Pagi itu pasar desa belum terlalu ramai. Bau tanah basah bercampur dengan aroma sayur segar memenuhi udara. Bu RT berjalan menyusuri deretan lapak sambil sesekali menyapa pedagang. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap pemandangan yang membuat alisnya terangkat. Tak jauh dari kios ikan, Bu Nila berdiri dengan wajah tegang. Seorang preman desa yang reputasinya sudah lama jadi buah bibir terlihat terlalu dekat dengannya. Cara bicaranya seenaknya, sorot matanya mengganggu. Bu Nila tampak berusaha menjauh, matanya mencari-cari pertolongan. Bu RT melihat semuanya. Namun alih-alih mendekat atau menegur, perempuan itu justru mengeluarkan iphone kw supernya. Ia mengambil beberapa foto dari sudut yang sengaja dibuat menyesatkan. Bibirnya tersenyum tipis, bukan senyum prihatin, melainkan senyum puas seolah baru menemukan bahan cerita gosip yang bisa ia sebarkan dengan seenak hati dengan warga sekitar. "Huh lihat saja ini pasti akan jadi berita yang panas," gumam Bu RT kesenangan mendapatkan bahan gosip tersebut. Maka dari sanalah muncul, banyak sekali kabar setan yang beredar, cerita karangan Bu RT menyebar cepat, Bu Nila dituduh menjual diri dengan harga murah pada preman desa. Tak ada yang tahu bagaimana cerita itu dipelintir, hanya gosip yang beranak-pinak dari mulut ke mulut. *** Sore harinya, Bu Nila pulang ke rumah. Seperti biasa, ia langsung menuju dapur. Memasak adalah caranya menenangkan pikiran mengiris bawang, mengaduk sayur, seolah semua itu bisa meredam lelah batin yang menumpuk sejak pagi. Kejadian diganggu preman tadi sebenarnya sukses membuat dirinya merasa ketakutan. Dia benci sekali mendapat perlakuan tidak mengenakkan seperti ini. Masih sibuk dengan pekerjaan memasaknya, bahkan belum lama kompor menyala, terdengar suara memanggil dari depan rumah. “Bu… Bu Nila?” Ia mengelap tangannya lalu keluar. Di depan rumah berdiri seorang pria kurus, berusia cukup tua, dengan sorot mata yang membuat Bu Nila merasa tidak nyaman. Tatapannya tak sopan, terlalu lama berhenti di bagian tubuh yang seharusnya tidak perlu diperhatikan. Yaitu mengarah pada buah dada Bu Nila. “Cari siapa, Pak?” tanya Bu Nila, berusaha tenang. “Saya… tukang gas,” jawab pria itu terbata. “Katanya dipanggil.” Raut wajahnya terlihat sangat aneh, bahkan dari suara helaan nafasnya saja seperti mengisyaratkan pertanda buruk. Bu Nila teringat tabung gasnya memang mulai bermasalah. Ia mengangguk, lalu berkata, “Tunggu di luar saja, Pak. Saya ambilkan kompornya.” Ia mengangkat kompor dan tabung gas ke teras. Pria itu mendekat, menawarkan bantuan dengan senyum yang membuat bulu kuduk merinding. “Biar saya saja, Bu. Berat,” katanya, sambil mencoba meraih tabung gas tersebut. Terlihat jelas tangan pria tua itu begitu basah oleh keringat. “Tidak usah. Saya bisa,” jawab Bu Nila tegas. Namun pria itu tetap memaksa. Dalam tarik-menarik yang canggung, kaki Bu Nila terpeleset. Tabung gas terlepas dari genggamannya dan jatuh tepat menghantam kaki pria tersebut. “Aduh!” teriaknya kesakitan, langsung terduduk. Bu Nila panik. Wajahnya pucat. Tanpa berpikir panjang, ia jongkok dan entah dari mana idenya meludahi kaki pria itu. “Maaf, Pak,” katanya cepat. “Ini… ini ritual kampung. Biar sakitnya cepat reda. Sekalian mengusir niat buruk, supaya tidak diikuti hal-hal aneh. Kalau dibiarkan bisa-bisa kaki Bapak, nanti dimakan setan.” Ia mencondongkan badan dan berbisik pelan, suaranya dibuat misterius. “Kalau niat buruk tidak dibersihkan, katanya bisa diincar makhluk halus. Bahkan jiwa Bapak bisa dibawa ke neraka lho.” Pria itu membeku. Wajahnya langsung berubah pucat. Ketakutan tampak jelas di matanya. Tak lama kemudian, Ezra pulang dari sekolah. Melihat ibunya gelisah dan seorang pria terduduk kesakitan di teras, ia langsung bertanya-tanya. “Ezra, tolong,” kata Bu Nila dengan suara gemetar yang dibuat-buat. “Antar Bapak ini ke puskesmas. Mamah ... takut," lanjutnya dengan suara yang terdengar begitu pilu. Mata Ezra membulat. "Mamah ... baik-baik saja kan?" Naluri Ezra sebagai anak semata wayang Nila merasa khawatir juga cemas. Ditambah ia melihat di rumahnya ada pria tua aneh hanya berduaan saja dengan mamahnya. "KAMU APAKAN MAMAHKU! SIAL!" teriak Ezra dia menarik baju pria tua tersebut. Dan hendak menonjok wajahnya. "Ampun ... ampun. Aku ... aku minta maaf," Pria tua itu merengek memohon ampun pada Ezra yang terlihat hampir seperti orang kerasukan. Anak laki-laki yang biasanya lemah lembut itu berubah jadi mengerikan, begitu merasa orangtua yang disayanginya hendak disakiti orang lain. "Sudah Ezra. Mamah baik-baik saja. Lebih baik kamu bantu mamah, membawa Bapak ini." Bu Nila terus menatap tajam ke arah pria tua tersebut. "Tapi Mah ...." Terlihat jelas dari ekspresi wajah Ezra yang seperti tidak terima dengan respon yang diberikan oleh mamahnya itu. "Turuti saja perintah mamah," ujar Bu Nila tegas tapi tetap dengan suara lembutnya yang khas. Ezra akhirnya hanya diam saja, tanpa banyak tanya , Ezra membantu mengendong pria itu. *** Di puskesmas, Bu Nila tampil sangat meyakinkan. Wajahnya pucat, suaranya bergetar, tubuhnya tampak hampir limbung. “Saya takut sekali, Bu,” katanya pada petugas. “Saya trauma. Sedikit lebam saja saya bisa pingsan. Saya juga… tidak punya uang.” Petugas menenangkannya. Ezra berdiri di samping ibunya, ikut cemas dan khawatir. Beberapa staf saling bertukar pandang. Mereka mengenali pria yang dibawa Ezra sosok yang memang sering meresahkan warga, terutama di kalangan perempuan. “Ibu tidak perlu khawatir,” kata salah satu petugas akhirnya. “Kami yang tangani. Soal biaya, nanti kami atur.” Bahkan ada yang berbisik iba. Pihak puskesmas kemudian berencana memasukkan pria itu ke rehabilitasi karena sudah terlalu sering membuat masalah di desa mereka. Bu Nila mengangguk lemah, seolah lega, lalu memeluk putranya Ezra erat-erat. "Rasanya mamah takut sekali dengan orang aneh seperti ini." Ezra membalas pelukan mamahnya itu dengan erat. Anak laki-laki itu berjanji akan semakin waspada dengan orang-orang di sekitarnya. Seperti yang ia duga sejak kepindahannya ke desa ini, ia merasa orang-orang di desa ini sepertinya memiliki kelakuan yang aneh. *** Di sisi lain desa, di kebun karet yang sepi, Pak Tajul mondar-mandir dengan wajah kesal. Ia menunggu Jarwo, anak buahnya, yang sejak pagi tak kunjung muncul. Padahal uang lima puluh ribu sudah ia berikan untuk “mengurus” informasi soal Bu Nila. “Ke mana sih orang itu?” gerutunya kesal. Ia tak tahu bahwa Jarwo kini berada di tempat yang sama sekali tak ia duga panti rehabilitasi. Kesal dan kehabisan kesabaran, Pak Tajul akhirnya duduk, mengeluarkan ponsel, dan membuka galeri berisi foto-foto wanita asing yang ia sukai pelariannya setiap kali rencana tak berjalan sesuai keinginan. Ia akan menghabiskan rasa frustasinya dengan melihat foto-foto seksi wanita tersebut sembari melakukan senam kebahagiaan untuk salah satu "organ" tubuhnya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus👍👍👍
6d
0bagus
10/07
0🙏🏼
27/06
0Lihat Semua