Kkkrriiinngg kkrriiinnggg kkkrriiinnggg “Mmhhh, hhuuuuaahhhh,” Nadin mengucek matanya. “Omaigat, telaaaaatttt,” teriak Nadin. Suasana pagi hari menjelang berangkat kerja, Nadin pasti akan sibuk mencari barang bawaannya. “Nduk sarapan dulu nggak?” tanya Ibu. “Otokeee di mana kaos kaki, duh flashdisk semalem di mana ya aduh,” Nadin panik ke luar masuk kamar. “Makanya malem tuh di siapin biar paginya nggak panik gitu nduk,” ucap ayah Nadin yang tertawa kecil melihat tingkah anak perempuannya. “Kok nggak ada yang bangunin aku sih buk, pak,” ucap Nadin sembari mengenakan sepatunya. “Kamu itu lho udah di bangunin dari jam 6 tadi nggak gerak-gerak malah makin ngorok,” ujar ibu. “Nadin sarapan di kantor aja bu, berangkat dulu ya udah telat banget, pak assalamualaikum,” Nadin mencium tangan orang tuanya. “Waalaikumsallam, hati-hati ya,” ucap ayah dan ibu Nadin. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Nadin pun lulus dengan predikat cumlaude. Ia di terima di salah satu perusahaan bonafit di kotanya. Kebahagiaan Nadin bertambah di mana ayahnya yang selama ini mendekam di penjara pun bisa terbebas karena pencabutan tuntutan dari pihak keluarga Andi. Semenjak kejadian itu, Andi dan keluarganya benar-benar menghilang dari kehidupan Nadin. Bahkan di mana ia tinggal pun Nadin tak pernah mengetahuinya. Hari-hari Nadin sangat menyenangkan saat Stela sahabatnya masih setia menemani Nadin saat suka maupun duka. Namun nasib Stela tak secemerlang Nadin yang dengan mudah menyelesaikan kuliahnya dalam waktu empat tahun. Stela masih tertinggal dan harus mengulangi perkuliahaan hingga tahun depan. Nadin memesan ojek langganannya di ujung gang rumahnya. Pagi itu Nadin sangat terburu-buru di karenakan hari ini akan ada manajer baru di divisinya. Nadin tak mau membuat kesan dirinya sangat tidak disiplin. “Pak ngebut dong kayak biasanya itu loh ngepot ngepot,” omel Nadin pada pak Samsul tukang ojek langganannya. “Oke mbak Nad, kekuatan maksimal nih,” ucap pak Samsul memacu motornya. Meski motor tua pak Samsul tidak bisa mendahului motor sport lain, namun motornya tetap lincah membelah kemacetan kota di pagi hari. Akhirnya kurang lebih lima belas menit tibalah Nadin di depan kantornya dengan aman. "Pak makasih ya," Nadin buru-buru masuk ke dalam kantor. Di depan resepsionis Nadin mendapat pesan dari Sekar untuk menuju ruangan Bram. Bram adalah teman sekantornya yang menduduki jabatan manager di sana. Nadin yang selalu di percaya olehnya selalu memberikan hasil kerja terbaik selama berkerja di sana. Meski begitu, Bram dan Nadin berteman baik hampir tidak ada jarak senioritas di antara mereka. "Lantai 9, aduh moga gak telat banget deh," gumam Nadin yang sedikit panik. "Misi misi," ujar seorang lelaki yang membawa tumpukan kardus di depan badannya. "Aduh mas, buat OB liftnya bukan ini," ujar Nadin yang protes katena kardus-kardus lelaki itu menyenggol dirinya. "Maaf mba, saya buru-butu," ujar lelaki itu yang tak terlihat sama sekali wajahnya akibat tumpukan kardus. Nadin menggeser tubuhnya hingga terpojok sekarang. Saat bersebelahan dengannya, tercium bau parfum yang tak asing di hidungnya. Sempat terpikir di kepala Nadin mengapa seorang OB mengenakan parfum semewah ini. Hingga lift pun terbuka di lantai sembilan. Nadin sedikit berlari menuju ruangan Bram. Terlihat sudah banyak karyawan berkumpul di sana membahas project mereka. "Aduh sorry banget aku telat banget ya, udah mulai sampe mana ini," Nadin meletakkan tas dan laotopnya. "Kamu nggak telat Nad, tapi pak Mustof yang belum dateng," Bram mengecek jamnya. Nadin yang mengira pak Mustof adalah kliennya sedikit berpikir jika dia adalah seorang bule karena namanya yang unik. Tak berselang lama datang lah lelaki yang di maksud. Nadin terkejut saat mengetahui ternyata lelaki yang bersamanya di lift adalah yang di maksud Bram. "What the f*ck, anjir mana gue kira OB tadi,, mampus nih gue karir terancam," gumam Nadin dalam hati. Saat lelaki itu menaruh kardusnya di atas meja meeting terlihatlah siapa sosok lelaki di baliknya. "Aduh maaf sekali saya telat, karena harus bawa sample dulu dari kantor pusat," ujar lelaki itu. Seketika Nadin terbelalak dengan mulutnya yang terbuka lebar. Ia tak percaya orang yang di maksud Bram adalah Mustofa, teman SMA nya dulu yang mengejar-ngejar Nadin. "Perkenalkan beliau pak Mustofa, yang di tugaskan dari pusat untuk memimpin kita di sini, silahkan pak," Bram duduk kembali di kursinya. Bram duduk tepat di samping Nadin yang masih ternganga dan tak berkedip itu. Seketika Bram merapatkan dagu Nadin agar menutup mulutnya. "Giliran cowok ganteng aja mangap sampe segitunya," bisik Bram. "Cubit gue, ini bukan mimpi, kan?" Nadin masih tetap melotot. "Aww, iya beneran ini bukan mimpi," Nadin mengusap tangannya dari cubitan Bram. "Iya selera lu nggak salah kok, tapi apa lu selera dia juga ya," goda Bram. "Selamat pagi semua kenalkan saya Mustofa, di sini saya menggantikan pak Anto selaku senior GM di perusahaan ini, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik selama beberapa bulan ke depan," Mustofa melanhutkan meetingnya. Nadin tak habis pikir bisa bertemu dengan Mustofa kala itu. Ia yakin sekali jika Mustofa pun mengenalinya, hanya saja pekerjaan memaksa mereka untuk profesional dalam bekerja. Meeting pun selesai satu setengah jam kemudian. Nadin bersiap kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya. Belum sampai ia keluar tiba-tiba Mustofa memanggilnya. "Nad, mm nanti makan siang ke food court bareng ya saya tunggu," ujar Mustofa membereskan laptopnya. "Ba..baik pak," jawab Nadin sangat gugup. "Aduh mampus gue, gimana kalo dia bahas kejadian di lift tadi, bisa di pecat," batin Nadin. "Woi, ngalamin aja," Bram mengagetkan Nadin. "Ngalamun woi," Nadin menepuk bahu Bram. "Mikirin apaan sih, kesannya kek banyak utang lu," mereka berjalan menuju lift. "Kayaknya karir gue udah di ujung tanduk ini Bram," jawab Nadin. "Ya elah, lu kan anak kesayangan di kantor ini, mana tega pak Anto mecat lu, eh di ganti pak Mustof deng," Bram memencet tombol lift. "Justru di ganti itu jadi mengancam," Nadin melamun lagi. "Ah sudah enjoy aja menikmati kerjaan, capek ya istirahat, semangat ya kerja lagi, udah yuk masih pagi udah galau aja," Bram merangkul Nadin seraya keluar dari lift. Di lantai lima Nadin dan Bram satu divisi untuk mengerjakan perkerjaan mereka. Meja kerja Nadin yang bersebrangan dengan Bram memudahkannya untuk selalu berkomunikasi dengannya. Tak jarang Bram mencuri pandang ketika sedang sibuk-sibuknya mengerjakan perkerjaan mereka. Pagi itu Nadin tampak tak semangat seperti hari biasanya. Wajahnya lemas tak bertenaga. Bram memperhatikan wajah Nadin sembari sibuk membuat laporan. Mejanya yang tepat berada di sebrang Nadin memudahkan Bram untuk berkomunikasi dengannya. "Sstt Nad, ui Nad," Bram berbisik memanggil Nadin dari sebrang mejanya. "Hmm, jangan mulai deh gue belum kelar ini," jawab Nadin memandangi komputernya. "Ayok makan siang, gue traktir gelato mint kesukaan lu," ujar Bram masih berbisik. "Hah udah makan siang?" Nadin mengecek jam nya dan benar saja jam menunjukkan pukul dua belas siang. Itu artinya ia harus segera menuju food court lantai bawah untuk menemui Mustofa. "Gue di panggil pak Mus nih tadi mau ngobrolin projek katanya di food court, duluan ya," ujar Nadin terburu-buru. "Oke gue nyusul ntar," ucap Bram. Nadin segera menuju ke food court yang terletak di lantai bawah. Ia berharap Mustofa tidak menunggunya terlalu lama. "Profesional Nad, yuk bisa yukk huufftt," Nadin menghela napas panjang. Sesampainya di area food court, Nadin melihat ke segala penjuru untuk memastikan keberadaan Mustofa. Mata nya menangkap seseorang di ujung ruangan. Benar saja Mustofa telah duduk dengan segelas minuman di mejanya. "Ma..maaf pak saya telat ya," ujar Nadin gugup. "Duduk," Mustofa memandang Nadin. "Mampus gue," gumam Nadin dalam hati. "Nad, kok tegang gitu? kamu gak lagi sakit kan?" tanya Mustofa. "Eng..nggak pak," jawab Nadin menunduk. "Hei kita kan temen masa panggil pak sih, udah biasa aja kali kaku amat," Mustofa tersenyum. "Huufftt kirain bapak nggak kenal saya," Nadin merasa lega. "Gila di panggil pak pula, kita seumuran hei, panggil kaya dulu aja, Musmus," ujar Mustofa sedikit menggoda. "Yee itu kan panggilan si Stela, hahaha, ups aduh maaf maaf pak," ujar Nadin. "Pak lagi, gue resign aja dah ke pusat lagi kalo gitu," ucap Mustofa. "Eh ngambekan gitu sih, iya iya Mustof, biar keren," Nadin menyeringai. Suasana pun menjadi cair setelah mereka mengobrol panjang lebar. Hingga Mustofa menanyakan hal pribadi Nadin. "Eh ngomong-ngomong, kabar Gilang gimana? lama banget nggak pernah liat lagi kamu posting di medsos," tanya Mustofa. "Oh nggak tau sih, kita udah lama putus sejak awal kuliah dulu, tapi aku berharap dia selalu baik-baik saja di mana pun dia berada," ujar Nadin. "Loh kan kalian satu kampus bukan?" tanya Mustofa. "Iya sih, cuman semenjak kita putus dia pindah kampus, nggak tau juga ke mana, soalnya nggak pernah ada kabar lagi sejak saat itu," jawab Nadin. "Oh sorry ya, jadi bikin kamu melow gini," Mustofa mengusap jari Nadin. "Sans lah udah lama ini, terus kamu gimana? udah married pasti ya, anak berapa?" tanya Nadin antusias. "Mana ada cewek yang mau deket sama gua, secara hampir dua puluh jam obsesi gue cuman kerja kerja dan kerja," jawab Mustofa. Obrolan itu semakin menarik tatkala Nadin dan Mustofa saling bercerita masa lalu mereka di SMA. Nadin yang terkesima dengan perubahan drastis Mustofa pun sempat membandingkannya saat masih sekolah dulu. Dulu walaupun ia tampan, tetapi tetap terkesan cupu dengan kacamata besarnya. Namun sekarang berbanding terbalik dengan Mustofa yang dahulu ia kenal. Penampilan metropolitannya mampu menyihir mata wanita untuk jatuh cinta seketika. Bersambung...
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Semangat lanjutkannya ya, aku mo baca dulu 😍😍😍
01/05/2022
0mana nii lanjutNnya min 😭😭😭
21/07
0baguss
13/06/2025
0Lihat Semua