Awal pertemuan mereka di Berlin menjadi titik pertama dari rencana itu dimulai. Saat ini, di hotel dimana Vivian berada, dirinya sedang menikmati hidangan makan malam seorang diri sambil melihat ke arah pemandangan kota melalui jendela kaca. Di sana, dirinya sesekali membayangkan kehidupannya yang mulai membaik karena memang tepat di depan matanya, sesuatu yang dinantikannya selama ini akan menjadi kenyataan. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi dan ternyata itu ada notifikasi yang masuk. Pesan dari Samuel yang membagikan sebuah informasi yang akan membantunya dalam tahap berikutnya. Makan malam sudah berakhir, dirinya kembali ke kamarnya begitu semuanya selesai. Selama ini, ada sesuatu yang membuatnya merasa terhambat. Kejadian di masa lalu, dan beberapa hal yang membuat dirinya seperti terikat oleh rantai kesialan. Hari-hari buruk itu akan berakhir mulai sekarang. Itulah yang ada dalam pikirannya sampai detik ini. Malam hari yang indah, terlihat dari balik jendela. Vivian yang kemudian mengambil salah satu barang di tasnya yang tidak lain merupakan sebuah permen. Dirinya memakannya sambil melihat pemandangan kota yang gemerlap. Sesekali, dirinya juga mengecek ponselnya yang mungkin saja seseorang menghubunginya. Kenyataan yang memang sulit dipercaya, beberapa kali datang ke hadapannya hingga nyaris membuat dirinya tenggelam dalam hal itu. Perlahan, seakan merenggut kesadarannya. Namun, dirinya terus berusaha menyadarkan diri. “Astaga, aku hampir lupa sesuatu,” gumam Vivian sambil memeriksa beberapa dokumen yang ada di meja. Kali ini di suatu tempat yang berbeda. Samuel yang sedang berjalan turun dari mobilnya dan kemudian memasuki sebuah tempat yang cukup asing. Di sana, dirinya memasuki tempat tersebut tanpa ragu dan rupanya tempat itu merupakan sebuah Bar yang tertutup dan hanya sedikit orang yang tahu. Di dalam sana, ada beberapa orang yang sedang menikmati waktu mereka dengan meneguk beberapa minuman sambil terus mengoceh. Samuel langsung duduk tepat di dekat bartender yang sedang sibuk meracik minuman. Dirinya sempat menghela nafas dengan perlahan. Orang itu terlihat menantikan apa yang akan diucapkan yang akan keluar dari mulutnya itu. Suasana yang tampak tenang, terasa tidak asing. Samuel mulai membuka topik pembicaraannya begitu dirinya memesan minuman. “Kau datang seorang diri lagi?” ucap bartender tersebut yang memang mengenalnya dengan baik. “Ya. Memangnya kau mengharapkan apa dariku? Datang bersama seorang gadis?” “Wah, kau berpikir seperti itu rupanya.” “Ada sesuatu yang membuatku merasa tidak bisa damai.” “Apa itu? kau menghancurkan hidup orang lain?” “Bukan. Ini jauh lebih mengerikan daripada yang kau bayangkan.” “Kedengarannya menarik. Apa itu?” “Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini. Dan sekarang, tepat di depan mataku, seakan seperti duri yang menancap.” “Kau terlibat dalam hal berbahaya lagi?” “Kau benar.” “Bukankah itu sudah sepantasnya kau menanggungnya.” “Apa?” “Lagi pula kau sendiri yang menyeret dirimu ke dalam kekacauan itu. apa kau tidak pernah sadar dengan hal itu? wow, walaupun itu benar kau memang menyedihkan.” “Kurasa yang kau katakan itu tidak ada yang salah. Sama sekali tidak ada,” ucap Samuel sambil meneguk minumannya. “Apa kau menyesal?” “Tentu itu tidak mungkin.” “Baguslah. Akan semakin menyedihkan jika kau memang menyesali perbuatanmu itu.” “Ngomong-ngomong, apa kau kehilangan banyak pekerja?” “Apa maksudmu?” “Bukankah beberapa bulan yang lalu tempat ini ramai oleh pekerja. Kau memecat mereka?” “Ah, itu sekedar seleksi alam.” “Begitu rupanya.” “Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu? Apa kau menginginkan pekerjaan paruh waktu?” “Jangan bercanda. Sama sekali itu tidak aku butuhkan. Hanya sekedar bertanya saja. Karena rasanya kosong.” “Padahal memang dari awal juga seperti ini. Dasar kau ini pandai sekali mengalihkan topik pembicaraan.” Samuel masih terus meneguk minuman yang ada dihadapannya itu dan setelahnya dirinya juga memakainya kembali. Temannya yang memang merupakan bartender sekaligus pemilik tempat ini sering kali bertanya banyak hal kepada dirinya. Mereka berdua sudah seperti saudara. Malam ini, keheningan kembali dimulai. Perasaan yang semakin menghantui dirinya terasa begitu kuat. Bahkan, beberapa gelas alkohol juga tidak bisa mengatasi itu. “Oh iya, sebenarnya belakangan ini ada beberapa orang yang terlihat aneh.” “Aneh bagaimana maksudmu?” “Mereka seperti pengguna beberapa obat-obatan. Terkadang juga membuat kebisingan di sini. Apa kau tidak tahu soal itu?” “Obat-obatan ya? Entahlah, aku tidak pernah mendengar apapun soal itu.” “Yang benar?” “Ya, itu sungguhan. Bagaimana kau bisa melihat hal semacam itu? apa kau sengaja menyelidikinya?” “Ternyata kau sudah mulai mabuk rupanya. Mana mungkin ku selidiki. Lagi pula itu bukan urusanku. Hanya saja, ada beberapa dari mereka yang membawa benda itu datang ke sini dan membuat keributan. Apa kau akan tinggal diam jika itu terjadi di depan matamu?” “Ya. Aku akan diam dan membunuh mereka.” Samuel kemudian tertidur karena mabuk. Saat ini di tempat yang berbeda. Vivian yang tengah memeriksa ulang dokumen miliknya itu sekarang sudah selesai. Dengan lega, dirinya merasa semuanya akan berjalan dengan baik karena memang sudah diperiksa semuanya olehnya. Kali ini, ponselnya berbunyi dan ternyata ada pesan yang masuk dari salah satu temannya yang sempat satu universitas dengannya. Orang itu mengirimkan pesan undangan kepada dirinya untuk bertemu dengannya di minggu yang akan datang. Vivian tentu saja menerima tawaran tersebut dan membalas pesannya. Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Dirinya kemudian bersiap untuk tidur. “Kau sudah memberitahukannya?” ucap seorang pria yang sedang duduk bersama dengan wanita berambut pirang yang tidak lain merupakan teman masa kuliahnya Vivian yang bernama Brenda. “Ya. Sudah kukirimkan pesannya.” “Bagaimana? Responnya?” “Dia menerimanya. Minggu depan dia akan datang. Kenapa kau sampai seperti ini? Memangnya apa yang kau inginkan darinya?” “Apa kau tidak sadar? Orang itu bisa menarik perhatian public dengan baik. Akan menjadi berguna jika bekerjasama bersama dengan kita di media.” “Kau begitu menginginkannya?” “Apa? kenapa kau bertanya sesuatu yang sudah sangat jelas.” “Dengar Leo, kurasa sesuatu yang akan menarik bisa saja terjadi.” “Ya, itulah yang kuinginkan.” ‘Apa orang ini tidak pernah pintar? Sama saja,’ gumam Brenda dalam hati. Perbincangan mereka berlangsung lumayan lama. Selain itu, Brenda kerap kali mendengarkan apa yang dikatakan oleh Leo karena memang mereka merupakan rekan satu tim di sebuah stasiun media. Saat ini, mereka berdua tengah mengadakan rapat dan berencana akan menarik Vivian untuk bergabung bersama dengan mereka. Di saat yang hampir bersamaan, Samuel kemudian terbagun dan kepalanya masih terasa berat. Pandangannya terasa kabur hingga dirinya mencoba untuk mengatasi itu. Di Depan matanya ada sebuah obat yang kemudian diminum olehnya yang tidak lain merupakan obat pereda mabuk. Bartender itu yang memberikannya dan dirinya sekarang mulai bisa melihat dengan normal dan kepalanya mulai mereda. “Astaga, kepalaku,” gumam Samuel
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
mantap
12d
0mantap
17d
0kkkkk
20d
0Lihat Semua