logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 7 Tujuh

Seperti biasa kalau hari Sabtu, Aura pasti disibukkan menjadi MUA di acara pernikahan.
"Wah, aku jadi kelihatan sangat cantik mbak Aura", sahut Anggi salah satu calon pengantin yang hari ini Aura make upin karena hari ini Aura ada satu lagi calon pengantin yang harus dimake upin
"Mbak Anggi sih memang sudah cantik. Aku hanya memolesnya sedikit saja", sahut Aura merendah. Memang tidak dipungkiri kalau Aura sangat pintar dalam make upin orang dan itu membuat orang-orang puas dengan hasilnya. Dari mulut ke mulut orang yang puas dengan hasil make upnya, Aura menjadi banyak pelanggan yang memakai jasanya Aura.
"Mana ada mbak Aura. Ini sih berkat tangan ajaibnya mbak Aura yang membuat aku kelihatan cantik. Pokoknya mbak Aura jangan langsung pulang ya. Harus ikut makan dulu", sahut Anggi
"Iya mbak Anggi", sahut Aura sambil membereskan alat-alat make upnya
"Aku sudah mentransfer sisa bayaran dan bonusnya ya mbak Aura", sahut Anggi yang langsung mentransfer sisa pembayaran dan bonus karena Anggi sangat puas dengan hasil make up yang dilakukan oleh Aura
Akhirnya Aura tidak langsung lanjut ke customernya satu lagi melainkan Aura memilih untuk mengambil makanan dulu karena Aura juga belum sarapan tadi pagi karena buru-buru datang agar tidak terlambat make upin Anggi.
"Aura", sahut sebuah suara dan saat Aura membalikkan badan betapa kagetnya Aura kalau yang memanggilnya adalah Dimas mantan suaminya. Jakarta begitu luas tapi kenapa lagi-lagi Aura harus bertemu dengan Dimas tetapi kali ini Aura harus bertatap muka dengan Dimas tidak seperti saat di supermarket waktu itu dimana Aura langsung kabur begitu saja. Kali ini Aura juga melihat Dimas seorang diri tanpa ditemani pacar cowoknya.
"Oh, hai", sahut Aura dengan senyum terpaksa
"Kamu diundang juga ke sini Aura?", tanya Dimas
"Iya", sahut Aura singkat. Tidak mungkin juga Aura bilang kalau dia adalah MUA calon pengantin wanita
"Ohya? Kamu diundang sama calon pengantin cewek atau cowoknya?", tanya Dimas dengan nada dan wajah penasaran
"Cewek", ujar Aura singkat lagi. Jujur Aura ingin segera menjauh dari Dimas karena sangat tidak nyaman dekat-dekat dengan Dimas ini.
"Oh gitu. Kamu sendirian saja Aura?", tanya Dimas lagi. Dimas sangat penasaran dengan kehidupan Aura mantan istrinya ini karena Dimas perhatikan kehidupan Aura sangat sederhana dari cara berpakaian hingga tas yang digunakan Aura semua kelihatan tidak mahal dan bukan barang-barang branded. Sesuatu yang jauh berbeda saat Aura masih tinggal di rumahnya dulu dimana Aura memakai barang-barang branded yang dia beli. Walaupun Dimas tidak pernah mencintai Aura bukan berarti Dimas membenci dan tidak memperhatikan Aura. Dimas selalu membelikan barang-barang branded walaupun akhirnya barang-barang branded yang dia beli untuk Aura satupun tidak Aura bawa saat Aura keluar dari rumah orang tuanya.
"Seperti yang kamu lihat. Aku datang sendiri. Kamu juga datang sendiri?", sahut Aura
"Iya, karena pacarku ada acara juga di tempat lain", sahut Dimas
"Oh gitu. Kalau gitu aku pergi dulu ya", sahut Aura
"Loh, bukannya kamu mau mengambil makanan Aura", sahut Dimas
"Tadinya tetapi aku baru ingat ada janji. Aku duluan ya", sahut Aura sambil pergi meninggalkan Dimas yang memperhatikan kepergian Aura.
Akhirnya Aura memutuskan pergi dari sana daripada harus berlama-lama ngobrol dengan Dimas. Biarlah perutnya keroncongan yang penting Aura tidak harus ngobrol lama dengan Dimas. Aura sudah malas bertemu apalagi harus mengobrol lama dengan Dimas. Bagaimanapun sampai saat ini Aura masih sakit hati terhadap Dimas.
Untungnya pesta pernikahan Anggi diadakan di salah satu gedung dimana di sekitarannya ada warung makan. Jadilah Aura memutuskan ke warung makan dulu untuk makan baru lanjut ke tempat pernikahan satu lagi. 
Aura memilih makan di warteg yang menjadi andalannya kalau malas masak di rumah. Daripada mesan online yang bisa menguras kantongnya mending Aura makan di warteg yang harganya murah tapi mengenyangkan.
Selain makan di warteg tersebut, Aura juga memutuskan untuk membungkus makanan untuk Aura makan di rumah karena Aura bisa menjamin kalau hari ini Aura bisa masak karena sibuknya Aura dengan pekerjaannya.
Selesai makan Aura langsung menuju ke tempat pesta pernikahan satu lagi dengan menggunakan ojek online untuk menghindari kemacetan jalanan Jakarta.
Untungnya jalanan sangat bersahabat sehingga Aura bisa cepat sampai di tempat pesta pernikahan selanjutnya.
Lagi-lagi customer dibuat puas dengan hasil make up yang dilakukan oleh Aura dan Aura dikasih bonus lagi.
Tiada hari Aura mengucapkan syukur atas rezeki yang Aura terima hari ini. Rezeki hari ini akan Aura tabung untuk biaya hidup sehari-hari. Untungnya Aura sudah membayar rumah kontrakan dan listrik dari uang yang diberikan papa tirinya.
Ketika Aura hendak pulang ke rumah tiba-tiba handphonenya berbunyi dan ternyata Ana kakak perempuannya yang menelpon.
"Halo Aura, kamu dimana?", tanya Ana
"Halo mbak Ana. Ini aku baru beres MUA mbak Ana. Memang ada apa ya?", sahut Aura
"Kamu langsung ke rumah mbak ya soalnya hari ini ada pesta kecil-kecilan merayakan pernikahan mbak dengan mas Heru. Kamu bisa datang khan?", sahut Ana
"Mendadak sekali sih mbak kasih tahunya. Aku lagi tidak pakai baju bagus. Paling aku pulang dulu ya mbak baru aku datang ke rumah mbak", sahut Aura
"Tidak usah pulang dulu Aura. Kamu langsung ke rumah mbak saja. Soal baju mbak sudah sediakan khusus untuk kamu. Jadi kamu langsung ke rumah mbak ya Aura. Mbak tunggu ya Aura", sahut Ana langsung menutup telponnya dan itu membuat Aura terdiam. Memang hari ini ulang tahun pernikahan mbak Ana dan mas Heru karena setahu Aura ulang tahun pernikahan mbak Ana dan mas Heru masih lama atau Aura yang lupa karena kesibukannya.
"Gimana ma, kamu berhasil mengundang Aura ke sini?", tanya Heru suami dari Ana kakak perempuannya Aura
"Berhasil pa tetapi apakah ini tidak akan membuat Aura marah kalau sampai tahu tujuan utama kita berdua adalah ingin mengenalkan Aura dengan rekan kantor kamu mas", sahut Ana dengan nada dan wajah khawatir
"Tidak ada salahnya ma kita mengenalkan Aura. Kalau soal apakah mereka berdua akan lanjut atau tidak itu urusan mereka berdua tetapi yang jelas kita berdua hanya sebagai perantara ma. Bukannya mama yang punya ide ini karena tidak mau membuat Aura sedih dengan gagalnya pernikahannya", sahut Heru
"Iya sih pa tetapi mama sampai saat ini penasaran kenapa Aura bercerai dari Dimas", sahut Ana
"Papa juga penasaran ma tetapi kita tidak bisa memaksanya karena itu adalah rahasianya Aura", sahut Heru
"Benar juga yang papa katakan", sahut Ana

Komentar Buku (5)

  • avatar
    LatipHikam

    itulah perjuangan cinta

    02/06

      0
  • avatar
    Ahmad Ajjha

    bagus alur ceritanya

    27/05

      0
  • avatar
    sundasunda

    gacor

    27/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru