logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4 Pelukan

Perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta memakan waktu sepuluh jam.
Sepuluh jam di dalam bus yang pengap, dengan AC yang lebih sering mati daripada hidup, dan jalan tol yang sesekali macet. Namun bagi Lengkara, perjalanan itu terasa jauh lebih lama karena ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang menanti di ujung perjalanan ini.
Raka duduk di sampingnya, sesekali tertidur dengan kepala yang hampir jatuh ke bahu Lengkara tapi setiap kali hampir menyentuh, ia terbangun dan meluruskan posisinya lagi. Seolah ia sadar bahwa Lengkara masih marah, masih terluka, dan sentuhan sekecil apapun terasa tidak pantas sekarang.
Lengkara menghargai itu. Setidaknya Raka masih punya kesadaran untuk memberi jarak.
Di tangannya, ia memegang jurnal ibunya. Sepanjang perjalanan, ia membaca halaman demi halaman meski setiap kata yang ia baca membuat dadanya semakin sesak.
"Lengkara lahir pada Sabtu Pahing, pukul 03.47 pagi. Tepat di waktu naas. Waktu di mana batas antara dunia manusia dan dunia lain paling tipis.
Bidan yang menolong persalinanku ketakutan. Ia bilang bayiku tidak menangis saat lahir, hanya diam, menatap dengan mata terbuka lebar, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Aku tidak peduli. Aku memeluk Lengkara, mengecup dahinya, dan berbisik: 'Kau akan hidup. Ibu berjanji.'
Tapi janji itu ternyata jauh lebih berat dari yang kukira."
Lengkara menutup jurnal, menatap keluar jendela. Langit sudah mulai gelap, senja mewarnai cakrawala dengan gradasi jingga dan ungu. Mereka sudah melewati kota-kota besar, sekarang memasuki daerah pedesaan dengan sawah membentang luas di kanan-kiri jalan.
Indah. Damai.
Tapi Lengkara tidak merasakan kedamaian itu. Ia merasa seperti sedang menuju ke arah sesuatu yang gelap, sesuatu yang sudah menunggunya sejak lama.
"Kita hampir sampai," kata Raka, suaranya serak—baru bangun. Ia melirik Lengkara. "Kau baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu," jawab Lengkara jujur. "Tanya lagi nanti kalau kita sudah sampai."
Raka tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu menatap keluar jendela juga, bahu mereka hampir bersentuhan.
***
Bus berhenti di Terminal Giwangan, Yogyakarta, saat langit sudah sepenuhnya gelap. Mereka turun dengan tas punggung, kaki kaku setelah duduk berjam-jam.
"Sekarang bagaimana?" tanya Raka sambil meregangkan punggung. "Kita cari penginapan dulu atau langsung ke Karangjati?"
Lengkara memeriksa ponselnya, sudah hampir pukul delapan malam. "Seberapa jauh jarak desa itu dari sini?"
Raka sudah menyiapkan jawaban, tentu saja ia sudah riset dari Jakarta. "Sekitar dua jam dengan mobil. Tapi transportasi umum ke sana jarang. Kita harus sewa mobil atau ojek."
"Sewa mobil saja. Kita berangkat sekarang."
"Lengkara, sekarang sudah malam—"
"Aku tahu jam berapa sekarang." Lengkara menatapnya. "Dan aku tidak mau menunggu sampai besok. Semakin lama kita tunda, semakin besar kemungkinan aku akan mengurungkan niat."
Jawabannya tidak sepenuhnya benar. Tentu dia akan semakin takut jika menunda, tapi hanya menunda hingga besok pagi tidak akan berefek begitu besar.
Hal yang membuatnya menolak adalah, dia sama sekali tidak bisa membayangkan akan bermalam bersama Raka, walaupun dengan kamar terpisah.
Raka menatapnya lama, lalu menghela napas. "Baiklah. Ayo cari rental."
***
Masalahnya memilih untuk memunculkan diri, tidak ada rental mobil yang buka.
Mereka sudah mencoba empat tempat rental di sekitar terminal. Tiga sudah tutup untuk hari itu, satu masih buka tapi semua mobilnya sudah disewa.
"Maaf ya, Mas, Mbak," kata pemilik rental keempat, seorang bapak-bapak dengan kaos bertuliskan nama rental-nya. "Lagi ramai minggu ini, ada acara pernikahan besar di Bantul. Mobil habis semua."
"Tidak ada yang tersisa? Apapun?" desak Raka.
Bapak itu menggeleng. "Besok pagi baru ada yang balik. Kalau mau, bisa booking sekarang, besok jam 8 pagi sudah bisa berangkat."
Lengkara merasa frustrasi menumpuk di dadanya. Ia ingin protes, ingin memaksa, tapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa-apa.
"Baiklah," katanya akhirnya, menghela napas panjang. "Booking untuk besok pagi."
Setelah mengurus administrasi dan membayar DP, mereka keluar dari rental dengan langkah berat.
"Jadi," Raka melirik Lengkara. "Kita cari penginapan?"
Lengkara mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat lagi.
***
Mencari penginapan ternyata lebih sulit dari yang mereka kira.
Hotel pertama yang mereka datangi penuh.
Hotel kedua penuh juga.
Guesthouse ketiga penuh.
"Acara pernikahan sialan itu sepertinya mengundang satu kota," gumam Raka frustasi setelah penolakan kelima.
Lengkara tidak menjawab. Ia hanya berjalan di trotoar dengan langkah gontai, tas punggung terasa semakin berat di bahunya. Kakinya sakit, kepalanya berdenyut, dan emosinya sudah hampir di ujung.
"Hei." Raka tiba-tiba berhenti, menunjuk papan kecil di seberang jalan. "Itu ada losmen. Sepertinya kecil, seharusnya masih ada kamar."
Mereka menyeberang dengan cepat.
Losmen itu memang kecil, bangunan dua lantai dengan cat hijau yang mengelupas dan papan nama "Losmen Melati" yang sudah pudar. Tapi lampu di lobi menyala, dan ada seorang ibu-ibu duduk di meja resepsionis sambil menonton TV.
"Permisi, Bu," sapa Raka sopan. "Masih ada kamar kosong?"
Ibu-ibsekitar 50-an tahun dengan jilbab hijau mendongak dari TV-nya. Ia menatap mereka sejenak, lalu tersenyum.
"Oh, ada. Kebetulan masih ada satu kamar yang belum kesewa."
Lengkara merasa lega menghela napas. "Kami ambil, Bu."
"Tapi hanya tersisa kasur—"
"Apapun, Bu," potong Lengkara cepat. "Yang penting ada."
Ibu-ibu itu mengangguk, membuka buku tamu. "Oke, berarti kamar 205. Itu kamar double bed ya, soalnya twin bed sudah penuh semua. Tidak apa-apa kan?"
Lengkara dan Raka terdiam sejenak, baru menyadari arti dari "double bed."
Satu kamar. Satu tempat tidur.
"Eh..." Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bu, maaf, tidak ada kamar lain? Yang twin bed atau yang—"
"Tidak ada, Mas." Ibu-ibu itu menggeleng. "Ini satu-satunya. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa, saya lepas saja—"
"Kami ambil," kata Lengkara cepat, sebelum Raka bisa protes lagi. Ia menatap Raka. "Tidak masalah. Kita sudah dewasa."
Raka menatapnya, seperti ingin memastikan Lengkara benar-benar tidak apa dengan ini. Lengkara mengangguk singkat.
"Baiklah," kata Raka akhirnya, berbalik ke ibu-ibu itu. "Kami ambil, Bu."
***
Kamar 205 ada di lantai dua, di ujung koridor yang sempit. Ketika ibu-ibu itu membuka pintu dan menyerahkan kunci, Lengkara langsung menilai kondisi kamarnya.
Kecil. Sangat kecil.
Ada satu tempat tidur double bed di tengah, sprei putih dengan bunga-bunga hijau yang sudah pudar. Satu lemari kayu tua di sudut. Satu jendela kecil dengan tirai lusuh. Kamar mandi di dalam, terima kasih Tuhan untuk itu setidaknya.
"Ini handuknya ya, Mas, Mbak," kata ibu-ibu itu sambil meletakkan dua handuk di atas tempat tidur. "Kalau perlu apa-apa, langsung hubungi resepsionis saja. Selamat istirahat."
Ia keluar, menutup pintu.
Lengkara dan Raka berdiri canggung di tengah kamar, masing-masing dengan tas punggung masih di bahu.
"Jadi..." Raka memecah keheningan. "Aku bisa tidur di lantai kalau kau—"
"Tidak perlu," potong Lengkara, melepas tasnya dan meletakkannya di sudut. "Tempat tidurnya cukup besar. Kita bisa berbagi. Lagipula kita sudah sering tidur di sofa yang sama saat nonton film."
"Itu beda," gumam Raka. "Saat itu kita tidak sedang... seperti ini."
Lengkara tahu apa yang Raka maksud. Mereka tidak sedang dalam situasi "sahabat biasa" lagi. Sudah terlalu banyak yang terungkap, kebohongan, pengakuan cinta, luka yang belum sembuh.
Tapi Lengkara terlalu lelah untuk memikirkan itu sekarang.
"Aku mandi duluan," katanya, mengambil handuk dan pakaian ganti dari tas. "Kau tunggu di sini."
Ia masuk ke kamar mandi sebelum Raka bisa menjawab.
***
Air hangat shower membantu menenangkan otot-ototnya yang tegang. Lengkara berdiri di bawah pancuran, menutup mata, membiarkan air mengalir di rambutnya.
Pikirannya melayang ke semua yang terjadi dalam dua hari terakhir.
Surat dari ibunya.
Tiga pria misterius.
Jurnal dengan perjanjian terkutuk.
Dan Raka, Raka yang ternyata dibayar untuk mengawasinya, tapi juga mengaku mencintainya.
Lengkara tidak tahu harus merasa apa. Marah, ya tentu, tapi juga bingung. Karena bagian darinya percaya pada pengakuan Raka. Percaya bahwa perasaannya tulus, meski awalnya dimulai dengan kebohongan.
Tapi apakah itu cukup untuk memaafkan?
Ia tidak tahu.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan kaos oversize dan celana pendek, pakaian tidurnya yang paling nyaman. Ia mengeringkan rambut dengan handuk sambil keluar dari kamar mandi.
Raka sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya. Begitu melihat Lengkara keluar, ia langsung berdiri.
"Giliranku," katanya, mengambil handuk dan pakaian. Tapi sebelum masuk kamar mandi, ia berhenti, menatap Lengkara. "Kamu baik-baik saja?"
Lengkara mengangguk. "Aku baik."
Raka tidak terlihat yakin, tapi ia tidak bertanya lagi. Ia masuk kamar mandi, menutup pintu perlahan.
Lengkara duduk di tepi tempat tidur, menatap keluar jendela. Dari sini ia bisa melihat jalanan Yogyakarta yang masih ramai meski sudah malam, motor berlalu-lalang, warung makan masih buka, kehidupan normal yang terasa sangat jauh dari dunianya sekarang.
Ia mengeluarkan jurnal ibunya dari tas, membuka halaman di mana ia berhenti tadi.
"Hari ini Lengkara berusia tiga tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, meski kadang aku melihat bayangan di matanya, bayangan yang tidak seharusnya ada pada anak seusia itu.
Aku tahu waktuku semakin sedikit. Lima tahun lagi, perjanjian akan menuntut bayaran. Lima tahun lagi, aku harus menyerahkan Lengkara, atau menemukan cara lain.
Aku tidak akan menyerahkannya. Apapun harganya.
Lengkara menutup jurnal saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Raka keluar dengan kaos hitam dan celana training, rambutnya masih basah, wajahnya terlihat lebih segar.
Ia duduk di sisi lain tempat tidur, menjaga jarak.
"Kau sudah tidur atau masih mau baca?" tanya Raka.
"Masih mau baca sebentar." Lengkara menunjukkan jurnal.
Raka mengangguk. "Kalau gitu aku matikan lampu utama, nyalakan lampu baca aja ya?"
"Oke."
Raka mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu baca kecil di samping tempat tidur. Cahaya redup itu membuat kamar terasa lebih intim—lebih kecil.
Lengkara kembali membuka jurnal, tapi ia merasakan Raka menatapnya dari sudut mata.
"Ada apa?" tanyanya tanpa mendongak.
"Tidak." Raka cepat mengalihkan pandangan. "Hanya... memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik, Raka. Berhenti khawatir."
"Aku tidak bisa berhenti khawatir." Suara Raka pelan. "Itu masalahnya."
Lengkara akhirnya mendongak, menatap Raka. Mata mereka bertemu—dan di mata Raka, ia melihat kekhawatiran yang tulus, ketakutan yang tidak tersembunyi.
"Kenapa?" tanya Lengkara pelan. "Kenapa kau tidak bisa berhenti khawatir?"
Raka terdiam lama. Tangannya mengepal di atas selimut.
"Karena aku sudah kehilangan terlalu banyak orang yang aku sayangi," jawabnya akhirnya. "Orang tuaku. Hampir kehilangan Rani. Dan sekarang..." Ia menatap Lengkara. "Sekarang aku menyadari kalau aku tidak bisa kehilanganmu juga."
Lengkara merasa dadanya sesak. "Raka..."
"Aku tahu kau masih marah padaku," lanjut Raka cepat. "Aku tahu kau belum memaafkan aku. Dan aku mengerti. Tapi aku hanya ingin kau tahu,apapun yang terjadi besok, atau lusa, atau kapanpun, aku tidak akan meninggalkanmu. Bahkan kalau kau membenciku, aku tetap akan di sini."
Lengkara tidak tahu harus menjawab apa. Emosinya campur aduk, marah, sedih, hangat, bingung, semua bercampur menjadi satu.
Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini.
Ia mengulurkan tangannya perlahan, ragu sampai jarinya menyentuh jari Raka.
Raka menatap tangan mereka, lalu menatap Lengkara dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Aku belum memaafkanmu," bisik Lengkara. "Tapi... terima kasih. Karena tetap di sini."
Raka tersenyum—senyum sedih, tapi tulus. Ia membalas sentuhan itu, jari-jari mereka saling mengait pelan.
"Selalu," bisiknya.
Mereka duduk seperti itu untuk beberapa saat—dalam diam, tangan saling menyentuh, bahu hampir bersentuhan.
Lalu Lengkara melepaskan tangannya, kembali ke jurnalnya. Tapi kali ini, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Raka berbaring di sisinya, membelakangi Lengkara, memberi privasi untuk membaca. Tapi Lengkara tahu ia tidak tidur. Napasnya terlalu teratur, terlalu sadar.
Lengkara membaca beberapa halaman lagi, tapi huruf-huruf mulai kabur. Matanya terasa berat.
Ia menutup jurnal, mematikan lampu baca.
Kegelapan menyelimuti kamar.
Lengkara berbaring di sisinya, membelakangi Raka, menjaga jarak beberapa senti di antara mereka.
"Lengkara," bisik Raka di kegelapan.
"Ya?"
"Selamat tidur."
"Selamat tidur, Raka."
Keheningan.
Tapi keheningan yang hangat. Keheningan yang dipenuhi dengan kehadiran seseorang yang, walau menyakitkan, tetap terasa seperti rumah.
Lengkara menutup mata, napasnya perlahan melambat.
Di sampingnya, Raka berbaring terjaga, menatap langit-langit, mendengarkan napas Lengkara yang mulai teratur.
Dan di tengah malam itu, tanpa sadar, jarak di antara mereka menyempit, sedikit demi sedikit, sampai punggung Lengkara hampir menyentuh punggung Raka.
Hampir.
Tapi cukup untuk merasa tidak sendirian.
***
Lengkara bermimpi malam itu.
Mimpi tentang rumah Joglo besar dengan kayu menghitam.
Mimpi tentang seorang gadis kecil berdiri di teras, tersenyum padanya dengan mata kosong.
Gadis itu berbisik: "Adikku. akhirnya kau datang."
Dan di belakang gadis itu, bayangan raksasa dengan mahkota tengkorak mulai bangkit, perlahan, mengisi langit.
Lengkara terbangun dengan napas tercekat, keringat dingin membasahi dahinya.
Kamar masih gelap. Namun di sampingnya, Raka sudah duduk, waspada, matanya langsung menatap Lengkara dengan khawatir.
"Mimpi buruk?" tanyanya pelan.
Lengkara mengangguk, tangannya gemetar.
Tanpa berpikir, Raka mengulurkan tangan, menawarkan. Bukan memaksa.
Lengkara menatap tangan itu sejenak.
Lalu ia meraihnya, membiarkan Raka menariknya ke dalam pelukan.
Raka memeluknya erat, satu tangan di punggungnya, satu tangan mengusap rambutnya pelan.
"Kamu aman," bisik Raka di rambutnya. "Aku di sini. Kamu aman."
Lengkara menutup mata, menenggelamkan wajahnya di dada Raka, mendengarkan detak jantungnya yang stabil. Untuk pertama kali dalam dua hari terakhir, ia merasa sedikit lebih aman.
Mereka tertidur seperti itu, saling berpelukan di tengah kegelapan, menghadapi mimpi buruk bersama.

Komentar Buku (16)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    22d

      0
  • avatar
    Milea Fransisca Animoto Hatori

    banus

    20/03

      0
  • avatar
    AlifAmirul

    badus

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru