Pov Serena. Ternyata Mas Dirga memilih untuk pulang satu hari setelah kepulangan kami. Ia menambah satu hari cuti kerjanya. Tidak bisa bohong ada rasa kecewa di hatiku terhadap Mas Dirga. Aku kira dia akan langsung pulang menyusul kami. Ternyata aku salah, mungkin dia dan keluarganya lebih bahagia ketika tidak ada aku di sana. Untuk yang kesekian kalinya aku kecewa dengan sikap dan tindakannya. Kemarin malam Mas Dirga sempat mengirim pesan memberitahu bahwa dia akan langsung berangkat ke kantor tanpa mampir ke rumah terlebih dahulu. Aku hanya membacanya saja tanpa berniat membalas pesannya. Aku sudah tidak lagi peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Mas Dirga. "Ma, Papa gak pulang?" tanya Zena ketika kami duduk di meja makan. "Tidak sekarang tapi besok Papa pulangnya," jawabku sembari mengelus kepalanya, "Mungkin Papa masih kangen sama Kakung dan Uti. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan aja ke taman? Nanti kita beli eskrim," ajak ku agar putriku tidak memikirkan papanya. Terlihat wajah Zena berubah sedih, "Kenapa? Sudah kangen Papa?" tanyaku menatap putri kecilku yang hanya menunduk. Zena mengangkat wajahnya lalu menggeleng, "Kenapa sih Ma, Papa gak pernah belain Zena kalau kita di rumah Kung?" tanyanya lalu mengacak-acak makanannya. "Zena, kalau makan tidak boleh seperti itu." Aku menegurnya pelan "Makan yang baik ya, Zena kan anak baik. Cantik lagi," pujiku yang membuat putri semata wayang ku itu langsung tersenyum sambil menatapku malu. "Maaf Ma!" jawabnya dengan ekspresi menyesal. "Iya, tapi gak boleh di ulangi lagi ya!" pesannku mencubit pipinya gemas. "Siap Mama cantik," jawabnya sambil nyengir lalu menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. "Cepat di habiskan makanannya setelah itu kita pergi ke taman kota," ujar ku yang membuat Zena bersorak gembira. Aku menghela nafas sepenuh dada, rasanya sedikit lega. Setidaknya aku bisa mengalihkan perhatian Zena dan tidak perlu menjawab pertanyaannya. Karena aku sendiri juga tidak tahu mengapa Mas Dirga tidak pernah membela kami ketika keluarganya menyakiti perasaan anak dan istrinya. Namun dari semua yang terjadi di hidupku, aku sangat bersyukur memiliki Zena yang sangat penurut dan mudah untuk membuatnya mengerti dengan situasi dan kondisi kami. Meskipun begitu aku tahu jika Zena merasa kecewa terhadap Mas Dirga. Bukan hanya Zena, aku sendiri juga sudah sangat kecewa dan menyerah terhadap laki-laki itu. Dia tidak pernah peduli dengan perasaanku juga sangat cuek terhadap Zena padahal Zena adalah darah dagingnya sendiri. Mungkin sudah waktunya untuk aku mulai menerima kekalahanku, agar bisa berdamai dengan kekecewaanku. 🥀🥀🥀 Sampai jam tujuh malam Mas Dirga belum juga pulang. Dia tidak mengirim pesan atau menelfon. Pesan terakhir yang dia kirim adalah kemarin malam saat memberi tahu jika dia langsung ke kantor setelah dari rumah Ibunya. Aku sengaja tidak masak apa apa hari ini. Aku berencana akan menyerahkan ATM pemberian nya jika dia marah. Malam ini aku sengaja tidur di kamar Zena setelah memastikan rumah terkunci dengan aman aku segera menyusun Zena di kamarnya. Mas Dirga memegang kunci sendiri jadi aku tidak perlu repot untuk membukakan pintu. Seperti yang selalu dia katakan dulu, 'Kamu tidak perlu repot-repot membukakan pintu, aku bawa kunci sendiri.' ujarnya saat itu. Aku juga tidak pernah lagi mengirim pesan untuk menanyakan kapan dia pulang atau mengapa sia terlambat pulang. Itu juga sesuai permintaannya, 'Tidak perlu lebay bertanya kapan aku pulang? Jika sudah waktunya pulang pasti akan pulang' Kalimatnya masih jelas terpatri di ingatanku. Dan sekarang aku melakukan seperti yang ia minta. Sekitar jam 8 malam terdengar suara mobil memasuki teras rumah setelah sebelumnya terdengar pintu gerbang dibuka. Rumah kami tidak terlalu besar. Rumah tipe 38 dengan 2 kamar, terasnya cukup luas untuk taman kecil dan parkir mobil. Bagian belakang ada sisa tanah yang aku buat taman dan tempat menjemur pakaian. Terdengar suara langkah Mas Dirga sepertinya menuju ke dapur. Mungkin untuk mengambil minum. Aku tidak yakin dia akan membuka pintu kamar Zena, untuk melihat kami. Brakkkk.... Dan benar saja terdengar pintu kamar di tutup. Mas Dirga memasuki kamarnya. Aku menghela nafas lalu menutup mataku menyusul Zena yang sudah terlelap dalam dekapan mimpi. 🥀🥀🥀 Paginya, seperti biasa aku menyiapkan sarapan pagi. Aku sama sekali tidak menyentuh sekotak martabak telor yang tergeletak di meja makan. Membukanya pun tidak. Aku yakin itu martabak yang Mas Dirga beli semalam. Tidak seperti biasanya jika Mas Dirga membawa pulang martabak, aku akan menghangatkannya untuk dimakan saat sarapan. Namun kali ini aku sama sekali tidak berniat menyentuhnya, martabaknya tetap pada posisi awal tanpa sedikitpun bergeser. Setelah selesai menyiapkan sarapan aku berjalan masuk ke kami, untuk mengambil pakaian. Ku lirik laki-laki yang yang berstatus suamiku itu, dia sudah bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang sambil memeriksa ponselnya. Ia nampak cuek seperti biasanya. Sama halnya denganku sedikitpun aku tak beeniat untuk menyapanya. Ku langkahkan kakiku langsung ke almari untuk mengambil pakaianku selanjutnya beralih ke meja rias untuk mengambil peralatan make up ku lalu setelahnya aku bergegas keluar, kembali masuk ke kamar Zena. Sekitar 15 menit aku sudah siap dengan celana jeans dan atasan kemeja putih. Sedangkan putri kecilku, ia sudah cantik dengan Seragam batik khas sekolahnya dan tas ransel bergambar princes menempel di punggungnya. Aku menggandeng Zena menuju meja makan. Ku dudukkan Zena di kursi meja makan tepat di sampingku. "Sayang sarapan nasi goreng dan telur ceplok favorit kamu ya," kataku mengangsurkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok ke depan Zena. "Ayo cepat di makan! Biar gak telat," sambungku yang langsung mendapat anggukan dari Zena. Aku juga menyusul memakan sarapanku dengan lahap. karena aku butuh tenaga untuk berjuang, jadi kamu harus makan dengan benar. Hari ini aku akan mulai menata kembali planing hidupku dan Zena. Hal pertama yang akan ku lakukan adalah menemui Mas Gibran untuk meminta pekerjaan di kafe miliknya. Ya aku sudah yakin untuk bekerja kembali. Sampai kami selesai sarapan, aku tidak melihat Mas Dirga keluar dari kamarnya. Bahkan untuk menyapa Zena saja tidak dia lakukan. Mungkin dia sama sekali tidak merindukan putrinya ini. Ah,, aku lupa, dari dulu juga seperti itu. Jika aku tidak memintanya untuk berbicara dengan Zena, maka Mas Dirga tidak akan menyapa Zena dengan inisiatifnya sendiri. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. "Ayo berangkat sekarang," ajak ku sambil menggandeng tangan Zena. "Ma, Papa belum pulang? Yang beli Martabak di meja tadi siapa?" tanya Zena saat kami berjalan melewati ruang tamu. "Sudah. Papa masih tidur, capek." Ku buka pintu rumah, "Itu mobil Papa," tunjukku pada mobil mas Dirga yang terparkir di teras rumah. Aku melepas gandenganku di tangan Zena dan berpesan agar putriku itu berdiam sebentar selagi aku membuka gerbang rumah dan mengeluarkan motor maticku. "Ayo Zena. Kita harus segera berangkat! Nanti telat, dimarahin bu guru," ucapku setelah menyalakan mesin motor. "Siap Mama," sahut Zena dengan ekspresi gema lalu menaiki motor. Aku segera menjalankan motorku dengan kecepatan sedang karena kami tidak lagi di buru waktu. Sepanjang perjalanan aku mengajak Zena bernyanyi supaya dia tidak bertanya lagi tentang Papanya yang tidak menemuinya sejak pulang dari rumah kakung dan utinya. Sejak dulu Mas Dirga memang sangat cuek kepada kami. Setiap pulang ke rumah dia akan sibuk dengan ponsel dan pekerjaannya yang di bawanya pulang. Pekerjaan adalah hal paling penting baginya setelah orang tuanya tentunya. Dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya untukku dan Zena namun berbeda jika untuk orang tuanya, dengan senang hati Mas Dirga akan meninggalkan pekerjaannya.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
cerita nya menarik sekali
24/11/2024
0iya
04/08/2024
0bagus
02/08/2024
0Lihat Semua