Pov Serena. "Tidak usah di masukkan hati." ucapnya santai. Aku menoleh padanya. Aku menatapnya tajam lalu tanpa berkata apapun aku masuk kamar bersama Zena. Dengan entengnya dia mengatakan itu. Apa dia tidak pernah mencintai aku dan putrinya sehingga tidak sedikitpun hatinya merasa sakit saat melihat anaknya sakit hati karena dibanding-bandingkan. Aku juga tidak pernah sekalipun melihatnya sedih setiap kali melihat kami sakit hati. Tanpa terasa air mataku menetes, "Ma, pulang aja yuk," pinta Zena menatapku sedih. Aku memeluknya, 'Maafkan Mama sayang' ucapku dalam hati. ‘Maafkan Mama karena tidak bisa membelamu,’ lanjutku dalam hati. "Iya, kita pulang. Mama beres-beres dulu, Zena makan roti dulu ya!" kataku sambil mengusap kasar air mata di pipiku. Aku mengambil sebungkus roti dari tas yang memang selalu aku siapkan untuk berjaga-jaga jika lapar di perjalanan. "Zena makan dulu. Mama beresin pakaian kamu dulu ya!" Aku memberikan sebungkus roti pada Zena lalu memasukkan pakaianku dan Zena ke dalam tas ransel milik Zena. Sedangkan Pakaian Mas Dirga aku biarkan di dalam tas Ransel miliknya. "Ganti baju dulu ya!" Aku menyuruh Zena setelah dia selesai memakan rotinya. Aku juga segera berganti pakaian. Setelahnya aku keluar mencari Mas Dirga tapi sebelumnya aku menyuruh Zena tetap diam di kamar. "Mas," panggilku pada Mas Dirga yang sedang berkumpul di dapur bersama keluarga tercintanya. Semua lansung menatapku mungkin merasa bingung melihatku sudah berpakaian rapi. Namun aku tidak perduli. "Aku mau pulang sekarang sama Zena," kataku setelah dia sampai di dekat pintu antara ruang tengah dan dapur. Wajahnya merubah kesal, "Kamu apa-apaan sih? Gitu aja sudah ngambek, Gak usah lebay," ucapnya pelan lalu menarik ku masuk ke kamar. "Jangan di besar-besarkan masalah sepele saja," sambungnya saat kami sudah didalam kamar. Hatiku rasanya seperti di remas-remas mendengar perkataan nya. "Zena yang minta pulang. Aku akan bertahan jika Zena tidak sakit hati. Mungkin bagimu itu hanya masalah sepele, tapi bagiku perasaan Zena adalah hal penting yang harus aku jaga," balas ku tidak terima. Mas Dirga terdiam, lalu menoleh pada Zena yang hanya diam sambil menunduk. "Katakan saja Bunda telfon ada saudara jauh yang datang dan ingin bertemu denganku. Jika kamu bingung mau ngasih alasan apa ke orang tua kamu," Aku mengambil tasku lalu mengandeng Zena. "Aku dan Zena akan pulang sendiri. Aku sudah memesan taksi online," pamitku lalu keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur. Semua orang yang ada di dapur menatap ke arah kami. "Loh, mau kemana?" tanya Ibu mertuaku sambil mendekati Zena. "Saya sama Zena pulang duluan Ma. Ada saudara jauh yang datang ingin ketemu Zena," kataku memberi alasan. "Kok mendadak?" tanya Anita dengan wajah sewot tapi sama sekali tak aku hiraukan. Aku menyalami semua orang dan memaksa ingin pulang. Seperti biasa Ibu mertuaku selalu ingin Zena di tinggal di sana. "Zena disini aja dulu ya, biar Mama kamu pulang sendiri," ujar ibu mertuaku pada Zena yang langsung di jawab gelengan oleh Zena. "Adek Raya lo masih kangen," imbuhnya dengan wajah memelas. Ibu mertuaku memang jago sekali akting. Dia bahkan tidak pernah membela Zena setiap kali di salahkan oleh Raya dan Anita bagaimana bisa sekarang dia bersikap seolah sangat sedih? Dia pasti akan mendapatkan paila citra jika dia jadi seorang artis. Mas Dirga hanya diam sembari menatapku tapi sekalipun aku tidak membalas tatapannya. Aku kecewa padanya. Aku langsung menggendong Zena lalu berjalan keluar. Keluarga Mas Dirga kembali berkumpul di dapur, tidak satupun dari mereka yang ikut keluar mengantar kami. "Kita pulang bersama nanti sore. Kamu cancel saja taksi online nya," suruh Mas Dirga mengikutiku berjalan keluar rumah. “Apa kamu tidak bisa bersabar sampai sore?” sambungnya sambil menarik lenganku. Rasanya aku ingi sekali mencakar wajahnya. Bisa-bisanya dia melebarkan matanya ke arahku. Seolah aku yang salah di sini, kurang sabar apa aku selama ini? Memang ini kan yang di inginkan keluarganya. Agar Mas Dirga menyalahkan aku. "Tidak perlu. Terima kasih," jawabku tegas dan singkat. Aku berjalan cepat menuju taksi online yang sudah menunggu di depan rumah. "Jalan Pak," kataku pada sopir setelah aku dan Zena duduk di kursi penumpang. Tidak sekalipun aku menoleh pada Mas Dirga. Kesabaran ku rasanya sudah tidak bersisa lagi. Sudah hampir sepuluh tahun aku mengalaminya. Jika itu tentang aku yang di hina dan di remehkan aku bisa terima. Namun jika sudah melukai perasaan Zena, aku tidak bisa lagi menahan amarah ku. Tidak sekali dua kali anakku di salahkan. Tidak sekali dua kali anakku mengalami bullyan Verbal di depan Mas Dirga, namun tidak sekalipun Mas Dirga membelanya. Arzena Ayu Kinara, dia tidak seperti Raya yang sangat pandai bicara. Zena putriku gadis pendiam yang tidak suka berdebat. Dia lebih sering mengalah jika bertengkar dengan temannya. Bagaimana bisa berhadapan dengan Raya yang sangat pandai bicara dan pintar mencari alasan untuk membela diri. "Ma. Nanti kalau Papa marah bagaimana?" tanya Zena menatapku sendu. "Kenapa Papa harus marah?" Aku merangkul putri cantikku. "Karena kita pulang duluan. Tadi tidak pulang juga gak papa, dari pada nanti Mama di marahin Papa lagi," sahutnya sedih. Aku menghela nafas sepenuh dada. Aku lupa jika putriku sudah hampir 7 tahun. Dia pasti mengerti jika melihat aku dan ayahnya bertengkar. "Mulai sekarang, Zena kalau gak suka boleh bilang gak suka. Kalau suka boleh bilang suka. Tapi, harus ada alasannya, mengerti?" kataku sambil menunduk menatap wajah imut Zena. "Mengerti Ma," jawabnya sambil mengangguk. Aku mencium pipinya gemas, "Kesayangan Mama memang pintar," pujiku sambil tersenyum. "Gak tinggi juga bisa pintar kan Ma?" tanyanya polos. Seketika hatiku seperti tercubit mendengar pertanyaan polos Zena. Ternyata selama ini aku benar-benar tidak bisa melindungi putriku sendiri. Ya Alloh ampuni aku. "Tentu. Tentu saja semua orang bisa pintar kalau mau belajar," jawabku memaksa untuk tersenyum. "Zena itu juga tinggi lo! Teman Zena di sekolah ada kan yang kalah tinggi dari Zena? Itu yang nama Cecil," tambahku mengingatkan. "Oh iya. Aku lebih tinggi dari Cecil ya Ma," ucapnya dengan wajah kembali sumringah. Rasanya begitu lega melihat wajahnya kembali ceria. "Tapi Om Andika sama Tante Anita, selalu bilang aku kalah besar sama Adik Raya. Badanku kurus," adu nya kembali bermuka masam. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang, "Lain kali kalau ada yang bilang Zena kurus, jawabnya gini, tumbuh itu ke atas bukan ke samping." Aku mencoba untuk mengajaknya bercanda agar dia tidak kepikiran lagi dengan perkataan Andika dan Anita. "Ok Ma. Nanti aku jawab gitu ya," jawab Zena mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku ikut tersenyum meskipun hatiku terasa sesak penuh dengan amarah. Aku baru menyadari jika selama ini Zena bukan tak peduli dengan ucapan Anita dan Dika, tapi gadis kecilku ini memendam perasaannya. Hatiku rasanya sakit mengingat semua bulliyan verbal yang mereka lontarkan kepada putriku. "Maaf Bu," ucap sopir taksi online yang aku sewa. "Iya Pak," jawabku memandang pak sopir. "Mohon jangan tersinggung Bu, saya tidak punya niat apa-apa. Saya hanya ingin mengingatkan saja, bahwa bullyan verbal itu bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Itu sangat tidak baik bu, jika terus terjadi si anak akan cenderung minder dan tidak percaya diri. Namun ada juga yang berdampak si anak akan ganti membully anak lain untuk melampiaskan amarah yang selama ini dipendamnya ketika dia mengalami pembullyan." Pak sopir memberi penjelasan tentang dampak pembullyan. Sontak hatiku terasa diremas-remas. Ada rasa khawatir yang mulai menyelimuti hatiku. Aku merasa takut jika apa yang di katakan sopir ini terjadi pada putriku. Aku memaksa tersenyum dan mengucapkan Terima kasih pada sopir di depanku ini. "Iya Pak. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Semoga itu tidak terjadi pada putri saya," ucapku sambil tersenyum memandang pada kaca depan mobil. "Sama-sama Bu," balasnya. "Keponakan saya juga mengalaminya. Di keluarganya dia selalu di bully, di bilang paling jelek, nakal dan susah diatur. Saat dia SMA dia jadi tukang bully, bahkan mengakibatkan temannya meninggal," ceritanya yang membuatku langsung tercengang. Dadaku berdetak kencang karena terkejut mendengar ceritanya, "Yang benar Pak?" tanyaku tidak percaya. "Benar Bu, saat kejadian itu keponakan saya masih umur 16 tahun. Karena pasal perlindungan anak, keponakan saya tidak di penjara. Dia mendapat konseling dari psikolog anak. Dari beberapa kali konseling di ketahui keponakan saya itu memiliki rasa dendam karena sejak kecil selalu mendapatkan bullyan Verbal dari orang sekitar nya." Pak sopir menjelaskan. Aku merangkul Zena menciumi kepalanya. Mungkin ungkapan, 'Orang jahat terlahir dari orang baik yang sering tersakiti.' itu memang benar adanya. Aku tidak ingin apa yang terjadi pada keponakan Pak sopir terjadi pada Zena. Aku tidak bisa lagi hanya berdiam saja, menunggu Mas Dirga berubah. Sepertinya selama ini, aku memang sudah salah karena mengambil keputusan untuk bertahan. Aku berharap Mas Dirga berubah lebih memperhatikan perasaan Zena seperti janjinya dulu. Namun sampai hari ini Mas Dirga tidak pernah berubah, dia sudah dibutakan oleh kasih sayangnya kepada orang tua dan saudaranya sampai mengabaikan perasaanku dan putrinya. Jika sudah seperti ini salahkah aku jika memilih untuk berhenti? Mas Dirga sudah berjanji akan lebih perhatian dan menyayangi Zena namun kenyataan nya aku lagi -lagi dikecewakan dengan janjinya. Aku bisa terima jika aku yang di abaikan tapi Zena adalah darah dagingnya. Zena bukan hanya anakku, tapi dia juga putri kandung dari Dirgantara putra tapi mengapa begitu sulit Zena untuk mendapat perhatian Ayahnya sendiri. 🥀🥀🥀
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
cerita nya menarik sekali
24/11/2024
0iya
04/08/2024
0bagus
02/08/2024
0Lihat Semua