logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 BUJUK BUNDA

"Mama, ayo cepetan nanti terlambat. Fiya mau maju pertama," rengek Safiya seraya mengguncang lengan ibunya. 
"Iya sayang sebentar." Bunga merapikan kerudung merah jambu pemberian Safiya.  
Sore itu telah berkumpul banyak ibu-ibu dari anak-anak sebaya Fiya. Mereka bergerombol di depan masjid untuk melihat anaknya masing-masing. Rasa canggung mulai menjalari tubuh Bunga. Banyak mata melirik sinis saat ia tiba di sana. 
"Assalamualaikum, Mbak ibunya Safiya ya?" tegur Zainal. 
"Wa ... walaikumsalam, iya Pak Ustad," jawab Bunga menundukkan kepala. 
"Silakan masuk saja, gabung sama ibu-ibu yang lain. Sekalian kita ada pengajian singkat bagi ibu-ibu di sini," ucapnya. 
Bunga menelan ludah. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Namun, Safiya menggenggam erat tangan Bunga pertanda menginginkan ibunya masuk bersamanya. Tatapan sinis terpancar dari beberapa ibu-ibu yang tengah berkerumun di sana.  
"Ma, tunggu di sini ya. Lihat Fiya hapalannya pasti lancar," tuturnya diselingi senyum. 
"Iya sayang." 
"Ibu-ibu hati-hati sekarang suaminya di jaga. Meleng dikit nanti karokean sama PL loh. Apalagi PL-nya janda," celetuk salah satu ibu. 
"Aduh serem ya, secara sekarang janda tuh makin ganas ya. Hati-hati ah," timpal yang lain seraya melirik ke arah Bunga.  
Bunga hanya bisa menarik napas dalam. Perasaannya campur aduk mendengat gunjingan tepat di hadapannya. Namun, demi Safiya ia tetap bertahan di sana. Satu persatu anak bergiliran untuk praktek hafalan salat mereka. Hingga tiba giliran Safiya.  
"Allahuakbar ... Allaahu akbar kabiirow wal hamdu lillaahi katsiiroo wasubhaanalloohi bukrotaw wa-ashiilaa ...." 
Bunga tersenyum bangga mendengarkan hafalan Safiya yang begitu lancar. Matanya mulai berkaca-kaca saat anaknya hampir menyelesaikan praktek salatnya. Bagaimanapun juga meski kehidupannya bisa dibilang penuh dosa, tapi ia tetap menginginkan anaknya menjadi anak yang solehah dan dapat mendoakannya kelak. 
"Mama bangga sayang." Batin Bunga.  
~~••~~ 
 
"Mas udah pulang? Tumben masih sore, nggak ada lembur ya?" Vanya menyahut jas Angga. 
"Iya nih. Mas lagi pengen di rumah manja-manjaan sama istri muda Mas," goda Angga mencubit pipi Vanya. 
"Pasti ada maunya deh kalau udah begini." Vanya berlalu menuju dapur. Seperti biasa Vanya menyeduh teh bunga telang untuk suaminya. Bunyi sendok dan cangkir keramik beradu ketika madu ia tuang.  
"Sayang, kita makan ke luar yuk! Udah lama nggak dinner romantis kita," usul Angga seraya merebahkan punggungnya ke atas sofa. 
"Mm, yuk! Kebetulan aku juga belum masak. Eh iya Mas, ajak Fiya yuk! Pasti dia ditinggal sendirian sama mamanya buat kerja," balas Vanya meletakkan teh di atas meja. 
Angga mengerutkan dahinya. Menatap Vanya dengan lengkung bibir tersungging. Belum sempat menjawab usul Vanya, secepat kilat Angga memeluk erat isterinya. Kecupan ganas mendarat di tempat semestinya. Membuat Vanya terkejut mendapat serangannya. 
"Sayang, kalau aku pingsan jangan telpon ambulans ya," ucap Angga ngos-ngosan. 
"Kamu sakit, Mas?" Kejut Vanya. 
"Aku nggak kuat sama kamu. Gimana aku nggak cinta mati sama kamu kalau kamu selalu bikin aku terbang melayang gini," gumamnya. 
Adegan sore itu begitu panas di ruang tamu. Napas dan racauan bersahutan meraih puncak kenikmatan. Angga begitu terlena dengan pesona Vanya yang tak pernah memudar hingga saat ini. Terlebih kini ia sangat perhatian pada putri semata wayangnya. 
 
~~••~~ 
 
"Sayang, Mama bangga sama kamu. Terus belajar ya sayang," puji Bunga pada Safiya. 
"Siapa dulu dong Mamanya? Mama Bunga!"  
Sesaat pengajian pun selesai dengan berakhirnya praktek hafalan anak-anak jua. Dari kejauhan Zainal berjalan menghampiri Bunga dan Safiya. "Assalamualaikum, Mbak," sapanya. 
"Walaikum salam ustad," jawab Bunga menunduk. 
"Safiya ini anaknya cepat menyerap ilmu yang diberikan. Pasti ibunya juga sehebat yang sering ia ceritakan," jelas Zainal. 
"Terimakasih ustad udah ngajarin anak saya," balas Bunga.  
"Kita pernah ketemu ya sebelumnya. Mbak yang subuh itu pulang sendiri, 'kan?" Selidik Zainal. 
Belum sempat menjawab apa pun, seorang ibu-ibu setengah berteriak dari arah belakang mereka. "Ustad hati-hati zina mata! Apalagi sama janda!" mendengar itu Bunga menyahut tangan Safiya untuk segera pergi dari sana.  
"Mah, maafin Fiya yah kalau bikin Mama nggak nyaman," celetuk Safiya saat mereka tepat sampai di depan rumah kontrakan mereka. 
"Sayang, Mama seneng kok apalagi kamu pinter banget tadi." Bunga mengusap pipi tembamnya. 
Bak dua sisi mata koin yang berbeda, Bunga segera mengganti pakaiannya untuk bersiap berangkat kerja. Tak lupa ia menyiapkan makan malam bagi Safiya. "Sayang, Mama berangkat dulu ya. Tidur cepet ya, jangan begadang nonton tv." Bunga mencium kening Safiya penuh cinta. 
"Oke Ma!" Seperti biasa Safiya menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan mewarnai buku gambarnya. Meski tinggal sendirian ia tak pernah takut.  
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Safiya yang bosan memilih untuk bermain boneka di ruang tamu depan televisi. Tak berselang lama terdengar suara mobil terparkir di depan rumahnya. 
Suara ketukan pintu terdengar mengejutkan Safiya. Ia mengira jika kakek neneknya berkunjung untuk menemaninya. "Papa! Bunda!" Safiya memeluk papanya penuh bahagia. "Sayang kamu sendirian? Mamamu kemana?" Tanya Angga celingak-celinguk ke dalam rumah. 
"Mama kerja Pa," jawabnya. 
"Kalau gitu Papa sama Bunda mau ajak Fiya makan di luar gimana?" Vanya memegangi pipi Safiya. 
"Tapi Bun, Fiya belum izin sama mama," jawabnya memanyunkan bibir.  
"Nanti Papa yang bilang," sahut Angga. 
"Iya, kita kan cuman makan doang langsung pulang," timpal Vanya. 
 
Tanpa berpikir panjang Safiya mengiyakan ajakan mereka. Gadis kecil itu melompat kegirangan saat tahu akan berjalan-jalan untuk makan malam. Safiya duduk sendiri di kursi belakang mobil. Sesekali Vanya bercanda dengannya seraya tertawa ke arah belakang jok mobil mereka.  
"Pah, Bun, boleh nggak sih nanti kapan-kapan jemput Fiya pake mobil di TPA? Fiya mau pamerin ke Amara kalau Fiya punya Papa," celotehnya khas anak kecil. 
"Kok gitu, Fiya kan emang punya Papa kenapa harus di pamerin?" Tanya Angga. 
"Soalnya Amara selalu ngejek Fiya gak punya Papa karena Papa nggak tinggal sama mama," lanjutnya. 
Bola mata Vanya berputar tanpa arah. Suasana aneh menyelimutinya saat mendengar penjelasaan Safiya. Angga yang sadar dengan perubahan  Vanya segera memberikan klarifikasi pada Safiya anaknya.  
"Sayang, kalau ada yang ngejekin gitu jangan dibales nanti mereka makin seneng ngejekin kamu. Yang penting sekarang Fiya punya Papa dan Bunda yang selalu ada buat Fiya ya, Bunda juga sayang banget sama Fiya loh sampe mau ngajak Fiya tinggal di rumah Papa," jelas Angga. 
"Iya sayang, kalau kamu mau punya Papa dan Bunda yang bisa tinggal bareng kamu, kamu bisa tinggal sama kita," sahut Vanya.  
Safiya menunduk. Wajahnya berubah sendu membayangkan mamanya akan tinggal sendiri tanpa dirinya. Bagaimanapun mama tetaplah orang yang melahirkannya. "Nggak Bun, Fiya nggak mau ninggalin mama Bunga sendirian." 

Komentar Buku (48)

  • avatar
    BilaCaca

    gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍

    03/06/2025

      0
  • avatar
    khumairoharum

    baguss bgt ka ceritanyaaa

    02/06/2025

      0
  • avatar
    Queena Alika Aprilia

    keren

    01/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru