logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

5. Kode

Ness berjalan agak terburu-buru. Bahkan, beberapa kali ia tanpa sengaja menabrak pejalan kaki di sekitarnya. Kali ini, ia menabrak seseorang cukup keras sampai terdengar suara benda jatuh.
Ness berhenti sejenak. Ia memungut benda itu—ternyata sebuah gantungan kunci. Ia berniat mengembalikannya, tapi saat menoleh, orang yang tadi ia tabrak sudah tidak terlihat.
Akhirnya, Ness memasukkan gantungan kunci itu ke sakunya. Kalau nanti bertemu lagi, ia berencana mengembalikannya. Entah kenapa, ia merasa seperti akan bertemu orang itu lagi.
“Dia cantik banget, aku lihat kemarin. Wajar sih kalau wanita seperti itu cocok sama Dokter Sae… eh, aku ngomong apa sih!” Sera tanpa sadar mulai larut dalam gosipnya sendiri.
Violet tersenyum tipis. Meski terasa menyebalkan, ia tetap berusaha menahan diri.
“Selain itu, ada lagi yang kamu tahu soal gosip Dokter Sae dan wanita itu?” tanyanya, masih penuh rasa penasaran.
Sera terlihat berpikir, mengingat kembali gosip yang pernah ia dengar. Memang sudah jadi kebiasaannya mengumpulkan gosip, jadi hampir semua kabar di rumah sakit pasti ia tahu.
“Aku nggak yakin mau cerita… soalnya jujur, aku sendiri juga nggak yakin kabar ini benar,” katanya ragu.
Meski terlihat ragu, Violet tetap berusaha menggali. Baginya, sedikit informasi saja sudah sangat berharga.
“Sera, kalau kamu mau sesuatu bilang saja. Tapi tolong ceritakan gosip yang kamu dengar,” ujar Violet dengan wajah memohon.
Demi sebuah rumor yang bahkan belum tentu benar, Violet rela menawarkan sesuatu hanya untuk mendapatkan informasi.
Sera agak terkejut dengan tawaran itu. Sebenarnya bukan pertama kali ia diperlakukan seperti ini—rekan kerjanya sering melakukan hal serupa karena tahu ia suka mengumpulkan gosip.
Awalnya ia ragu karena takut kabarnya tidak akurat. Tapi karena Violet sudah menawarkan sesuatu, rasanya sayang kalau dilewatkan.
“Aku sebenarnya ragu… tapi janji ya, jangan disebarkan ke orang lain.”
“Tentu. Aku juga janji bakal memenuhi permintaanmu nanti,” jawab Violet serius.
Melihat ekspresi Violet, Sera yakin ia tidak main-main. Apalagi ia tahu betapa tergila-gilanya Violet pada Dokter Sae—pasti ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan informasi.
Sera kemudian mendekatkan wajahnya, berbicara pelan,
“Aku dengar… wanita yang dirumorkan dekat dengan Dokter Sae itu sudah punya suami. Katanya, perawat yang pernah merawatnya melihat cincin di jari manisnya. Dari posisinya, itu jelas cincin pernikahan.”
Sudah menikah?
Entah kenapa, Violet langsung merasa kesal. Padahal itu hanya rumor yang belum jelas kebenarannya. Tapi tetap saja, ia merasa seperti terpancing emosi dan ingin meluapkan amarahnya pada wanita itu.
Ekspresinya berubah—kesal bercampur terkejut. Sera yang melihatnya jadi sedikit takut.
“Tapi ini cuma gosip ya. Jangan terlalu dipercaya,” tambah Sera cepat, khawatir kalau Violet bereaksi berlebihan.
Violet diam sejenak. Lalu ia menghela napas panjang. Dengan cepat, ia menenangkan diri. Ia tidak ingin langsung terbawa emosi hanya karena kabar yang belum tentu benar.
Tak lama, senyum kembali muncul di wajahnya—kali ini jauh lebih terkendali.
“Terima kasih ya infonya. Kamu mau apa nanti?”
“Nanti aku chat saja,” jawab Sera, lalu menatap Violet lebih serius.
“Violet, aku harap setelah dengar ini kamu nggak bikin masalah. Aku agak takut kamu kepancing emosi, apalagi ini kabarnya juga belum jelas benar atau tidak.”
“Tenang saja, aku nggak akan bikin masalah. Kamu nggak perlu khawatir. Ada lagi info lain?” tanya Violet.
Sera menggeleng. “Nggak ada. Itu saja yang aku tahu.”
“Baiklah. Oh iya, kamu mau titip sesuatu? Aku mau ke minimarket,” tanya Violet sebelum pergi.
“Nggak usah. Sebentar lagi juga waktu istirahat selesai. Kamu cepat balik saja,” jawab Sera.
“Oke.”
Violet pun berjalan cukup cepat menuju minimarket. Ia tidak ingin terlambat kembali.
______________________________________________________________________________________________
“Aduh… di mana sih… kenapa nggak ketemu-ketemu,” gerutu Violet kesal karena sulit menemukan barang yang ia cari. Saat masih sibuk mencari, tanpa sengaja matanya tertuju ke salah satu sudut minimarket.
Di sana, ia melihat sosok yang tadi ia bicarakan bersama Sera.
Tanpa sadar, Violet mulai mengintip diam-diam, memperhatikan setiap gerakan orang yang ia curigai. Ironisnya, sekarang justru dia yang terlihat mencurigakan.
Rasa penasaran makin besar saat ia melihat Ririka bersama seorang pria—Ness. Mereka masuk ke minimarket bersama. Pikiran Violet langsung teringat pada gosip yang tadi ia dengar dari Sera.
Saking penasarannya, ia bahkan lupa tujuan awalnya datang ke sana.
Siapa pria itu? Apa dia suaminya? batin Violet.
Ia bahkan berusaha melihat lebih jelas apakah mereka berdua memakai cincin di jari mereka.
“Permisi, Anda sedang apa?” tegur pegawai minimarket yang mulai curiga melihat tingkah Violet.
Kaget, Violet langsung berdiri tegak. Ia merasa malu dan buru-buru mencoba menjelaskan dengan gugup.
“Ah, sial!” keluh Violet begitu keluar dari minimarket.
Karena ditegur pegawai, ia jadi kehilangan jejak dua orang yang sedang ia perhatikan tadi.
Meski tidak mendapatkan informasi pasti, pikirannya masih dipenuhi gosip dari Sera. Entah kenapa, ia merasa rumor itu ada benarnya.
Mungkin saja ia bias… tapi ia cukup yakin dengan perasaannya. Wanita yang tadi ia lihat memang seperti menyembunyikan sesuatu.
Bagi Violet, Sae tidak seharusnya berhubungan dengan wanita seperti itu. Memang, dari segi penampilan wanita itu cantik dan terlihat lembut. Tapi tetap saja—wanita yang sudah menikah tidak seharusnya menjalin hubungan dengan pria lain.
Bukankah itu sudah cukup menunjukkan karakter yang buruk?
Sae, pria yang ia sukai, tidak pantas bersama wanita seperti itu. Bahkan kalau memang mereka punya hubungan, Violet bertekad akan memisahkan mereka.
Semua ini ia lakukan… demi Sae.
Pria yang ia kagumi terlalu berharga untuk bersama seseorang yang ia anggap bermasalah.
Pengalaman pribadinya ikut memengaruhi cara pandangnya. Ibunya dulu sering berganti pasangan, dan itu meninggalkan kesan buruk baginya. Dari situ, Violet tumbuh dengan kebencian terhadap wanita yang menjalin hubungan dengan lebih dari satu pria.
Meski sebenarnya, alasan itu tidak sepenuhnya benar. Tapi Violet tetap menggunakannya untuk membenarkan perasaannya.
Violet berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia kesal karena kehilangan jejak orang yang membuatnya penasaran—bahkan sampai ditegur pegawai minimarket. Di sisi lain, kebingungannya tentang hubungan Sae dan Ririka membuatnya semakin gelisah.
Meski sudah kembali bekerja, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Ia bahkan duduk melamun, menatap ke luar jendela, pikirannya kosong tapi hatinya tidak tenang.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi semakin ia mencoba, justru semakin terasa gelisah.
“Aku harus gimana…” gumamnya pelan.
Rasa penasaran itu sudah menguasainya. Ia tahu, ia harus mencari tahu lebih banyak tentang hubungan antara wanita itu dan pria yang bersamanya. Ia tidak ingin Sae terus terlibat dalam situasi seperti ini.
Violet ingin bertindak… tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Informasi yang ia punya masih terlalu sedikit. Ia terus memikirkan berbagai kemungkinan.
Bahkan sempat terlintas di pikirannya—mungkin saja Sae sudah tahu kalau wanita itu sudah punya suami.
Plak.
Nggak… nggak mungkin.
Ia langsung menepis pikirannya sendiri.
Saat pikirannya penuh dengan hal-hal yang tidak jelas dan membuatnya hampir seperti putus asa, ia tidak menyadari kehadiran Sera di belakangnya.
“Eh, kamu sudah balik. Ngomong-ngomong, kenapa kelihatan serius banget mikir?” tanya Sera.
Violet tidak langsung menjawab, masih tenggelam dalam pikirannya. Baru setelah Sera menyentuh bahunya, ia tersadar.
“Sera… ada apa?” sapa Violet.
“Harusnya aku yang nanya. Kenapa kamu melamun?” tanya Sera penasaran.
“Kamu masih mikirin obrolan kita tadi, ya?”
Violet terlihat bingung harus menjelaskan. Ia hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Itu… gimana ya jelasinya. Agak susah, soalnya aku sendiri juga belum yakin,” katanya ragu.
Sera mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan maksudnya.
“Ya sudah, bilang saja. Apa sih yang susah?”
Violet menggigit bibirnya sebentar.
“Tadi waktu aku ke minimarket… kayak kebetulan banget, aku lihat wanita yang kita bicarakan itu bareng seorang pria. Karena penasaran, aku coba perhatiin lebih dekat. Tapi malah ditegur pegawai. Akhirnya aku kehilangan mereka,” jelasnya.
Mata Sera langsung membesar. Mendengar cerita itu membuatnya berpikir… mungkin gosip yang ia dengar memang ada benarnya.
“Kamu yakin sama yang kamu lihat?” tanya Sera memastikan.
“Tentu saja! Aku nggak mungkin salah lihat,” tegas Violet. Ia bahkan menunjuk ke matanya sendiri.
“Aku sudah pastikan sebaik mungkin. Nggak mungkin salah,” tambahnya.

Komentar Buku (6)

  • avatar
    HitamKuda

    nice

    10h

      0
  • avatar
    epieya

    love bngett

    25d

      0
  • avatar
    Ultramen Z

    bagus

    25d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru