"Katakan saja." Suara Lengkara keluar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Tangannya mengepal di atas pangkuan, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. "Apapun itu, saya harus tahu." Raka mengusap tangannya dengan ibu jari. Usapannya membuat Lengkara menoleh sedikit ke arah lelaki tersebut. Namun pandangan Raka tetap fokus ke Mbah Jati. Mbah Jati menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca, antara kagum dan khawatir. Ia meletakkan gelasnya, tangannya berpindah ke tongkat kayunya, menggenggamnya erat seperti mencari kekuatan. "Perjanjian dengan Batara Kala bukan sekadar kontrak," mulai Mbah Jati pelan. "Ia adalah ikatan darah. Ikatan yang ditulis dengan darah Ki Wirasena sendiri, disegel dengan jiwa anak pertamanya, dan dijaga oleh hukum kosmis yang lebih tua dari manusia." "Hukum kosmis?" Raka mengerutkan dahi. "Maksudnya apa?" "Keseimbangan," jawab Mbah Jati. "Batara Kala adalah penjaga waktu dan kematian. Tugasnya menjaga keseimbangan antara yang hidup dan yang mati, antara yang lahir dan yang harus pergi. Ketika Ki Wirasena meminta kekayaan dan kekuasaan, hal yang seharusnya ia dapatkan dengan kerja keras dan waktu, ia meminta untuk 'melompati' waktu. Dan sebagai gantinya, waktu itu harus dibayar dengan nyawa." Lengkara merasa dadanya sesak. "Jadibtumbal anak sukerta adalah 'pembayaran waktu'?" "Tepat sekali." Mbah Jati mengangguk. "Setiap anak sukerta yang diserahkan membayar waktu yang 'dicuri' oleh Ki Wirasena. Tujuh generasi. Tujuh tumbal. Dan kau—" Ia menatap Lengkara. "Kau adalah tumbal ketujuh. Tumbal terakhir." Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Hanya suara api lampu minyak yang berderak pelan. "Tapi ibu saya tidak menyerahkan saya," kata Lengkara akhirnya. "Berarti perjanjian tidak selesai?" "Tidak." Mbah Jati menggeleng. "Perjanjian masih berjalan. Dan karena ibumu melanggar aturan dengan tidak menyerahkanmu tepat waktu, hutang itu bertambah." Lengkara merasa mual. "Sepuluh anak itu-" "Ya," bisik Mbah Jati, tatapannya sedih. "Sepuluh anak itu adalah 'bunga' dari hutang yang tidak dibayar. Batara Kala tidak bisa dipermainkan. Ketika tumbal yang seharusnya tidak datang, ia akan mengambil pengganti, dan ia selalu mengambil lebih banyak." Raka berdiri tiba-tiba, tangannya mengepal. "Ini tidak adil! Lengkara tidak ada hubungannya dengan perjanjian sialan itu! Kenapa dia yang harus membayar kesalahan leluhurnya yang sudah mati seratus tahun lalu?!" "Karena darah," jawab Mbah Jati tenang. "Darah Wirasena mengalir di tubuhnya. Dan dalam hukum kosmis, darah adalah ikatan yang tidak bisa diputus semudah itu." "Harus ada cara," desak Raka. "Se lalu ada cara—" "Ada," potong Mbah Jati. "Aku sudah bilang, ada cara. Tapi—" "Saya tidak akan menyukainya," Lengkara menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap Mbah Jati langsung. "Katakan saja. Saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikhawatirkan." Mbah Jati menarik napas panjang. Lalu ia berdiri, berjalan ke sudut ruangan di mana ada sebuah peti kayu tua. Ia membukanya dengan kunci kecil yang tergantung di lehernya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah buku. Bukan jurnal biasa, buku ini jauh lebih tua. Sampulnya dari kulit yang sudah menghitam, dengan ukiran-ukiran yang sudah aus. Ketika Mbah Jati membawanya kembali, Lengkara bisa mencium bau apek dan sesuatu yang lebih dalam, bau yang membuatnya ingin mundur. "Ini," kata Mbah Jati, meletakkan buku itu di hadapan Lengkara, "adalah catatan asli perjanjian Ki Wirasena. Ditulis oleh tangannya sendiri, disaksikan oleh tetua desa pada saat itu." Lengkara menatap buku itu dengan campuran takut dan penasaran. Tangannya gemetar saat ia membukanya. Halaman pertama berisi tulisan dengan tinta yang sudah memudar, tulisan Jawa kuno yang sulit dibaca. Tapi di tengah halaman, ada gambar: lingkaran ritual dengan simbol-simbol aneh, dan di tengahnya, bayangan sosok raksasa dengan mahkota tengkorak. Batara Kala. "Di halaman terakhir," kata Mbah Jati, "ada klausul tersembunyi. Klausul yang tidak pernah diberitahukan kepada keturunan Wirasena, sampai terlambat." Lengkara membalik halaman dengan tergesa-gesa, melewati halaman demi halaman berisi ritual dan persyaratan, sampai ia tiba di halaman terakhir. Di sana, dengan tulisan yang lebih kecil, hampir tidak terbaca, ada satu paragraf: "Apabila tumbal ketujuh tidak diserahkan pada waktunya, atau apabila keturunan Wirasena menolak melanjutkan perjanjian, maka perjanjian dapat diputus dengan satu cara: Pengorbanan Sukarela Kesadaran. Seorang keturunan Wirasena yang memiliki darah sukerta harus rela menyerahkan kesadarannya jiwanya untuk selamanya menjadi 'penjaga seal' yang mengurung Batara Kala, mencegahnya memanen lebih banyak nyawa. Ini bukan kematian. Ini adalah keabadian dalam penjara kesadaran sendiri tidak hidup, tidak mati, hanya... ada." Lengkara berhenti bernapas. Raka membaca dari balik bahunya, dan ia mendengar napas Raka tercekat juga. "Jadi." bisik Lengkara. "Saya bisa memutus perjanjian. Tapi saya harus menjadi penjaga? Selamanya?" "Ya," jawab Mbah Jati. "Kau tidak akan mati. Tapi kau juga tidak akan hidup. Kesadaranmu akan terjebak dalam dimensi lain, sendirian, untuk selamanya atau sampai seseorang menemukan cara untuk membebaskanmu. Dan sejauh yang aku tahu, tidak ada yang pernah berhasil." "Ini gila," gumam Raka, tangannya menarik buku itu dari Lengkara, menutupnya keras. "Ini pilihan yang tidak adil! Mati atau menjadi menjadi hantu hidup?!" "Aku tidak bilang ini adil," balas Mbah Jati tenang. "Aku hanya bilang ini adalah satu-satunya cara." Lengkara duduk terdiam. Pikirannya berputar-putar, mencoba memproses informasi yang terlalu berat untuk ditanggung. Mati. Atau hidup tanpa hidup. Dua pilihan yang sama-sama mengerikan. "Ibu saya," kata Lengkara tiba-tiba. "Ibu saya tahu tentang ini, kan? Itu sebabnya dia menyembunyikan saya. Dia mencoba mencari cara lain?" Mbah Jati mengangguk perlahan. "Ratna datang ke desaku dua puluh delapan tahun lalu, tepat setelah kau lahir. Ia membawa buku ini, entah bagaimana ia menemukannya. Ia memohon padaku untuk membantunya mencari cara ketiga, cara untuk memutus perjanjian tanpa harus mengorbankanmu." "Dan?" desak Lengkara. "Apakah ada?" Mbah Jati terdiam lama. Terlalu lama. "Kami mencoba," katanya akhirnya, suaranya berat. "Selama tujuh tahun, kami mencari di setiap manuskrip kuno, setiap ritual, setiap celah dalam perjanjian. Dan kami menemukan satu kemungkinan." Jantung Lengkara berdegup kencang. "Apa?" "Ritual pemindahan tumbal." Mbah Jati menatapnya. "Ritual yang memindahkan 'waktu kematian' dari satu orang ke orang lain. Bukan menghapus hutang, hanya memindahkannya." Lengkara merasa darahnya membeku. "Sepuluh anak itu," bisiknya. "Ya," jawab Mbah Jati, tatapannya penuh rasa bersalah. "Ibumu melakukan ritual itu tepat sebelum ulang tahunmu yang ketujuh, batas waktu penyerahan tumbal. Ia memindahkan 'waktu kematianmu' ke sepuluh anak di desa ini. Anak-anak yang tidak bersalah. Anak-anak yang bahkan tidak tahu mereka menjadi tumbal pengganti." Lengkara tidak bisa bernapas. Ruangan terasa menyempit, udara terlalu berat. "Tidak," bisiknya. "Tidak, ibu tidak mungkin-" "Dia melakukannya," potong Mbah Jati keras. "Karena cara dia mencintaimu terlalu egois. Dia tidak bisa membiarkanmu mati. Jadi dia mengorbankan anak-anak orang lain." Lengkara berdiri tiba-tiba, mundur, seolah ingin lari dari kebenaran yang baru saja ia dengar. Kakinya goyah, dan Raka langsung menangkapnya sebelum ia jatuh. "Hei, hei, pelan-pelan," bisik Raka, menopang tubuh Lengkara. "Bernapas. Tarik napas." Tapi Lengkara tidak bisa. Dadanya terasa sesak, matanya panas, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. "Sepuluh anak mati, karena aku," isaknya. "Karena ibu ingin aku hidup." "Bukan salahmu," kata Raka tegas, memutar tubuh Lengkara agar menghadapnya. "Dengar, Lengkara, ini bukan salahmu. Kau tidak memilih ini. Kau bahkan tidak tahu." "Tapi aku hidup!" teriak Lengkara. "Aku yang hidup, karena mereka mati! Bagaimana saya bisa, bagaimana saya bisa menerima itu?!" Raka tidak punya jawaban. Ia hanya memeluk Lengkara erat, membiarkannya menangis di dadanya, tangis untuk sepuluh anak yang tidak pernah ia kenal, tapi yang nyawanya diambil untuk nyawanya. Mbah Jati duduk diam, menatap mereka dengan tatapan yang penuh penyesalan. "Setelah itu," lanjutnya pelan, "Ratna pergi dari desa ini. Ia membawamu jauh, mengubah namanya, memutus semua kontak. Ia tahu desa ini tidak akan pernah memaafkannya. Dan ia tahu suatu hari, kau akan kembali. Karena darah selalu memanggil darah." Lengkara mengangkat kepalanya dari dada Raka, matanya merah dan bengkak. "Di mana ibu saya sekarang?" tanyanya serak. Mbah Jati menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu. Kontak terakhir kami sepuluh tahun lalu, ketika ia mengirim surat, mengatakan ada seseorang yang akan 'mengawasi' kau dari jauh." Ia menatap Raka. "Aku rasa orang itu adalah kau." Raka mengangguk, tidak menyangkal. "Tapi sejak saat itu," lanjut Mbah Jati, "tidak ada kabar darinya. Sampai tiga bulan lalu." Lengkara menegang. "Tiga bulan lalu? Apa yang terjadi?" "Aku menerima surat," kata Mbah Jati. "Surat dari Ratna. Isinya hanya satu kalimat: 'Waktu hampir habis. Jagalah Lengkara jika ia datang.'" Keheningan. "Itu saja?" tanya Lengkara. "Tidak ada alamat? Tidak ada petunjuk di mana dia?" "Tidak ada." Mbah Jati berdiri, berjalan ke jendela, menatap kegelapan di luar. "Tapi aku tahu satu tempat yang mungkin memiliki petunjuk dimana ia bersembunyi." "Di mana?" Mbah Jati berbalik, menatap Lengkara dengan tatapan serius. "Rumah leluhur Wirasena," katanya. "Rumah yang ada di foto yang kau bawa. Rumah di mana perjanjian pertama kali dibuat, dan rumah di mana tumbal-tumbal sebelumnya diserahkan." Lengkara mengingat foto itu, rumah Joglo besar dengan kayu yang menghitam. "Di mana rumah itu?" tanyanya. "Di ujung desa, di tepi hutan." Mbah Jati menatapnya. "Tapi aku peringatkan, rumah itu tidak kosong. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sudah menjaga rumah itu selama puluhan tahun." "Apa maksud Anda?" Mbah Jati tidak langsung menjawab. Ia kembali ke peti kayunya, mengeluarkan sesuatu lagi, sebuah foto hitam-putih. Ia memberikannya pada Lengkara. Di foto itu, ada seorang gadis muda, mungkin berusia lima atau enam tahun, berdiri di depan rumah Joglo yang sama. Gadis itu tersenyum, tapi tatapannya kosong. "Siapa ini?" tanya Lengkara. "Ayunda Wirasena," jawab Mbah Jati pelan. "Kakakmu." Lengkara merasa dunia berhenti berputar. "Kakak saya?" "Ya." Mbah Jati mengangguk. "Ia lahir dua tahun sebelummu. Dan ia adalah tumbal keenam, tumbal sebelum dirimu." "Tapi-tapi di jurnal ibu tidak ada-" "Ratna tidak pernah menulis tentangnya," potong Mbah Jati. "Karena terlalu menyakitkan. Ayunda diserahkan saat usia lima tahun, tepat waktu seperti yang ditentukan perjanjian. Namun," Ia terdiam. "Ada yang salah." "Salah bagaimana?" "Batara Kala menolak tumbalnya." Keheningan mencekam. "Kenapa?" tanya Raka. "Kenapa dia menolak?" "Karena Ayunda bukan anak sukerta," jelas Mbah Jati. "Ia lahir di hari biasa, bukan hari naas. Entah bagaimana, Ratna berhasil 'menipu' perjanjian dengan melahirkan anak pertama di hari yang bukan sukerta, mungkin dengan mengubah tanggal kelahiran, atau dengan ritual tertentu. Tapi Batara Kala tidak bisa dibodohi. Ia menolak Ayunda, dan sebagai hukuman, ia menjebak jiwa Ayunda di antara hidup dan mati." Lengkara menatap foto gadis kecil itu, gadis yang seharusnya menjadi kakaknya. "Ayunda masih ada?" tanyanya pelan. "Jiwanya, ya." Mbah Jati mengangguk. "Ia menjadi penunggu rumah leluhur Wirasena. Tidak hidup, tidak mati, hanya terjebak di sana, menunggu tumbal sukerta yang sesungguhnya. Menunggumu." Lengkara merasa seluruh tubuhnya dingin. Ia punya kakak. Kakak yang dijadikan tumbal. Kakak yang sekarang menjadi hantu, terjebak di rumah tua, menunggunya. "Saya harus ke sana," kata Lengkara tiba-tiba. "Saya harus ke rumah itu. Sekarang." "TIDAK!" Raka dan Mbah Jati berkata bersamaan. "Sebentar lagi malam datang," kata Mbah Jati keras. "Rumah itu berbahaya di malam hari. Tunggulah sampai pagi—" "Tidak ada waktu!" Lengkara menggeleng. "Petunjuk tentang ibu saya mungkin di sana. Dan kakak saya, " Suaranya tercekat. "Kakak yang tidak pernah saya tahu ada. Saya harus bertemu mereka." Raka memegang bahunya. "Lengkara, kumohon, dengarkan-" "Tidak, Raka." Lengkara menatapnya. "Saya sudah kehilangan dua puluh delapan tahun hidup saya tanpa tahu kebenaran. Saya tidak akan kehilangan satu malam lagi." Ia melepaskan diri dari Raka, mengambil tasnya. "Tolong tunjukkan jalan ke rumah itu," katanya pada Mbah Jati. Mbah Jati menatapnya lama, menilai, mempertimbangkan. Lalu ia menghela napas panjang. "Kau keras kepala seperti ibumu," gumamnya. Ia mengambil tongkatnya. "Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai pintu gerbang rumah itu. Tapi aku tidak akan masuk. Dan aku tidak bisa menjamin apa yang akan kau temukan di dalam." "Itu risiko yang harus saya ambil." Mbah Jati mengangguk. Ia menatap Raka. "Dan kau? Kau ikut?" Raka bahkan tidak perlu berpikir. "Tentu saja aku ikut," jawabnya, berdiri di samping Lengkara. "Aku tidak akan membiarkan dia pergi sendirian." Lengkara menatapnya, dan untuk pertama kali sejak pengakuan Raka kemarin, ia merasa bersalah. Lelaki itu tidak pernah membiarkannya melakukan hal berat sendiri, walaupun Lengkara bersikap dingin padanya. "Kalau begitu," kata Mbah Jati, berjalan ke pintu, "Apapun yang terjadi, apapun yang kalian lihat atau dengar, jangan berhenti. Jangan menoleh. Dan jangan, dalam keadaan apapun, menyebut nama Batara Kala dengan keras." Lengkara dan Raka saling menoleh. Lengkra meyakinkan dirinya sendiri dan mengangguk ke arah tetua itu. Mbah Jati membuka pintu, mengarahkan mereka untuk keluar. "Pergi ke arah balai desa. Dari sana pergi ke arah jalan yang terlihat paling tidak terurus. Ikuti saja sampai ujung Karangjati. Rumah itu akan memunculkan diri sendiri nanti." "Mbah tidak ikut?" Raka menahan pintu yang hampir ditutup. "10 tahun saya habiskan dengan mengira akhirnya bebas dari masalah Wirasena, ternyata tidak." Mbah Jati terlihat sedih, "Ini urusan kalian. Saya tetap akan membantu. Namun saya tidak akan memijak di rumah itu lagi." Mbah Jati menutup pintu dengan paksa.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
18d
0banus
20/03
0badus
17/03
0Lihat Semua