"Sayang kamu sendirian? Mamamu ke mana?" tanya Angga celingak-celinguk ke dalam rumah. "Mama kerja Pa," jawabnya. "Kalau gitu Papa sama Bunda mau ajak Fiya makan di luar gimana?" Vanya memegangi pipi Safiya. "Tapi Bun, Fiya belum izin sama mama," jawabnya memanyunkan bibir. "Nanti Papa yang bilang," sahut Angga. "Iya, kita kan cuman makan doang langsung pulang," timpal Vanya. Tanpa berpikir panjang Safiya mengiyakan ajakan mereka. Gadis kecil itu melompat kegirangan saat tahu akan berjalan-jalan untuk makan malam. Safiya duduk sendiri di kursi belakang mobil. Sesekali Vanya bercanda dengannya seraya tertawa ke arah belakang jok mobil mereka. "Pah, Bun, boleh nggak sih nanti kapan-kapan jemput Fiya pake mobil di TPA? Fiya mau pamerin ke Amara kalau Fiya punya Papa," celotehnya khas anak kecil. "Kok gitu? Fiya kan emang punya Papa kenapa harus di pamerin?" tanya Angga. "Soalnya Amara selalu ngejek Fiya gak punya Papa karena Papa nggak tinggal sama mama," lanjutnya. Bola mata Vanya berputar tanpa arah. Suasana aneh menyelimutinya saat mendengar penjelasaan Safiya. Angga yang sadar dengan perubahan Vanya segera memberikan klarifikasi pada Safiya anaknya. "Sayang, kalau ada yang ngejekin gitu jangan dibales nanti mereka makin seneng ngejekin kamu. Yang penting sekarang Fiya punya Papa dan Bunda yang selalu ada buat Fiya ya. Bunda juga sayang banget sama Fiya loh sampe mau ngajak Fiya tinggal di rumah Papa," jelas Angga. "Iya sayang. alau kamu mau punya Papa dan Bunda yang bisa tinggal bareng kamu, kamu bisa tinggal sama kita," sahut Vanya. Safiya menunduk. Wajahnya berubah sendu membayangkan mamanya akan tinggal sendiri tanpa dirinya. Bagaimanapun mama tetaplah orang yang melahirkannya. "Nggak Bun, Fiya nggak mau ninggalin mama Bunga sendirian." "Sayang kamu nggak papa tinggal di rumah sendirian? Kalau kamu mau nginep di rumah Papa boleh loh, nanti tinggal Papa telpon mama," ujar Angga sesaat setelah mobilnya sampai di depan rumah Bunga. "Enggak papa kok Pa. Fiya tunggu mama pulang aj di rumah," jawabnya dengan seringai. "Bener nih kamu nggak papa?" Sekali lagi Angga memastikan bahwa anaknya itu aman tinggal sendirian di rumahnya. Safiya mengangguk cepat. "Kalau ada apa-apa telpon Papamu ya sayang," sahut Vanya.
Safiya pun turun dari mobil. Menenteng paper bag makanan cepat saji yang dibelikan untuknya. Riangnya Safiya memancarkan bahwa anak itu bahagia meski tidak memiliki orangtua yang utuh. Lambaian tangan kecil itu mengiringi kepergian Angga dengan ibu tirinya.
~••~
• Happy Song Karaoke •
Sementara itu sepanjang waktu Bunga melamun di ujung ruang make up-nya. Memangku dagu yang seolah penuh beban dari kepalanya. Jeni memergoki sahabatnya itu dan lekas menghampirinya.
"Woi! Bengong terus ntar kesambet lu. Gimana kemaren, jadi jalan-jalannya?" Tanya Jeni mengambil posisi duduk di sampingnya. Bunga menggeleng pelan. "Nggak jadi Jen. Gue kebanyakan minum malemnya, jadi bangun ke siangan," jawab Bunga memanyukan bibir merahnya. "Ya udah next week aja lagi. Gue nggak tahu kalau sesedih ini ingkarin janji sama anak. Gue pengen banget punya anak," komentarnya.
Selama ini Jeni memanglah hidup sendiri. Ia sempat menikah, tapi rumah tangganya kandas karena ia tidak bisa memiliki anak. Suaminya menceraikannya dan menikah lagi. Sedangkan keluarganya sudah tidak menganggap dirinya karena pekerjaannya sebagai pemandu lagu.
"Bukan karena itu sih yang bikin gue sedih. Sebenernya gue lagi kesel sama mantan suami gue," balas Bunga. "Kenapa tuh si Angga? Dia nyakitin lo lagi?" Tanya Jeni menggebu-gebu. "Enggak sih, tapi lebih ke mengusik ketenangan gue aja. Masa iya dia ngajak Safiya jalan tanpa ngasih tahu gue? Emangnya dia siapa?" Ketus Bunga. "Dia papanya anak lo lah," jawab Jeni. "Ya iya sih, tapi bukan berarti dia seenaknya ngajak Safiya pergi tanpa ngasih tahu gue!"
Wajah Bunga memerah. Pertanda amarah tengah menyelimutinya. Beberapa pemandu lain seketika menatap mereka berdua. Jeni yang paham dengan situasi ini hanya bisa mengusap punggung sahabatnya itu perlahan.
"Iya gue paham. Udah ya, tenangin diri lo dulu." Jeni mengambil botol mineral di atas meja. "Yang bikin gue tambah kesel nih ya, berani-beraninya dia bawa pelakor itu ke hadapan gue! Mau pamer kalau mereka bahagia dan gue sengsara?" Cerocos Bunga. "Minum dulu nih minum." Jeni memberikan air mineral padanya. Bak tengah dehidrasi, Bunga menghabiskan setengah botol air mineral. Tatapannya tajam seolah siap menerkam. "Jen! Dipanggil bos Toni di ruangannya!" Teriak seorang pekerja laki-laki. "Oh iya, gue ke sana." "Mau ngapain tuh om om manggil lo? Awas jangan-jangan dia mau jual elo!" Ketus Bunga dengan lirikan sinis. "Nggak papa seratus juta gue jabanin," gurau Jeni dengan senyumnya.
Langkah Jeni begitu percaya diri. Ini bukan kali pertamanya dipanggil Toni untuk menghadap dirinya. Sampainya di depan ruangan bertuliskan 'manager' itu Jeni merapikan rok pendeknya.
"Halo, Bos. Ada yang bisa dibantu?" Tanya Jeni dengan lantang. "Jeni my preety girl. Duduk sini!" Toni bangkit dari bangkunya. Menghampiri Jeni untuk duduk di kursi depan mejanya. "Aku ada salah apa ya, Bos?" Bola matanya berputar ke segala arah. "Oh, nggak nggak. Kamu nggak pernah salah sayang. Cuman mau ingetin aja kalau kamu punya tugas penting loh di sini," ucap Toni duduk di meja.
Jeni paham akan maksud dari perbyataan bosnya itu. Selain beroperasi sebagai tempat karaoke, di sana terdapat bisnis prostitusi yang dikelola Toni. Di sini Jeni memiliki peran besar untuk merayu beberapa pemandu lagu seperti dirinya yang tidak mau dijual oleh Toni. Tentu saja bisnis ini akan memberikan banyak uang bagi Toni pribadi jika berjalan lancar.
"Sorry Bos. Kayaknya emang cuma Bunga yang nggak tertarik. Lagi pula dia juga nggak cakep cakep amat, susah dapetin pelanggan," jelas Jeni. "Pokoknya kamu harus bujuk dia sampai mau. Pelanggan gue nggak semuanya suka yang muda muda. Kita juga harus sediakan daun tua sebagai pelengkap menu kita," balas Toni menyolek dagu Jeni. "Aku usahakan, tapi nggak janji Bos." Pungkas Jeni. "Astaga!" Kejut Bunga tepat di depan pintu ruangan Toni. "Eh lu ngagetin aja. Ngapain ke sini?" Tanya Jeni. "Gue mau kasbon ke bos," jawab Bunga. "Udah ntar aja dia lagi kesambet di dalem." Jeni menyahut lengan Bunga untuk kembali ke ruangan mereka.
Satu perasatu para pemandu lagu itu masuk ke ruangan karaoke. Menyisakan Jeni dan Bunga di ruang tunggu saja.
"Lu mau kasbon buat apaan lagi sekarang? Bukannya kemaren abis dapet tip banyak lu?" Tanya Jeni penasaran. "Bulan depan anak gue mau masuk sekolah. Gue butuh uang buat daftarin dia," jawab Bunga. "Butuh berapa lo?" "Kemaren sempet minta brosur sih sekitar lima jutaan," jelasnya. "Gue ada tiga juta, sisanya kita cari sampe akhir bulan sekarang." Keni mengecek ponselnya untuk mengirimkan uang pada Bunga.
Bunga hanya bengong menatap Jeni. Ia kehabisan kata-kata untuk berterima kasih pada sahabatny itu. "Udah gue transfer sekarang lu kerja yang rajin buat bayar utang ke gue," jelas Jeni.
~••~
Di tempat lain Angga bersama Vanya tengah berbincang di atas ranjang. Hari demi hari perasaan cinta itu selalu tumbuh seiring kedekatan mereka dengan Safiya. Angga bersyukur memiliki Vanya yang menyayangi anaknya.
"Mas, nggak mau coba ngobrol lagi sama Bunga soal Safiya?" "Nggak tahu sayang. Sepertinya akan sulit membuat dia percaya lagi ke kita," jawab Angga. Vanya menyandarkan kepalanya pada dada bidang Angga. "Gini aja, gimana kalau kita daftarin Fiya sekolah di deket rumah kita biar bisa sering ketemu," usul Vanya. "Nggak akan setuju dia, tapi nanti kita pikirin lagi ya," ujar Angga. "Aku berharap banget Fiya bisa tinggal sama kita, Mas."
Vanya berpikir keras untuk mencari cara agar Safiya bisa bersekolah di dekat rumah mereka. Dengan begitu ia akan lebih dekat dan bisa mengambil hati Safiya. Meskipun ia harus menggadaikan rasa malu di depan Bunga. Wanita yang pernah ia rampas suaminya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 26 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (48)
BilaCaca
gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍
gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍
03/06/2025
0baguss bgt ka ceritanyaaa
02/06/2025
0keren
01/06/2025
0Lihat Semua