logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5 Desa Karangjati

Di dalam mobil mereka berdiam. Ketenangan yang nyaman dengan sedikit canggung. Lengkara tau kalau Raka akan bersikap profesional demi dirinya. Namun dia tidak yakin dengan dirinya sendiri. 
Lengkara menghela napas, dia mendorong semua pikirannya ke belakang kepala dan memilih untuk memikirkan apa yang akan dilakukan ketika sampai disana.
***
Karangjati sangat sepi, tidak seperti yang ada di pikirannya. Mobil rental mereka berjalan menelusuri jalan jalan desa. Mereka belum melihat satu orangpun. 
"Bukankah menurutmu aneh kalau kita belum melihat siapapun lewat?" Raka akhirnya menyuarakan pikirannya.
Lengkara mengangguk, "Sepertinya mereka tahu kalau ada orang asing datang."
***
Setelah 10 menit berputar, mereka akhirnya memutuskan untuk turun dan mengetuk pintu rumah warga. 
 Mereka mendekati salah satu rumah yang lampunya menyala. Raka mengetuk pintu tiga kali, sopan.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras.
Kali ini pintu terbuka sedikit, hanya celah kecil, dan sepasang mata tua menatap mereka dengan curiga.
"Maaf, Bu," kata Raka sopan. "Kami mencari rumah keluarga Wirasena. Apakah Ibu tahu di mana—"
BLAM!
Pintu ditutup keras. Lengkara dan Raka terdiam, bingung.
"Apa yang—"
Suara dari dalam rumah terdengarsamar, tapi jelas. Suara wanita tua berbisik ketakutan:
"Wirasena... mereka bilang Wirasena... Ya Allah, jangan bawa mereka ke sini lagi..."
Lengkara dan Raka saling berpandangan.
"Coba rumah lain," kata Lengkara, meski ia merasa tidak yakin.
Mereka mencoba tiga rumah lagi. Hasilnya sama, pintu ditutup, orang-orang menolak bicara, bahkan ada yang terlihat ketakutan begitu mendengar nama Wirasena.
"Ini tidak masuk akal," gumam Raka frustasi. "Kenapa mereka semua takut dengan nama keluargamu?"
Sebelum Lengkara bisa menjawab, suara tua dan dalam terdengar dari belakang mereka.
"Karena nama itu membawa kutukan."
Mereka berdua berbalik dengan cepat.
Seorang pria tua berdiri di depan mobil, entah dari mana ia datang. Ia mengenakan sarung dan baju koko putih, dengan tongkat kayu di tangan. Rambutnya putih seluruhnya, tapi pandangannya  tajam, mata yang sudah melihat terlalu banyak.
"Kalian," kata pria itu, menatap Lengkara dengan tatapan menusuk. "Kamu keturunan Wirasena."
Bukan pertanyaan. Pernyataan. Raka maju selangkah di depan Lengkara. Bersiap untuk melindunginya. 
Lengkara menelan ludah. "Ya. Saya Lengkara Wirasena. Anda... siapa?"
Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan lebih dekat, setiap langkahnya pelan, berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Ketika ia sudah cukup dekat, ia berhenti, menatap wajah Lengkara dengan seksama. Lalu matanya membesar sedikit—terkejut.
"Matamu," bisiknya. "Mata Wirasena. Mata Ki Wirasena sendiri." Ia mundur selangkah. "Kau... kau anak sukerta itu. Anak yang seharusnya sudah dibawa dua puluh delapan tahun lalu."
Jantung Lengkara berdegup kencang. "Anda tahu tentang saya?"
"Semua orang di desa ini tahu tentangmu." Pria tua itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara takut, kasihan, dan sedikit amarah, "Kau adalah alasan kenapa sepuluh anak di desa ini mati tahun itu. Tahun kau seharusnya diserahkan."
Lengkara merasa kakinya lemas. "Apa... apa maksud Anda?" 
"Ibumu," kata pria itu, suaranya keras sekarang. "Ratna Wirasena. Ia melanggar perjanjian. Ia tidak menyerahkanmu saat waktunya tiba. Jadi sosok itu mengambil ganti. Sepuluh anak dari desa ini, semua mati dalam satu minggu. Anak-anak tak bersalah yang tidak ada hubungannya dengan perjanjian terkutukmu!"
Raka langsung melangkah maju, menutupi Lengkara sepenuhnya. "Hei, tunggu, ini bukan salah Lengkara. Ia tidak tahu apa-apa tentang-"
"Tidak tahu?" Pria tua itu tertawa pahit, tanpa humor. "Tentu saja ia tidak tahu. Karena ibunya menyembunyikannya. Membawanya jauh, membiarkan desa ini menanggung akibatnya!"
"Pak," kata Lengkara, suaranya gemetar tapi ia memaksa diri tetap tegak. "Saya, saya tidak tahu tentang itu. Saya datang ke sini untuk mencari ibu saya. Tolong bantu saya."
Pria tua itu menatapnya lama. Lalu ia menghela napas panjang, seolah semua kemarahan tadi keluar bersama napas itu.
"Namaku Jatmiko," katanya akhirnya. "Orang-orang memanggilku Mbah Jati. Aku tetua desa inidan penjaga terakhir dari perjanjian terkutuk yang dibuat leluhurmu seratus tahun lalu."
"Perjanjian dengan Batara Kala," bisik Lengkara.
Mbah Jati mengangguk. "Kau sudah tahu, kalau begitu. Bagus. Itu menghemat waktu." Ia menatap sekeliling, ke rumah-rumah yang pintunya tertutup rapat, ke kegelapan yang seolah mendengarkan. "Tidak aman bicara di sini. Ikut aku."
"Ke mana?" tanya Raka, masih waspada.
"Ke rumahku. Kalau kalian mau tahu kebenaran, kalian harus mendengar cerita dari awal." Mbah Jati berbalik, mulai berjalan. "Tapi aku peringatkan, setelah kalian tahu semuanya, kalian mungkin menyesal datang ke sini."
Lengkara dan Raka saling berpandangan. Lalu Lengkara melangkah maju, mengikuti Mbah Jati. Raka mengikuti tepat di belakangnya selalu waspada, selalu siap.
***
Rumah Mbah Jati adalah rumah kecil di ujung desa, lebih terawat daripada rumah lainnya, dengan taman kecil di depan yang ditumbuhi bunga kamboja. Aroma dupa tipis menyambut mereka begitu masuk.
Mbah Jati menyalakan lampu minyak, tidak ada listrik di rumahnya, dan mempersilakan mereka duduk di ruang tamu yang sederhana. Lantai dari kayu tua yang berderit, dinding penuh dengan foto-foto hitam-putih dan wayang kulit yang tergantung.
"Duduk," kata Mbah Jati, sambil menyiapkan teh. "Ini akan menjadi malam yang panjang."
Lengkara dan Raka duduk di tikar, saling berdekatan, tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk merasa kehadiran satu sama lain.
Mbah Jati duduk di hadapan mereka, menuang teh ke gelas kecil. Tangannya stabil meskipun usianya sudah tua.
"Sebelum aku cerita," katanya, menatap Lengkara, "aku mau tahu dulu, sejauh mana kau mengerti tentang kutukan keluargamu?"
Lengkara menarik napas. "Saya baca jurnal ibu saya. Tentang perjanjian yang dibuat Ki Wirasena dengan Batara Kala. Tentang tumbal anak sukerta."
Mbah Jati mengangguk perlahan. "Bagus. Berarti aku tidak perlu mulai dari nol." Ia menyeruput tehnya, lalu menatap Lengkara dengan tatapan yang menembus.
"Tapi yang tidak ditulis di jurnal ibumu adalah ini: kau bukan hanya anak sukerta biasa, Lengkara. Kau adalah anak sukerta terakhir. Generasi ketujuh dari perjanjian itu."
Lengkara mengerutkan dahi. "Terakhir? Maksudnya?"
"Perjanjian Ki Wirasena dibuat untuk tujuh generasi," jelas Mbah Jati. "Setelah tujuh generasi, perjanjian berakhir dan semua hutang harus dilunasi. Kau adalah generasi ketujuh, Lengkara. Kau adalah tumbal terakhir yang harus diserahkan untuk menutup perjanjian itu."
Keheningan mencekam.
Raka menggenggam tangan Lengkara, kali ini Lengkara tidak menolak.
"Tapi kalau perjanjian berakhir," kata Lengkara perlahan, "berarti... berarti keluarga saya bebas setelah ini, kan?"
Mbah Jati menatapnya dengan tatapan sedih.
"Bebas," ulangnya. "Ya, keluargamu bebas. Kalau kau diserahkan. Kalau kau mati sebelum usia dua puluh sembilan tahun, usia di mana perjanjian berakhir."
Lengkara merasa darahnya membeku.
"Dua puluh sembilan tahun?" bisiknya.
"Ya." Mbah Jati mengangguk. "Kau lahir 28 tahun lalu. Artinya kau punya waktu satu tahun lagi. Satu tahun sebelum ulang tahunmu yang kedua puluh sembilan."
Raka menggelengkan kepala. "Tidak. Tidak, ini gila—"
"Ini bukan gila," potong Mbah Jati keras. "Ini takdir. Takdir yang sudah ditetapkan seratus tahun lalu oleh leluhurmu sendiri, Lengkara."
Lengkara tidak bisa bernapas. Ia merasakan ruangan berputar, suara Mbah Jati terdengar jauh.
Satu tahun. Ia hanya punya waktu satu tahun lagi untuk hidup. Kecuali.
"Ada cara lain, kan?" tanyanya putus asa. "Cara untuk memutus perjanjian tanpa harus, tanpa harus mati?"
Mbah Jati terdiam lama. Terlalu lama. Keheningan berarti ucapannya benar, ada cara lain.
Tetua itu akhirnya menjawab dengan suara yang sangat pelan, 
"Mungkin ada. Tapi kamu tidak akan menyukainya."

Komentar Buku (16)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    20d

      0
  • avatar
    Milea Fransisca Animoto Hatori

    banus

    20/03

      0
  • avatar
    AlifAmirul

    badus

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru