Dan saat itu, udara terasa berubah seperti menunggu sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Parmin berdiri di halaman rumah Bu Nila dengan dada naik turun. Tangannya menggenggam parang erat-erat, urat lehernya menegang. Ia berteriak memanggil nama Ezra berulang kali, suaranya pecah oleh amarah. “Ezra! Keluar kamu!” Namun di dalam rumah, Ezra dan Mia sama sekali tak menyadarinya. Mereka duduk berhadapan di ruang tengah, masing-masing menggunakan earphone dan headphone, fokus pada buku dan catatan. Dunia mereka seakan teredam, terpisah dari kegaduhan di luar. Teriakan Parmin tak mendapat jawaban. Amarahnya meledak. Ia melangkah maju, menendang pot bunga kesayangan Bu Nila di teras hingga pecah berkeping. Tanah dan pecahan keramik berserakan. Tanpa ragu, ia hendak menerobos masuk ke dalam rumah. Saat itulah Bu Nila keluar. Ia baru saja mendengar suara gaduh dan mendapati halaman rumahnya porak-poranda. Pandangannya jatuh pada Parmin—parang di tangan, wajah penuh kebencian. Namun Bu Nila tidak berteriak. Ia hanya menatap, tenang namun waspada. “Parmin,” ucapnya pelan. “Apa maksud kamu?” Bu Nila mengenal anak laki-laki itu dari putranya Ezra, di mana Ezra sendiri sering menceritakan bagaimana kelakuan Parmin di sekolahnya. Bahkan termasuk mengganggunya di hari pertama masuk sekolah. Parmin tak menggubris. Langkahnya tetap maju. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan teguran Bu Nila. Dari sudut matanya, Bu Nila melihat sosok Pak RT yang kebetulan melintas di ujung jalan. Tanpa ragu, ia melangkah ke depan, lalu dengan gerakan yang tampak tak sengaja tubuhnya terhuyung dan jatuh ke tanah, dia membuat tubuhnya menjadi amat begitu lemas seolah-olah tidak bisa digerakkan sama sekali. “Aduh! Tolong!” teriaknya sekeras mungki, berusaha menarik perhatian Pak RT untuk mendatanginya. Parmin tersentak. Wajahnya berubah panik. Terkejut mendapati aksi tidak terduga yang dilakukan oleh Bu Nila. Pak RT yang melihat kejadian itu langsung berlari mendekat. Ia membantu Bu Nila berdiri, namun matanya segera tertuju pada parang di tangan Parmin. Dia menatap tajam benda tersebut dan bergidik ngeri melihatnya. “Kamu ngapain bawa parang ke rumah orang?!” bentaknya. "Mau bunuh orang hah!" Parmin mundur selangkah, berusaha kabur. Namun Pak RT lebih sigap. Ia meraih tangan Parmin dan menahannya sambil berteriak memanggil warga sekitar untuk meminta bantuan. "TOLONG TOLONG TOLONG ADA YANG BAWA PARANG!" teriaknya dengan suara begitu nyaring berusaha memancing perhatian warga. Tak butuh waktu lama, beberapa warga keluar dari rumah masing-masing. Kerumunan terbentuk. Parmin semakin panik, berontak, namun akhirnya berhasil ditahan oleh salah satu warga. "Pak kita bawa saja dia ke kantor polisi!" seru salah satu warga. "Iya Pak, bawa saja dia ke sana!" timpal warga lainnya. Pak RT menenangkan amarah warga. Dan menyuruh warga untuk tetap sabar. Kemudian di satu sisi Pak RT juga menyarankan Bu Nila untuk dibawa ke puskesmas. “Saya baik-baik saja,” jawab Bu Nila tenang. “Tidak perlu dibesar-besarkan.” Bu Nila sedikit mundur dan berusaha untuk menjaga ekspresi wajahnya. Keributan itu akhirnya terdengar hingga ke dalam rumah. Ezra dan Mia keluar dengan wajah pucat, terkejut melihat kondisi di halaman. Bu Nila menjelaskan apa yang terjadi, singkat namun jelas. Mia membeku saat melihat Parmin masih memegang parang di tangannya, meski kini dirinya sedang ditahan. Mata mereka bertemu. "Parmin apa yang kamu lakukan sampai membawa parang seperti itu kemari?" Di sana, Parmin melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya: kekecewaan yang begitu dalam di wajah Mia. Bukan takut. Bukan marah. Tapi kecewa. Alih-alih berusaha membalas Parmin hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan Mia. Sesaat itu juga, Parmin menolak mengakui apa pun dalam dirinya. Perasaannya berubah menjadi penyangkalan, lalu kebencian terutama pada Ezra. Diam-diam, Bu Nila memperhatikan interaksi itu. Bibirnya membentuk senyum tipis, namun ekspresinya sulit diartikan. *** Keesokan harinya, Bu Nila pergi ke warung Bu Sarmi. Ia membeli banyak kebutuhan sembako, bersikap ramah seperti biasa seolah-seolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun Bu Sarmi melayaninya dengan setengah hati. Gerakannya kasar, jawabannya singkat. Dan terlihat jelas ia tidak menyukai kehadiran Bu Nila di warungnya. Sekalipun wanita itu datang dengan maksud membeli. “Kenapa kelihatannya malas, Bu?” tanya Bu Nila santai. “Padahal saya belanja pakai uang halal. Lumayan kan, saya ikut kasih rezeki. Bukankah seharusnya Ibu senang kalau ada orang yang belanja ke warung Ibu?" Candaan halus itu justru membuat Bu Sarmi tersinggung. Tiba-tiba ia membanting belanjaan Bu Nila ke meja. “Anak aku semalam dapat masalah gara-gara Ibu!” bentaknya. “Ibu melebih-lebihkan kejadian itu! Bikin anak aku jadi malu! Asal Ibu tahu saja ya gara-gara itu semua warga di desa ini berpandangan jelek soal anak aku!" Bu Nila tetap tersenyum. “Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya membela diri. Lagipula, tidak pantas anak Ibu datang ke rumah orang sambil membawa parang. Bukankah itu sama saja dengan melakukan ancaman. Kalau saja saya mau lebih tegas kejadian yang kemarin itu bisa saja saya lapor ke polisi.” Dengan suara yang tenang dan tidak merasa tersinggung dengan tuduhan Bu Sarmi, Bu Nila masih menjaga sikap sopan santunnya. “Omong kosong!” sahut Bu Sarmi keras. “Parmin itu anak baik, sopan, lemah lembut! Mana mungkin dia berani kurang ajar begitu!" Mata Bu Sarmi menatap tajam ke arah Bu Nila. "Kamu yang duluan membuat masalah pastinya! Dasar janda pembuat onar!" “Saya tidak akan memperpanjang masalah ini,” kata Bu Nila tenang. “Tapi saya harap Ibu bisa bersikap lebih sopan. Dan satu lagi…” Ia menatap tajam. “Selera Ibu pada anak-anak itu tidak wajar. Agresif pada remaja yang belanja di warung Ibu.” Kali ini raut wajah Bu Nila terlihat sedikit berubah. Bu Sarmi terdiam. Wajahnya pucat. Tiba-tiba saja ia merasa tidak nyaman. Ia hendak menyangkal, namun Bu Nila mendahuluinya. “Saya tahu itu dengan baik.” Bu Sarmi tertawa kaku, lalu dengan kasar melempar barang belanjaan Bu Nila ke tanah. “Ambil sendiri! Aku ndak mau hitung! Sudah main tuduh anak orang, kamu nyoba tuduh aku yang aneh-aneh pula. Dasar tidak tahu diri.” Bu Nila memungut barang-barang itu satu per satu, lalu meletakkan uang di tangan Bu Sarmi. Namun uang itu dilempar balik. “Kalau begitu,” ujar Bu Nila dingin, “saya ambil barang ini dengan senang hati. Karena Ibu menolak uang saya.” Ia menatap lurus. “Dan soal ketertarikan pada anak-anak—itu bisa dilaporkan sebagai pelecehan.” Kata polisi menggantung di udara. Bu Sarmi merinding. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik masuk ke dalam warung dan menutup diri. Bu Nila berdiri beberapa detik, menatap warung itu dalam diam, sebelum akhirnya berbalik pulang ke rumahnya langkahnya tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Apa binatang zaman sekarang sudah mulai pintar bicara melebihi manusia sekarang? batin Bu Nila.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus👍👍👍
1d
0bagus
10/07
0🙏🏼
27/06
0Lihat Semua