"Serupa namun berbeda raga, takdir Tuhan membuat mata yang seharusnya terpejam kini di paksa terbuka." | Meisya - DR. ANDRO | ** Langkah sepatu fantofel hitam yang beradu dengan putihnya marmer rupanya berhasil menciptakan alunan nada yang nyaman didengar. Entah mengapa fantofel dan lantai marmer rasanya terlihat serasi sejak pertama kali bertemu. Berbicara tentang serasi, rasanya tidak adil. Mengapa tidak, rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak berteman dengan yang namanya keadilan. Aku Meisya Nasution, seorang wanita berusia 23 tahun yang beberapa bulan lalu baru saja menyandang status "SARJANA PENDIDIKAN STRATA 1" rasanya sudah muak sekali menganggur. Apakah ini adil? tidak! Aku adalah seorang putri tunggal, pemilik perusahaan Deep Web yang "KATANYA" terkenal dengan kebringasan dan kekayaan yang melimpah. Ah.. sayangnya itu hanya "KATANYA" sebab kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah 1080° berbanding terbalik. Ayahku? bah enggak sekali aku memanggil laki-laki tua itu dengan sebutan Ayah. Namun mau bagaimana lagi, secara biologis ia tetap Ayahku. Namanya Wulung, tapi orang memanggil ia dengan panggilan "Xyn?" Entah aku tidak tau maknanya, aku juga tidak mau repot-repot untuk ambil pusing. Aku tidak akan menceritakan Ayahku disini, jangan berharap. Lalu ibuku? Ah wanita malang itu. Ibuku adalah seorang wanita keturunan Jawa-Bali, bukan orang kaya. Ibuku hanya seorang wanita biasa dari seorang anak nelayan. Entah apa yang terjadi dengan ibuku, beliau dipertemukan dengan Ayah si lelaki yang baru kuketahui keberadaanya 3 tahun yang lalu saat aku kuliah di Jogja. Ayah tidak menolak kehadiranku, namun sebaliknya aku yang menolak keberadaannya. Aku tidak merasa butuh Ayah seperti dia. Aku tidak butuh hartanya, aku tidak butuh apapun yang dia berikan. Ayah meninggalkan ibuku dalam keadaan trauma, namun kini ibuku telah hidup berbahagia bersama dengan keluarga barunya. Sementara aku, aku hidup seorang diri dan mengasingkan diri dikota pendidikan. Kota yang awalnya aku kagumi namun semenjak kehadiran sosok lelaki itu, aku jadi malas. Dia, dokter nyentrik si sok tahu yang kebetulan menangani salah satu muridku yang cedera. "Ahhh.. sial sekali aku! bertemu dengan dokter gila yang lebih cocok menjadi penyanyi punk" Gumamku sesaat setelah tanpa sengaja aku kembali bertemu dengan dokter itu. Mari aku ceritakan doker nyentrik itu. ** Laki-laki berjas putih khas kebanggaan Dokter itu bernama Andromeda, konon kata suster-suster disini dia salah satu dokter muda berusia 28 tahun yang berbakat dan banyak di gandrungi cewek-cewek. Bisa dibilang dokter itu adalah aset berharga rumah sakit ini. Aku menatap ngeri informasi yang kudapat, entah apa yang mereka lihat dari sosok manusia berkacamata dengan wajah ramah dan senyuman tengil yang sudah terlanjur terpatri buruk di benakku. Dokter Andro panggilan ramahnya, namun rasanya enggan sekali memanggil dokter nyentrik itu dengan sebutan dokter. Ahh.. Om cocok kali ya? "Jangan di tatap terus, naksir loh nanti" Kata Titik, teman satu kantorku. Dia wanita berusia 25 tahun seorang guru TK-B yang cukup ceria dan hangat. Dia teman pertamaku di kantor, berkatnya aku jadi tidak terlalu kikuk mengajar. Apa aku sudah memperkenalkan diri jika aku seorang guru TK? aku dan Titik satu kelas. "Ihhh.. enggak lah, naksir sama dokter aneh sok kenal itu? iyuhhh.. " Kataku horor pada Titik, Titik hanya tertawa menanggapi. "Awas aja ya kalau nanti klepek-klepek sama dokter ganteng itu, aku bakalan jadi orang pertama yang bully kamu" Katanya, aku bergidig ngeri. Ya kali naksir sama dokter nyentrik. "Pertemuan awal ku sama dokter itu udah nggak bagus Tik, masa iya naksir? no!! enggak mungkin demi Bintang Deneb, ogah banget" Gumamku, amit-amit jangan sampai, jangan sampai. Otaku seolah terlempar jauh menuju beberapa hari yang lalu. Saat itu, Aroon muridku didik kami yang berusia 4 tahun terjerembab dari atas ayunan. Kepalanya berdarah, saya guru baru yang masih tempramental dengan hal sesensitif darah sontak saja panik. Aku dan kepala sekolah membawa Aroon kerumah sakit terdekat, Aroon ditangani oleh seorang dokter umum yang nyentrik. Dokter itu berpakaian kelewat rapi, sedang mulutnya cerewet sekali. Gayanya sok cool dan terkesan bossy. Sejenak perhatianku tertuju pada segala gerak-gerik dokter itu hingga aku melupakan Aroon yang masih menangis ketakutan. Aroon lalu di tangangi dokter nyentrik itu, Miss Mila bertugas menyelenggarakan administrasi sementara aku bertugas menemani Aroon. Aroon menangis dalam gendonganku, aku berusaha menemukan Aroon. "Tidak apa-apa nak, di tangani dokter dulu ya sayang. Tidak apa-apa" Kata ku berusaha menenangkan Aroon yang semakin menangis dalam pelukankku. Dokter Andro duduk bersedih, bukanya membantu ia justru duduk menonton kami. Aku mendelik kearahnya, aku tahu ini perbuatan tidak sopan tapi ayolah.. tolong! Dokter Andro terkekeh, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri kamu. "Hallo jagoan" Katanya jenaka, "Mau nangis dulu? om tungguin" Katanya sembari mengulurkan pesawat mainan dari dalam sakunya. Mataku tak lepas dari gerak-geriknya. "Jangan diperhatiin terus, nanti naksir" Kata Dokter Nyentrik itu penuh percaya diri, seketika aku tersedak ludahku sendiri. "Kamu harus belajar jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak, kamu kelihatan belum berpengalaman banget" Tambah dokter itu sembari memberi penangan pada Aroon. Aku mendelik, menatapnya penuh horor, entah sejak kapan Aroon telah berhenti menangis. Ia sekarang tengah asyik bermain pesat terbang dalam gendonganku sementara dokter Andro di bantu seorang perawatan lelaki membatu membersihkan luka Aroon. "Bocornya tidak terlalu parah, tapi karena saya bukan dokter spesialis anak saya rekomendasikan untuk anak ini menginap sehari disini. Dokter spesialis anak sudah pulang jam 2 tadi, beliau baru datang lagi besok." Tuturnya masih dengan mata yang terfokus menangangi Aroon. "Baik, nanti saya sampaikan kepada kedua orang tua murid saya" Kataku, sepersekian detik ia menghentikan aktifitasnya menoleh untuk menatapku sekolah dan kembali menangani Aroon. "Baguslah" Gumamnya tak begitu terdengar jelas. "Bagus?" Ulangi tak mengerti. Ia tidak menjawab, matanya justru beralih pada mainan yang sedang Aroon pegang. "Terimakasih banyak dokter" Kataku berusaha bersikap sesopan mungkin, aku juga meminta Aroon untuk melakukan hal yang sama. "Telimakasih dokter" Kata Aroon sedikit cadel, dokter itu tersenyum kepada Aroon. Mengusap kepalanya lembut dan tersenyum. "Sama-sama jagoan" Katanya. Matanya lalu beralih menatapku "Sama-sama... " Katanya, ia lalu jalan mendekatiku sekilah dan berbisik "Calon istri" Gumamnya tak jelas. Entah mengapa kalimat itu terdengar mengganjal ditelingaku, jantungku memburu rasanya menyebalkan sekali bukan. Sialan, mulutnya benar-benar ingin ku ganti dengan mulut buaya. "Pipi kamu merah!! " Asoka, sosok hantu muda bergaun kelabu datang mengejutkanku. "Bisa nggak sih datangnya nggak usah ngagetin" Gumamku kesal. Ingatkan aku untuk tidak menulis banyak kisah tentang hantu satu ini. "Jadi siapa lelaki itu? " "Tidak tahu" Jawabku ketus. "Tampan, tapi jauh lebih tampan Xyn" See.. hantu bucin yang sayangnya dia adalah satu-satunya temanku sejak lahir. Ini tidak adil! *** Bersambung..
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus bangettt sukaaa
03/07
0mantap
10/09
0suka bangettts
09/08
0Lihat Semua