Vivian yang terlihat menikmati segelas wine, cukup menarik perhatian beberapa orang yang ada di dalam bar tersebut. Mereka tidak bisa memalingkan wajah darinya dan terus menerus menatap ke arahnya dengan penuh rasa kagum. Saat ini semua mata sedang tertuju padanya. Namun, tidak ada satupun yang membuatnya merasa risih karena hal tersebut. Maria yang sekarang sedang meracik minuman juga, ternyata orang itu salah satu dari mereka yang juga mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh Vivian. Perbincangan kecil pun tercipta dan sudah seperti teman akrab pada umumnya. Setelah semua yang dilaluinya hari ini, memang cukup melelahkan. Bukan hanya lelah secara fisik tapi juga batin. Hal itu sangat berpengaruh terhadap mood yang tiba-tiba saja menjadi sangat emosional. “Apa kau sedang ada sesuatu?” ucap Maria dengan lembut kepada Vivian. Sorot matanya memperlihatkan kekhawatiran. “Ya. Sesuatu terjadi padaku. Tidak tahu harus mulai lagi dari mana, itu membingungkan.” “Tenanglah. Kau bisa memulainya lagi setelah semuanya mereda.” “Aku juga ingin sekali berpikir seperti itu dalam keadaan yang sekarang ini. Tapi sulit sekali,” ucap Vivian sambil meneguk wine yang ada digenggamannya itu. Perlahan, Maria menghela nafas. “Kau hebat. Meskipun aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, hanya saja dengan dirimu yang masih kuat itu sangat luar biasa.” “Terimakasih pujiannya. Aku menghargai itu.” “Jangan sungkan. Semua aman jika berada di sini,” ucapnya sambil mengedipkan mata. “Apa?” “Tempat ini bukan hanya tertutup tapi juga aman.” “Ah, aku paham.” “Memang kadang-kadang orang-orang beramai-ramai mengunjungi bar ini. Hanya saja akhir-akhir ini terasa sepi.” “Kurasa nanti juga akan kembali ramai. Sebenarnya aku sedang mencari pekerjaan tapi, mereka membatalkan janjinya. Menyebalkan sekali.” “Apa? kenapa membatalkan begitu saja? Apa mereka sudah memberitahumu bahwa kau keterima di perusahaannya?” “Ya. Sudah ada email konfirmasi. Tapi… itulah yang terjadi.” “Astaga, itu kejam sekali.” “Karena itu, aku sudah tidak ada harapan lagi.” “Jangan berkecil hati, mungkin ini hanya ujian. Tetap semangat.” Vivian kemudian tersenyum menyeringai begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Maria. Senyuman yang hanya sesaat lalu menghilang lagi. Suasana tenang di dalam bar, membuat Vivian seakan nyaris kehilangan akal sehatnya. Terlalu lama menikmati alkohol padahal ini siang hari, terasa cukup intens. Melihat sekitar yang sekarang hanya tinggal dirinya saja sebagai pelanggan. Mereka semua sudah pergi. Vivian yang masih duduk santai itu, tiba-tiba saja mendapatkan sebuah panggilan dari kerabatnya. Dengan cepat dirinya pergi ke toilet dan mengangkat panggilan tersebut. “Halo.” “Vivi. Kau ada di rumah?” “Tidak. Hari ini aku diluar. Apa ada sesuatu?” “Tadinya aku akan datang ke rumahmu bersama dengan sepupuku. Kudengar sebelumnya kau sedang berada di rumah.” “Tidak. Bagaimana kalau lain kali saja? Sekarang aku sedang sibuk.” “Baiklah. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tokomu? Apa seperti biasanya?” “Benar. Paman yang mengelolanya dan sama sekali itu tidak ada hubungannya denganku.” “Kenapa? Seharusnya itu milikmu. Bukankah orang tuamu yang memberikannya padamu? Kenapa kau berpikir seperti itu?” “Nanti saja aku ceritakan.” “Baiklah. Sampai nanti.” “Iya. Sampai nanti.” ‘Astaga, ini merepotkan sekali,’ gumam Vivian dalam hati. Setelah selesai mengangkat panggilan tersebut, kini Vivian kembali ke tempatnya semula dan berbincang-bincang lagi bersama dengan Maria. Ternyata selama ini, kerabatnya memang selalu saja seperti itu padanya. “Sudah selesai?” ucap Maria “Iya.” “Aku mengerti dengan kondisimu. Sebenarnya banyak sekali orang yang memang situasinya sama denganmu. Aku juga tidak tahu Hamburg ternyata kurang dalam hal pekerjaan.” “Kurasa aku harus pergi meninggalkan Hamburg.” “Apa?” “Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. Dengan pergi dari kota ini, kemungkinan mendapatkan pekerjaan bisa saja ada.” “Ya. Itu bukan ide yang buruk. Jadi, akan pergi kemana?” “Berlin.” “Sungguh?” “Ya. Memang tidak lucu jika kau kembali lagi kesana. Hanya saja, di sini ternyata jauh lebih buruk.” “Lakukan saja. Kau bisa melakukan apapun. Keputusan ada ditanganmu.” “Itu memang benar.” “Satu hal lagi, pastikan kau sungguh baik-baik saja.” “Tentu.” Hari sudah mulai mendekati sore. Sekarang, Vivian pergi meninggalkan bar itu dan berjalan untuk pulang ke rumah. Orang-orang yang juga terlihat sibuk kesana- kemari membuat Vivian merasa tidak sendirian. Meski sebelumnya minum lumayan banyak, tapi itu tidak membuatnya mabuk. Dengan berjalan perlahan menyusuri jalanan kota, tiba-tiba saja Vivian bertabrakan dengan seorang pria yang terlihat membawa sebuah koper berwarna hitam. Merasa heran, Vivian melirik ke arah orang itu dan ternyata sudah pergi. Setelahnya, kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangan kota Hamburg yang masih sama saja dan memang cukup membosankan baginya. Dengan perlahan menarik nafas panjang sambil menatap seberang jalan. Vivian berdiri tepat di penyebrangan jalan, menunggu lampu merah untuk menyebrang. Seorang wanita muda yang terlihat seperti mahasiswa ada di sana bersamanya dan mereka saling tersenyum ramah. Setelah selesai menyebrang jalan, Vivian berjalan ke arah halte bus. “Tidak ada cara lain lagi. Aku harus melakukannya,” gumam Vivian Kali ini di tempat berbeda. Tepatnya di Berlin. Samuel bersama dengan beberapa rekannya sedang berkumpul bersama dan terlihat tertawa riang. Mereka masih membicarakan lelucon mengerikan yang selalu menjadi bahan humor Samuel. Rekan yang lainnya juga anehnya merasa terhibur dengan apa yang dilakukannya. Sementara itu, seseorang datang ke arah mereka dan kemudian memanggil Samuel. “Samuel, ikut denganku.” “Ah, baik.” Tanpa berlama-lama, Samuel pergi bersama dengan orang yang memanggilnya itu menuju ke suatu ruangan. Sesampainya di dalam ruangan, mereka terlihat sedang serius dan kemudian menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebuah dokumen yang terlihat menarik. Dengan perlahan, Samuel membuka dokumen tersebut dan itu membuatnya sedikit terkejut. “Apa ini sungguhan?” ucap Samuel kepada orang yang ada di hadapannya itu. Orang itu hanya mengangguk saja. Saat ini di waktu yang sama, di kota Hamburg. Vivian yang sudah sampai di rumahnya dan terlihat cukup kelelahan secara batin. Kemudian memeriksa ponselnya sesekali dan ternyata tidak ada apa pun. Vivian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegang kepalanya yang saat itu terasa pusing. Namun, beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi dan ketika diperiksa ternyata seseorang menghubunginya. Dengan cepat, panggilan itu dijawab olehnya. “Halo? Samuel.” Di dalam panggilan tersebut Samuel memberitahukan sesuatu kepadanya dan sekarang membuat Vivian terdiam. Apa yang baru saja dikatakan oleh temannya itu seketika memberikan sebuah kekuatan dalam sekejap dan tidak tahu lagi harus berkata apa. Setelah panggilan itu berakhir, Vivian beranjak dari tempat duduknya dan kemudian menyalakan komputernya. Setelah terhubung dengan internet, mulai mencari sesuatu dan ternyata dalam waktu singkat sudah dapat ditemukan olehnya. Senyuman kembali terpancar di wajahnya dan sekarang sangat gembira. “Sudah kuputuskan,” gumam Vivian
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
mantap
14d
0mantap
19d
0kkkkk
22d
0Lihat Semua