Aura mencatat apa saja pesanan kue dari Ibu Tyas dengan teliti karena takut ada yang salah. Selesai mencatat Aura langsung menuju ke dapur untuk melihat bahan-bahan kuenya apakah masih ada atau tidak karena kalau ada yang kurang besok Aura harus pergi lagi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan yang habis. Aura betul-betul sangat bersyukur mendapatkan rezeki nomplok seperti ini apalagi Aura kepikiran harus membayar listrik dan uang kontrakan bulan ini. Selesai mengecek bahan-bahan kue dan Aura bersyukur kalau bahan-bahan kuenya masih sangat lengkap yang berarti dirinya tidak perlu belanja di supermarket. Walaupun pesanan kue Ibu Tyas banyak tetapi Aura masih bisa mengerjakannya sendiri daripada mempekerjakan orang lain yang sudah pasti Aura harus membayar upahnya. Aura sudah mengatur schedule jam berapa harus mulai membuat kue terus disambung dengan membuat kue tartnya. Pokoknya Aura harus bisa memuaskan konsumen langgananya jangan sampai membeli di tempat lain. Selesai mengerjakan semua tugasnya Aura memutuskan untuk memasak. Berhubung Aura tinggal sendiri jadi masakpun menunya juga sedikit dan sederhana. Aura memutuskan masak tempe orek, sayur jamur dan telur balado. Sebisa mungkin Aura harus hidup irit dengan sisa uang yang ada. Ketika Aura mempersiapkan memasak tiba-tiba ada yang menekan bel rumahnya dan Aura melihat dulu siapa yang datang. Ternyata mamanyalah yang datang. Memang semenjak Aura memberi tahu alamat rumah kontrakannya, mamanya sangat rajin untuk datang ke rumahnya dengan membawa apapun. Tidak pernah sekalipun mamanya datang dengan tangan kosong. "Kamu lagi apa Aura?", tanya Endang saat masuk ke dalam rumah Aura putrinya sambil membawa rantang makanan "Aku mau siap-siap untuk masak ma", sahut Aura "Tidak usah. Ini mama sudah bawakan kamu makanan", sahut Endang sambil memberikan rantang makanan sama Aura "Makasih ma tapi aku tidak mau merepotkan mama", sahut Aura yang menerima rantang makanan dari mamanya terus menaruhnya di atas meja dan membukanya. Kemudian Aura mengambil piring untuk memindahkan makanan yang ada di rantang makanan tersebut. Sebenarnya Aura sangat bahagia karena tidak perlu memasak yang berarti hari ini Aura bisa berhemat lagi. "Sama-sama Aura dan kamu sama sekali tidak merepotkan mama lagipula mama khan tidak setiap hari membawakan makanan buat kamu. Kebetulan hari ini mama masak lumayan banyak. Mubazir khan kalau tidak habis makanya mama bawakan juga untuk kamu", sahut Endang bohong padahal sebenarnya Endang sengaja memasak lebih karena ingin memberikannya untuk Aura. Hanya dengan cara ini Endang dapat membantu Aura yang tidak mau memakai uangnya. "Tapi semua makanan ini adalah makanan favorit aku ma. Memang papa Zaenal tidak marah mama membawakan makanan untuk aku?", sahut Aura yang merasa tidak enak kalau sampai papa tirinya tahu dengan apa yang dilakukan mamanya walaupun papa tirinya orangnya sangat baik dan tidak pernah membeda-bedakan antara anak kandung dengan anak tirinya. Tidak hanya itu saja anak papa tirinya yang bernama Putri orangnya sangat baik dan ramah. Putri sendiri bekerja sebagai karyawan swasta. Tadinya Putri ingin belajar mandiri dengan tinggal di kos-kosan atau apartemen tetapi papa tirinya tidak kasih. Tidak jarang Aura dan Putri suka jalan bareng misal makan atau nonton bareng. Apalagi usia Aura dan Putri yang sepantaran. Putri sendiri sampai detik ini belum memikirkan untuk menikah selain itu papanya sendiri pun tidak pernah memaksanya untuk menikah cepat-cepat. Jadi Putri masih menikmati masa kesendiriannya tanpa memikirkan pernikahan. "Mana pernah papa Zaenal marah Aura. Justru semua ini papa Zaenal yang suruh dan ini ada sedikit uang untuk kamu dari papa Zaenal. Papa Zaenal tahu kalau memberikannya langsung sama kamu pasti ditolak jadi lewat mama dan papa Zaenal mau kamu menerimanya", sahut Endang memberikan amplop yang berisi uang sama Aura. Tadinya Aura berniat menolaknya tetapi dia urungkan karena takut menyinggung perasaan papa Zaenal yang sangat baik pada dirinya hingga sekarang. "Makasih banyak ma dan bilang terima kasih sama papa Zaenal", sahut Aura sambil tersenyum. Lagi-lagi Aura mendapatkan rezeki tidak terduga. Walaupun Aura belum membuka amplopnya tetapi dari bentukan amplopnya Aura tahu kalau uang yang diberikan papa Zaenal lumayan banyak. Itu berarti Aura bisa mempergunakan uang tersebut untuk membayar listrik dan kontrakan. "Sama-sama. Ya sudah kamu pasti lapar khan", sahut mama "Iya ma. Atau kita makan berdua saja ma", sahut Aura "Mama sudah makan di rumah dan mama tidak bisa lama di sini. Jadi mama langsung pulang ya Aura. Kamu hati-hati di rumah ini ya Aura dan ingat kamu jangan ragu minta pertolongan mama kalau ada apa-apa", sahut Endang menasehati putri bungsunya "Iya ma", sahut Aura Sepeninggal mamanya Aura memutuskan membuka amplop yang berisi uang yang diberikan papa Zaenal lewat mamanya dan betapa kagetnya Aura saat membukanya jumlah uangnya sebesar lima juta rupiah yang berarti seperti rencana Aura mempergunakannya untuk membayar listri dan kontrakan. Langsung Aura simpan uang itu di dalam lemari dan rencananya besok Aura akan pergi ke bank untuk menyetornya biar tidak boros karena kalau ada uang tunai cenderung kita ingin menghabiskannya. Apalagi uang tersebut akan Aura pakai untuk membayar listrik dan kontrakan. Setelah itu baru Aura makan dan memang tidak bisa dipungkiri kalau makanan buatan mamanya sangat enak. Jadi ingat saat menikah dengan Dimas kalau Dimas sama sekali tidak pernah menyentuh makanan yang dia buat termasuk makanan kesukaan Dimas yang Aura tanya sama mama mertuanya saat itu. Flashback "Kamu tidak sarapan dulu mas", sahut Aura "Tidak. Aku takut terlambat", sahut Dimas dengan nada dan wajah dingin tanpa menatap ke arah Aura sekalipun "Terlambat?! Ini masih jam setengah 6 loh mas, jadi masih bisa kamu makan dulu. Aku takut kamu sakit kalau tidak sarapan, mas. Lagian kamu khan ke kantor naik motor jadi tidak akan terlambat sampai ke kantor", sahut Aura "Kamu jangan sok tahu ya Aura. Kamu khan tidak tahu betapa macetnya jalanan di Jakarta ini lagian kamu khan hanya di rumah saja dan tidak pernah kemana-mana", sahut Dimas masih dengan nada dan wajah dingin "Iya, maaf kalau aku tidak tahu apa-apa. Kalau gitu biar aku bawakan bekal makanan buat kamu ya mas. Nanti bisa kamu makan begitu sampai di kantor. Tunggu sebentar ya mas", sahut Aura "Tidak usah!! Aku bisa beli makanan yang ada di depan kantor. Aku pergi dulu", sahut Dimas yang langsung pergi meninggalkan Aura dan Aura hanya bisa menghela nafas saja karena ini selalu terjadi setiap hari pada dirinya dengan perlakuan Dimas terhadap dirinya Flashback End
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
itulah perjuangan cinta
02/06
0bagus alur ceritanya
27/05
0gacor
27/05
0Lihat Semua