logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Tiga

Plak. 
Lagi-lagi Laras menampar Dimas putranya. 
"Keterlaluan kamu Dimas. Mama dan papa tidak mendidik kamu seperti itu!!!!", sahut Laras dengan nada dan wajah emosi
"Sudahlah ma. Jangan terlalu memaksa Dimas juga. Itu juga sudah menjadi keputusan Dimas dan jangan salahkan Dimas saja. Siapa tahu bukan salah Dimas tetapi salah Aura", sahut Alvin dan itu membuat Aura kaget karena bisa-bisanya papa mertuanya menyalahkan dirinya yang sudah jelas-jelas kalau ini adalah salah Dimas putranya. 
"Maaf pa... Maaf ma... Kalau aku ada salah selama ini aku minta maaf dan aku juga minta maaf sama kamu Dimas kalau tadi aku lancang membaca chat di handphone kamu tetapi jika aku tidak membacanya maka aku tidak tahu kalau putra papa dan mama memiliki kelainan orientasi seksual", sahut Aura dengan berani karena Aura tersinggung dengan perkataan papanya Dimas yang sudah menyalahkan dirinya. Seandainya papanya Dimas tidak bilang seperti itu maka Aura tidak akan membocorkan rahasianya Dimas.
"Diam kamu Aura!!!", teriak Dimas dengan nada dan wajah emosi
"Apa maksud kamu Aura? Tidak mungkin Dimas putra mama memiliki kelainan orientasi seksual", sahut Laras dengan nada dan wajah kaget
"Maaf ma, tadinya aku tidak mau membahas soal ini tetapi papa sudah menuduh seakan-akan aku yang salah di sini dan soal itu biar Dimas sendiri yang bilang sama mama dan papa. Aku tidak mau memperkeruh keadaan", sahut Aura berusaha tenang dengan tidak terbawa emosi
"Apa maksud Aura, Dimas!!! Bilang sama mama!!! Kamu sebagai cowok jangan diam saja!!!", teriak Laras dengan nada dan wajah marah
"Aku gay ma", sahut Dimas dengan nada lirih dan itu membuat Laras kaget mendengarnya. Anak yang dia didik dari kecil berbekal ilmu agama ternyata gay. Betapa kagetnya Laras mendengar pengakuan dari Dimas.
"Apa!!! Tidak mungkin Dimas!!!! Sejak kapan kamu menempuh jalur sesat seperti itu Dimas?!", sahut Laras dengan nada dan wajah emosi
"Itu benar ma. Maafkan aku ma. Aku tidak bisa memilih mencintai sama siapa ma", sahut Dimas dengan nada lirih
"Jijik mama mendengarnya Dimas!!! Kamu tahu hal itu sangat dilarang sama agama, Dimas!!! Kamu belajar agama dari kecil Dimas!!! Siapa yang mengajari kamu seperti itu!!!", teriak Laras masih dengan nada dan wajah emosi. Laras tidak menyangka harus mendengar pengakuan Dimas putranya yang seorang gay.
"Sudahlah ma. Jangan terlalu dibesar-besarkan lagipula Dimas sudah besar dan itu adalah jalan hidup yang Dimas pilih sendiri", sahut Alvin dengan santai dan tidak terkejut sama sekali seperti dirinya
"Apa maksud papa bilang seperti itu, hah!!! Inilah akibat papa terlalu memanjakan Dimas!!! Sudah mama bilang kalau jangan terlalu memanjakan Dimas dengan bergelimang harta!! Jadinya Dimas sesat seperti ini!!!", teriak Laras dengan nada dan wajah marah melawan perkataan suaminya
"Sesat gimana ma. Ini adalah hidup aku, ma. Aku yang berhak menentukan aku cinta sama siapa ma", sahut Dimas dengan santai
"Diam kamu Dimas!!! Kamu bikin malu mama saja!!! Bagaimana kalau sampai orang tua Aura dan orang lain tahu soal kelainan orientasi seksualitas kamu ini Dimas!!!", teriak Laras masih dengan nada dan wajah marah
"Mama tenang saja, sampai kapanpun aku akan menjaga rahasia ini dan aku tidak akan mengatakan sama papa dan mama. Kalau begitu aku ijin pergi ya ma. Mama jaga ksehatan ya ma. Jangan suka sakit dan jangan lupa obatnya diminum ya ma", sahut Aura dengan nada menenangkan mantan mama mertuanya yang masih penuh amarah di wajahnya
Kemudian Aura pun keluar dari rumah mantan mertuanya dengan menenteng dua kopernya dan membawa sakit hati yang entah kapan akan sembuh. Sampai kapanpun Aura tidak akan mengatakan rahasia ini sama siapapun. Hanya dirinya dan Allah saja yang tahu karena Aura bukan tipe orang yang mengumbar aib orang lain apalagi ini adalah aib mantan suaminya sendiri dimana menyangkut dirinya juga. Biarlah ini menjadi rahasinya sampai kapanpun.
Flashback Off
Akhirnya Aura memilih keluar dari supermarket mall tersebut karena Aura belum siap jika harus berpapasan apalagi sampai bertemu muka dengan mantan suami dan pacarnya tersebut. Aura memilih pergi ke supermarket yang berada di mall lain.
Tidak membutuhkan waktu lama Aura sampai juga di supermarket mall kedua yang dituju. Aura langsung mengambil troli dan membeli kebutuhannya yang habis dari ayam, daging, ikan, sayur-sayuran, buah-buahan dan cemilan. Tidak lupa juga Aura membeli kebutuhan pribadinya. Setelah keluar dari rumahnya Dimas tadinya Aura mau tinggal di rumah kos-kosan tetapi mengurungkan niatnya dengan mengontrak rumah kecil yang ada di sebuah kompleks perumahan di Jakarta Timur. Berhubung Dimas tidak tahu rumah yang ditinggali Aura dimana jadinya akte perceraian mereka berdua dikirim ke rumah mamanya Aura dan itu membuat mamanya Aura kaget saat menerimanya.
Flashback
"Aura, bisa kamu bilang sama mama apa maksud semua ini?!", sahut Endang dengan nada dan wajah menahan emosi sambil memegang sebuah akte perceraian dirinya dan Dimas. Aura ditelpon mamanya untuk datang ke rumah mamanya dan ternyata inilah maksud mamanya menyuruh Aura untuk datang tidak lain adalah untuk menunjukkan akte perceraian dirinya dan Dimas yang sudah datang dan saat ini berada di tangan mamanya.
"Akhirnya datang juga tuh akte perceraian", sahut Aura dengan nada lirih sambil menghela nafas
"Aura, jawab!!! Jadi kamu dan Dimas sudah bercerai?! Sejak kapan? Apa alasan kamu bercerai dari Dimas? Apakah Dimas melakukan kekerasan dalam rumah tangga sama kamu, Aura?", tanya Endang dengan nada dan wajah penasaran sambil masih memegang akte perceraian Aura dan Dimas
"Mama sudah kayak reporter saja yang lagi interview artis, hehehehehe", sahut Aura berusaha mencairkan suasana yang tegang
"Aura, mama sedang tidak becanda", sahut Endang dengan nada dan wajah serius
"Aku dan Dimas sudah tidak ada kecocokan saja ma. Kami memutuskan bercerai karena perbedaan pendapat saja dan itu tidak bisa disatukan kembali. Dimas sama sekali tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga kok ma", sahut Aura dengan nada tenang
"Kalau hanya perbedaan pendapat saja, memang tidak bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus ada perceraian?", tanya Endang dengan nada dan wajah penasaran. Endang sangat sedih kalau Aura putri bungsunya harus mengalami perceraian seperti dirinya. Padahal tadinya Endang ingin pernikahan Aura harmonis seperti pernikahan kedua anaknya yang lain yaitu Ana dan Herman.
"Mama dulu saat bercerai sama papa saat kami semua bertanya juga jawabannya seperti itu khan. Maaf ma, aku tidak bisa menceritakan secara rinci alasan aku bercerai dari Dimas", sahut Aura masih dengan tenang dan itu membuat Endang kaget mendengarnya karena Aura mengungkit jawabannya saat ditanya anak-anaknya waktu bercerai dengan ayahnya Aura, Ana dan Herman

Komentar Buku (5)

  • avatar
    LatipHikam

    itulah perjuangan cinta

    02/06

      0
  • avatar
    Ahmad Ajjha

    bagus alur ceritanya

    27/05

      0
  • avatar
    sundasunda

    gacor

    27/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru