal Pah ... malah dia temen SMA aku dulu," tukas Bintang membuat Bowo berdecak keheranan. "Wah ... wah ... Lintang ... Lintang, kamu memang sesuatu. Oh, untuk kakang mas yang di sana apa perlu papah Bowo perkenalkan ulang?" goda Bowo yang membuat wajah Lintang memerah, antara geram dan malu. Sedangkan Mayang yang tak tahu-menahu mengenai hubungan putrinya justru melemparkan tanya melalui isyarat mata pada Bowo yang lagi-lagi di balas dengan senyuman. "Ada apa ini? Apakah ada sesuatu antara Lintang dengan mas Ishan?" tanya Kejora dalam hati yang menyiratkan kecemburuan yang samar di wajahnya. "Tepat! Ishan dan Lintang terlibat hubungan cinta lama belum kelar. Pesanku untuk kedua insan ini, tak apa jika kalian ingin melanjutkan hubungan hingga ke pelaminan, mungkin kita bisa bareng ...." "Kapan mulai makannya? Bukankah kita ke sini untuk makan?" keluh Bintang memotong kalimat Bowo. Sementara itu, Mayang mencubit pelan paha Lintang seraya berbisik, "sejak kapan kamu bisa pacaran? Bukankah kamu ...." "Mama pikir aku ini apa?" "Baiklah, berhubung makanan juga menanti untuk di santap dari tadi, saya rasa cukup untuk perkenalannya dan sekarang mari kita nikmati santap lezat kita." Lintang yang berdiam enggan sekalipun hanya mencicipi sesuap untuk formalitas pun membuat sang bunda menyenggol Lintang dengan sikunya. "Ambil manapun yang kamu suka ...," bisik Mayang. Layaknya sebuah keputusan yang tak bisa diganggu gugat, Lintang memasang wajah dingin mengabaikan sang bunda. Sikapnya ini membuat Bowo yang peka kembali terpancing untuk bertanya. "Ada apa Lin? Apa ada menu lain yang ingin kamu makan?" tanya Bowo cemas. "Tidak ada Om, saya hanya ...." Lintang tak meneruskan kalimatnya lantaran bingung bagaimana ia harus menjelaskan tentang dirinya yang tak bisa makan kecuali makanan yang ia masak sendiri. Hingga reaksinya ini mengundang Bowo untuk terus bertanya. "Kenapa? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan." Lintang masih diam, kali ini tersirat kebingungan dan keraguan di wajah ayunya ketika hendak menjawab pertanyaan Bowo. "Kenapa? Apakah ini mengenai rencana pernikahan papah Bowo dan ibumu?" tanyanya lagi. Bowo yang bingung akhirnya asal menebak apa yang mengganjal pikiran Lintang. Namun sayangnya, pertanyaannya kali ini justru mengundang niat usil lebih tepatnya niat jahat Lintang. "Ya, aku ... se–sejujurnya, aku mencintai Bintang, putra anda. Tapi anda akan segera menikah dengan ibu saya, jadi saya tak mungkin bisa memupuk cinta ini lagi. Itulah yang mengganggu pikiran saya." Sontak pernyataan tersebut membuat Mayang terbelalak, bahkan Ishan dan Bintang serempak tersedak karenanya. Lain halnya dengan Kejora yang spontan bertanya, "kau serius? Apa yang kau lihat dari pria pengangguran ini?" Lalu, sejak kapan kalian pacaran? Setahuku kekasih Bintang itu Flora." Belum sempat menjawab pertanyaan Kejora, Mayang kembali berbisik pada Lintang. "Apa yang kau bicarakan? Jangan mengacau!" bisiknya penuh penekanan seolah memberi peringatan. "Aku tidak ingin mengacau Ma, tapi aku serius. Aku dan Bintang saling mencintai, bukan begitu Bintang?" jawab Lintang lantang seraya melempar tanya pada Bintang dengan tatapan mengancam. "Bagaimana dengan Ishan? Bukankah kamu masih punya cerita yang belum selesai dengannya?" tanya Bowo tak memberi kesempatan pada Bintang untuk menjawab. "itu sudah tujuh tahun berlalu, dan jelas sudah kadaluarsa," tegas Lintang tanpa mengalihkan kontak mata dengan Bowo. Menyaksikan serta mendengar Lintang mengucapkan kalimat itu secara langsung, Ishan mendengus seraya menyunggingkan senyum.. "Hmh! Iya, itu sudah kadaluarsa. Tak ada yang berarti lagi diantara kami," jawab Ishan ringan namun ia melemparkan tatapan penuh penekanan pada Lintang. Mayang yang sedari tadi menahan emosi akibat kegaduhan yang diciptakan putrinya akhirnya tak mampu menahannya lagi. Brak!! "Hentikan semuanya!" Sontak semuanya terdiam. Gebrakan meja yang dilakukan Mayang membuat pengunjung lain turut menoleh ke arahnya. "Mama tak tahu maksud dan tujuanmu melakukan sandiwara ini, tapi jika apa yang kamu katakan adalah benar, cukup kamu buktikan hingga tak ada yang meragukan pernyataanmu." "Mampus! Udah nggak bisa mundur lagi," batin Lintang mengutuki dirinya sendiri. Setelah melirik tajam ke arah ibunya, Lintang berdiri dari tempat duduknya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 22 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (334)
Nana
baru pertama mbaca smoga di balik cerita ada keberkahan
baru pertama mbaca smoga di balik cerita ada keberkahan
14/04/2025
0ceritanyaa sangatt baguss
18/03/2025
0congrats
16/03/2025
0Lihat Semua