“Aku berangkat,” kata Ririka pada suaminya sebelum keluar rumah menuju toko bunganya yang bahkan belum resmi buka. Ness langsung berbalik, menghentikan langkah istrinya. “Tunggu! Biar aku antar,” katanya sambil meraih kunci mobil. Ririka mengernyit, heran kenapa suaminya tiba-tiba jadi perhatian seperti ini. “Nggak usah. Nanti malah merepotkan kamu. Aku pergi seperti biasa saja. Terima kasih ya,” jawabnya, lalu buru-buru pergi, sedikit mengabaikan Ness. Setelah Ririka benar-benar pergi, Ness hanya bisa diam. Tawaran yang ditolak begitu saja membuatnya merasa agak kecewa. Entah… dia sendiri juga bingung harus menyebut perasaan itu apa. Tapi yang jelas, sekarang dia mulai sadar betapa buruk sikapnya selama ini terhadap istrinya. Rasa tidak nyaman terlihat jelas di mata Ririka. Ness tahu, kalau dia ingin memperbaiki hubungan mereka, itu akan butuh waktu yang tidak sebentar. Sesampainya di toko bunga, Ririka langsung kembali sibuk bekerja. Hari ini ia ingin mengecek kebutuhan toko, sekaligus menyiapkan berbagai hal lain. Sepertinya hari ini bakal cukup padat. Apalagi Daisy, temannya yang biasa membantu, sedang sakit dan tidak bisa datang. Mau tidak mau, Ririka harus mengurus semuanya sendirian hari ini. Sibuk dengan toko memang melelahkan, tapi tetap lebih baik daripada harus berlama-lama di rumah bersama suaminya. Ia sempat teringat sikap aneh Ness tadi pagi. Ah… ngapain dipikirin, mending dilupakan saja, batinnya. Ririka buru-buru menyingkirkan pikiran tentang suaminya. Ia memilih langsung tenggelam dalam pekerjaan. Saat menoleh ke samping, tanpa sengaja ia melihat sebuah kanvas—lukisan bunga snowdrop kesukaannya. Lukisan itu hampir selesai. Ia berencana menggantungnya di sudut ruangan sebagai dekorasi toko. Senyum tipis muncul di wajahnya. Ia mengambil ponselnya, memotret lukisan itu, lalu mengirimkannya ke Sae bersama pesan selamat pagi seperti biasanya. TRING Sae merasa ponselnya berbunyi. Ia langsung mengeceknya dan menemukan pesan selamat pagi dari Ririka—seperti yang sering ia kirimkan. Sae membaca pesan itu, lalu melihat foto lukisan bunga snowdrop. Melihatnya, Sae tersenyum tulus. Ia tahu Ririka sangat menyukai bunga itu. Terutama karena dulu, saat pertama kali mereka bertemu, Sae pernah memberinya snowdrop untuk menyemangatinya. Bunga snowdrop melambangkan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Itulah alasan Sae memberikannya pada Ririka. Sejak saat itu, Ririka jadi menyukai bunga tersebut—seolah bisa merasakan harapan tulus yang Sae berikan lewat bunga itu. Sae kemudian membalas pesan Ririka, lalu mematikan ponselnya. Ia harus kembali fokus pada pekerjaannya. “Violet, kamu nggak apa-apa?” tanya Mira, perawat senior di rumah sakit tempat Violet bekerja. Wanita berusia 38 tahun itu terlihat heran melihat juniornya yang sejak kemarin sering melamun. Bahkan beberapa kali, Mira memergoki Violet diam-diam melirik Sae. “Hah… aku baik-baik saja kok. Kenapa?” jawab Violet, sedikit kaget dan terbata. Mira menggeleng. Dari sikapnya saja sudah terlihat kalau Violet tidak fokus bekerja. Pikirannya seperti ke mana-mana. “Aku nggak tahu kamu lagi mikirin apa. Tapi mending ikut aku ke kantin. Daripada melamun terus sampai lupa makan.” Violet pun ikut Mira ke kantin. Tapi di tengah perjalanan, ia kembali tenggelam dalam pikirannya. Sikap itu membuat Mira sedikit kesal. “Aku jadi nyesel ngajak kamu makan. Kayaknya ada sesuatu yang luar biasa di kepalamu sampai kamu nggak sadar sama sekitar,” celetuk Mira. Mendengar sindiran itu, Violet jadi agak malu. Ia hanya menyeringai khas, cengiran lebar yang biasa ia tunjukkan. Tapi senyuman itu langsung berubah saat Sae lewat dan menyapa Mira. “Perawat Mira, mau makan siang?” sapa Sae ramah. Ia tampak tidak menyadari kalau Violet ada di belakang Mira. “Oh iya. Aku mau ke kantin sama Violet. Kamu mau ikut?” tawar Mira. “Sepertinya nggak. Tapi terima kasih ya. Permisi,” jawab Sae sebelum pergi. Mira dan Violet masih berdiri di tempat. Tepatnya, Violet masih sibuk menatap ke arah Sae, sementara Mira menunggu dia “sadar”. “Sekarang aku tahu sumber masalahnya. Violet, berhenti terobsesi sama Dokter Sae,” kata Mira sambil melipat tangan dan menatap tajam. “Dia sudah nolak kamu, kan? Ditambah lagi dia nggak nyaman sama sikapmu yang berlebihan. Jangan bikin keadaan makin buruk.” Violet menggeleng. Meski sudah ketahuan, ia tetap tidak mau mengakuinya. Ia masih keras kepala, merasa tindakannya tidak mengganggu Sae sama sekali. “Aku benar-benar nggak ngerti kamu.” Mira menghela napas panjang, lalu menjewer telinga Violet. “Kalau kamu sampai bikin masalah di sini, aku nggak akan ragu buat jadi orang pertama yang menegur kamu!” tegasnya. Ia melakukan itu karena peduli. “Aduh, Kak… jangan kasar gitu dong,” rengek Violet manja, lalu memasang ekspresi imut seperti anak anjing. Kalau saja Mira tidak ingat mereka masih di rumah sakit, mungkin reaksinya sudah jauh lebih keras dari itu. Violet benar-benar keras kepala dan tidak mau mendengarkan. Mira hanya khawatir—ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada juniornya, atau pada rekan kerja lainnya. “Kamu ngapain ke sini?” Ririka terkejut melihat suaminya ada di tokonya. Kedatangan Ness benar-benar mendadak, tanpa kabar sebelumnya. “Aku mau ngajak kamu makan siang bareng. Emangnya salah?” jawab Ness sambil menatap istrinya cukup intens. Tatapan itu justru membuat Ririka merasa tidak nyaman. Entah kenapa belakangan ini, sikap Ness jadi aneh. Tiba-tiba dia terlihat jauh lebih peduli. Padahal sebelumnya, dia jelas-jelas bersikap seolah Ririka tidak penting. Ririka mendengus pelan, sebenarnya ingin menolak. Tapi dia tahu, Ness yang keras kepala tidak akan menerima penolakan begitu saja. Mau tidak mau, akhirnya ia menyetujui ajakan itu. “Terserah. Tapi kamu harus janji, setelah makan siang langsung pulang. Aku nggak nyaman kerja kalau ada orang lain di sini,” ucapnya tegas. Alis Ness terangkat. “Memangnya aku nggak boleh bantu? Kamu kelihatan sendirian hari ini. Bukannya lebih baik ada yang bantu biar kerjaanmu cepat selesai?” Sial. Ness sepertinya tidak mau mendengarkan permintaan istrinya. Malah seperti mencari alasan untuk tetap berada di dekatnya. “Nggak perlu. Kalau kamu nggak mau dengar permintaanku, mending kamu pulang saja. Nggak usah makan siang bareng. Aku nggak mau berdebat di sini,” kata Ririka sambil menatap lurus, wajahnya serius. Melihat ketegasan itu, Ness akhirnya mengalah. Untuk kali ini, ia memilih menuruti. Meski dalam hati, ia tidak ingin terus-terusan mengalah seperti ini. “Baiklah, kali ini aku turuti. Ayo,” katanya. Tiba-tiba, seperti anak kecil, Ness melakukan hal tak terduga—ia meraih tangan Ririka dan menariknya menuju mobil. Ririka yang sudah terlalu malas melawan hanya menurut, meskipun dalam hati tetap merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya yang semakin aneh. “Kak… menurut Kak Mira, aneh nggak sih kalau aku bisa jadian sama Dokter Sae?” tanya Violet tiba-tiba. Telur rebus yang sedang dimakan Mira langsung tersangkut di tenggorokan. Ia tersedak cukup parah sampai buru-buru mencari air, sebelum akhirnya dibantu Violet. “Ya ampun, aku hampir mati gara-gara kamu. Jangan bikin kaget gitu dong,” gerutu Mira kesal sambil menyeka mulutnya. “Itu pertanyaan apaan sih? Jelas nggak mungkin. Dokter Sae sudah nolak kamu mentah-mentah dulu. Kukira kamu sudah menyerah.” Mira benar-benar tidak paham jalan pikiran juniornya itu. Violet langsung manyun. “Aku cuma nanya doang. Tapi jawabannya malah sepesimis itu,” keluhnya. “Violet, sadar dong. Jangan ngarep terus. Di luar sana banyak laki-laki lain selain Dokter Sae,” kata Mira, bahkan sampai memegang kedua pipi Violet. “Kalau Dokter Sae ternyata sudah punya pasangan, kamu masih mau ngejar dia?” lanjutnya. Ucapan itu terdengar menyebalkan di telinga Violet. Ia langsung menepis tangan Mira. “Nggak mungkin. Dokter Sae itu terkenal dingin sama perempuan. Ditambah lagi dia orangnya blak-blakan, jadi pasti susah didekati wanita lain.” Nada cemburu Violet begitu jelas sampai Mira bisa merasakannya. Entah kenapa, Mira jadi tergoda untuk sedikit menggodanya. “Oh ya? Tapi kamu tahu dari mana? Bisa saja dia punya sisi berbeda ke perempuan yang dia suka. Aku sih percaya itu… apalagi dia pernah bersikap lembut ke salah satu pasiennya.” Mata Violet langsung membesar. “Nggak mungkin!” bantahnya. Rasa cemburu mulai membakar dirinya, dan Mira justru semakin iseng. “Kedekatan Dokter Sae sama pasien itu sampai jadi bahan rumor di rumah sakit. Wajar sih, aku sendiri pernah lihat langsung. Dia lembut banget ke wanita itu. Lagian, pasiennya itu kelihatannya kalem dan lembut—lebih cocok sama kepribadian Dokter Sae, dibanding… wanita bar,” sindir Mira puas. Padahal awalnya cuma ingin menggoda, tapi tanpa sadar ia malah kebablasan. Violet tidak menjawab. Tapi dari ekspresinya, jelas dia tidak suka. Aura di sekitarnya tiba-tiba terasa lebih gelap. “Kamu ngomong gitu cuma mau ngeledek aku, kan?” tanya Violet dengan suara dingin. Mira langsung sadar kalau dia sudah keterlaluan. Ia buru-buru minta maaf, tapi Violet sudah terlanjur kesal dan langsung pergi meninggalkan kantin. Melihat Violet pergi, Mira merasa sedikit bersalah. Meski di satu sisi, ia melakukan itu supaya Violet tidak terlalu berharap pada Dokter Sae. Lagipula… sebenarnya Mira sendiri juga mulai merasa curiga dengan kedekatan Dokter Sae dengan pasiennya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
nice
1d
0love bngett
26d
0bagus
26d
0Lihat Semua