Malam hari yang terasa semakin gelap. Vivian yang terbangun dari tidurnya dan begitu melihat jam, dirinya terkejut karena masih jam 2 malam. Sesaat setelahnya, dirinya mencoba untuk kembali terlelap hanya saja itu tidak berhasil. Vivian merasakan kekesalan tersendiri karena dirinya tidak bisa tidur lagi. Akhirnya, dirinya beranjak dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan-jalan di sekitar kamarnya dengan tujuan agar dirinya kembali merasa lelah. Selama dirinya terus berjalan seperti itu, ternyata hasilnya sama saja dan itu membuatnya merasa frustasi. Vivian langsung mengecek ponselnya dan membuka sebuah forum internet dan ternyata ketika dirinya menuliskan keluhan tidak bisa tidurnya itu, langsung dibalas oleh seseorang. Sebuah akun dengan nama yang unik dan foto profil daun maple itu membalas postingannya dengan memberikan saran yang terbilang lumayan masuk akal. Vivian sekali lagi terus membalas pesan orang itu di dalam forum tersebut hingga membuat dirinya semakin lama semakin merasakan ras kantuk kembali. Dirinya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kemudian mencoba untuk memejamkan matanya. Nafasnya yang mulai terasa berat, hingga pada akhirnya dirinya terlelap lagi. Suasana hening kamarnya mulai terasa. Sementara itu, di lokasi lain Brenda yang terlihat sedang berdiri di depan pintu apartemennya dan kemudian membukanya. Begitu dirinya memasuki kediamannya itu, seketika mulai memijat punggungnya yang ternyata terasa sakit. “Astaga, ini pegal sekali,” gumam Brenda sambil meletakan tasnya di sofa dan dirinya juga langsung duduk di sofa sambil terus memijat pundaknya. Brenda yang baru saja pulang dari kantornya dan juga sudah menyelesaikan rapat yang memang dilaksanakan bersama dengan Leo saat itu. Tubuhnya yang teras pegal kini mulai menyiksanya hingga membuat dirinya nyaris tidak berdaya. Tidak lama kemudian, dirinya mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang ternyata itu merupakan sebuah obat pereda rasa sakit. Dengan cepat, dirinya langsung meminumnya bersama dengan air putih yang ternyata ada di atas meja yang terdapat di ruang tengah miliknya itu. Setelah dirinya meneguk obat tersebut, pikirannya mulai terasa rileks dan memang berharap rasa sakit di pundaknya itu berkurang. Sesaat dirinya mengingat sesuatu yang membuatnya sangat frustasi. Hari dimana dirinya harus menjalani pekerjaan yang sangat berat dan terus menerus tanpa henti. Pihak media yang juga menyiapkan beberapa berita terkait untuk dipublikasikan, mereka dengan sibuk menyuruh staf yang lain untuk segera melakukan pekerjaannya. Brenda yang merupakan salah satu dari pihak media, merasa pusing dengan apa yang mereka kerjakan. Sesaat, dirinya juga terus meneguk kopi pahit yang sengaja dibeli olehnya untuk meredakan rasa kantuk. Selain itu, dirinya juga tidak boleh merasa lelah dengan cepat karena memang pekerjaannya masih sangat banyak. Dengan terus mengerjakan semua itu tanpa henti, akhirnya satu persatu semuanya bisa teratasi dengan mudah. Beberapa orang yang juga ikut andil dalam hal itu, seakan mereka dalam penderitaan yang panjang. Begitu selesai, mereka pergi ke sebuah restoran untuk sekedar membakar daging dan juga minum beer. Brenda ikut bersama dengan mereka dan merayakan pesta tersebut. Namun, di sana mereka justru terus membicarakan mengenai suatu berita yang memang jika dirilis akan mendapatkan banyak keuntungan bagi media. Brenda yang merasa penasaran akan hal itu, dirinya terus menyimak apa yang mereka bicarakan hingga selesai dan itu membuat dirinya sangat terkejut. “Kalian sungguh akan menggunakan informasi itu?” ucap Brenda yang merasa tidak yakin. “Kita hanya akan menyimpannya saja. Bukan waktu yang tepat untuk mempublikasikan itu ke publik.” “Ah, begitu rupanya.” Semua orang kembali menikmati makanan dan minuman yang ada di meja makan mereka. Brenda yang masih kepikiran itu, kemudian dirinya meneguk segelas beer sampai habis dan membuat rekan-rekannya yang lain bersulang untuknya. Mereka terus membicarakan banyak hal sampai selesai. Saat itulah, dirinya mulai merasa goyah dengan apa yang seharusnya dilakukan olehnya sampai akhirnya Leo mencoba untuk menguatkan dirinya. Keesokan paginya, ketika dirinya pergi ke kantor dan kembali memulai pekerjaannya itu, tiba-tiba saja seseorang memanggilnya. Brenda dengan cepat pergi menuju ruangan yang dimaksudkan oleh seorang staff tadi yang menyuruhnya untuk mendatangi ruangan itu karena memang ada orang yang ingin bertemu dengan dirinya. Sesampainya di depan ruangan tersebut, Brenda lalu membuka pintunya perlahan dan memasuki ruangan tersebut. Tepat di dalam ruangan itu, ternyata ada seorang pria muda yang sedang duduk dan menunggu dirinya. Brenda kemudian dengan perlahan menghampirinya dan duduk berhadapan dengan pria tersebut. Mereka langsung memulai obrolan. “Apa anda nona Brenda?” ucap pria itu dengan nada yang terdengar sopan. “Iya, saya Brenda.” “Baiklah, saya akan langsung ke intinya saja bagaimana?” “Ya. Tentu saja tuan. Dengan senang hati.” “Kudengar pihak media memiliki berita yang bisa membuat public gempar. Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak langsung merilisnya? Ini tidak seperti kalian. Apa ada sesuatu yang disembunyikan?” “Maaf sebelumnya. Mengenai itu, kami masih harus mempertimbangkannya. Karena tidak akan mudah untuk menarik perhatian public semudah itu apalagi menggunakan informasi yang masih belum yakin. Dan juga kami tidak menyembunyikan apa pun. Hanya saja, kami harus lebih mempertimbangkan sesuatu.” “Begitu ya. Sangat disayangkan.” “Bagaimana anda bisa mengetahui soal informasi itu?” “Itu karena seseorang memberitahukannya padaku. Menurutmu, siapa orangnya?” ‘Apa-apaan orang ini? Kenapa menyuruhku main tebak-tebakan? Sudah jelas siapa yang memberikannya kalau bukan bedebah Leo itu,’ gumam Brenda dalam hati. “Ah, saya tidak tertarik untuk mengetahuinya.” “Baiklah kalau begitu, anda sangat pengertian sekali.” “Kalau begitu saya permisi.” “Ada beberapa hal yang seharusnya kalian pertimbangkan. Apa kalian akan melewatkan itu?” ucap orang itu kepada Brenda yang membuat dirinya seketika membalikan badannya ke arah orang itu yang sebelumnya dirinya berniat untuk meninggalkan ruangan. “Saya rasa kami masih harus memikirkannya,” ucap Brenda dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. “Astaga, cukup keras kepala,” gumam orang itu. Brenda kemudian berjalan menuju ke ruangannya. Saat ini dirinya terlihat sangat terburu-buru. Beberapa orang yang juga sempat melewatinya merasakan sesuatu yang sangat menakutkan. Tidak lama setelahnya, dirinya sampai di depan pintu ruangannya dan langsung memasuki ruangan tersebut. Brenda duduk di kursinya dan saat itu juga dirinya meneguk kopi yang ada di meja kerjanya itu sampai habis. Salah satu rekan kerjanya yang lain memperhatikannya dan rupanya dirinya sudah sadar bahwa Brenda sedang kesal dan jika diganggu, akan menyebabkan bencana. Tidak lama kemudian, Leo memasuki ruangan dan terlihat tersenyum cerah kepada mereka semua yang berada di dalam ruangan tersebut. Leo langsung menghampiri Brenda saat itu juga. “Wah, kau sedang dalam kondisi prima rupanya,” ucapnya yang mengejek Brenda. Brenda hanya menatapnya tajam tanpa berbicara.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
mantap
12d
0mantap
17d
0kkkkk
20d
0Lihat Semua