"Fiya! Mama pulang. Sayang kamu di mana?" Bunga mencari ke segala penjuru rumahnya, tapi tak ditemukan Safiya. Kepanikannya hampir meledak saat menelpon orangtuanya menanyakan keberadaan Safiya. Tidak bedselang lama dari panggilan itu pun terdengar sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. "Makasih ya Pah, Bun." "Fiya! Kamu dari mana aja? Mama nyariin kamu!" Bunga memeluk Safiya penuh cemas. "Kalo kamu sibuk kerja, Fiya titipin aja di rumahku." Celetuk Angga. Bunga melirik ke arahnya. "Sayang kamu masuk dulu ya," pinta Bunga pada Safiya. Vanya yang mengawasi Angga dari dalam mobil sedikit mengerutkan dahinya. Melihat Bunga yang berbicara penuh emosi, ia pun mencoba turun dari mobil dan menghampiri mereka. "Mas? Ada masalah?" Vanya menyahut lengan Angga. "Satu-satunya masalah di sini adalah kedatangan kalian!" Bunga masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Angga sang mantan suami hanya bisa menghela napas dalam. Ia tak mampu meyakinkan Bunga untuk menyerahkan hak asuh Safiya meski hanya sekedar menginap di rumahnya. Vanya mengusap dada Angga. Di dalam rumah Bunga mengintip dari celah jendela. Napasnya menggebu menatap pemandangan tersebut. "Ma, Fiya beliin ini buat Mama," kejut Safiya. "Apa ini sayang, kamu punya uang dari mana beli ini?" Bunga membuka paper bag coklat dari anaknya. Sebuah kerudung merah jambu dengan bordir bunga menghiasinya. "Bunda sama papa yang kasih. Katanya Fiya boleh beli apa aja. Fiya inget Mama, jadi beliin ini deh. Mama suka nggak?" tanya Fiya polos. "Bagus, Mama suka. Makasih ya sayang," jawab Bunga mengusap pipi Safiya. Ada perasaan sedih saat melihat anaknya kembali akrab dengan papanya. Selama enam bulan setelah pertemuan terakhir itu, Safiya tak pernah lagi bertemu dengan papanya. Sudah pasti hal itu karena Vanya si isteri baru yang selalu memengaruhi Angga untuk meninggalkan semua masa lalunya. Lantas sekarang mengapa mereka sangat baik pada Safiya? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Bunga merenung ditengah gelapnya malam. Setiap minggu memang ia libur dari pekerjaannya. layaknya karyawan yang membutuhkan hari libur dalam seminggu bekerja. Kembali ke masalah utama yang kini mengusik pikirannya. Siang tadi Angga begitu semangat merebutkan hak asuh anak mereka. POV Angga "Aku tahu kamu pasti pusing nyari uang. Makanya aku nawarin solusi buat kamu," ujar Angga. "Sampe kapanpun aku nggak akan kasih Safiya buat kamu apalagi buat pelakor itu!" tegas Bunga. "Oke kamu boleh pikirin dulu sekarang, kalau kamu butuh uang kamu bisa minta aku. Ingat, Safiya harus sekolah sebentar lagi." Percakapan siang itu cukup membuat emosi Bunga tak terkendali. Dadanya sesak mengingat ucapan Angga yang seolah perduli pada keadaannya. Terlebih ia berani membawa Vanya ke hadapannya setelah sukses menghancurkan rumah tangga mereka. "Nggak akan aku biarkan kamu rebut juga anakku!" Bunga mengambil beberapa butir obat tidur untuk membantunya terlelap. Kebiasaannya itu terjadi setelah bekerja di tempat hiburan malam. Kecemasan hingga insomnia ia derita hampir enam bulan belakangan. "Mas, kamu yakin nggak sih kalau Bunga mau kasih Fiya tinggal sama kita?" Vanya menyodorkan segelas kopi pada Angga. "Makasih sayang. Aku sih yakin, memangnya mau sampai kapan dia hidup kekurangan begitu? Lagi pula dia juga nggak mungkin minta ke orangtuanya," jawab Angga optimis. "Pokoknya aku bakalan jadi bunda yang sempurna buat Fiya," ucap Vanya bersandar di dada Angga. "Makasih ya sayang. Selain kamu pengertian kamu juga sempurna menjadi isteriku," ucap Angga mengecup kening Vanya.
~~••~~
"Sayurrr! Sayurr ibu ibu Sayurr!" teriakan khas penjual sayur di pagi hari saat Bunga terbangun. Hari ini ia akan menjadi ibu seutuhnya bagi anaknya itu. "Bu! Sayur!" teriak Bunga seraya melambaikan tangannya. Bersamaan dengan itu, beberapa ibu-ibu yang lain pun menyerbu penjual sayur tersebut. "Eh Mbak Bunga tumben belanja pagi-pagi gini. Biasanya masih kerja," celetuk salah satu ibu. "Iya hari ini libur Bu, mau masakin Safiya hari ini," jawab Bunga seraya memilih sayuran. Dua ibu yang berbisik melirik sinis ke arahnya. Ini lah alasan Bunga jarang bergaul atau sekedar membeli bahan makanan ke luar rumah. Gunjingan demi gunjingan selalu ia rasakan tiap dirinya berusaha menjadi wanita normal yang berbelanja ke luar rumah. "Eh iya kemarin lihat papanya Safiya ngajak jalan-jalan Fiya ya Mbak? Aduh saya iri loh lihat kemesraan mereka. Udah kayak keluarga bahagia gitu ya, Mbak Bunga sama isteri barunya mas Angga akur gitu. Adem lihatnya," timpal salah satu ibu. "Bu, ini saya berapa totalnya?" Bunga mengambil satu bungkus sayur sop dan ayam. "Jadi dua lima, Mbak," jawab penjual sayur. Tanpa basa-basi Bunga memberikan uangnya dan meninggalkan ibu-ibu yang masih menggosipkannya. "Eh Bu, jangan gitu kasihan itu mbaknya ngambek, 'kan!" Tegur penjual sayur. "Biarin aja, emang dia itu kan cewek nggak bener. Kerjaannya aja di karokean terus cere sama suaminya juga pasti gara-gara dia nggak bener," timpal ibu lain. Bunga melempar kantong belanjaannya ke atas meja dapur. Belum selesai dengan masalah semalam, kini muncul lagi masalah baru yang membuatnya kesal. Hidup menjadi janda tidak lah mudah. Selain harus berjuang sendiri, Bunga juga harus tahan dari gunjingan orang di sekitarnya. "Mama!" "Eh, kok udah bangun sayang? Mama berisik ya di dapur sampe kamu kebangun?" tanya Bunga. "Fiya pengen bantuin Mama masak aja," ucap Fiya seraya mengucek matanya. "Nggak usah sayang. Mama bisa masak sendiri kok. Kamu nonton tv aja dulu, nanti kalau udah mateng Mama panggil ya," pungkas Bunga. Bunga memotong sayuran di hadapannya. Meski jarang memasak, tapi ia tak lupa cara membuat makanan bergizi bagi anaknya. Belum sampai sepuluh menit Fiya menghilang dari pandangannya, gadis kecil itu setengah berlari menghampirinya. "Kenapa sayang? Kamu udah laper banget ya?" Tanya Bunga. "Fiya lupa mau kasih tahu Mama. Hari ini Fiya ada praktek hapalan di tempat ngaji Ma, semua anak ditemani ibunya. Mama bisa dateng kan sore ini?" tatap Fiya penuh harap. Bunga terdiam sejenak. Terakhir kali ia salat beberapa hari lalu bersama Safiya. Itu pun dengan hafalan yang ia bisa. "Maaa, bisa 'kan?" Fiya mengguncang tubuh Bunga. "Eh, iya iya sayang. Mama akan datang kok." Bunga melempar senyumnya. "Horeee! Pakai kerudung yang aku beliin kemarin ya, Ma." Safiya berlari menuju ruang tengah untuk melanjutkan menonton televisi. Di satu sisi dalam hati Bunga merasa bingung. Apakah ia harus datang atau tidak? Melihat ini adalah momen berharga bagi anaknya. Namun, di sisi lain ia belum siap bergaul dengan lingkungan ibu-ibu yang sudah pasti menggunjingnya lagi.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 22 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (48)
BilaCaca
gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍
gilaaaaaa BAGUSS bangettt udah ketagihan nihh baca novel yang iniii😍😍
03/06/2025
0baguss bgt ka ceritanyaaa
02/06/2025
0keren
01/06/2025
0Lihat Semua