logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Pengakuan

Pagi datang dengan cahaya abu-abu yang memgintip melalui tirai.
Lengkara terbangun dengan kepala berat, mata bengkak—tanda ia hampir tidak tidur semalaman. Setiap kali ia menutup mata, pikirannya diisi oleh wajah-wajah yang berputar, ibunya, pria berambut panjang yang mengejarnya, dan Raka—Raka dengan rahasia yang tersembunyi di balik senyumnya yang hangat.
Ia mendengar suara dari dapur. Aroma kopi dan roti panggang.
Lengkara bangkit perlahan, merapikan rambut acak-acakannya, lalu berjalan keluar. Kakinya terasa berat, seperti menyeret beban yang tidak terlihat.
Raka berdiri di dapur kecilnya, membelakangi Lengkara. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans—pakaian yang sama seperti kemarin, seolah ia juga tidak tidur. Bahunya sedikit membungkuk, ada ketegangan di sana yang biasanya tidak ada.
"Pagi," sapa Lengkara pelan.
Raka tersentak sedikit—terkejut—lalu berbalik dengan cepat, memaksakan senyum.
"Pagi. Kau sudah bangun? Aku baru saja mau panggilmu. Sarapan sudah siap." Ia menunjuk meja makan kecil di sudut ruangan. Dua piring dengan roti panggang, telur mata sapi, dan dua mug kopi. "Sederhana sih, tapi—"
"Raka." Lengkara memotong, suaranya datar. "Kita harus bicara."
Senyum Raka memudar. Ia meletakkan spatula di tangan dengan pelan, lalu mengangguk.
"Oke. Duduk dulu. Ayo sarapan sambil bicara."
Tapi Lengkara tidak bergerak. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap Raka dengan tatapan yang membuat Raka tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Siapa yang kau telepon semalam?"
Raka membeku.
"Aku mendengar," lanjut Lengkara, suaranya mulai bergetar. "Kau bilang 'aku akan tetap mengawasinya.' Mengawasi siapa, Raka? Aku?"
Untuk sesaat, wajah Raka seperti orang yang baru saja ditampar. Matanya membesar, mulutnya sedikit terbuka—tidak ada kata-kata keluar.
Lalu ia menarik napas panjang, menutup matanya sejenak.
Ketika membukanya lagi, ada kepasrahan di sana.
"Ya," jawabnya pelan. "Aku mengawasimu."
Lengkara merasa dadanya sesak. Ia tahu—ia sudah tahu sejak mendengar percakapan tadi malam—tapi mendengarnya diucapkan dengan jelas seperti ini tetap terasa seperti pisau yang merobek.
"Untuk siapa?" Suaranya hampir berbisik. "Atas perintah siapa?"
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Lengkara dengan tatapan penuh penyesalan.
"Raka, jawab aku!"
"Ibumu!" Raka akhirnya menjawab, suaranya meledak—frustrasi, lelah, putus asa. "Ibumu, Lengkara! Ratna menyuruhku mengawasimu!"
Keheningan menusuk di antara mereka.
Lengkara mundur selangkah, seolah kata-kata itu memiliki bobot fisik yang mendorongnya.
"Sejak... kapan?" tanyanya, suaranya serak.
Raka mengusap wajahnya, tangannya turun ke belakang leher—gestur yang selalu ia lakukan saat stres.
"Sepuluh tahun lalu," jawabnya pelan. "Sejak kau pertama kali masuk kuliah. Sejak hari pertama orientasi, saat kau duduk sendirian di pojok aula, terlihat seperti... seperti seseorang yang tidak punya tempat di dunia."
Lengkara mengingat hari itu. Ia ingat betapa ia merasa terasing, dikelilingi ratusan mahasiswa baru yang bersemangat sementara ia hanya ingin menghilang. Lalu seorang pria dengan kamera di leher menghampirinya, tersenyum ramah, dan berkata: "Hei, kau terlihat seperti butuh teman. Aku Raka. Boleh duduk di sini?"
Awal dari persahabatan mereka.
Awal dari... kebohongan?
"Jadi selama ini..." Lengkara tertawa—tertawa pahit yang terdengar seperti tangisan. "Selama sepuluh tahun ini, persahabatan kita... itu semua hanya tugas? Ibu membayarmu untuk... untuk apa? Jadi pengasuhku?"
"Bukan begitu—"
"Lalu bagaimana?!" Lengkara berteriak sekarang, air mata mulai membasahi pipinya. "Kau dibayar untuk berteman denganku! Untuk—untuk pura-pura peduli! Untuk membuatku percaya bahwa ada seseorang di dunia ini yang benar-benar mau ada untukku!"
"Lengkara, dengarkan aku—"
"TIDAK!" Lengkara menggeleng keras, mundur lebih jauh. "Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku pikir... aku pikir kau beda. Aku pikir kau tulus. Tapi ternyata kau sama saja—kau juga berbohong padaku, seperti ibu, seperti semua orang!"
"Lengkara, kumohon—" Raka melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh, tapi Lengkara menepis.
"Jangan sentuh aku!"
Raka berhenti. Tangannya jatuh ke samping, tatapannya penuh rasa sakit yang begitu dalam.
"Kau benar," katanya pelan. "Kau benar. Awalnya itu memang hanya... tugas." Ia menarik napas bergetar. "Ibumu menghubungiku tepat sebelum semester dimulai. Ia bilang ia punya anak perempuan yang akan kuliah di kampus yang sama denganku. Ia bilang... ia bilang anaknya dalam bahaya, tapi ia tidak bisa menjelaskan kenapa. Ia hanya meminta aku untuk 'mengawasi dari jauh,' memastikan kau aman, dan melaporkan kalau ada hal aneh terjadi padamu."
"Dan kau menerima begitu saja? Tanpa bertanya kenapa?"
"Tidak." Raka menggeleng. "Aku menolak pertama kali. Aku pikir itu aneh, bahkan sedikit menyeramkan. Tapi kemudian..." Ia terdiam sejenak. "Ibumu memberitahuku sesuatu. Tentang adikku."
Lengkara mengerutkan dahi. "Adikmu?"
"Adikku, Rani. Dia sakit keras waktu itu. Leukemia stadium tiga. Kami tidak punya uang untuk pengobatan—orang tuaku sudah menghabiskan semua tabungan untuk kemoterapi pertama, tapi itu tidak cukup. Rani butuh transplantasi sumsum tulang, dan biayanya..." Raka tertawa pahit. "Puluhan juta. Kami tidak akan pernah bisa mengumpulkan segitu."
Lengkara diam. Ia ingat Raka pernah menyebut adiknya—tapi hanya sekali, bertahun-tahun yang lalu, dan setelah itu tidak pernah lagi.
"Ibumu tahu tentang Rani," lanjut Raka. "Entah bagaimana, ia tahu. Dan ia menawarkan... ia menawarkan untuk membayar semua biaya pengobatan Rani. Semuanya. Dengan syarat aku menerima 'tugas' ini."
Lengkara merasa tanah di bawah kakinya bergeser.
"Jadi kau... kau menjualku untuk adikmu?"
"BUKAN BEGITU!" Raka berteriak, untuk pertama kalinya suaranya meledak. Lalu ia menarik napas, memaksa dirinya tenang. "Bukan begitu, Lengkara. Aku... aku putus asa. Rani adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Orang tuaku sudah meninggal, hanya tinggal aku dan dia. Dan melihatnya kesakitan setiap hari, melihat tubuhnya semakin kurus, rambutnya rontok karena kemo—" Suaranya tercekat. "Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Apapun."
"Termasuk berbohong padaku."
"Ya." Raka menatapnya langsung. "Ya, termasuk itu. Dan aku tidak akan berbohong sekarang dengan bilang aku tidak menyesal menerima tawaran itu. Karena berkat uang dari ibumu, Rani selamat. Dia sembuh. Sekarang dia sudah kuliah, punya pacar, hidup normal. Dan itu semua karena aku menerima tugas ini."
Lengkara merasa dadanya sakit. Ia tidak tahu harus merasa apa—marah, sedih, dikhianati, atau... mengerti?
"Tapi," Raka melanjutkan, suaranya melembut, "yang tidak bohong adalah... perasaanku padamu."
Lengkara mendongak, matanya bertemu dengan mata Raka.
"Awalnya memang hanya tugas," kata Raka. "Aku mendekatimu karena disuruh. Aku berteman denganmu karena dibayar. Tapi seiring waktu..." Ia melangkah lebih dekat, perlahan, hati-hati. "Seiring waktu, aku mengenalmu. Yang sebenarnya. Lengkara yang keras kepala, yang perfeksionis, yang berpura-pura kuat tapi sebenarnya rapuh. Lengkara yang tersenyum sedikit saat melihat kucing jalanan. Lengkara yang menangis saat menonton film sedih meskipun sudah ditonton lima kali. Lengkara yang—" Suaranya bergetar. "Lengkara yang membuatku ingin bangun setiap pagi hanya untuk memastikan kau baik-baik saja."
Air mata mengalir di pipi Lengkara sekarang, tidak terkontrol.
"Aku jatuh cinta padamu," bisik Raka. "Entah kapan, entah bagaimana. Mungkin sejak tahun kedua kuliah, saat kau tertidur di perpustakaan dan aku harus membangunkanmu. Atau mungkin saat kau lulus dan memelukku sambil menangis bahagia. Atau mungkin bahkan sejak hari pertama, dan aku terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Lengkara menggelengkan kepala. "Jangan. Jangan lakukan ini."
"Aku serius." Raka sekarang berdiri tepat di depannya, jarak hanya sejengkal. "Aku mencintaimu, Lengkara. Bukan karena tugas. Bukan karena uang. Tapi karena kau adalah kau. Dan aku—aku berharap suatu hari aku bisa memberitahumu itu tanpa harus membawa semua kebohongan ini."
"Tapi kau tetap berbohong," bisik Lengkara. "Selama sepuluh tahun."
"Aku tahu." Raka menjangkau tangannya, perlahan, memberikan Lengkara kesempatan untuk menolak. Ketika Lengkara tidak bergerak, ia menyentuh pipinya—lembut, seperti menyentuh sesuatu yang berharga dan rapuh. "Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk menebus itu. Jika kau mengizinkanku."
Lengkara menutup matanya, merasakan kehangatan telapak tangan Raka di pipinya. Bagian darinya ingin bersandar pada sentuhan itu, ingin percaya pada kata-kata itu.
Tapi bagian lain—bagian yang sudah terlalu sering dikhianati—tidak bisa.
Ia membuka mata, mundur selangkah. Tangan Raka jatuh.
"Aku... aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang," kata Lengkara pelan. "Aku bingung. Aku sakit. Aku—aku butuh waktu."
Raka mengangguk, meskipun matanya berkaca-kaca. "Aku mengerti."
"Dan aku harus pergi."
"Apa?" Raka terkejut. "Pergi ke mana?"
Lengkara berbalik, mengambil tas punggungnya dari kamar tamu. Ia memasukkan jurnal ibunya, dompet, dan beberapa barang penting lainnya.
"Lengkara, tunggu—apa yang kau lakukan?"
"Aku harus ke Karangjati."
"TIDAK!" Raka langsung menangkap lengannya. "Tidak, Lengkara, itu gila! Kau sendiri bilang ada orang-orang aneh mengejarmu! Dan ibumu—ibumu bilang jangan ke sana!"
"Ibu juga bilang banyak hal," balas Lengkara dingin. "Dan ternyata semuanya kebohongan. Jadi kenapa aku harus percaya lagi?"
"Karena kali ini ia benar! Dengarkan aku—Karangjati itu berbahaya. Sangat berbahaya."
Lengkara berbalik, menatap Raka tajam. "Kau tahu sesuatu, kan? Tentang tempat itu. Tentang apa yang ibu sembunyikan. Katakan padaku."
Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Konflik jelas terlihat di wajahnya.
"Raka, kumohon." Suara Lengkara melembut sedikit. "Kalau kau benar-benar peduli padaku—kalau semua yang baru saja kau katakan itu benar—maka katakan yang sejujurnya sekarang. Apa yang terjadi? Kenapa ibu begitu takut pada tempat itu?"
Raka terdiam lama. Sangat lama.
Lalu ia menarik napas panjang, melepaskan lengan Lengkara.
"Baik," katanya akhirnya, suaranya berat. "Baik, aku akan cerita. Tapi kau harus berjanji—setelah mendengar ini, kau tidak akan pergi ke Karangjati sendirian."
"Aku tidak bisa janji itu."
"Lengkara—"
"Cerita dulu. Baru aku putuskan."
Raka menatapnya frustasi, tapi akhirnya ia mengangguk. Ia duduk di sofa, menunduk, tangan saling menggenggam erat.
Lengkara duduk di seberangnya, menunggu.
"Ibumu tidak pernah cerita detail," mulai Raka. "Ia hanya bilang... keluarga kalian punya 'hutang lama' yang belum terbayar. Hutang pada sesuatu yang... bukan manusia."
Lengkara merinding.
"Ia bilang kau—kau istimewa, Lengkara. Bukan dalam artian bagus. Kau 'ditandai' sejak lahir. Ada sesuatu yang menginginkanmu. Sesuatu yang kuat dan tua. Dan ibumu sudah berusaha menyembunyikanmu dari hal itu selama dua puluh delapan tahun. Tapi sekarang... waktu hampir habis."
"Waktu untuk apa?"
"Aku tidak tahu. Ibumu tidak menjelaskan." Raka mendongak, menatap Lengkara. "Yang aku tahu adalah—kalau kau kembali ke Karangjati, kau akan bertemu dengan 'hal itu.' Dan ibumu takut kalau itu terjadi, kau tidak akan pernah kembali."
Lengkara merasa dingin menjalar di tulang punggungnya.
Tapi anehnya... ia tidak merasa takut.
Ia merasa marah.
"Jadi selama ini," katanya pelan, "ibu menyembunyikanku. Membohongiku. Membuatku merasa seperti anak yang tidak diinginkan—padahal ia hanya... melindungiku?"
"Sepertinya begitu."
"Dengan cara yang paling menyakitkan." Lengkara tertawa pahit. "Dengan membuat aku merasa sendirian sepanjang hidupku."
"Lengkara—"
"Aku harus pergi, Raka." Lengkara berdiri, memanggul tasnya. "Aku harus tahu kebenaran. Dengan mataku sendiri."
"Kalau begitu aku ikut."
"Tidak."
"Tidak bisa ditawar." Raka juga berdiri, menghadangnya. "Kau mau benci aku, silakan. Kau mau tidak percaya aku lagi, aku mengerti. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya sendirian. Aku sudah berjanji pada ibumu—dan pada diriku sendiri—untuk melindungimu. Dan aku tidak akan ingkar janji."
Mereka saling menatap—pertarungan diam antara dua kehendak yang sama-sama keras kepala.
Akhirnya, Lengkara menghela napas. Sebesar apapun amarahnya kepada Raka, dia tetap tidak dapat bohong kalau dia tidak akan kuat tanpa lelaki tersebut.
"Baik. Tapi kau ikut aku, bukan aku ikut kau. Aku yang memutuskan apa yang akan kita lakukan di sana. Setuju?"
"Setuju."
"Dan satu hal lagi." Lengkara menatapnya serius. "Jangan harap aku akan memaafkanmu dengan mudah."
Raka tersenyum sedih. "Aku tidak mengharapkan itu."
---
Dua jam kemudian, mereka sudah berada di Terminal Kampung Rambutan, menunggu bus ke Yogyakarta—kota terdekat dari Karangjati.
Raka sudah membeli tiket, mengemas tas punggungnya dengan kamera, baterai cadangan, dan beberapa pakaian. Ia juga memaksa Lengkara untuk sarapan—meski Lengkara hampir tidak bisa menelan.
Sekarang mereka duduk di kursi tunggu, diam-diam dalam keheningan yang canggung.
Lengkara menatap ponselnya. Masih tidak ada kabar dari ibunya. Nomor masih mati.
"Kau yakin tentang ini?" tanya Raka pelan.
"Tidak," jawab Lengkara jujur. "Tapi aku harus tetap pergi."
Raka mengangguk. Ia tidak mencoba membujuk lagi—ia tahu Lengkara sudah memutuskan.
"Kalau begitu," katanya, "apapun yang terjadi, kita hadapi bersama. Oke?"
Lengkara meliriknya. Mata Raka terlihat tulus—lelah, khawatir, tapi tulus.
"Oke," jawabnya akhirnya. "Bersama."
Pengumuman terminal berbunyi: "Penumpang bus tujuan Yogyakarta, harap bersiap di peron 7."
Mereka berdiri mengambil tas mereka.
Saat berjalan menuju peron, mereka tidak menyadari—di sudut terminal, seorang pria berambut panjang berdiri, mengamati mereka.
Mata pria itu gelap. Terlalu gelap.
Dan ia tersenyum—senyum yang tidak ada kehangatan di dalamnya.
Lalu ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan singkat:
"Mereka menuju Karangjati. Persiapkan penyambutan."
Ia menekan kirim, lalu menghilang di antara kerumunan—seperti bayangan yang tertelan cahaya.

Komentar Buku (16)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    23d

      0
  • avatar
    Milea Fransisca Animoto Hatori

    banus

    20/03

      0
  • avatar
    AlifAmirul

    badus

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru