Sae menatap ke luar jendela. Hari ini terasa cukup sepi. Tidak seperti biasanya, jalanan tidak terlalu ramai. Meski suasananya sunyi, justru itu yang membuat Sae merasa lebih nyaman. Hari ini, ia benar-benar ingin sendiri—menghindari interaksi dengan orang lain. Karena itu, ia memilih pergi ke sebuah kafe kecil yang tidak jauh dari rumah sakitnya. Kafe itu tidak terlalu besar. Suasananya tenang dan nyaman. Sae sering menjadikan tempat ini sebagai pelarian saat ingin menyendiri. Kehidupannya yang sibuk sebagai dokter membuatnya sering merindukan waktu untuk sendiri. Dan sekarang, ia benar-benar menikmati ketenangan itu… sampai akhirnya harus terusik oleh kehadiran seseorang yang tidak ingin ia temui. “Violet? Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu lagi makan siang sama Perawat Mira?” Violet tersenyum. “Ternyata kamu lihat aku tadi. Sayang banget, kenapa kamu cuma nyapa Kak Mira? Aku kira kamu nggak lihat aku.” “Biar cepat saja,” jawab Sae singkat, jelas tidak ingin memperpanjang obrolan. Kehadiran Violet membuatnya langsung berpikir untuk pergi dari sana. “Kamu mau pergi?” tanya Violet, yang sudah menangkap maksudnya dari gerak-gerik Sae. “Nggak usah. Aku yang pergi. Maaf sudah bikin kamu nggak nyaman. Permisi.” Violet langsung pergi tanpa diminta. Ia sadar diri—tidak mungkin bisa mengajak Sae berbincang santai. Daripada mengganggu, ia memilih mundur. Sae hanya diam. Ia tidak ingin memikirkan perasaan Violet. Kehadiran wanita itu hanya membuatnya tidak nyaman. Ia pun kembali menikmati waktunya sendiri. Saat sedang tenggelam dalam kesunyian, ponselnya kembali berbunyi. Ia langsung mengeceknya—pesan dari Ririka. Ia membaca dengan saksama. Alisnya sedikit berkerut, dari ekspresinya terlihat ia paham bahwa kondisi Ririka tidak sedang baik-baik saja. Sae sempat berpikir sejenak, mencoba merangkai balasan yang tepat. Tapi akhirnya, ia memilih membalas dengan pesan singkat. Mira yang berjalan di lorong rumah sakit setelah makan siang tanpa sengaja melihat Violet melintas di depannya. Ia segera menyusul dan menyamakan langkah dengan juniornya. “Kamu dari mana? Masih kesal gara-gara omonganku tadi?” Violet menghela napas panjang. Mood-nya memang sedang tidak bagus. Sebenarnya ia ingin mengabaikan Mira, tapi ia tetap menjaga sikap profesionalnya di tempat kerja. “Aku cuma cari udara segar. Iya, aku sempat tersinggung. Tapi nggak mau dibawa hati. Jadi sekarang sudah biasa saja,” jawabnya setenang mungkin, berusaha terlihat baik-baik saja—meski sebenarnya masih kesal. Dari luar memang terlihat normal. Tapi Mira yang lebih berpengalaman tahu, Violet hanya berpura-pura. Ia menyembunyikan perasaannya. “Maaf ya kalau kata-kataku tadi bikin kamu tersinggung. Tapi coba deh pikirkan lagi perasaanmu ke Dokter Sae. Aku ngomong begini karena aku peduli sama kamu,” ujar Mira tulus. Kalau saja Violet sedikit saja kehilangan kendali, mungkin ia sudah meledak. Tapi ia sadar, kalau ia melakukannya di sini, situasinya hanya akan semakin buruk. “Iya… aku akui kata-katamu tadi memang bikin aku tersinggung. Jadi tolong jangan ngomong seperti itu lagi,” jawab Violet dengan nada agak kesal. Mira menepuk bahunya. “Baik… baik. Tapi aku nggak bisa janji. Selama kamu masih suka Dokter Sae, aku mungkin akan terus mengingatkan kamu.” Mendengar itu, Violet hanya memutar bola matanya malas. Sae yang sudah kembali ke ruang kerjanya terlihat melamun. Ia memikirkan pesan dari Ririka tadi. “Ah, aku mikirin apa sih…” gumamnya. Ia langsung tersadar. Pekerjaannya masih banyak. Ia merasa bersalah karena sempat tidak fokus. Padahal biasanya ia selalu memprioritaskan pekerjaan dan menjaga konsentrasi. Tapi sejak menjalin hubungan dengan Ririka… fokusnya mulai terganggu. Sepertinya memang benar—kalau sudah terlibat dengan seseorang, pikiran jadi ikut terbawa, bahkan saat bekerja. Meski Sae masih bisa mengendalikan diri, tetap saja Ririka punya pengaruh besar. Tidak ingin terus terdistraksi, Sae kembali fokus bekerja, mencoba menyingkirkan semua pikiran tentang Ririka untuk sementara. Ririka menghela napas sambil merapikan barang-barang di tokonya. Suaminya memang sudah pergi, tapi rasa kesal itu masih tertinggal. Ia bahkan tidak ingin pulang. Rasanya malas bertemu Ness. Meski kesal, ia mencoba mengalihkan pikirannya. Kebetulan hari ini jadwal kontrolnya. Ia pasti akan bertemu Sae—meski hanya sebentar, tapi itu cukup membuatnya senang. Bagi Ririka, Sae seperti udara segar dalam hidupnya. Saat ia merasa tertekan dengan masalah hidupnya, entah kenapa Sae selalu jadi tempat pelarian. Walaupun ia sadar apa yang ia lakukan itu salah… ia sering menyangkalnya dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Jadwal kontrol kamu sudah hampir selesai. Tinggal sekitar dua kali lagi. Kondisimu juga semakin membaik,” kata Sae sambil menutup dengan senyuman. Sebagai dokter, melihat pasiennya membaik tentu membuatnya senang—terlepas dari hubungan mereka. “Syukurlah. Berarti kita sudah cukup lama bersama ya,” balas Ririka sambil menatap Sae dengan ekspresi puas. “Setelah ini, tolong jaga dirimu baik-baik,” kata Sae, membalas tatapannya. ______________________________________________________________________________________________ Setelah sesi kontrol selesai, Ririka pergi mengambil obatnya. Waktunya bersama Sae memang tidak bisa lama, apalagi mereka sadar tidak bisa berlama-lama bersama di area rumah sakit. Meski hanya sebentar, setidaknya Ririka sudah cukup bahagia bisa melihat Sae. Keluar dari ruangan Sae, Ririka berjalan menuju apotek. Tanpa ia sadari, ada dua perawat wanita yang memperhatikannya dari kejauhan. Mereka baru berhenti mengamati ketika Ririka sudah semakin jauh. “Sepertinya dia memang pasien yang selama ini dirumorkan punya hubungan dengan Dokter Sae,” ujar Sera yang berdiri di samping Mira. Perawat yang lebih muda itu tampak antusias mengamati sosok Ririka yang kini sudah tidak terlihat. “Cantik banget ya. Apalagi sekarang kondisinya sudah membaik, jadi makin kelihatan menawan,” tambahnya, terlihat terpukau. “Kamu benar, dia memang cantik. Tapi nggak perlu sampai ngiler juga kali lihat wanita secantik itu. Aku yakin Dokter Sae aja nggak sampai kayak kamu,” balas Mira. “Hah? Aku ngiler? Aduh… iya juga ya,” Sera langsung buru-buru menghapus sudut bibirnya. “Dasar. Sudahlah, kita nggak perlu terlalu ikut campur urusan orang. Mending balik kerja saja,” kata Mira, lalu mengajak juniornya kembali bekerja. Setelah mereka pergi, Violet yang ternyata diam-diam menguping percakapan itu jadi semakin penasaran. Apalagi ia sempat melihat sosok yang mereka bicarakan. Ia yakin, wanita itu adalah orang yang sama yang ia lihat bersama Sae di kafe beberapa waktu lalu. Sepertinya, rumor tentang hubungan Sae dengan pasiennya memang bukan sekadar gosip. Entah kenapa, ia merasa wanita itu memang punya hubungan khusus dengan Sae. “Terima kasih,” ucap Ririka setelah menerima obatnya. Ia lalu berjalan keluar dari apotek, berniat segera pulang. Namun saat berjalan, entah kenapa ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke sekitar, mencoba mencari sosok yang membuatnya merasa diawasi. Nggak ada… tapi kenapa rasanya seperti ada yang mengikuti? batinnya gelisah. Menyadari situasinya tidak aman, Ririka mencoba tetap tenang. Ia meningkatkan kewaspadaan dan berjalan di tengah keramaian. “Kamu ngapain di sini?” Sae tiba-tiba menarik tangan Violet. Entah kenapa, ia merasa Violet sedang memperhatikan seseorang. Violet terkejut dan langsung gelagapan. Apalagi yang menegurnya adalah Sae. Ia hampir tidak bisa mengontrol ekspresinya. “Nggak ngapa-ngapain kok. Aku cuma penasaran, kayak lihat orang mencurigakan. Jadi aku perhatikan saja,” jawabnya, berusaha menutupi maksud sebenarnya. Ekspresi Sae berubah, terlihat curiga. “Kalau memang ada yang mencurigakan, kenapa nggak langsung lapor? Bahaya kalau kamu bertindak sendiri begini,” tanyanya. Violet langsung melambaikan tangan. “Ah… kayaknya aku kebawa suasana saja. Mending nggak usah dibahas lagi. Oh iya, aku jadi ingat masih ada kerjaan. Permisi.” Ia buru-buru pergi. Melihat Violet pergi dengan tergesa-gesa, Sae hanya bisa bertanya-tanya. Sikapnya terasa mencurigakan. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Setelah keluar dari area rumah sakit, Ririka tidak langsung pulang. Ia sempat mampir ke taman kecil. Di sana ia beristirahat sejenak, menikmati pemandangan sambil menghabiskan es krim batang yang tadi ia beli. Setelah selesai, ia membuka gulungan kertas yang diberikan Sae sebelum ia pergi. Di dalamnya ada tulisan tangan khas dokter—sedikit sulit dibaca, tapi masih bisa dipahami. Ririka membaca isinya dengan teliti. Setelah selesai, wajahnya terlihat jauh lebih cerah. Ia tersenyum, merasa terhibur dengan balasan Sae atas keluhannya tadi lewat chat. Sae meresponsnya dengan baik, bahkan sampai repot-repot menuliskan pesan tangan. Untung saja Ririka masih bisa membaca tulisannya, meski Sae sendiri sempat minta maaf karena tulisannya sulit dibaca. “Andai kamu milikku… dunia ini pasti terasa jauh lebih menyenangkan,” gumam Ririka pelan. Tatapannya beralih ke langit, menikmati keindahan sore yang cerah. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati semuanya. Saat membuka mata kembali, ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba ia merasa rindu dengan masa-masa bebasnya dulu, sebelum menikah. Sejak menikah dengan Ness, ia merasa kebebasannya berkurang. Ia tahu, kehidupan setelah menikah memang tidak akan sebebas dulu. Tapi tekanan pikiran dan rasa terpaksa membuat semuanya terasa lebih berat. Pernikahannya dengan Ness bukanlah keinginannya sendiri. Ia dipaksa menikah demi memenuhi keinginan ibunya—menikah dengan anak dari sahabat ibunya. Sebelum meninggal, ibunya ingin melihatnya menikah. Karena itulah, ia dijodohkan dengan Ness. Awalnya, mereka berdua sepakat hanya menjalani pernikahan itu demi memenuhi keinginan orang tua. Bahkan mereka sempat berencana untuk segera bercerai. Tapi rencana itu diketahui orang tua Ness, dan sejak saat itu mereka tidak diizinkan bercerai. Mereka diminta mempertimbangkan ulang hubungan rumah tangga mereka. Akhirnya, hubungan mereka jadi rumit. Hampir tidak ada kehangatan di antara mereka. Yang ada hanya status sebagai suami istri tanpa perasaan. Menjalani rumah tangga seperti ini terasa sangat berat. Sikap dingin Ness semakin membuatnya tertekan. Dulu… ia bahkan sempat ingin mengakhiri semuanya. Baik pernikahannya, maupun hidupnya yang terasa gagal. Tapi kehadiran Sae mengubah segalanya. Sae… adalah seseorang yang sangat berarti baginya. Bukan hanya karena menyelamatkan hidupnya, tapi juga karena membuatnya sadar bahwa dirinya pantas untuk dicintai.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
nice
16h
0love bngett
25d
0bagus
25d
0Lihat Semua