logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

6. Warga yang Bejat

Sepeninggalan ibu-ibu itu dari rumah, keheningan terasa lebih berat dari biasanya. Ezra berdiri di dekat pintu, menatap halaman yang kini kosong. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang tak mampu ia sembunyikan.
“Mah,” katanya akhirnya, ragu-ragu. “Kenapa orang-orang di desa ini kayaknya nggak suka sama Mamah?”
Bu Nila yang sedang merapikan gelas hanya menoleh sekilas. Ekspresinya tetap tenang, seolah pertanyaan itu bukan hal baru baginya.
“Tidak perlu dipikirkan,” jawabnya lembut. “Orang sering kali takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami.”
Ezra mengerutkan kening. “Tapi tadi… rasanya aneh. Mereka kelihatannya baik, tapi kata-katanya tajam.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Salah satu dari mereka itu, Mah… yang duduk dekat pintu. Sepertinya dia pemilik warung yang pernah aku ceritain sama Mamah. Dia pernah ngasih aku belanjaan gratis. Orangnya aneh, tapi waktu itu baik sama aku.”
Bu Nila berhenti bergerak. Ia tersenyum—senyum yang samar dan sulit ditebak.
“Begitu ya,” gumamnya singkat.
Tak ada penjelasan lanjutan. Ia justru beralih, menepuk bahu anaknya dengan ringan.
“Sudah, sana mandi. Kita makan malam. Jangan bawa masalah orang dewasa ke kepala kamu. Yang penting kalau ada apa-apa cepat kasih tahu sama mamah ya. Jangan dipendam sendiri.”
Ezra menurut, meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya. Wajar sekali bagi dirinya merasa heran dan aneh karena semenjak datang ke desa ini, ia selalu merasa mendapatkan perlakuan yang aneh dari warganya. Entah itu pada dirinya atau mamahnya. Dan sialnya lagi kebanyakan perilaku tersebut seringkali mengusik rasa nyaman di dalam hidupnya.
***
Sore itu, Bu Juleha melangkah ke rumah Bu RT dengan membawa kotak kue sisa pengajian. Niat awalnya sederhana, tapi seperti biasa, rasa ingin bercerita jauh lebih besar.
Bu RT menyambutnya dengan senyum yang sedikit kaku. Mereka duduk di ruang tamu, dan Bu Juleha pun mulai menceritakan kejadian di rumah Bu Nila—bagaimana wanita itu menjawab dengan tenang, bagaimana gosip berbalik arah, dan bagaimana suasana berubah tak nyaman.
Wajah Bu RT perlahan menegang.
“Dia… bilang begitu?” tanyanya pelan.
Ada kegelisahan yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia menutupinya dengan tawa singkat.
“Ah, biarkan saja. Aku tidak peduli. Perempuan seperti itu biasanya pintar bermain kata. Perempuan seperti itu biasanya memang pandai urusan memutar balikan fakta.”
Bu Juleha mengangguk-angguk, justru semakin bersemangat. Ia menambahkan berbagai asumsi, dugaan, dan prasangka—seolah api butuh lebih banyak bahan bakar. Menciptakan lebih banyak cerita aneh yang tidak masuk akal hanya untuk dijadikan sebagai bahan pembicaraan tidak bermutu.
Namun sebelum ia selesai berbicara, ponsel Bu RT bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Bu RT membukanya dan dadanya langsung terasa sesak.
Pesan itu dari Bu Nila.
“Selamat sore, Bu. Saya baru mendapatkan nomor Ibu. Terima kasih banyak ya, sudah ikut memviralkan kejadian di pasar kemarin. Saya sangat terbantu. Semoga makin banyak yang peduli dengan kasus pelecehan seperti itu, apalagi di kalangan ibu-ibu.”
Disusul pesan lain.
"Ngomong-ngomong soal foto yang Ibu dapat waktu itu terlihat buram. Jadi ini saya kirim ulang fotonya yang sudah saya edit supaya kelihatan makin jelas hasilnya.Terima kasih sekali lagi. Anggap saja ini ramah tamah saya sebagai warga baru.”
Ponsel itu terasa berat di tangan Bu RT. Napasnya memburu. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Ia tidak tahu kenapa padahal ia merasa tidak bersalah. Tapi dadanya berdebar tak karuan.
Bu Juleha menyadari perubahan itu.
“Bu RT? Kenapa wajahnya pucat?”
Bu RT tersentak. Ia cepat-cepat menyimpan ponselnya.
“Tidak apa-apa. Cuma capek. Kurang enak badan,” katanya singkat. “Sepertinya aku perlu istirahat dulu. Maaf ya, Bu Juleha. Sebaiknya Ibu pulang saja." Bu RT tersenyum dengan raut wajah yang aneh.
"Uh ya sudahlah, aku pamit dulu ya Bu RT." Bu Juleha mengangguk, meski rasa curiga menyelinap. Ada sesuatu yang jelas tidak beres namun ia memilih pulang tanpa bertanya lebih jauh.
***
Di kamar Ani, gorden tertutup rapat. Pintu terkunci.
Lampu redup menyinari tubuhnya yang dibaluti dengan pakaian super minim dan seksi, kemeja putih tipis yang memperlihatkan dalaman berwarna hitam dan juga rok kelewat pendek yang bernasib sama seperti atasannya. Tubuhnya yang dibaluti dengan pakaian seksi itu bergerak mengikuti irama musik dari layar ponsel. Sementara wajahnya tertutup topeng motif macan. Ia melakukan siaran langsung, menampilkan apa yang selama ini menjadi sumber uang cepat baginya.
Saweran demi saweran masuk.
Nama Tajul muncul lagi—penonton setia yang diam-diam selalu ada. Ani memberi respons seperti biasa, tanpa berpikir panjang. Ini rutinitas yang sudah biasa ia lakukan untuk mengisi dompetnya dengan cepat.
Namun malam itu berbeda.
Satu akun baru mengirimkan saweran sepuluh juta rupiah.
Ani terdiam. Jantungnya berdegup keras. Itu angka tertinggi yang pernah ia terima.
"Mustahil ... mustahil ... orang gila macam apa yang rela mengeluarkan uang sebanyak ini?" gumamnya tidak percaya.
Pesan masuk menyusul—permintaan lebih, dengan janji uang yang lebih besar.
Ani ragu sesaat… tapi hanya sesaat. Karena tawaran yang dijanjikan sungguh menggiurkan nafsunya. Tanpa pikir panjang lagi Ani kemudian melepaskan kemeja putihnya menyisakan dalamannya yang dilanjutkan dengan mengangkat roknya setinggi mungkin.
Tanpa ia sadari, di balik layar, seseorang merekam semuanya. Menyimpannya rapi. Diam-diam.
***
Keesokan harinya, Ezra pulang lebih cepat karena guru mengadakan rapat. Ia berniat memanfaatkan waktu itu untuk belajar kelompok. Pikirannya tertuju pada Mia—teman sekelasnya yang dikenal cerdas dan rajin.
Saat ia mengajaknya, Mia tampak ragu.
“Aku takut jadi bahan gosip,” katanya jujur. “Kita lawan jenis. Kamu tahu sendiri kan di desa ini, orang-orangnya tidak sama seperti di tempat tinggalmu sebelumnya. Aku takut orang-orang bakal salah paham, kalau melihat keberadaanku berada di rumah kamu."
Ezra terkejut mendengar penjelasan Mia. Dipikir-pikir memang benar bahwa saat ini dirinya tinggal di desa tidak sama seperti tinggal di kota dulu. Tapi sungguh dari dalam hatinya dirinya hanya ingin belajar bersama dengan Mia. Maka buru-burulah dirinya menjelaskan niatnya pada Mia.
“Tenang saja. Mamah ada di rumah. Aku cuma mau belajar. Aku kagum sama semangat belajarmu, Mia. Lagian… aku punya buku yang kamu cari.”
Mia akhirnya mengangguk. Menyetujui permintaan Ezra. Mia sendiri cukup mempercayai Ezra karena ia bisa melihat Ezra anak baik yang sepertinya memiliki suatu kemiripan dengan dirinya.
Namun dari kejauhan, Parmin memperhatikan. Rasa tidak suka menyelinap di matanya. Saat Ezra lewat, bahunya sengaja ditabrak.
Ezra memilih diam. Tapi Mia tidak.
“Jangan ganggu Ezra,” katanya tegas.
Kalimat itu seperti percikan api. Parmin mendesis, mengancam dengan suara rendah.
“Awas saja.”
Mia menarik tangan Ezra, menjauhkannya tanpa berkata apa-apa.
***
Pukul tiga sore, Mia tiba di rumah Ezra.
Bu Nila menyambutnya dengan ramah. Senyum hangat, sapaan sopan—tidak seperti gambaran yang selama ini beredar.
Namun ketenangan itu buyar ketika seseorang muncul di halaman.
Parmin.
Tangannya menggenggam parang.

Komentar Buku (9)

  • avatar
    RadenSumantri

    bagus👍👍👍

    2d

      0
  • avatar
    tzyopw ares

    bagus

    10/07

      0
  • avatar
    RumbiakElsye

    🙏🏼

    27/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru