logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 4

Di malam yang sama, tepatnya di Berlin. Samuel yang terlihat sedang berdiri di dekat sebuah ruangan. Di sana dirinya memasukan ponselnya yang sebelumnya sempat menghubungi Vivian. Setelah itu, suara langkah kaki dari arah timur terdengar cukup keras dan seketika membuat dirinya menoleh ke arah sana. Tiba-tiba, seorang pria yang terlihat bertubuh tinggi dan memakai seragam lengkap datang menemuinya. Mereka berdua terlihat akrab dan kembali ke suatu tempat bersama. Beberapa jam kemudian, Samuel yang hendak pulang ke rumahnya ternyata mampir sebentar di sebuah kedai kopi yang terletak bersebelahan dengan gedung tempat dirinya bekerja. Begitu masuk ke dalam, aroma kopi tercium dan itu membangkitkan semangat. Melihat tempat tersebut yang selalu ramai dikunjungi orang, dirinya duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan baristanya dan memesan satu gelas espresso. Keramaian yang membuat dirinya merasa nyaman dan saat ini juga perlahan Samuel memeriksa kembali ponselnya. Beberapa pesan masuk dan dengan cepat langsung dibaca olehnya.
“Samuel apa itu kau?” ucap seorang wanita dari arah samping. Dirinya langsung menoleh ke arah suara tersebut dengan senyuman di wajahnya.
“Ah, Lizzy.”
“Sudah lama sekali ya. Bagaimana kabarmu?” ucapnya sambil duduk bersebelahan dengan Samuel. Tatapan matanya yang memikat itu, sama sekali tidak membuat Samuel merasa gugup.
“Tentu saja baik. Bagaimana denganmu Lizzy?”
“Aku juga baik-baik saja. Oh, ngomong-ngomong apa kali ini pekerjaanmu berjalan lancar?”
“Tentu saja. Semuanya selalu berjalan lancar.”
“Baguslah. Beberapa waktu yang lalu, kudengar ada sesuatu yang menjadi masalah. Apa itu sungguhan?”
“Ternyata itu sudah menyebar rupanya.”
“Sepertinya hanya sampai pada pihak kami saja. Tidak sampai bocor keluar.”
“Sampai mana kalian mengetahui itu?”
“Tidak terlalu banyak. Jangan khawatir.”
“Kalau begitu, aku bisa bernafas lega.”
“Oh iya, apa kau sedang berkencan dengan seseorang?” ucap Lizzy dengan tatapan yang menggodanya.
“Tidak ada waktu untuk yang seperti itu,” ucap Samuel sambil beranjak dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan Lizzy.
“Ah, sayang sekali ternyata. Kau mau kemana?”
“Ada acara rapat. Sampai nanti.”
“Eh?”
Samuel pergi dari tempat tersebut dan sekarang dirinya berjalan menyusuri jalanan yang ada di Berlin. Melihat kebanyakan orang yang sedang menikmati kesibukannya. Malam hari yang terbilang sangat ramai. Sementara itu, Lizzy yang masih berada di tempat itu sedang terdiam sendirian sambil meneguk segelas latte yang ada di depannya. Lizzy kemudian melihat ponselnya yang bordering dan langsung mengangkat panggilannya dengan cepat.
“Halo?”
“Kau ada dimana sekarang?”
“Kedai kopi tempat biasa.”
“Apa yang kau lakukan di sana? Sebaiknya kau segera kembali.”
“Aku akan segera kembali. Tidak perlu marah-marah.”
“Cepatlah.”
‘Menyebalkan sekali,’ gumam Lizzy dalam hati
Panggilan tersebut berakhir dan sekarang Lizzy mulai meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Sesaat kemudian dirinya memanggil taxi dan pergi menuju ke tempat orang itu berada. Kali ini, Samuel yang masih berada di dekat halte. Pandangan yang seakan menantikan seseorang membuatnya terlihat dramatis. Saat ini dirinya juga tidak bisa mengalihkan perhatiannya ke ponselnya yang ternyata ada foto temannya itu. Sambil menarik nafas panjang, diirnya baru mengingat bahwa sebelumnya berbohong kepada Lizzy untuk melarikan diri darinya. Pesona wanita dewasa yang terbilang vulgar membuat dirinya merasa merinding. Pemandangan kota yang terlihat tidak berubah membuatnya merasakan nostalgia yang sesungguhnya.
“Astaga,” gumam Samuel
Keesokan harinya di kota Hamburg. Vivian yang baru saja terbangun dari tidurnya terlihat sangat terkejut. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9 pagi, dengan cepat dirinya beranjak dari tempat duduknya dan langsung mandi. Setelah selesai mandi, tidak lupa untuk bersiap. Begitu semuanya sudah selesai, sekarang Vivian membawa sebuah koper yang berisikan banyak sekali barang-barangnya berangkat menuju ke suatu tempat. Pamannya yang melihat dirinya hendak pergi, kemudian langsung bertanya kepadanya.
“Kau akan pergi?”
“Iya, aku harus pergi.”
“Kemana? Jangan bilang, kau mau melarikan diri.”
“Tidak, bukan seperti itu paman. Aku hanya harus bekerja.”
“Ah, baiklah. Hati-hati di jalan semoga kau berhasil.”
“Ya, terimakasih paman.”
Vivian yang membawa koper tersebut, dirinya langsung berangkat menuju ke stasiun. Dalam perjalanannya kesana menggunakan bus, perasaannya terlihat campur aduk. Bukan hanya kebahagiaan saja yang ada pada dirinya itu melainkan rasa gugup juga. Melihat beberapa pemandangan yang tampak dari balik jendela, sekarang semuanya sudah terasa biasa saja. Sesampainya di lokasi, Vivian masih harus menunggu keretanya datang. Sambil menunggu, rupanya dirinya meluangkan waktu dengan membaca beberapa artikel yang ada di internet. Rupanya kali ini publik sedang tertuju dengan informasi yang bersangkutan dengan salah satu institusi pemerintahan. Beberapa waktu yang lalu memang menjadi heboh.
“Ah, masih membahas hal yang sama rupanya,” gumam Vivian
Tidak terasa, sekarang keretanya sudah datang dan dirinya langsung menaikinya. Perjalan kedua akan dimulai. Dengan semangat sambil memasuki gerbong kereta, Vivian rupanya secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sempat dikenalnya semasa kuliah. Seorang wanita bertubuh langsing dengan warna rambut pirang yang cantik. Wanita tersebut bernama Catherine.
“Vivian.”
“Catherine.”
“Wow, ini menakjubkan. Kau akan berangkat ke Berlin juga?”
“Iya benar, aku akan pergi ke sana. Oh iya, kau sendirian saja?”
“Ah, benar. Aku memang selalu sendirian,” ucapnya sambil tertawa kecil. Mereka berdua rupanya duduk berhadapan.
“Bagaimana kabarmu? Akhir-akhir ini aku sama sekali tidak tahu kabarmu.”
“Aku selalu baik-baik saja. Jujur, selama ini memang sibuk tapi aku juga sering meluangkan waktu jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Syukurlah. Aku merasa senang bertemu denganmu Catherine.”
“Aku juga senang bertemu denganmu Vivian. Sebenarnya, ada sesuatu yang selama ini ingin kutanyakan padamu.”
“Iya. Katakana saja.”
“Apa kau tahu soal Yohanes?”
“Apa? aku tidak pernah tahu soal orang itu. Apa ada sesuatu?”
“Ah, soal itu…”
“Ayolah. Jangan membuatku penasaran.”
“Satu minggu yang lalu, keluarganya mencarinya bahkan sampai menghubungi pihak berwajib. Tapi anehnya mereka sama sekali tidak bisa menemukannya.”
“Mustahil. Bagaimana itu terjadi?”
“Aku hanya mendengar kabar itu dari teman yang bekerja di sana. Mereka cukup kewalahan dengan tekanan yang diberikan keluarga Yohanes. Sungguh kau tidak tahu soal itu?”
“Jujur saja, belakangan ini aku sedang disibukan oleh banyak hal. Jadi, tidak ada informasi yang kulihat selain dari artikel tadi.”
“Aku mengerti. Kesibukan yang sungguh merepotkan.”
“Kau benar. Ngomong-ngomong, kau akan pindah ke Berlin?”
“Sebenarnya hanya tinggal selama beberapa bulan ke depan saja. Ada yang harus kulakukan. Jadi aku terpaksa harus menetap beberapa waktu.”
“Begitu ternyata.”
“Bagaimana denganmu? Kau akan tinggal selamanya? Atau sama sepertiku?”
“Sepertinya tergantung kondisi.”
“Ah, iya aku paham soal itu,” ucap Catherine sambil tertawa kecil. Mereka berdua terlihat bergembira sambil membicarakan banyak hal di dalam kereta.

Komentar Buku (12)

  • avatar
    HAM IRHAM

    mantap

    13d

      0
  • avatar
    KphRayhan

    mantap

    18d

      0
  • avatar
    ciboy lyka

    kkkkk

    22d

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru