Hujan Oktober di Jakarta selalu datang tanpa permisi. Lengkara menatap layar ponselnya yang terang, jempolnya melayang di atas tombol panggil untuk kesekian kalinya dalam sejam terakhir. Nomor ibunya. Nomor yang tidak pernah ia hubungi selama sepuluh tahun terakhir. Sekarang, nomor itu mati. “Mbak Lengkara, ini kopi susunya.” Ia mendongak. Barista di kedai langganannya tersenyum ramah, meletakkan gelas plastik di meja. Lengkara membalas senyum setengah hati, lalu kembali menatap ponselnya. Di luar jendela kaca, Jakarta tenggelam dalam siluet abu-abu. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, payung-payung bermekaran seperti jamur setelah hujan. Tapi Lengkara tidak bergerak. Di tangan satunya, selembar surat. Kertas kusam berwarna krem, dilipat rapi dalam amplop cokelat tanpa pengirim. Surat itu datang pagi ini, diselipkan di bawah pintu apartemennya. Tidak ada cap pos, tidak ada alamat—seolah seseorang sengaja mengantarkannya langsung. Isi suratnya singkat. Terlalu singkat untuk sesuatu yang membuat jantung Lengkara berdebar tidak karuan sejak tadi pagi. Lengkara, Maafkan ibu. Ibu terlalu banyak menyembunyikan semua hal dari mu. Kalau kau menerima surat ini, artinya Ibu sudah tidak dapat melanjutkannya. Jangan kembali ke rumah. Jangan mencari ibu. Pergi jauh, dan jangan pernah ke Karangjati. Ini bukan permintaan. Ini permohonan terakhir ibu padamu. Ibu mencintaimu. Maafkan ibu untuk semua yang tidak bisa ibu jelaskan. - Ratna Tidak ada tanda tangan. Hanya nama. Nama ibunya yang terasa asing di lidah setelah bertahun-tahun tidak diucapkan. Lengkara menutup mata, menarik napas dalam. Tangannya gemetaran—entah karena dingin atau karena emosi yang tidak bisa ia identifikasi. Dia dapat merasakan amarah, takut, dan sedikit, lega? Lega karena akhirnya ada alasan untuk kembali. Untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ia pendam sejak usia delapan belas tahun, saat ia pergi meninggalkan rumah kecil di pinggiran Jakarta Selatan dengan satu tas ransel dan tekad untuk tidak pernah kembali. Tapi sekarang, sepuluh tahun kemudian, surat ini datang, dan yang lebih aneh, ada sesuatu yang lain dalam amplop itu. Lengkara mengeluarkan foto kecil diambil dengan kamera polaroid lama, warnanya yang sudah pudar. Di foto itu, seorang wanita muda menggendong bayi, berdiri di depan rumah Joglo besar yang tampak megah meski cat kayunya sudah mengelupas. Wanita itu tersenyum tipis, lelah, tapi ada kehangatan di sana. Ibunya. Ratna. Dan bayi itu... Lengkara sendiri. Mungkin. Ia membalikkan foto tersebut. Tulisan tangan ibunya, tinta biru yang sudah memudar: “Karangjati, 1997. Rumah leluhur Wirasena. Tempat di mana semuanya dimulai dan di mana semuanya harus berakhir.” Karangjati. Nama itu asing. Lengkara tidak pernah mendengarnya seumur hidupnya. Ibunya tidak pernah menceritakan soal kampung halaman, soal keluarga besar, soal akar mereka. Yang Lengkara tahu hanyalah ibunya adalah wanita penyendiri yang bekerja keras sebagai penjahit, tinggal di rumah kecil, dan tidak pernah bicara soal masa lalu. Tidak ada ayah. Tidak ada keluarga. Hanya mereka berdua. Dan bahkan mereka berdua itu terasa hampa. Karena ibunya jarang terlihat. Secara fisik, ia pulang malam, pergi pagi. Namun juga secara emosional. Ratna selalu menatap Lengkara dengan tatapan aneh. Seperti menatap sesuatu yang ia takuti dan sayangi sekaligus. Lengkara tidak pernah mengerti. Dan setelah bertahun-tahun mencoba mengerti, ia menyerah. Ia pergi. Sekarang, surat ini memaksanya mengingat semua itu lagi. “Jangan kembali ke rumah.” Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Siapa "mereka" yang ibunya maksud? Lengkara mengecek ponselnya lagi. Masih tidak ada jawaban dari nomor ibunya. Ia mencoba menelepon nomor tetangga lama, teman ibunya, tapi semua tidak aktif atau tidak dikenal. Seolah ibunya menghilang dari muka bumi. Atau... seolah ibunya ingin menghilang. Lengkara menggigit bibir bawahnya, merasakan rasa logam darah tipis. Ia tahu ia seharusnya menuruti surat itu. Ia tahu ia seharusnya membuang foto itu dan melanjutkan hidupnya, hidup yang sudah ia bangun dengan susah payah. Karier sebagai arsitek muda di firma ternama, apartemen minimalis di kawasan elite, kehidupan sosial yang cukup. Hidup yang jauh dari bayangan masa lalu. Namun… "Tempat di mana semuanya dimulai—dan di mana semuanya harus berakhir." Ada yang menariknya. Seperti benang tipis yang terikat di dadanya, menarik pelan tapi terus-menerus. Lengkara meraih tasnya, memasukkan surat dan foto ke dalam dompet. Ia meninggalkan uang di meja dan keluar dari kedai, hujan langsung membasahi rambutnya. Tapi ia tidak peduli. Ia harus pulang. Ke rumah ibunya. Hanya untuk memastikan. *** Rumah kecil itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Cat hijaunya yang sudah mengelupas, pagar besi berkarat, halaman sempit yang ditumbuhi rumput liar. Lengkara berdiri di depan gerbang, basah kuyup, merasakan deja vu yang menyesakkan. Ia mendorong pagar rumah. Tidak terkunci. Aneh. Ibunya selalu mengunci pagar, bahkan di siang hari. Lengkara melangkah pelan, sepatunya berdecit di atas tanah becek. Pintu rumah juga tidak terkunci. Ia memutar kenop perlahan, pintu terbuka dengan bunyi engsel yang berderit. “Ibu?” Suaranya terdengar asing di ruangan kosong. Rumah itu gelap. Bau apek menyeruak, bau debu, kertas lama, dan sesuatu yang lebih dalam. Bau yang membuat tengkuk Lengkara merinding. Ia menyalakan lampu. Bohlam redup menyala, menerangi ruang tamu kecil yang berantakan. Tidak berantakan seperti dirampik. Namun seperti seseorang mencari sesuatu dengan terburu-buru. Laci meja terbuka, buku-buku berserakan, bantal sofa tergeletak di lantai. Jantung Lengkara berdegup kencang. “Ibu? Ibu, kau di sini?” Tidak ada jawaban. Ia memeriksa setiap ruangan, kamar ibunya kosong, lemari terbuka, pakaian hilang, dapur, kompor dingin, peralatan tergelatak rapi, kamar mandi, kering, semua perlengkapan kosong. Ibunya tidak ada. Namun memasuki kamar ibunya, Lengkara menemukan sesuatu. Di atas kasur, ada tumpukan kertas. Dokumen-dokumen lama, surat-surat, dan sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat. Lengkara mengambilnya, membuka halaman pertama. Tulisan tangan ibunya. “Jurnal Ratna Wirasena. Dimulai tahun 1996.” Wirasena. Nama keluarga yang tidak pernah ia dengar. Lengkara hendak membaca lebih lanjut, tapi suara dari luar rumah membuatnya membeku. Suara pintu gerbang terbuka. Suara langkah kaki. Banyak. Ia memasukkan jurnal ke dalam tasnya dengan cepat, berjingkat ke jendela kamar. Dari celah tirai, ia melihat tiga pria. Tinggi, berpakaian hitam. Tapi bukan pakaian modern. Mereka mengenakan semacam beskap Jawa, kain batik dililitkan di pinggang. Salah satu dari mereka, pria di tengah dengan rambut panjang diikat, melihat ke arah jendela. Mata mereka bertemu. Lengkara mundur refleks, jantungnya seolah mau meledak. Dipeluknya jurnal ibunya dengan erat. "Dia di dalam," suara pria itu terdengar. Suara pria tersebut seperti dipenuhi dengan amarah. Lengkara tidak mengerti apa maksudnya, tetapi setiap sel di tubuhnya berteriak untuk lari Ia berlari keluar kamar, melompati tumpukan kertas, berlari ke pintu belakang. Pintu itu macet, karat menguncinya. Lengkara menendang berulang kali, hingga akhirnya terbuka. Ia berlari ke gang sempit di belakang rumah, hujan membasahi wajahnya, napasnya tercekat. Di belakangnya, ia mendengar suara pintu depan dibuka paksa, suara langkah kaki berat mengejarnya. Lengkara tidak menoleh. Ia terus berlari, menembus gang, melompati tumpukan sampah, sampai akhirnya ia tiba di jalan raya. Ia melambaikan tangan ke taksi yang lewat, melompat masuk tanpa berpikir. "Ke mana, Mbak?" tanya supir. Lengkara tidak bisa menjawab. Napasnya tercekat, tangannya gemetar, matanya terus melirik ke spion. Ketiga pria tersebut hilang, entah karena gagal mengejarnya, atau jalan raya terlalu ramai. "Ke mana, Mbak?" supir mengulangi, kali ini dengan nada khawatir. Lengkara akhirnya berbisik, suaranya serak “Mediterania, Apartemen Mediterania. Cepat.” Saat taksi melaju, Lengkara sadar masih memeluk jurnal ibunya dengan erat. Dimasukkannya ke dalam tas, jurnal, surat misterius, dan foto rumah Joglo di tempat bernama Karangjati. Tempat yang tidak pernah ia dengar. Tempat yang, entah kenapa, ia tahu akan mengubah hidupnya selamanya. Di saku jaketnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal. “Kau tidak bisa lari, Lengkara Wirasena. Darah leluhur mengalir di tubuhmu. Perjanjian harus dipenuhi. Kembali ke Karangjati, atau kami akan datang menjemputmu.” Lengkara menatap layar ponsel, tangannya membeku. Lalu ponselnya mati.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
bagus
26d
0banus
20/03
0badus
17/03
0Lihat Semua