logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

bab 8

KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA
BAB 8
"Kalau gitu saya permisi dulu ya Nak Lila, ini uang dp nya, sisanya nanti pas hari h," ucap Bu Farida sembari memberikan uang didalam amplop coklat pada Lila.
"Iya Bu, terimakasih sudah mempercayakan restoran kami untuk acara Ibu, semoga kami nanti tidak mengecewakan Ibu dan keluarga, dan hati-hati dijalan," jawab Lila sembari tersenyum.
*****
Hari itu adalah jadwal restoran milik Lila diboking oleh Bu Farida, sedari pagi Lila sudah mempersiapkan semua bahan dan kebutuhan yang diperlukan untuk acara pesta nantinya, restoran juga sudah di hias sedemikiam rupa yang sesuai dengan konsep pesta kali itu, karena akan merayakan pesta untuk orang dewasa, maka Lila tidak terlalu banyak memberi pernak-pernik pada restorannya saja, cukup sedikit hiasan ia berikan, hingga terkesan simple tapi tetap terlihat elegan.
Pukul 4 sore semua sudah siap, baik dari makanan dan minuman, maupun dekor, dan Lila pun cukup puas dengan hasilnya.
"Wah, jadi terliht tambah mewah Bu Restoran kita, Ibu ternyata selain jago masak juga jago mendekor ya, Saya baru tau lho Bu," puji Aisyah, karyawan kepercayaan Lila.
"Ah, kamu bisa saja mujinya Syah," ucap Lila sembari tersenyum sumringah.
"Ih, Saya gak hanya muji tapi ini memang beneran bagus Bu."
"Yasudah, sekarang kamu dan yang lainnya boleh istirahat, dan bersih-bersih, karena setelah ini kalian masih harus bekerja lagi sampai malam, alias lembur, tapi tenang saja Saya sudah siapkan uang tambahan untuk kalian semua."
"Wah, terimakasih ya Bu, pasti mereka tambah semangat." ucap Aisyah dengan mata berbinar.
"Iya sama-sama," ucap Lila tersenyum, dan setelahnya Lila pun kembali ke ruangan pribadinya.
Didalam ruang pribadi Lila terdapat kasur, lemari, meja rias, dan juga ada kamar mandi didlaamnya, ruangan itu memang sengaja Lila buat untuk tempat istirahat Lila jika dirinya tengah penat.
Lila masuk kedalam ruangannya dan bergegas mandi, setelah melakukan ritual bersih-bersih, Lila pun kemudian memilih baju yang bagus dan pantas untuk dipakai acara malam nanti, dan untuk sementara saat sedang beristirahat Lila hanya mengenakan piyama saja.
****
Lila kini sudah bersiap dengan dress selutut berwarna navy, ia padu padankan dengan sepatu berhak 5 cm karena Lila sudah tinggi jadi ia tidak perlu memakai sepatu yang terlalu tinggi, ditambah jam tangan disebelah kirinya dan tak lupa perhiasan seperti anting dan kalung ia sematkan, menambah keindahan dan kexantikan pada dirinya.
"Wah, Ibu cantik sekali malam ini," puji Aisyah dan beberapa karyawan lainnya yang da disebelah Aisyah.
"Oh berarti kemarin-kemarin Saya gak cantik gitu?"
"Oh bukan itu maksud Saya Bu, Ibu selalu cantik karena Ibu memang sudah cantik, hanya saja malam ini terliht istimewa."
"Hahahaha, gak usah canggung gitu, saya cuma becanda, ya mungkin karena saya memakai make up makanya terliht beda, jika biasanya kan saya jarang bermake up."
"Hehehe iya kali ya Bu,"
"O iya, gimana semuanya sudah sip kan?"
"Sip dong  Bu, Ibu tenang saja, insyaallah kami tidak akan mengecewaka Ibu malam ini."
"Iya saya minta tolong ya, soalnya ini acara lumayan besar karena tamu undangannya cukup banyak, jadi saya minta tolong pada kalian bekerjalah semakimal mungkin, dan saya tidak akan melupakan jasa kalian, pasti kalau tamu puas restoran kita semkin maju, dan tentu saja penghasilan kalian akan saya naikkan."
"Wah, beneran Bu?"
"Iya dong, yasudah saya mau kesana dulu, dan kalian selamat bekerja."
"Terimakasih Bu," ucap Aisyah dan karyawan lainnya bersamaan.
Pukul 18.30 para tamu sudah mulai berdatangan, terutama Bu Farida dan keluarganya mereka lebih awal datang ke acara itu.
"Selamat malam Ibu, selamat menikmati, semoga suka dengan konsep dan makanan yang kami suguhkan," ucap Lila menyapa Bu Farida.
"Malam juga Nak Lila, Saya sangat suka dengan konsep yang Nak Lila pilihkan, simple tapi elegan dan terkesan mewah, padahal ornamen dan hiasan tidak terlalu banyak, kalau soal makanan kayaknya pasti enak, soalnya restoran Nak Lila ini kan sudah terkenal dengan masakannya yang enak."
"Ah, Ibu bisa saja memujinya," ucap Lila tersipu.
"Bukan hanya sekedar memuji tapi memang kenyataannya begitu, Saya sudah beberapa kali makan di restoran ini dan rasanya memang enak," ucap seorang Pria yang ada di sebelah Bu Farida.
"Ah iya, saya sampai lupa, kenalkan ini anak Saya namanya Azka, Azka kenalkan ini pemilik restoran namanya Lila," ucap Bu Farida.
Lila dan Azka saling bersalaman, saat bersalaman dalam diri Azka ada desir aneh yang menjalar di dadanya, Azka terus menatap Lila memandangnya kagum, tanpa Azka sadari kalau dirinya sudah terlalu lama bersalaman dengan Lila, Lila yang mendapat perlakuan seperti itu dari Azka tentu saja menjadi salah tingkah, sementara Bu Farida menangkap gelagat berbeda dari putra nya itu.
"Ehem," Bu Farida berdehem memecah lamunan Azka akan Lila.
Azka yang terkejut lantas segera melepaskan tangan Lila dari genggamannya.
"Eh, maaf," ucap Azka yang salah tingkah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yasudah Saya tinggal ngecek karyawan dulu ya Bu dibelakang," pamit Lila pada Bu Farida.
"Ah iya Nak, silahkan."
"Mari Pak Azka."
Azka hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Lila, karena sedikit merasa aneh dengan panggilan Pak yang Lila sebutkan tadi.
Lila berjalan menuju dapur meninggalkan Azka dan Bu Farida, sementara Azka terus menatap Lila tanpa berkedip hingga tubuh Lila tak terlihat lagi dalam pandangannya.
"Sudah, kalau suka langsung lamar saja. Jangan ditahan, Ibu kali ini setuju jika kamu dengannya," seloroh Bu Farida.
"Mami nih apaan sih."
"Alah, gak usah bohongi Mami, dari caramu memandangnya Mami tahu, jika kamu menyukainya."
"Yaudah  gak usah dipikirkan, ayo Mi ke dalam, yang lain sudah berkumpul."
Azka dan Bu Farida berjalan beriringan menuju para tamu yang sudah berkumpul.
*****
"Huek, huek, huek," Riana memuntahkan segala isi di dalam perutnya di kamar mandi.
Bu Widya yang melihat itu tentu saja merasa heran dengan Riana.
"Kamu kenapa Ri?"
"Ah enggk Bu, aku hanya masuk angin saja," ucap Riana berbohong.
"Masuk angin kok tiap hari, Ibu perhatikan Kamu muntah setiap pagi, atau jangan-jangan kamu hamil?" selidik Bu Widya.
"Ah, em, en, enggak kok beneran Riana hanya masuk angin Bu."
"Ada apa sih Bu?" tanya Sinta saat melewati mereka berdua.
"Ini Ibu curiga kalau Riana hamil."
"Apa! Hamil? Hamil anak siapa?"
"Ya kalau bukan Mirza ya Rian, atau mungkin laki-laki lain, secara dia ini kan perempuan obral selangkangan," ucap Bu widya sinis, sementara Riana sudah pucat pasi, dirinya terlalu takut jika sampai Mirza tau dirinya tengah hamil maka Mirza akan mencampakkannya.
"Ayo ngaku anak siapa!" sentak Sinta.
"A, aku juga gak tau Kak," ucap Riana dengan bibir bergetar.
"Jadi beneran kan kamu hamil!" hardik Bu Widya.
"Siapa yang hamil Bu?"
Sontak Riana, Bu Widya maupun Sinta menatap ke arah suara tersebut.

Komentar Buku (89)

  • avatar
    Ranii

    wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku

    21/12/2021

      0
  • avatar
    StoreJabs

    Bagus

    14/06/2025

      0
  • avatar
    lvipwetty

    sukaaa

    12/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru