logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 5

Hari ini, sesampainya di stasiun Berlin. Vivian berpamitan dengan Caterine dan terlihat melambaikan tangan. Keduanya berpisah karena tempat yang ditujunya berbeda. Suasana stasiun yang cukup ramai, membuat dirinya sedikit kesulitan. Setelah berhasil menaiki taxi dan hendak menuju ke hotel. Dalam perjalanannya ke sini, Vivian kerap kali memeriksa ponselnya dan ternyata sudah berisikan notifikasi dari beberapa website yang sebelumnya menjadi tempat dirinya berkumpul dan mengumpulkan informasi terkini. Sesampainya di sebuah hotel, dengan perlahan Vivian memasuki tempat tersebut sambil membawa koper. Begitu sampai sana dan memesan kamar selama beberapa minggu, Vivian akhirnya sampai di dalam kamar dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Nafasnya yang terasa sesak membuat dirinya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ponselnya tiba-tiba berbunyi dan rupanya itu adalah panggilan dari temannya yang bernama Samuel.
“Halo, Samuel ada apa?” ucap Vivian sambil menarik nafas panjang.
“Kau sudah sampai? Bagaimana perjalananmu?”
“Ya, aku sudah sampai barusan. Sekarang sudah berada di hotel. Astaga ini membuatku gugup saja.”
“Sebaiknya kita segera bertemu.”
“Apa?”
“Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan denganmu. Sore ini di Mugrabi.”
“Oke. Aku akan kesana. Apa sekarang kau sibuk?”
“Ya. Aku harus mengurus sesuatu. Nanti akan ku kabari lagi.”
“Baiklah, sampai nanti.”
Panggilan tersebut berakhir. Vivian yang melihat suasana kota Berlin dari balik jendela hotel terlihat dipenuhi rasa kagum. Beberapa waktu yang lalu, setelah kejadian itu. Keindahan yang terpancar berubah dalam sekejap menjadi gelap. Namun, sekarang ini di bawah langit yang sama dan pemandangan yang sama. Semuanya kembali bersinar. Setelah cukup melihat pemandangan kota, Vivian kemudian memeriksa kembali kelengkapan dokumen yang sudah dikirimkannya kepada staf pegawai. Sambil memeriksa dokumen tersebut, dirinya mendengarkan musik dari ponselnya.
“Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Ini kesempatanku. Tidak boleh ragu,” gumam Vivian sambil mendengarkan musik.
Sepintas, pikiran itu memang mengganggunya dan seakan memberikan sebuah trauma. Meski mimpin itu sempat datang lagi kepadanya, dengan berani dirinya mencoba untuk melupakannya. Berbeda dengan Samuel, saat ini dirinya sedang sibuk bersama dengan rekannya yang lain. Pekerjaannya selalu saja melibatkan banyak hal dan itu membuatnya terkadang merasa tertekan. Salah satu rekannya itu kemudian tanpa ragu bertanya kepada Samuel yang sedang memeriksa dokumen.
“Hey, apa kau yakin dengan itu?” ucapnya dengan nada pelan seolah tidak boleh ada yang mendengarnya.
“Apanya? Kau bertanya soal apa?”
“Posisimu.”
“Memangnya ada apa dengan posisiku?”
“Astaga, apa kau tidak sadar?”
“Sudahlah, aku sedang bekerja jadi tolong minggir.”
“Kau akan bertahan dengan semua tuntutan itu?” ucapnya dengan nada keras hingga ada beberapa orang yang menoleh ke arahnya.
“Aku tidak tahu, jadi jangan bahas itu.”
“Hey, apa kau sudah gila? jika terus seperti itu bagaimana dengan…”
“Cukup. Aku sudah memikirkannya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Samuel meninggalkan orang itu yang saat ini masih berdiri di sana. Tatapan mata beberapa orang yang melihat keduanya bertengkar seperti penasaran dengan hal itu. Saat itu juga, orang tersebut langsung mengatakan sesuatu kepada mereka dan langsung terdiam.
“Apa yang kalian lihat!” ucapnya dengan tegas. Lalu pergi dari ruangan tersebut.
Kali ini di sebuah ruangan lain, beberapa anggota dewan sedang berkumpul dan mereka tengah membahas sesuatu. Samuel yang membawa beberapa dokumen kemudian memasuki ruangan tersebut dan bergabung dengan mereka. Begitu melihat Samuel memasuki ruangan, semua orang yang ada di sana tersenyum ramah dengan dipenuhi rasa hormat. Pada saat itu, rapat dimulai.
“Kali ini apalagi? Kurasa dengan berkumpulnya mereka pasti ada sesuatu. Bukankah begitu tuan?” ucap seorang wanita bernama Bonnie yang merupakan salah satu staff.
“Entahlah. Itu bukan urusan kita.”
“Tapi tuan, apa anda tidak bisa menebak itu? Kenapa?”
“Sudahlah. Lagi pula akan merepotkan jika media mengendus itu semuanya. Kau cukup pastikan agar mereka tidak terfokus dengan hal itu. Mengerti!”
“Iya, baiklah.”
Orang-orang yang berada di dalam gedung tersebut terlihat sibuk. Mereka kesana-kemari dengan terburu-buru. Satu jam kemudian, kali ini di tempat yang berbeda. Vivian masih berada di dalam hotel dan sekarang dirinya terlihat sedang bersiap-siap. Hari tidak terasa sudah mulai sore. Melihat dirinya yang dalam suasana hati yang bagus, tidak melupakan nyanyian yang selalu disenandungkannya setiap itu terjadi. Begitu selesai dengan persiapannya, Vivian mulai berangkat untuk menemui orang itu. Hotel tempat dimana dirinya menginap rupanya tidak jauh dari lokasi pertemuan mereka. Pemandangan langit sore yang terasa nyaman ketika melupakan apa yang sebelumnya menjadi tekanan baginya. Beberapa orang juga yang terlihat bahagia. Vivian berjalan menuju ke sebuah café yang ada di depannya itu. Sesampainya di sana, rupanya Samuel sudah menunggunya dan melambaikan tangan kepadanya.
“Maaf, menunggu lama.”
“Tidak juga, aku baru saja sampai.”
“Kau terlihat kelelahan. Apa pekerjaanmu sesibuk itu?”
“Ah, benar. Oh iya ada yang ingin aku beritahukan padamu.”
“Aku datang untuk mendengarkan itu. Jadi, katakana. Jangan membuatku merasa penasaran.”
“Ada banyak  hal yang sulit dimengerti. Sekarang ini sudah tidak aman lagi. Bukan hanya itu saja, resiko pencurian data juga kerap kali jadi masalah. Ini merepotkan.”
“Jadi, kau memintaku bertemu denganmu hanya untuk membicarakan itu?”
“Ah, iya tentu saja.”
“Astaga, kupikir ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu,” ucap Vivian yang merasa kecewa dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Samuel.
“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan sebelumnya? Sebenarnya aku sudah lama memikirkan itu dan sepertinya akan cocok denganmu.”
“Iya, aku sudah mengirimkan berkasnya.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Seperti yang ada dipikiranmu.”
“Apa? hey, jangan membuatku bingung.”
“Mereka memintaku untuk datang kesana besok. Sepertinya itu akan menjadi sesuatu yang bagus. Sudah lama sekali aku menantikan itu.”
“Ya. Kau harus mencobanya.”
“Terimakasih. Berkat kau aku bisa kembali ke kota ini lagi. Bukan hanya sekedar nostalgia.”
“Tidak perlu dipikirkan. Memang sudah seharusnya membantumu.”
“Tapi, ada sesuatu yang membuatku terus merasa bersalah.”
“Lupakan!”
“Apa?”
“Sudah kubilang lupakan! Kau tidak harus mengingat itu. Itu hanya akan membuatmu semakin terluka.”
“Tentu saja. Aku harus melupakan itu.”
Sementara saat ini, Lizzy yang sedang bersama dengan rekan kerjanya itu terlihat membicarakan sesuatu. Pembicaraan mereka cukup serius dan seketika membuat beberapa orang yang saat ini sedang berkumpul dengan mereka juga tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Lizzy semakin tidak tenang dan kerap kali mencoba untuk menenangkan dirinya. Hingga akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar. Ketika sampai di dalam toilet wanita, dirinya langsung membuka tasnya dan mengambil sejumlah obat yang kemudian ditelan olehnya. Perlahan dirinya mulai membaik dan menghembuskan nafas sekejap.
“Sial. Kenapa di saat-saat seperti ini,” gumam Lizzy sambil melihat cermin.

Komentar Buku (12)

  • avatar
    HAM IRHAM

    mantap

    13d

      0
  • avatar
    KphRayhan

    mantap

    18d

      0
  • avatar
    ciboy lyka

    kkkkk

    22d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru