logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Raka

Apartemen Raka selalu berantakan, namun hal tersebut yang justru membuatnya nyaman.
Lengkara berdiri di depan pintu unit 7B, basah kuyup, gemetar, entah karena dingin atau karena adrenalin yang belum sepenuhnya mereda. Ia menekan bel dua kali, singkat dan cepat. Kode mereka sejak kuliah dulu: aku butuh bantuan, cepat buka.
Lima detik kemudian, pintu terbuka.
Raka muncul dengan kaos lusuh dan celana training, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur, walau sudah hampir maghrib. Matanya yang biasanya tenang langsung membulat begitu melihat kondisi Lengkara.
"Lengkara?!" Ia langsung menarik Lengkara masuk, menutup pintu dengan kaki. "Apa yang terjadi?"
Lengkara tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Begitu pintu tertutup dan ia merasakan kehangatan apartemen Raka, semua adrenalin yang menahannya tadi runtuh seketika. Kakinya lemas. Ia hampir jatuh kalau Raka tidak menangkapnya.
"Tidak apa-apa. Kau aman disini." Suara Raka lembut, tangannya menopang pinggang Lengkara dengan mantap. "Ayo duduk dulu."
Raka membimbingnya ke sofa, sofa cokelat tua yang sudah mereka duduki bersama entah berapa ratus kali selama sepuluh tahun terakhir. 
Di meja kopi, berserakan majalah fotografi, hard disk eksternal, dan mug kopi yang sudah dingin. Lampu studio fotografi Raka di sudut ruangan masih menyala redup, memantulkan bayangan-bayangan lembut di dinding.
Tempat ini terasa seperti rumah. Lebih dari apartemen Lengkara sendiri yang dingin. Disini dia merasa aman.
"Tunggu di sini, aku ambilkan handuk," kata Raka, tapi Lengkara menangkap tangannya.
"Jangan... jangan tinggalkan aku dulu." Lengkara tidak ingin sendiri. Dia takut karena tidak tahu apa yang akan terjadi ditinggal sendiri. Lagipula, kehadiran Raka membuatnya hangat.
Raka membeku. Lalu ia duduk di samping Lengkara, tangannya masih digenggam.
"Aku tidak ke mana-mana. Aku di sini. Di sampingmu" Suaranya pelan tapi tegas. "Tarik napas dulu. Pelan-pelan."
Lengkara mengikuti instruksinya. Menarik napas dalam, menghembuskan perlahan. Satu kali. Dua kali. Jantungnya mulai melambat. Gemetar di tangannya mulai mereda.
Raka menunggu. Ia selalu tahu kapan harus diam dan memberi ruang. Satu-satunya orang yang selalu mengerti dan paling mengenal dirinya.
Setelah beberapa menit, Lengkara akhirnya bisa berbicara.
"Ada orang-orang asing di rumah ibuku." Suaranya serak. "Mereka mengejarku. Mereka bilang berbicara sesuatu yang tidak masuk akal. Aku tidak mengerti apa-apa, tapi tatapan mereka..." Ia bergidik. "Mereka tidak normal, Raka. Ada yang salah dengan mereka."
Lengkara juga menunjukkan isi pesan yang dia dapat. Dia yakin sepenuhnya bahwa pesan tersebut juga dikirim oleh ketiga pria tersebut.
Raka diam sejenak. Wajahnya sulit dibaca—seperti sedang memproses informasi dengan cepat. Namun tak berapa lama, ia mengangguk, tangannya meremas tangan Lengkara lembut.
"Kau sudah lapor polisi?" tanyanya hati-hati.
"Belum. Aku hanya terpikir untuk lari. Aku—aku tidak tahu harus apa. Jadi aku ke sini." Lengkara menatap Raka. "Maaf, aku tahu ini tiba-tiba. Kau pasti sibuk—"
"Jangan," potong Raka tegas. "Jangan minta maaf. Kau tahu pintuku selalu terbuka untukmu, kapan saja." Ia berdiri. "Tunggu sebentar."
Kali ini Lengkara melepaskan tangannya. Raka pergi ke kamar, kembali dengan handuk besar, kaos, dan celana pendek. "Mandi dulu, ganti baju. Aku buatkan teh hangat. Setelah itu kita bicarakan dengan kepala dingin, oke?"
Lengkara mengangguk. Ia mengambil pakaian itu, berjalan ke kamar mandi. 
***
Air hangat membantu menenangkan otot-ototnya yang tegang. Lengkara berdiri di bawah pancuran air, menutup mata, membiarkan kehangatan mengusir dingin yang meresap sampai tulang.
Tapi begitu ia menutup mata, ia melihat lagi—tatapan pria berambut panjang tadi. Mata yang terlalu gelap, terlalu dalam, seolah ada hal yang disimpan terlalu lama di dalamnya.
Namun, kenapa mereka mengejarnya? Bagaimana mereka bisa tahu lokasi rumah ibunya? Melihat bagaimana mereka tidak menyangka kalau Lengkara disana, berarti mereka juga mencari sesuatu di rumah ibunya.
Lengkara menggelengkan kepala, memaksa pikiran itu pergi. Ia harus fokus pada saat ini dahulu. Dia sudah aman di apartemen Raka. Untuk saat ini dia akan istirahat dulu. Setelah itu baru memikirkan langkah selanjutnya.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan kaos Raka yang kebesaran dan celana pendek. Bau lembut sabun dan sedikit aroma kayu cendana dari parfum Raka dapat diciumnya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan keluar.
Raka sudah menunggu di sofa, dua mug teh di meja. Begitu melihat Lengkara, ia tersenyum tipis—senyum yang membuat sudut matanya berkerut.
"Lebih baik?"
"Sedikit." Lengkara duduk di sampingnya, mengambil mug. Teh chamomile, dengan sedikit madu. Persis seperti yang Lengkara suka. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka diam sejenak, menyeruput teh dalam keheningan yang nyaman. Hujan masih turun di luar, membasuh kaca jendela dengan ritme yang menenangkan.
Namun, Lengkara tahu keheningan ini tidak akan bertahan lama.
"Jadi," Raka memecah kesunyian, menaruh mugnya di meja dan memutar tubuh menghadap Lengkara sepenuhnya. "Cerita dari awal. Pelan-pelan."
Lengkara menarik napas, lalu menceritakan semuanya. Tentang surat misterius yang datang pagi ini, tentang foto rumah Joglo dengan tulisan "Karangjati," tentang keputusannya pergi ke rumah ibu meskipun surat itu melarangnya, tentang rumah yang berantakan, tentang jurnal yang ia temukan, dan—yang paling menakutkan—tentang tiga pria asing yang mengejarnya.
Saat ia selesai, Raka tidak langsung berkomentar. Wajahnya serius, alisnya berkerut—ekspresi yang Lengkara kenal sebagai "mode berpikir Raka."
Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang Lengkara tidak bisa identifikasi. Sekilas, sangat sekilas, ia melihat... kepanikan? Di mata Raka?
"Raka?" Lengkara menyentuh lengannya. "Kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat."
"Apa?" Raka berkedip, lalu tersenyum—terlalu cepat. "Tidak, tidak. Aku hanya... terkejut. Ini semua terdengar gila." Ia mengusap wajahnya. "Lengkara, kau yakin tidak ada yang mengancammu selama ini? Tidak ada masalah dengan klien, atau orang yang dendam padamu?"
"Tidak. Hidupku sangat... membosankan. Kerja, pulang, tidur. Kadang pergi dengan kamu. Itu saja."
"Dan ibumu? Kapan terakhir kali kalian kontak?"
"Sepuluh tahun lalu." Lengkara menatap mugnya. "Saat aku pergi dari rumah. Kami tidak pernah bicara lagi sejak itu."
"Kenapa?"
Pertanyaan yang sudah sering Raka tanyakan, tapi tidak pernah Lengkara jawab dengan lengkap. Kali ini, entah karena lelah atau karena ia butuh seseorang untuk mengerti, Lengkara menjawab dengan jujur.
"Karena... aku tidak tahan lagi." Suaranya pelan. "Ibu selalu menatapku seperti aku ini... beban. Seperti keberadaanku adalah kesalahan yang harus ia tanggung. Ia tidak pernah bilang sayang, tidak pernah peluk aku, tidak pernah tanya bagaimana hariku. Ia hanya... ada. Secara fisik. Tapi tidak pernah benar-benar ada."
Raka diam. Tangannya perlahan bergerak, menyentuh punggung tangan Lengkara. Sentuhan ringan, tapi terasa seperti jangkar.
"Maaf," bisik Raka. "Aku tidak tahu sampai sejauh itu."
"Bukan salahmu. Aku yang tidak pernah cerita." Lengkara menarik napas. "Tapi sekarang, dengan surat ini... aku bingung, Raka. Bagian dariku ingin melupakan semuanya, melanjutkan hidup. Tapi bagian lain..." Ia menatap tas punggungnya di sudut ruangan, tempat ia menyimpan jurnal ibunya. "Bagian lain ingin tahu. Ingin tahu kenapa ibu seperti itu. Apa yang ia sembunyikan."
"Lengkara." Suara Raka tiba-tiba keras. Lengkara mendongak, terkejut. Mata Raka menatapnya dengan intensitas yang tidak biasa. "Jangan."
"Apa?"
"Dengarkan aku." Raka memegang kedua bahu Lengkara, memaksanya menghadap. "Aku serius. Kau tadi sudah merasakan sendiri seberapa bahaya nya itu. Dan kalau sampai ada orang-orang aneh mengejarmu karena itu—" Ia menggeleng. "Ini berbahaya. Kau harus lapor polisi, sekarang. Biar mereka yang urus."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi." Raka melepaskan pegangan, tapi matanya tidak lepas dari Lengkara. "Kau tidak tahu siapa mereka. Kau tidak tahu apa yang mereka mau. Dan kalau sampai terjadi sesuatu padamu—" Suaranya tercekat. "Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Raka selalu mengkhawatirkannya, tapi tidak pernah sekuat ini. Tentu saja, Lengkara baru saja dikejar tiga pria seperti ingin membunuhnya. Namun, entah kenapa Lengkara merasa ini berbeda.
"Raka... kenapa kau begitu takut?" tanyanya pelan. Tangannya menarik tangan Raka di bahunya. Di elus nya perlahan tangan Raka.
Raka membeku. Tatapanya terkunci pada tangannya yang di elus Lengkara. Untuk sesaat—hanya sesaat—wajahnya seperti orang yang ketahuan menyimpan rahasia. Tapi kemudian ia mengalihkan pandangan, berdiri dari sofa.
"Karena kau sahabatku," jawabnya, tapi suaranya terdengar... salah. Terlalu datar. "Dan aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Itu alasan yang cukup, kan?"
Lengkara ingin bertanya lebih lanjut. Tapi Raka sudah berjalan ke dapur, membelakanginya, membuka kulkas dengan gerakan yang terlalu sibuk.
"Kau sudah makan? Aku punya mie instan dan beberapa telur. Aku buatkan, ya?"
Lengkara tidak menjawab. Ia menatap punggung Raka—punggung lelaki tersebut. Apa yang disembunyikan Raka?
***
Malam itu, mereka berdua makan mi instan di sofa. Raka mengeluarkan brownies favoritnya dari kulkas. Dia sedikit bingung kenapa menyimpannya di kulkas, padahal Raka tidak suka cokelat. 
Mereka duduk di sofa menonton serial tv kesukaan mereka. Lengkara menyenderkan tubuhnya pada lengan sahabatnya dan kakinya ditaruhnya di atas senderan lengan sofa.
Sekilas pikiran melintasi benak Lengkara, betapa beruntung wanita yang nanti akan dinikahi Raka. Dia tidak sadar bahwa momen ini bisa saja menjadi momen terakhir kedua sahabat itu tenang.
***
Lengkara tidur di kamar tamu Raka—ruangan kecil yang sebenarnya dipakai untuk menyimpan peralatan fotografi. Ruangan yang Lengkara habiskan waktu bermalam-malam ketika dia tidak ingin tidur di apartemennya sendiri. Terlalu sering di pakai Lengkara, sehingga kasur lipatnya tidak pernah disimpan.
"Maaf sedikit berantakan," ucap Raka. “Aku kemarin habis mencari barang”
"Terima kasih, Raka."
Raka tersenyum—senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kalau ada apa-apa, kamarku di sebelah. Jangan ragu ketuk pintu, oke?"
"Oke."
Raka berdiri di ambang pintu sejenak, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya mengangguk dan menutup pintu perlahan.
Lengkara duduk di kasur, memeluk lututnya. Apartemen Raka sunyi—hanya terdengar suara hujan yang mulai reda dan sesekali bunyi kendaraan lewat di jalanan bawah.
Ia meraih tas punggungnya, mengeluarkan jurnal ibunya.
Sampul kulit cokelat yang sudah usang, dengan ikatan tali di sampingnya. Lengkara membuka halaman pertama lagi, membaca tulisan ibunya di bawah cahaya lampu tidur.
"Jurnal Ratna Wirasena. Dimulai tahun 1996."
Ia membalik halaman.
"Hari ini aku mengetahui kebenaran yang seharusnya tetap terkubur. Ki Wirasena, kakek buyutku, membuat perjanjian seratus tahun yang lalu. Perjanjian dengan sesuatu yang tidak seharusnya diajak bernegosiasi. Aku tidak percaya pada takhayul. Aku tidak percaya pada kutukan. Tapi setelah apa yang terjadi pada adikku, pada sepupuku, pada semua anak sulung di keluarga ini, aku tidak punya pilihan lain selain percaya.
Perjanjian itu sederhana dan mengerikan: kekayaan dan kekuasaan selama tujuh generasi, dengan imbalan setiap anak sulung yang lahir di hari sukerta harus diserahkan sebelum usia tujuh tahun.
Diserahkan kepada Batara Kala.
Dewa waktu. Dewa kematian. Pemakan jiwa.
Dan aku... aku sedang hamil. Hamil anak sulung. Dan tanggal lahir yang diprediksi jatuh pada Sabtu Pahing.
Hari sukerta.
Tapi aku bersumpah aku tidak akan menyerahkan anakku. Aku akan melawan. Apapun harganya."
Lengkara berhenti membaca. Tangannya gemetar.
Batara Kala. Perjanjian. Tumbal.
Ini semua terdengar seperti dongeng. Seperti cerita horor murahan.
Lengkara menutup jurnal dengan cepat, meletakkannya di samping bantal. Ia tidak siap membaca lebih lanjut. Belum.
Ia mematikan lampu, berbaring di kegelapan. Mencoba tidur.
Tapi matanya tidak bisa terpejam.
Di luar pintu, ia mendengar suara pelan—suara Raka berbicara di telepon.
Lengkara bangun perlahan, berjalan ke pintu, menempelkan telinga.
"...Aku tahu. Aku tahu!" Suara Raka terdengar frustasi. "Tapi aku tidak bisa terus berbohong padanya. Dia harus tahu—"
Diam sejenak. Seseorang di seberang bicara.
"Ya, aku tahu risikonya!" Raka terdengar marah sekarang. "Tapi dia bukan barang yang bisa dijaga tanpa penjelasan! Dia manusia, dia punya hak untuk tahu kenapa hidupnya dalam bahaya!"
Diam lagi. Lebih lama.
Lalu suara Raka melembut, terdengar lelah.
"Baik. Baik, aku mengerti. Aku akan tetap mengawasinya. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu padanya..." Suaranya tercekat. "Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Atau kau."
Klik. Telepon diputus.
Lengkara mundur dari pintu, jantungnya berdegup kencang.
Aku akan tetap mengawasinya.
Raka... mengawasinya?
Untuk siapa?
Atas perintah siapa?
Lengkara kembali ke kasur, meringkuk di bawah selimut. Pikirannya berputar-putar, tidak bisa diam.
Ibunya menghilang.
Ada orang-orang asing mengejarnya.
Ada perjanjian kuno dengan dewa kematian.
Dan sekarang... sahabat terbaiknya—orang yang ia percayai paling banyak di dunia ini—ternyata menyimpan rahasia.
Lengkara menutup mata, merasakan air mata panas mengalir di pelipisnya.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia merasa benar-benar sendirian.
***
Di kamarnya, Raka duduk di tepi tempat tidur, kepala di tangannya.
Ponselnya masih di genggaman, layarnya menampilkan log panggilan terakhir.
Kontak: Ibu Ratna
Raka menatap nama itu lama.
Lalu ia berbisik ke kegelapan, suaranya serak:
“Maafkan aku, Lengkara. Maafkan aku.”

Komentar Buku (16)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus

    24d

      0
  • avatar
    Milea Fransisca Animoto Hatori

    banus

    20/03

      0
  • avatar
    AlifAmirul

    badus

    17/03

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru