logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 6 Enam

Akhirnya Perth dan Saint sampai juga di rumah sakit tempat Saint bekerja.
"Kamu pulang jam lima khan. Nanti aku jemput dan biar sekalian kita belanja bareng untuk membeli bahan-bahan makanan", sahut Perth
"Iya", sahut Saint
Kemudian Saint pun turun dari mobilnya Perth dan masuk ke dalam rumah sakit.
Hari ini betapa sibuknya Saint di rumah sakit dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 dan Saint menunggu jemputan Perth tetapi tidak kunjung datang sampai jam 6. Akhirnya Saint memilih pergi menggunakan taksi menuju apartemen Perth. Memang Saint tidak memiliki nomor handphonenya Perth jadi Saint tidak bisa menelpon atau chat Perth.
Tidak membutuhkan waktu lama Saint sampai juga di apartemennya Perth. Sebelum naik ke apartemennya Perth, Saint memutuskan belanja bahan-bahan makanan. Saint memisahkan bahan-bahan makanan untuk Perth dan dirinya. Saint tidak mau terlalu berharap sama Perth. Seperti hari ini yang tadinya Saint percaya Perth akan menjemputnya ternyata tidak sama sekali.
Selesai belanja Saint langsung pulang ke apartemennya Perth. Untung saja saat Perth memasukkan pin apartemennya Saint melihat dan mengingatnya. Saint menaruh bahan-bahan makanan Perth ke kulkasnya Perth dan bahan-bahan makanan miliknya ditaruh di kulkas kecil di dalam kamarnya tetapi sebagian sudah Saint pisahkan begitupula yang punya Perth untuk Saint masak.
Saint memasak sesuai dengan bahan-bahan makanan yang dia beli begitupula yang punya Perth.
Akhirnya selesai juga Saint masak dan kemudian makanan punya Perth ditaruh di meja makan sedangkan punyanya Saint pegang dan mau dibawa ke kamarnya.
"Aku pulang!!!", teriak Perth saat masuk ke dalam apartemen tepat jam 8 malam
"Kamu mau kemana?!", sahut Perth saat melihat Saint membawa piring dan gelas berisi air putih ke dalam kamarnya
"Makan di kamar. Ohya, makanan kamu sudah aku taruh di meja makan dan sisa uang belanjanya juga sudah aku taruh di dekat televisi", sahut Saint
"Kok ada sisa uang?", tanya Perth
"Aku beli bahan-bahan makanan buat kamu saja dan sudah aku taruh di kulkas. Tadi aku masak sebagian dari bahan-bahan makanan itu", sahut Saint
"Aku khah sudah bilang uang itu untuk beli bahan-bahan makanan kita berdua Saint!!!", sahut Perth dengan nada dan wajah emosi
"Tidak usah Perth. Aku masih mampu beli bahan-bahan makanan sendiri. Ohya satu lagi, lain kali tidak usah janji jemput aku. Aku bisa pulang sendiri", sahut Saint sambil berlalu meninggalkan Perth dan Perth baru sadar kalau tadi janji akan jemput Saint tetapi karena orang tuanya Film menelpon kalau hari ini adalah perayaan kematiannya Film.
Perth merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya sama Saint. Perth yakin pasti tadi Saint menunggunya lama. Ini akibat mereka berdua tidak memiliki nomor handphone masing-masing.
Akhirnya Perth memutuskan untuk mengetuk kamarnya Saint.
"Saint, boleh aku masuk", sahut Perth sambil mengetuk pintu kamarnya Saint dan tidak lama kemudian Saint membuka sedikit pintu kamarnya
"Ada apa Perth? Aku masih makan. Kalau kamu butuh sesuatu nanti dulu setelah aku makan", sahut Saint
"Maafkan aku Saint. Tadi aku tidak bermaksud tidak menjemput kamu tetapi aku dapat telpon penting yang mengharuskan aku tidak jadi menjemput kamu", sahut Perth
"Tidak apa-apa Perth. Lain kali tidak usah janji kalau kamu tidak dapat menepatinya. Aku tahu kalau pernikahan ini terpaksa buat kamu dan aku juga tidak mengharapkan apa-apa. Kalau sudah saatnya aku juga akan pergi kok, kamu tenang saja Perth", sahut Saint yang hendak menutup lagi pintu kamarnya tetapi Perth berhasil menahannya
"Aku betul-betul minta maaf Saint. Jujur hari ini adalah perayaan peringatan mantan pacarku namanya Film. Tadi saat aku mau menjemput kamu, orang tua Film menelpon dan menyuruh aku datang. Seandainya aku memiliki nomor handphone kamu maka aku akan kasih tahu kamu Saint tetapi aku khan tidak punya nomor handphone kamu Saint. Boleh ya aku minta nomor handphone kamu biar kita berdua gampang komunikasinya", sahut Perth dan itu membuat Saint diam. Saint baru tahu ternyata Perth sudah pernah memiliki kekasih dan kekasihnya itu meninggal. Ingin rasanya Saint menanyakan soal mantan pacarnya Perth tetapi Saint urungkan karena itu bukan menjadi urusannya. Saint takut kalau menanyakan soal mantan pacarnya Perth nanti malah yang ada Perthnya emosi. Apalagi hari ini Perth sudah tidak emosi dan marah-marah lagi.
"Tidak usah Perth. Di rumah saja kita berdua saja tidak pernah komunikasi jadi untuk apa perlu nomor handphone juga. Sudah ya Perth, aku mau lanjut makan lagi. Kamu juga harus makan Perth. Kalau kamu sudah kenyang taruh saja di kulkas biar besok aku bisa panasin. Apalagi tadi kamu bilang habis merayakan kematian mantan pacar kamu yang sudah pasti kamu makan di sana", sahut Saint
"Kata siapa aku tidak mau makan Saint. Aku akan tetap makan makanan yang kamu masak karena aku tipe orang yang tidak suka buang-buang makan", sahut Perth
"Makasih Perth karena kamu sudah menghargai aku yang sudah masak. Sudah ya Perth, aku mau lanjut makan", sahut Saint dan kemudian Saint pun menutup pintu kamarnya dan tinggalah Perth seorang diri. Sebenarnya Perth masih ingin ngobrol lama sama Saint dan ingin mengenal Saint lebih jauh. Apalagi selama ini Perth selalu berkata dan bersikap kasar sama Saint.
Di dalam kamar Saint meneruskan makannya. Selesai makan Saint keluar sambil membawa peralatan bekas makannya yang kotor untuk dicuci. Ternyata saat Saint menuju ke dapur melihat Perth sedang mencuci peralatan  bekas makannya yang berarti Perth makan semua makanan yang dimasak sama Saint.
"Sini biar aku cucikan", sahut Perth dan itu membuat Saint terdiam
"Makasih Perth tetapi biar aku cuci sendiri saja", sahut Saint tetapi Perth dengan gesit mengambil peralatan bekas makannya dan kemudian mencucinya
"Makasih Perth", sahut Saint lagi
"Tidak usah terima kasih Saint. Aku juga makasih kamu sudah masak untuk aku dan aku akui makanan yang kamu masak sangat enak", sahut Perth
"Terima kasih atas pujiannya", sahut Saint
"Kamu belajar dari mana bisa masak seenak itu Saint?", tanya Perth
"Dari mae pengurus panti asuhan", ujar Saint 
"Panti asuhan?", tanya Perth
"Iya. Aku adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Dari kecil aku sudah belajar masak dari mae pengurus panti asuhan karena aku tahu kalau sudah dewasa akan hidup sendiri jadi harus mandiri. Aku tidak bisa bergantung sama siapa-siapa dan hanya diriku saja", sahut Saint dan itu membuat Perth terdiam. Jujur Perth tidak mengira kalau Saint adalah anak yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan
"Maaf Saint. Aku tidak tahu kalau kamu adalah anak yatim piatu", sahut Perth dengan nada dan wajah merasa bersalah
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Perth. Justru aku yang minta maaf karena sudah membuat kamu menerima pernikahan ini tetapi aku janji akan pergi jika sudah saatnya Perth. Jadi kamu tidak usah khawatir ya", sahut Saint dan itu membuat Perth terdiam

Komentar Buku (4)

  • avatar
    PhoneCity

    apa nih kelanjutan judul nya.. dan cari nya gimana

    05/05

      0
  • avatar
    Keysha Azza

    yah kapal karam

    18/04

      0
  • avatar
    HumairahIpaaa

    bagus

    07/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru